
Fei Hsia tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya,
"Ya kakak janji padamu, dengan alasan apapun, kakak tidak akan pernah meninggalkan mu.."
Langsung menubruk kedalam pelukan Fei Hsia menangis sedih di sana.
Fei Hsia dengan penuh kasih sayang terus membelai kepala dan rambut Zi Zi yang halus dengan lembut..
Setelah puas melepaskan kesedihannya, Zi Zi berkata pelan.
"Kakak cantik, bolehkah Zi Zi pergi lihat lihat ke Hua San Pai sekali lagi..'
"Siapa tahu kakak Sun atau kakak tampan menunggu Zi Zi di sana."
ucap Zi Zi pelan.
"Boleh, tentu saja boleh,.. itu bukan masalah.."
"Ayo hapus airmatamu, kita kesana sekarang, untuk melihat lihat dan memastikannya."
Zi Zi melepaskan pelukannya, mengangguk cepat.
Lalu dia membersihkan wajah nya dengan lengan bajunya.
Fei Hsia tersenyum kagum melihat sepasang mata anak itu.
Dia kemudian menggandeng tangan Zi Zi untuk kembali duduk diatas punggung Bangau Dewata.
Setelah mereka berdua duduk di punggung nya, Burung Bangau Dewata pun terbang ke udara, bergerak mengikuti arahan Fei Hsia.
Tidak butuh waktu lama, mereka dari atas sana, sudah bisa melihat kondisi dan keadaan yang di alami oleh Hua San Pai.
Di mana dari atas sana terlihat asap kebakaran yang membumbung keudara.
Setengah dari bangunan Hua San Pai yang sudah berdiri ratusan tahu.
Kini hampir 3/4 nya habis berubah menjadi puing puing kehitaman, hasil karya Si jago merah yang ganas.
Di bagian depan dan tengah halaman perguruan Hua San Pai yang luas, juga terlihat mayat mayat berserakan, bertumpuk tumpuk di sana.
Sekilas lihat Fei Hsia sudah menduga, pasti belum lama ini telah terjadi suatu pertempuran maut disana.
"Zi Zi situasi di bawah sana terlalu mengerikan, apa kamu yakin ingin turun melihat dan memeriksa langsung..?"
tanya Fei Hsia ragu.
Dia takut nanti Zi Zi trauma dan terbawa bawa kedalam mimpi saat dia tidur.
Zi Mengangguk dengan mantab dan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak Zi Zi kuat.."
ucap Zi Zi singkat.
Fei Hsia mengarahkan Bangau Dewata nya, turun di halaman belakang yang lebih sepi.
Setelah mendarat di sana, dia melompat turun bersama Zi Zi.
Lalu dia menemani kemana pun Zi Zi mau, hingga Zi Zi puas dan memastikan tempat itu tidak ada siapapun di sana.
Dia baru bertanya,
"Bagaimana Zi Zi ? cukup atau masih mencari lagi..?"
Zi Zi dengan wajah lesu berkata,
"Tidak ada, mereka tidak ada yang kembali kemari.."
"Mungkin kakak Sun telah pergi bersama gurunya, dia tida kemari lagi.."
"Kakak tampan juga sama, mereka tidak ada satupun yang kembali kemari.."
Fei Hsia berjongkok di depan Zi Zi sambil memegang lembut kedua telapak tangan anak itu.
"Zi Zi saat ini bagaimana bila kamu ikut dengan kakak, ketempat tinggal kakak..?"
"Nanti Zi Zi baru kembali, untuk membalaskan dendam teman teman Zi Zi, yang telah di celakai oleh orang orang jahat."
"Sekaligus nanti Zi Zi juga bisa pergi mencari kakak dan kedua orang tua mu.."
"Bagaimana ?"
tanya Fei Hsia sambil tersenyum lembut menatap kedua bola mata Zi Zi yang selalu membuatnya kagum.
Zi Zi sadar itu adalah yang terbaik, dia sudah tidak punya siapa siapa di dunia ini, selain Fei Hsia yang sangat menyayangi dan memperhatikan nya.
