
Melihat papan batu nisan berserakan, disekitar lubang yang di biarkan terbuka begitu saja.
Di dalam hati Fei Yang berpikir,
Mereka ini sungguh kelewatan, demi mencari sesuatu yang berharga.
Mereka tidak segan segan merusak makam, orang yang sudah lama meninggal.
Lebih parahnya lagi, mereka membiarkan begitu saja makam makam itu terbuka tak terurus.
Fei Yang menghela nafas sedih, dia turun tangan merapikan kembali satu persatu, makam sederhana yang di rusak orang itu.
Hingga menjelang sore Fei Yang baru menyelesaikan pekerjaannya, merapikan makam para leluhur Xu San itu.
Setelah selesai merapikan makam, Fei Yang berlutut didepan setiap makam memanjatkan doa, agar semua leluhurnya bisa beristirahat dengan tenang.
Selesai memberi hormat dan berdoa di depan makam para leluhur Xu San.
Fei Yang milih pergi kearah Tebing curam yang ada air terjunnya.
Di sana Fei Yang mandi, membersihkan diri di bawah penerangan sinar bulan.
Karena hari sudah malam, Fei Yang memutuskan untuk duduk bermeditasi, hingga matahari terbit lagi, dia baru akan melakukan penyelidikan kebalik air terjun.
Fei Yang mengisi waktunya dengan berlatih Tehnik Pengendalian Tenaga Sakti Alam Semesta.
Saat terdengar bunyi kicau burung, Fei Yang baru membuka matanya,.di mana hari mulai terang.
Fei Yang menyudahi latihannya, lalu dia terbang menuju balik air terjun.
Pakaian compang camping yang melekat di tubuh Fei Yang tidak ada yang basah sama sekali.
Fei Yang terus melangkah masuk kedalam gua, hingga akhirnya tiba di sebuah lubang yang terbuka tanpa ada segel formasi yang melindunginya.
Sekali lihat Fei Yang sudah tahu pasti para orang hukuman itu, sudah di lepaskan oleh Hei Mo Pang.
Fei Yang tidak dapat membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi, setelah para penjahat di sini, bisa kembali hidup di alam bebas.
Mungkin diantara mereka ada yang ilmunya tidak di bawah Yi Han Tao Se.
Untuk itu Fei Yang memutuskan, saat kembali kedunia persilatan dia harus extra hati hati.
Fei Yang masuk kedalam lubang yang membawanya ke suatu tempat, yang sepi dan terpisah dari dunia luar.
__ADS_1
Tempat itu cukup indah tenang dan nyaman, mirip mirip dengan keadaan di balik hutan bambu misterius.
Hanya saja di sini binatang yang terlihat, hanya lah binatang biasa, bukan binatang aneh aneh yang langka, dan dianggap sebagai legenda yang tidak nyata.
Fei Yang terus melangkah masuk ke bagian yang lebih ketengah, menuju pusat perkampungan para tahanan Xu San.
Tapi setelah berkeliling kesana-kemari, Fei Yang tetap tidak berhasil menemukan seorang pun ditempat tersebut.
Tempat tersebut kini seolah-olah berubah menjadi sebuah kota mati, tanpa penghuni.
Melihat keadaan tersebut, Fei Yang sadar semua tahanan di sini, pasti sudah kabur melarikan diri.
Tempat ini sangat sepi dan tenang sangat cocok buat berlatih pikir Fei Yang.
Begitu banyak orang jahat yang kini berkeliaran di dunia persilatan,
Sebelum turun gunung, aku sebaiknya minimal harus berhasil menguasai jurus tapak dan pedang Naga Es dan Phoenix Api.
Batin Fei Yang di dalam hati.
Maka sejak hari itu, Fei Yang mulai tekun berlatih seorang diri, ditempat yang sepi sunyi dan tenang tersebut.
Setelah memastikan tempat itu memang tidak ada siapapun, Fei Yang bukan hanya berlatih tapak saja.
Efek yang di timbulkan sangat mengerikan seluruh area di dekat Fei Yang berlatih mengalami kerusakan parah.
