PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SEKIAN TAMAT


__ADS_3

Pemuda itu bukan lain adalah Li Sun yang terbawa angin tornado hingga terlempar ke laut terombang ambing dan akhirnya terdampar di pulau terasing.


Li Sun dengan bertopang pada tangan kirinya, susah payah sambil menahan rasa nyeri ditangannya.


Dia akhirnya berhasil bangkit untuk duduk, Li Sun kemudian mencoba untuk bersila.


Menghimpun hawa api dan es nya untuk mengobati luka di lengannya.


Setelah berhasil menghimpun hawa es dan api, Li Sun mencoba menggunakan senjata sarira, yang memiliki kekuatan mengobati luka.


Dia mencoba mengobati luka parah di pangkal bahunya, setahap demi setahap, hingga lukanya mengering dan merapat, tidak lagi terasa nyeri.


Dia baru menghentikan latihannya.


Li Sun mencoba mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya.


Li Sun mencoba memasang pendengarannya yang tajam, untuk mendeteksi keadaan sekitarnya.


Dia hanya menemukan bunyi suara burung kera dan binatang hutan lainnya yang terletak di tengah pulau.


Selain itu, Li Sun tidak menemukan apapun yang mencurigakan di pulau terasing tersebut.


Li Sun menatap kearah hutan lebat di hadapan nya, sesaat kemudian dengan tubuh sedikit terhuyung-huyung.


Li Sun mencoba melangkah menuju hutan tersebut.


Sambil melangkah Li Sun bergumam sendiri,


"Aku harus bertahan, aku harus hidup, aku harus balas dendam atas penghinaan ini.."


"Nan Thian kamu tunggu saja, akan tiba di mana aku kembali ke dunia ramai."


"Di situlah aku akan menagih lunas semua hutang piutang kita.."


"Kami orang Xi Xia bukan bisa di lecehkan dan di hina seperti itu.."


gumam Li Sun penuh dendam.


"Li Sun kamu saat ini yang terpenting adalah cari tempat berteduh, berlatih, menyempurnakan ilmu mu.."


"Baru kamu bisa pikirkan hal lainnya."


ucap Li Sun mengingatkan dirinya sendiri.


Pulau itu adalah pulau terasing yang tidak pernah bersentuhan dengan manusia.


Jadi hewan hewan di sana sangatlah jinak, mereka tidak terlalu perduli dengan kehadiran seorang Li Sun.


Hewan hewan itu dengan santai melakukan aktivitas mereka masing-masing tidak saling menganggu.


Li Sun menggunakan lengan kirinya sambil memegang golok api di tangan.


Dia menebas semak belukar yang menghalangi jalannya.


Li Sun terus bergerak selangkah demi selangkah menuju ke bagian tengah pulau.


Li Sun akhirnya mulai menangkap suara gemercik air, dengan girang, dia segera pergi menuju asal suara itu.


Li Sun akhirnya tiba di lokasi tersebut saat menjelang sore.


Di hadapannya ada sebuah tebing tinggi, dengan tujuh pancuran air kecil, yang keluar dari celah diatas tebing.


Dibawah pancuran air, terlihat banyak bekas reruntuhan bangunan kuno.


Di mana banyak terlihat stupa dan patung Buddha berdiri di sana.


Li Sun segera berlutut di depan sebuah patung Buddha besar, yang di kelilingi oleh bangunan stupa, dan patung patung Buddha yang berukuran lebih kecil.

__ADS_1


"Guru Yang Agung, mohon petunjuk dari anda, agar murid bisa keluar dari penderitaan dan kesengsaraan kehidupan yang murid alami.."


ucap Li Sun penuh khidmat.


Bagaimana pun dia tetap lah di besarkan di kuil Buddha, di didik di sana, keterikatan itu tidak mungkin hilang begitu saja.


Setelah memberi hormat dengan membenturkan dahinya diatas tanah 3 kali.


Li Sun baru bangkit berdiri, berjalan menuju sisi kanan tebing, di mana di sana terlihat ada banyak pohon berbuah lebat.


Berdampingan dengan sebuah pohon bodhi besar yang sangat besar, ur pohon itu pasti sangat tua.


Baru pohon itu bisa terlihat begitu besar berdaun lebat dan rindang.


Li Sun kemudian mencoba untuk duduk di bawah pohon itu, bermeditasi mengosongkan pikiran nya.


Semua senjata Buddha nya juga dia lepaskan dari tubuhnya.


Dia terus bermeditasi dari sore hari sebelum matahari terbenam, hingga matahari kembali terbit.


Li Sun baru menghentikan latihannya sejenak, dia minum sedikit air murni yang mengalir dari puncak tebing.


Makan beberapa buah yang tumbuh di dekatnya, setelah itu dia kembali duduk melanjutkan meditasi nya.


Mencari pencerahan dan penerangan sempurna seperti jalan yang pernah diambil oleh pangeran Sidharta Gautama.


Sementara Li Sun sedang larut dengan latihan meditasi nya.


Nan Thian dan Kim Kim sudah kembali ke Xu San.


Nan Thian terlihat sedang berlutut dihadapan kedua orang tua nya, juga Xue Lian, Fei Yang dan Fei Hsia.


Mereka berlima mendengarkan keseluruhan cerita dengan wajah berubah ubah, hingga diakhir cerita mereka semua menatap kearah Nan Thian dengan tatapan mata prihatin dan berduka.


Mereka bisa melihat garis garis penderitaan yang membayang di sudut mata Nan Thian semakin jelas, kerut di keningnya juga semakin banyak.


