
Wanita itu tiba tiba mengangkat kepalanya, dia menatap tajam kearah Nan Thian dan berkata,
"Mau apa kamu kemari, pria tidak berjantung..!!"
"Pergi...! pergi...! pergi...!"
"Aku tidak ingin melihat mu lagi..!"
"Tinggalkan kami di sini..!"
teriak wanita itu histeris.
Kini setelah wanita itu menghadap kearahnya, Nan Thian baru bisa melihat dengan jelas, apa yang sedang di gendong oleh Xue Xue.
Ternyata yang di gendongan Xue Xue adalah sepotong kayu yang di balut dengan pembungkus bayi.
Nan Thian menghubungkan dengan kejadian terakhir mereka dulu.
Dia menebak Xue Xue pasti tidak bisa menerima kenyataan, di mana dia telah kehilangan calon bayi yang di kandungnya.
Sehingga dia pikirannya menjadi terganggu, Lim Ping Chi yang biadab lalu mengurung nya di tempat ini.
Makin di pikir makin kesal Nan Thian, dia semakin geram dengan Lim Ping Chi.
Nan Thian jadi sedikit menyesal, tidak mematahkan tangan dan kaki bajingan itu.
Untung dia tersadarkan oleh ucapan Wuluzhen, sehingga tidak jadi melepaskan Hung Ping Chi begitu saja.
Bila tidak, dia tentu saat ini akan semakin menyesal.
Meski belum sesuai dengan kejahatannya.
Setidaknya dia kini sudah memberinya ganjaran hukuman pemusnahan ilmu silatnya.
"Xue Xue, apa kamu tidak mengenali ku lagi.."
"Aku ini Nan Thian Sexiong mu, lihatlah aku baik baik.."
ucap Nan Thian sambil melangkah maju menghampiri Xue Xue.
"Tidak...tidak...tidak..kamu bukan..kamu bukan dia, jangan mendekat.. menjauhlah.."
"Nan Thian Sexiong ku sangat tampan, dia selalu rapi, rambutnya juga tidak mungkin memutih begini.."
"Kamu pasti orang suruhan bajingan itu, kamu ingin menipu ku.."
"Dia pasti mengutus mu, untuk mengambil anak ku..!"
"Tidak...tidak .. menjauh lah..!"
Bentak Xue Xue sambil melangkah mundur menjauh dan mempererat gendongan nya.
Seolah olah takut Nan Thian merampas gelondongan kayu yang dipeluknya erat-erat itu.
Nan Thian terpaksa menghentikan langkahnya, Nan Thian membereskan rambutnya yang kini selalu dia biarkan terurai.
__ADS_1
Tidak pernah dia sanggul dan rapikan lagi, sejak hatinya hancur lebur di puncak Yu Ni Feng beberapa waktu yang lalu.
Sesaat kemudian setelah kembali tersanggul rapi Nan Thian pun berkata,
"Xue Xue lihatlah baik baik, aku ini benar adalah Nan Thian Sexiong mu.."
"Aku tidak bohong, perhatikan lah baik baik.."
"Rambut ku memutih karena kita sama sama sudah tua, kalau tidak percaya lihat lah rambut mu sendiri.."
"Bukankah kini sudah memutih juga..?"
ucap Nan Thian lembut berusaha membujuk Xue Xue.
Xue Xue terlihat ragu, dia melihat rambutnya sendiri, lalu menatap wajah Nan Thian lekat lekat.
Nan Thian bersenandung pelan, meniru senandung Xue Xue tadi.
Lalu dia menyambungkan dengan mengeluarkan sebuah suling kecil.
Meniupnya melantunkan irama lagu, yang biasa dia lantunkan untuk menghibur Siau Semei nya, bila sedang sedih atau sedang marah dan kesal.
Mendengar irama lagu yang keluar dari suling yang Nan Thian tiup, perlahan-lahan air bening mulai mengalir deras dari sepasang mata Xue Xue.
Perlahan-lahan satu persatu bayangan masa lalunya mulai muncul.
Ingatan nya kembali pulih, dia mulai mengingatnya, dan mulai bisa membedakan mana itu khayalan mana itu pelarian, mana itu kenyataan.
Dia terus menatap kearah suling Nan Thian tanpa berkedip dia bergumam pelan,
"Benarkah kamu masih hidup,..? maafkan Xue Xue,.. Xue Xue sungguh bersalah padamu mu.."
