
Fei Yang membantu memberikan beberapa totokan dan urutan sambil membantu menyalurkan hawa Im Yang Sen Kung, membantu pemulihan luka kakek Wu.
"Maafkan Fei Yang kek, bukan maksud Fei Yang sengaja melukai kakek.."
ucap Fei Yang merasa kurang enak hati.
Bagaimana pun antara dirinya dan kakek Wu samasekali tidak punya dendam maupun permusuhan.
Terjadi hal seperti ini adalah di luar kehendak siapa pun.
Kakek Wu tersenyum dan berkata pelan,
"Terimakasih anak muda, kemampuan mu sungguh di luar dugaan.."
"Sekarang aku telah terbebaskan."
"Semoga saja kamu mampu mengalahkannya, sehingga Fei Hsia dan neneknya bisa ikut bebas."
ucap kakek Wu sambil menatap kearah Fei Yang dengan penuh harap.
"Kakek Wu tenang saja, Fei Yang pasti akan berusaha yang terbaik.."
Kakek Wu mengangguk, lalu berkata.
"Simpan tenaga mu anak muda, keadaan ku sudah lumayan.."
"Sisanya aku bisa urus sendiri.."
Fei Yang mengangguk, tanpa berkata apapun, dia mulai menghentikan aliran Im Yang Sen Kung nya.
Setelah mengambil nafas, kakek Wu kembali memberi pesan.
"Lebih baik kamu pulihkan kondisi kalian berdua dulu, baru melanjutkan perjalanan kalian.."
"Di depan sana masih ada satu penghadang lagi, sebelum kalian bisa berjumpa dengan nya."
"Lawan di depan sana sungguh tidak mudah, dia masih terhitung adik seperguruan Ciang Ce Ya.."
"Namanya Sen Kung Pao..berhati hatilah dengan nya.."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Terimakasih kek atas informasinya.."
Setelah memberi hormat Fei Yang kembali mendekati istrinya dan berkata dengan serius.
"Sayang di depan sana masih ada penghadang, yang memiliki ilmu kesaktian tidak kalah dari kakek Wu."
"Bagaimana bila selanjutnya aku maju sendirian saja.?"
"Bila terjadi hal di luar dugaan, setidaknya kita tidak sampai terkurung semua di sini..?"
Ucapan Fei Yang sangat masuk akal dan penuh pertimbangan.
Tapi Xue Lian mana mau berpisah dan membiarkan suaminya berjuang sendirian.
__ADS_1
Xue Lian langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas dan berkata,
"Tidak kakak Yang, apa kamu lupa kita pernah bersumpah untuk menanggung suka maupun duka secara sama sama.."
Melihat ketegasan di sinar mata istrinya, Fei Yang yang sudah terlalu mengenal Xue Lian.
Dia tidak banyak berdebat lagi, karena akan percuma.
Nanti niat baiknya, malah memicu pertengkaran tak perlu, yang akan menyakiti perasaan istrinya.
"Kakak Yang siapa lawan yang akan kita hadapi berikutnya ?"
tanya Xue Lian
"Namanya Sen Kung Bao, katanya dia masih adik seperguruan dari Ciang Ce Ya.."
"Sepengetahuan ku, Ciang Ce Ya adalah perdana menteri pembuka negara era dinasti Zhou, di mana Ji Zhang dan Ji Fa berkuasa.."
"Ciang Ce Ya murid Yu Se Thian Cun, yang konon memiliki kesaktian tanpa batas, bila benar dia adik seperguruannya, kita akan menghadapi kesulitan besar.."
"Jadi saat ini lebih baik kita secepatnya memulihkan kekuatan kita, baru kita pergi menemuinya.."
Xue Lian setelah mendengarkan penjelasan suaminya dengan serius, dia berkata,
"Cian Ce Ya, Sen Kung Bao aku tidak pernah dengar.."
"Tapi perihal Yu Se Thian Cun, Ling Bao Thian Cun dan Thai Shang Lao Jin aku sempat mendengar dari ibu ku.."
"Kabarnya mereka adalah 3 penguasa tertinggi di alam semesta, dan yang tertinggi adalah Yu Se Thian Cun, yang katanya tinggal di lapis pertama alam nirwana tertinggi."