Rambut nya yang sebelumnya ada sebagian yang hitam, dengan beberapa tempat memutih.


Fei Yang yang pernah mengalami luka batin seperti itu, tentu saja sangat paham penderitaan seperti apa, yang sedang di rasakan oleh muridnya itu.


Dia tidak tahu harus berkata apa, dia tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini.


Kini selain berharap agar Zi Zi dan Li Sun bisa selamat lewat suatu keajaiban yang di berikan oleh yang maha kuasa.


Dia sudah tidak tahu lagi, apa yang bisa dia lakukan.


Kini yang ada hanya kesedihan dan duka mendalam.


Xue Lian dan Fei Hsia sudah tidak mampu menahan kesedihannya, setelah cerita Nan Thian berakhir.


Kedua wanita yang sama sama cantik itu langsung menangis sedih dalam pelukan Fei Yang.


Hong Yi juga sama, dia juga ikut menangis sedih di dalam


pelukan Yue Feng suaminya.


Fei Yang sambil memeluk lembut kedua wanita nya, dia berkata pelan,


"Kalian jangan terlalu bersedih, siapa tahu mereka berdua baik baik saja, di suatu tempat sana.."


"Thian Er kamu bangunlah, kamu juga jangan terlalu bersedih dan menyesali diri.."


"Ini semua adalah cobaan dan takdir, jalani saja meski pahit dan gelap.."


"Suatu hari nanti pasti akan berganti terang dengan akhir yang manis bagi mu.."


Nan Thian menganggukkan kepalanya, lalu dia membenturkan dahinya tiga kali di hadapan gurunya dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Setelah itu dia baru bangkit berdiri dan berkata,


"Guru, ayah, Ibu,.. sekarang dunia sedang kacau.."


"Sudah waktu nya bagi Nan Thian, untuk mengesampingkan urusan pribadi.."


"Fokus mendarma baktikan kemampuan yang Nan Thian miliki untuk menolong rakyat keluar dari tengah lautan api.."


"Nan Thian mau seperti kakek, dan kakak, pergi membantu seorang pemimpin yang menyayangi rakyat jelata, mengusir bangsa tiran dari tanah air kita.."


ucap Nan Thian penuh tekad dan kembali bersemangat.


Yue Feng dan Fei Yang mengangguk kan kepalanya dan Fei Yang berkata,


"Bagus Thian Er, pergilah kami mendukung sepenuhnya keputusan mu.."


"Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu.."


Setelah memberi hormat kesemua yang hadir disana.


Nan Thian kemudian pergi memeluk si kembar Fei Yung dan Fei Lung.


Membelai kepala mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan berkata,


"Paman Kecil kalian berdua jadilah anak yang baik, rajin rajin berlatih, agar kelak bisa bermanfaat bagi orang banyak.."


"Kakak pergi dulu, paman kecil kalian jaga diri kalian baik baik.."


"Sampai jumpa.."


ucap Nan Thian sambil mencium pipi kedua anak kecil itu penuh kasih sayang.


"Kakak kami ikut boleh..?"


tanya Fei Yung cepat.


Dia terlihat berat untuk berpisah dengan Nan Thian.


Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Tidak sekarang bukan waktu yang tepat, berlatihlah barang 10 tahun lagi.."


"Saat itu baru waktu yang tepat bagi kalian untuk terjun ke dunia ramai yang kejam licik dan sangat berbahaya.."


ucap Nan Thian memberi nasehat sambil membelai lembut kepala kedua kembar itu.


Fei Yung dan Fei Lung mengangguk patuh, mereka berdua tidak banyak membantah lagi.


"Sudah jaga diri kalian.."


"Kakak pergi dulu.."


ucap Nan Thian, lalu dia membalikkan badannya, melesat menuju punggung Kim Kim yang langsung membawanya meninggalkan tempat tersebut.


Sampai di sini tamatlah cerita PENDEKAR API DAN ES, silahkan tunggu dalam kisah berikutnya, PENDEKAR API DAN ES SURGAWI.


Di mana di sana akan di ceritakan dengan detil pertualangan Nan Thian, Zi Zi, Li Sun, Bing Han, juga dengan musuh musuh lama maupun musuh baru yang tidak akan kalah seru dari cerita sebelumnya.


Tapi saat ini baru ada judul nya saja, mungkin setelah karya LEGENDA PANGERAN NEGARA YUE Tamat, baru akan rilis PENDEKAR API DAN ES SURGAWI. perkiraan.mungkin pertengahan Nopember atau awal Desember.


Bila para pembaca setia masih ingin membaca karya MING2, dalam waktu dekat ini akan segera rilis LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT.


Pembaca bisa ikuti keseruan pengalaman baca yang baru di sana.


Paling lambat awal bulan Nopember LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT, sudah mulai bisa di baca.


Sekian terimakasih semuanya, bila ada kesalahan dan segala sesuatu yang kurang berkenan di hati pembaca sekalian, aku author MING2 memohon maaf sebesar-besarnya..πŸ‘ƒπŸ‘ƒπŸ‘ƒπŸ‘ƒπŸ‘ƒ.

__ADS_1


LEGENDA PUTRA KAISAR LANGIT sudah terbit ya jangan lupa.


PENDEKAR API DAN ES SURGAWI sudah mulai release hari ini tgl 21/01/2023 ThnxπŸ‘ƒπŸ‘ƒπŸ‘ƒπŸ‘ƒ.


__ADS_2