"Xue Xue tidak punya muka untuk bertemu dengan mu lagi.."
Xue Xue terlihat meletakkan gelondongan kayu nya keatas pembaringan batu kasar yang dingin.
Lalu dia langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis sedih sambil memunggungi Nan Thian.
"Nan Thian Sexiong hu.hu..hu..hu..!"
"Hu.hu..hu..hu..!"
Xue Xue sudah tidak bisa melanjutkan kata katanya, dia keburu menangis sedih.
Nan Thian menghentikan tiupan sulingnya, sambil menghapus wajahnya yang basah airmata.
Dia benar benar tidak tega melihat kesedihan dan penderitaan Xue Xue, gadis pertama, yang pernah mengisi hatinya.
Nan Thian menatap kearah bayangan punggung Xue Xue dengan penuh penyesalan.
Perlahan-lahan Nan Thian berjalan menghampiri Xue Xue, lalu menyentuh pundaknya dengan lembut.
"Siau Semei maafkan Nan Thian Sexiong yang tidak bisa memenuhi janji, untuk selalu menjaga dan melindungi mu dengan baik..'
"Sehingga kamu harus alami penderitaan seperti ini.."
__ADS_1
Xue Xue terus menggelengkan kepalanya dengan kuat, dia terlalu sedih hingga sulit berkata-kata.
Sehingga dia hanya bisa membantah ucapan Nan Thian dengan gelengan kepala.
Dia tahu dengan jelas, semua ini pilihannya sendiri.
Dia yang memilih Hung Ping Chi, meninggalkan Nan Thian yang sedang cacat.
Dia juga yang berselingkuh dengan Hung Ping Chi, di belakang Nan Thian.
Dia bisa begini adalah murni buah dari karmanya sendiri, tidak bisa menyalahkan siapapun.
Sesaat kemudian setelah agak mereda tangisannya, Xue Xue membalikkan badannya menghadap kearah Nan Thian.
Dia menuturkan kedua tangannya, menatap Nan Thian lekat lekat dan berkata pelan.
"Sexiong akhirnya kamu datang juga,..Xue Xue sudah lama menunggu saat seperti ini.."
"Akhirnya Xue Xue bisa bertemu kembali dengan mu, meminta maaf langsung dari mu.."
"Ini adalah suatu anugrah terbesar dan terindah buat Xue Xue.."
ucap Xue Xue dengan suara semakin pelan.
Dari mulutnya pun terlihat mulai mengeluarkan darah segar, yang semakin lama semakin banyak.
Hingga dia terlihat sulit untuk berbicara, tubuhnya sudah terguling kebawah, bila tidak cepat disambut oleh Nan Thian.
Nan Thian hanya bisa menatap wajah Siau Semeinya yang semakin pucat, dengan tatapan mata sedih dan airmata membasahi wajahnya.
Melihat belati yang menancap di perut Siau Semeinya yang berlumuran darah.
Nan Thian sadar, nyawa Siau Semeinya tidak mungkin tertolong lagi, kecuali dia memilki Ciu Cuan Sian Tan yang memilki khasiat menghidupkan orang mati.
Sayangnya dia tidak memilki itu, dan tidak mungkin memiliki nya, karena pil itu hanya pil yang ada didalam cerita dongeng dewa dewi saja.
Xue Xue memang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, yang penuh dengan penderitaan dan keputusasaan.
Tadi sewaktu dia menangis sambil memunggungi Nan Thian, dia menggunakan belati yang sengaja di simpan nya di dalam kain bedong, yang membungkus bayi kayunya.
Sedianya belati itu ingin dia gunakan untuk menghabisi Hung Ping Chi bila ada kesempatan.
Sayangnya kesempatan itu tidak pernah ada.
Kini belati itu malah bermanfaat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Setelah berhasil bertemu dengan Nan Thian Sexiong, yang merupakan penyesalan terbesar dalam hidup nya.
Di mana dia punya kesempatan meminta maaf secara langsung untuk terakhir kalinya, Xue Xue merasa dia sudah bisa pergi dengan tenang, tanpa penyesalan lagi.
Xue Xue yang terbaring lemah dalam pelukan Nan Thian, dia menatap Nan Thian dengan matanya yang sayu.
Dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Nan Thian dengan lembut.
Dia membuka mulutnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
__ADS_1