
Sekali pagi serigala besar itu meraung keras.
Kini serigala mulai mundur kemudian menghilang.
Kuda yang di kendalikan oleh Nan Thian pun mulai bersikap lebih tenang.
Tidak panik seperti sebelumnya, Nan Thian bisa merasakan hal itu.
Tapi pendengarannya masih menangkap ada pergerakan diam diam secara sembunyi sembunyi.
Di jarak tertentu yang agak menjauh, tapi masih terus mengikuti dan memantau pergerakan mereka.
Nan Thian tersenyum dingin, tidak terlalu ambil perduli.
Dia terus melanjutkan perjalanan dengan lebih santai.
Agar yang duduk di dalam kereta tidak terus berguncang guncang.
Saat tiba di bagian tengah hutan yang agak terbuka, di mana sinar matahari bisa masuk dengan bebas.
Ada sebatang anak sungai yang berair jernih, tapi tidak dalam, ketinggian air hanya sebatas lutut.
Dasar sungai yang berbatu terlihat dengan jelas.
Nan Thian menghentikan laju kudanya.
Memarkir kudanya, di tempat yang banyak rumput.
"Paman kecil, tolong bilang sama bibi kecil dan kakak didalam, kita beristirahat sebentar di sini.."
ucap Nan Thian singkat.
Dia tidak berani menyingkap tirai kereta memberitahu, karena di dalam ada Siau Yen dan Siu Lian.
Nan Thian merasa kurang pantas dan kurang sopan, jadi dia meminta tolong ke Li Sun.
Setelah berkata, Nan Thian langsung melompat turun dari kereta.
Dia pergi berjongkok di pinggiran sungai kecil.
Membasuh tangan dan mencuci muka.
Setelah itu dia memilih duduk di bawah sebatang pohon, yang akarnya sedikit menjulur dan menonjol di pinggir sungai.
Di sana Nan Thian melepaskan sepatunya, membiarkan sepasang kaki te lan Jang nya, terendam di dalam air sungai yang sejuk.
Sambil bersandaran di batang pohon besar itu, Nan Thian mengeluarkan sebatang suling hadiah dari Siau Semei nya dulu.
Sambil memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.
Nan Thian kemudian meniup sebuah lagu merdu yang sendu juga terdengar sangat menyayat perasaan.
Siau Yen Siu Lian Zi Zi dan Sun Er yang sedang asik bermain air, bercanda sambil tertawa.
Saat mendengar alunan suara suling Nan Thian mereka, sesaat berhenti bermain.
Mereka terdiam mendengar nya, Zi Zi dari jauh menatap kearah Nan Thian dan berkata,
"Kakak tampan,..! kemarilah bermain bersama,..! jangan menyendiri di sana .!"
Nan Thian menghentikan alunan sendu sulingnya, dia menoleh kearah Zi Zi dan berkata,
"Kalian saja yang main, murid keponakan lebih suka di sini.."
__ADS_1
Nan Thian kemudian melanjutkan meniup sulingnya lagi.
"Siau Yen kamu disini saja temani Zi Zi dan Sun Er, jangan terlalu jauh.."
"Aku mau menyiapkan makan buat kita.."
ucap Siu Lian beralasan.
Siu Lian kemudian pergi kearah kereta, mengambil roti dan daging kering, juga se guci arak.
Lalu dia berjalan menghampiri tempat Zi Zi bermain air.
Ditempat yang agak rindang dan kering, Siu Luan meletakkan sebagian bungkusan makanan kering disana, lengkap dengan sebuah kantung air minum dari bahan kulit.
"Zi Zi,..! Sun Er,..! Siau Yen,..!"
"Makanan nya di sini ya, kalau nanti lapar.."
Selesai berpesan, tanpa memperdulikan mereka, Siu Lian membawa bagian lainnya, dan se guci arak berjalan kearah Nan Thian.
Dia mengambil tempat duduk di sebelah Nan Thian dan berkata,
"Kakak Nan boleh aku ikut duduk di sini..?"
Nan Thian membuka matanya yang sedikit basah, dia menghapusnya.
Setelah itu, sambil berusaha tersenyum, dia menjawab.