Sebentar menjadi lautan api, sebentar menjadi lautan es, terkadang terbelah menjadi dua bagian, yang penuh dengan Api dan es.
Fei Yang menghabiskan waktu hampir 3 bulan untuk berlatih, dan menyempurnakan kedua ilmu warisan Wu Ti Sin Tong.
Berkat bantuan pengetahuan dasar ilmu silat, dari Kitab tanpa tanding bagian keempat.
Fei Yang menjadi jauh lebih mudah untuk menguasai Ilmu Tapak dan pedang Naga Es Phoenix api, yang dulunya cukup sulit dia kuasai.
Setelah berhasil menamatkan 10 jurus Tapak dan pedang Naga Es Phoenix api.
Fei Yang baru meninggalkan tempat tersebut, yang mengalami kerusakan cukup parah.
Tapi Fei Yang tidak khawatir, dia yakin alam akan memperbaikinya sendiri secara alami, seiring dengan berjalannya waktu.
Fei Yang tiba di jembatan penyeberangan rantai besi, dia jadi teringat dengan kebaikan dan kasih sayang kakak seperguruannya Li Sian Sian dan Malini.
Kedua orang itu kini telah tiada, mereka gugur dalam pertempuran menghadapi serangan Hei Mo Pang.
__ADS_1
Fei Yang sambil menghela nafas sedih terbang ke seberang jembatan, dia bergerak menuju puncak gunung Xuan Wu, yang pernah menjadi tempat tinggal nya dulu.
Fei Yang ingin memastikan keadaan para murid keponakan seperguruannya.
Dia hanya bisa berharap mereka semua berhasil selamat dari serangan Hei Mo Pang, dan dalam keadaan baik baik saja.
"Entah bagaimana nasib kak Kim Lan Kim Mei dan Kim Fang serta si galak Ye Hong Yi, apakah mereka masih hidup dan dalam keadaan baik baik saja.?"
"Semoga saja.."
gumam Fei Yang dengan perasaan campur aduk, sambil terus mendaki menuju puncak gunung Xuan Wu.
Saat tiba di puncak gunung, di mana bangunan pusat yang megah dan besar itu berada.
Fei Yang kembali hanya menemukan puing puing bangunan yang tak terurus dan sudah mengalami kerusakan parah.
Rumput setinggi manusia memenuhi sekitar tempat itu, tempat itu terlihat sepi dan hening.
Fei Yang perlahan-lahan melangkahkan kakinya, masuk kedalam reruntuhan puing puing bangunan.
Fei Yang tersenyum lega, saat dia mengedarkan pandangannya kesekeliling, dia tidak menemukan tengkorak manusia yang berserakan.
Ini menandakan bahwa meski bangunan nya rusak, tapi semua murid wanita di sini, berhasil menyelamatkan diri, terhindar dari pembantaian.
Fei Yang terus melangkah menelusuri tempat tersebut melakukan pemeriksaan.
Tapi Fei Yang sedikit mengerutkan alisnya, saat menemukan potongan pedang berserakan di antara puing puing bangunan.
Selain itu di lantai dan dinding reruntuhan juga terlihat bekas goresan pedang dan bekas telapak tangan, yang melesak kedalam sisa tembok bangunan.
Hal ini hanya menunjukkan bahwa di sini pernah terjadi pertempuran dahsyat.
Sambil meneruskan langkahnya, Fei Yang terus memutar otaknya berpikir,
"Bukannya menurut guru, tempat Li Sian Sian dan Malini terlindungi oleh formasi perisai kuno."
"Bila melihat keadaan di sini, kelihatannya formasinya telah di bongkar oleh musuh.."
"Dengan hadirnya Xu Da dan Ming Wang, perusakan formasi pelindung itu menjadi mungkin."
pikir Fei Yang dalam hati.
Tanpa terasa akhirnya Fei Yang tiba di bagian paling belakang, gedung perguruan Xuan Wu.
__ADS_1
Fei Yang berdiri terpana di tempat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.