Zi Zi mengangguk lemah, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Fei Hsia dan berkata,
"Guru terimalah hormat dari Zi Zi, Zi Zi berjanji akan patuh dan berbakti pada guru.."
"Zi Zi anak baik, bangunlah.."
"Sekarang ikut lah dengan guru, kita kembali ke pulau ikan, tempat tinggal guru sana.."
ucap Fei Hsia lembut sambil menggandeng tangan Zi Zi ikut dengan nya naik keatas punggung Bangau Dewata.
Beberapa saat kemudian Burung Bangau Dewata itu sudah terbang meninggalkan Hua San terus menuju ke arah timur laut.
Mari kita kembali ke nasib Nan Thian yang keracunan dan jatuh dari Puncak Lian Hua Feng bersama Naga Kadal Terbang nya yang terluka.
__ADS_1
Mengapa Fei Hsia dan Zi Zi tidak berhasil menemukan dirinya dan Naga Kadal Terbangnya, yang terluka parah di dasar jurang sana.
Nan Thian dan Naga Kadal Terbang nya saat meluncur masuk kedasar jurang, saat tubuh keduanya sedang meluncur deras ke bawah.
Tidak tahu berasal dari mana tahu tahu ada segulung angin kencang yang berputar putar seperti angin tornado.
Membungkus dan membawa mereka berdua terbang meninggalkan jurang tempat mereka terjatuh.
Inilah keajaiban tuhan dan keajaiban dunia, yang tidak ada manusia yang bisa menebaknya.
Bila ajal belum tiba, meski kita pasrah sekalipun, tetap saja kita akan selamat.
Sebaliknya bila ajal sudah tiba, bagaimana pun kita berusaha keras dengan segala cara, bahkan dengan menggunakan harta melimpah untuk berobat sampai keseluruh penjuru dunia.
Hasilnya tetap sama saja, yang harus pergi tetap saja akan pergi, datang tidak bawa apa apa pergi pun juga sama.
Nan Thian dan Naga Kadal Terbangnya di gulung oleh angin itu di bawa pergi jauh hingga angin itu sudah kehilangan tenaga berpusar nya.
Nan Thian dan Naga Kadal Terbang nya yang sudah tidak sadarkan diri.
Mereka di hempaskan kedalam sebuah jurang, yang jauh lebih gelap dan dalam.
Hingga tidak di ketahui berapa dalam dasar jurang tersebut.
Tubuh Nan Thian dan Naga Kadal Terbangnya, terus meluncur deras masuk kedalam jurang tak berdasar itu.
Di tengah tengah tubuh mereka sedang melayang di udara, di bawah mereka tiba tiba muncul sebuah portal cahaya.
Tubuh Nan Thian dan Naga Kadal Terbangnya terhisap masuk kedalam portal cahaya tersebut.
Begitu terhisap masuk kedalam portal cahaya tersebut, tubuh keduanya melayang layang di ruang hampa yang luas.
Dengan cahaya 6 warna memenuhi seluruh ruang di mana mereka berdua berada.
Tubuh yang melayang layang di udara itu, perlahan-lahan bergerak mengikuti arus sedotan, yang berasal dari sebuah pintu 4 persegi panjang, yang terlihat memancarkan cahaya 6 warna.
Semakin mendekati pintu portal cahaya itu, tubuh Nan Thian dan Naga Kadal Terbang nya bergerak semakin cepat.
"Blazzz..!"
Tubuh keduanya menghilang kedalam pintu empat persegi panjang itu.
Begitu melewati pintu empat persegi panjang itu, tubuh Nan Thian dan Naga Kadal Terbang nya jatuh terhempas berguling guling diatas hamparan rumput hijau yang luas.
Tempat itu adalah sebuah tempat yang sangat indah dan menakjubkan, seperti alam para dewa Dewi.
Diatas langit terlihat burung burung Dewata terbang bebas melintas.
Ada burung Feng Huang, juga ada burung bangau Dewata, sama seperti tunggangan Fei Hsia.
__ADS_1