"Silahkan saja Lian er,.."
"Kakak Nan kenapa ? kenapa terlihat sedikit..bersedih..?"
ucap Siu Lian hati hati.
Nan Thian tersenyum, lalu berkata,
"Tidak apa-apa, mungkin hanya terbawa perasaan karena musik saja.."
Nan Thian tidak bermaksud ingin terlalu dekat dengan kedua gadis ini.
Jadi dia tidak terlalu mau membuka diri, menceritakan apa yang sedang di rasakan nya.
Nan Thian sebenarnya tadi terkenang dengan kedua orang tuanya.
Ada rasa rindu yang besar di hatinya, juga ada rasa menyesal dan bersalah terhadap kedua orang tuanya.
Terutama ibunya, tapi saat ini Nan Thian sadar.
Dia sudah tidak bisa kembali lagi ke Xu Dan, dia tidak punya muka untuk itu.
Semua ini adalah pilihannya, jadi konsekuensi nya, dia harus menanggung.
Ada orang yang di cintai tapi tak bisa bertemu dengan berbagai alasan.
Ada rumah tapi juga tidak bisa pulang, kini satu satunya yang tersisa adalah kenangan, kenangan penuh luka dan kesedihan yang tidak pernah bisa hilang meski ditiup angin maupun di guyur hujan.
Rumahnya kini pun adalah langit atapnya, bumi rumahnya, dia hanya bisa berkelana tanpa arah dan tujuan.
Sekarang masih ada tujuan yaitu Hua San, tapi setelah acara Hua San.
Nan Thian benar benar tidak tahu akan kemana langkah selanjutnya.
Siu Lian tahu Nan Thian belum siap terbuka dengan nya.
__ADS_1
Dengan senyum sabar, dia menyodorkan roti di tangannya ke Nan Thian dan berkata,
"Ini kak makan lah,."
Nan Thian menerima nya dan berkata,
"Terimakasih."
Nan Thian hanya makan dua gigitan, selanjutnya dia lebih memilih duduk termenung, sambil meminum guci arak di tangannya.
Seteguk demi seteguk sambil menatap kearah air jernih yang mengalir membelah kakinya.
Siu Lian menghela nafas panjang dan berkata,
"Jangan terlalu banyak minum, ingat di makan roti nya.."
"Arak yang terlalu banyak, bisa menyakiti lambung dan pankreas.."
"Bila ada beban masalah, butuh teman bercerita, Lian Er siap mendengarkan dan menemani kakak kapan pun itu.."
"Lian Er permisi dulu.."
ucap Siu Lian, yang mengerti Nan Thian sedang tak ingin di ganggu.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Terimakasih Lian Er, aku akan mengingatnya.."
Nan Thian menatap bayangan punggung Lian Er yang bergerak menjauh.
Dia menghela nafas panjang dan bergumam,
"Maafkan sikap ku Lian Er, ini demi kebaikan mu.."
"Saat ini aku belum siap untuk itu.."
Sambil menghela nafas panjang, Nan Thian kembali melanjutkan minumnya.
Nan Thian dulu bukan peminum, bahkan selama Qing Hai Pai, dia pantang menyentuh arak.
Pertama kali dia minum, adalah di pesta perkawinan Siau Semei nya.
Tapi sejak malam itu, perlahan lahan dia mulai akrab dengan minuman ini.
Kini minuman itu berubah menjadi teman paling akrab dan paling setianya, hampir tidak pernah meninggalkan sisinya.
Baru saja Nan Thian menegak minumannya.
Tiba-tiba dia mendengar suara teriak Zi Zi.
"Aihhh,..!"
"Kakak tampan,..! tolong Zi Zi..!"
terdengar teriakan ketakutan
Zi Zi.
Nan Thian buru buru melesat kearah sungai dangkal, di mana Siau Yen terlihat terjebur kedalam sungai gelagapan, berusaha bangun.
Sedangkan Sun er terlihat berguling-guling hingga tertahan oleh sebatang pohon di belakangnya.
Sedangkan Zi Zi sudah tidak terlihat lagi, Nan Thian hanya sempat melihat bayangan hitam besar, menghilang di balik hutan di depan sana.
__ADS_1