"Bila Sen Kung Bao sempat menjadi muridnya, kurasa ilmu kitab tanpa tanding kita, tidak akan banyak berguna di hadapannya."
ucap Xue Lian menjelaskan apa yang di dengar dari ibunya.
Mendengar ucapan Xue Lian, Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,
"Semua tergantung dari takdir dan kemauan langit, yang penting kita berusaha saja yang terbaik.."
"Ayo kita mulai meditasi pemulihan saja.."
ucap Fei Yang, lalu memejamkan matanya, Xue Lian mengikutinya,
Kini ditempat tersebut, terlihat 3 orang sedang bermeditasi memulihkan kekuatan mereka.
Menjelang matahari terbit, burung burung mulai berkicau.
air embun di dedaunan mulai menetes jatuh keatas tanah.
Fei Yang akhirnya membuka matanya, sambil tersenyum dia menatap kearah istrinya, yang terlihat sedang membakar 3 ekor ayam hutan.
Xue Lian yang menyadari Fei Yang sedang menatapnya dari belakang, tanpa menoleh dia berkata,
"Kakak Yang kemarilah, ayam sudah matang.."
"Selesai sarapan kita bisa lanjutkan perjalanan kita.."
__ADS_1
Fei Yang menghampiri istrinya dan berkata,
"Di mana Kakek Wu ? kenapa tidak terlihat lagi ?"
"Kakek Wu sudah lama meninggalkan tempat ini, dia menunggu di pondok bekas tempat tinggal 9 biksu senior.."
Tadinya dia ingin pamit dengan mu, tapi karena tidak enak menganggu latihan mu."
"Jadi dia hanya menitip pesan terimakasih saja ke aku, sebelum beliau meninggal kan tempat ini."
ucap Xue Lian menjelaskan.
Fei Yang mengangguk, lalu dia dan Xue Lian mulai menikmati ayam bakar yang di siapkan oleh Xue Lian.
Setelah mereka berdua selesai makan mencuci tangan dan wajah yang sedikit berminyak.
Fei Yang mengajak Xue Lian memasuki sebuah gua di balik air terjun di hadapan mereka saat ini.
Beberapa waktu menyusuri gua, akhirnya mereka tiba di mulut gua, melihat pemandangan di hadapan mereka, Xue Lian pun berkata,
"Kakak tempat ini sungguh indah dan sangat menakjubkan."
"Tidak kalah dengan lembah tempat tinggal kita, pemilik lembah sangat pintar mencari lokasi.."
ucap Xue Lian penuh takjub.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Kamu benar, tapi tempat ini sangat berbahaya."
"Berhati hatilah, bila nanti tidak mampu, jangan di paksakan."
"Serahkan saja pada ku.."
ucap Fei Yang sambil menatap istrinya dengan serius.
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Ya..ya .dasar cerewet melebihi nenek nenek, aku sudah tahu dan ingat kok.."
Fei Yang tidak menanggapi ejekan istrinya, dua meraih telapak tangan istrinya.
Lalu mereka berdua melayang ringan melewati sungai dangkal berair jernih dan berarus cukup kuat.
Hingga tiba diseberang sungai, di hamparan hutan yang di penuhi rerumputan hijau pendek dan tanaman berbagai macam jenis bunga yang terhampar indah.
Fei Yang dan Xue Lian mendarat ringan di atas rerumputan hijau pendek, yang terlihat seperti hamparan permadani hijau menghiasi area tepi sungai.
Baru saja mereka berdua mendarat, langsung terdengar suara bisikan di telinga mereka.
"Kalian akhirnya tiba juga, kemarilah aku sudah lama menanti kedatangan kalian.."
Suaranya terdengar tapi orang nya tidak terlihat, Fei Yang dan Xue Lian pun sadar.
Orang ini pasti menggunakan ilmu mengirim pesan suara yang di tujukan kepada mereka berdua.
__ADS_1
Fei Yang dan Xue Lian saling pandang, dan saling mengangguk.
Lalu mereka berdua melayang masuk kedalam hutan rindang yang terletak di balik hamparan bunga warna warni.