
Xue Lian buru buru menggandeng tangan Fei Yang meninggalkan kamar ayah ibunya.
Sebelum ibunya mengomel dan memaksanya belajar masak.
Tiba di dapur Fei Yang berbicara sebentar dengan petugas dapur.
Sesaat kemudian di bantu beberapa petugas dapur Fei Yang mulai masak.
Sekali ini dia harus masak dalam jumlah banyak, karena untuk makan semua orang yang ada di kapal besar tersebut.
Lebih repot dan lebih capek, tapi Fei Yang cukup menikmati pengalaman baru ini.
Masak dalam jumlah besar bukan hal mudah, takaran bumbu harus pas tidak asin tidak tawar.
Pola bolak balik masakan agar matang merata, juga merupakan tantangan.
Panas api tungku dan kecepatan mengangkat masakan agar tidak mutung tapi matang juga satu tantangan sendiri.
Untungnya Fei Yang memiliki tenaga besar tak terbatas, dia bisa dengan mudah mengangkat kuali yang sangat besar dengan satu tangan.
Lalu isi masakan dia lempar ke udara, untuk membolak balik masakan agar matang merata.
Api tungku yang sangat panas menyambar nyambar juga bukan masalah buat Fei Yang.
Para petugas dapur, yang tidak sanggup menahan hawa panas, mereka tidak berani mendekat.
Mereka pada mundur mendekati Xue Lian yang duduk tidak jauh dari sana.
Tapi sekitar Xue Lian justru memancarkan hawa dingin sejuk menyegarkan.
Bila saat ini mungkin mirip Lobby hotel bintang 5 atau ruang tunggu di bank.
Udaranya begitu sejuk dan nyaman, hingga membuat orang betah berlama lama di sana.
Persediaan udang ikan cumi yang berlimpah, memudahkan Fei Yang mengolah berbagai masakan laut mewah.
Sewaktu kapal mereka nyangkut di pulau ikan, para awak kapal banyak memanfaatkan waktu yang ada.
Sambil menambal perahu, mereka menjala ikan udang kepiting cumi di sekitar pulau ikan yang jumlahnya sangat banyak berlimpah.
Pulau itu jarang ada yang berani mendekat, karena selalu di awasi oleh Fei Hsia dan keluarga pulau pelangi, yang rata rata berilmu tinggi
Kesempatan kemarin penjagaan pulau tidak ketat karena Fei Hsia sedang sibuk dengan urusan pribadinya.
Sedangkan seluruh penghuni pulau pelangi, di larang oleh kakek Wu untuk ikut campur urusan di pulau tersebut.
Dia sendiri diam diam mengawasi dari tempat rahasia, penghubung kedua pulau itu.
Tanpa turun tangan ikut campur sedikitpun.
Fei Yang setiap menyelesaikan satu jenis masakannya, dia akan memisahkan dua piring keluar.
Satu buat istrinya, satu lagi buat kedua mertuanya.
Xue Lian dengan santai menggunakan sumpitnya, beterbangan kesana kemari seperti lalat .
Makan dengan penuh semangat, semua masakan yang tersaji di hadapannya.
Kedua orang tua Xue Lian yang diam diam datang melihat apa yang sedang di lakukan oleh putri mereka
__ADS_1
Mereka berdua terlihat kaget, masing masing menggelengkan kepala mereka.
Ibu Xue Lian yang tidak bisa menahan diri lagi, tanpa menggubris larangan suaminya, yang berusaha menahan lengannya.
Dia mengibaskan tangannya, lalu berjalan menghampiri Xue Lian dari arah belakang.
Lalu mengulurkan tangannya ingin menarik telinga putrinya.
Xue Lian yang terlalu asyik makan tidak menyadari kehadiran ibunya yang melayang ringan di belakangnya.
Hingga telinganya di tarik dia baru kaget
*Aduhhhh,..!"
jeritnya kesakitan.
Saat dia ingin marah sambil menoleh kebelakang melihat siapa yang berani mati.
Menganggu macan betina sedang asyik makan, begitu melihat pelakunya sedang melotot kearah nya
Otomatis dia hanya bisa tersenyum kecut sambil merangkapkan sepasang tangannya didepan wajah.
Dua berkata,
"Ibu ngapain di sini ? Aduhhhh,..! duhhh.. ! duhhh..!"
"Sakittt ibu..!"
jerit Xue Lian tertahan karena dengan gemas ibunya kembali menarik telinganya
"Kamu tadi bilang mau kemari bantu suami mu masak, kenyataan kamu di sini enak enak makan..!"
"Apa kata orang nantinya..!"
Fei Yang yang sedang menyelesaikan masakan terakhirnya, yaitu saos untuk di siramkan diatas ikan .
Buru buru memindahkan kualinya menjauhi api tungku.
Lalu muncul di samping ibu mertuanya dan berkata.
"Ibu tolong jangan begini, ibu jewer saya aja, aku yang menyuruhnya makan di sini.."
"Lian mei tadi sudah bantu aku menyiapkan bahan masakan."
"Nanti peralatan dan perlengkapan habis makan, biasanya Lian mei juga yang bantu cuci.."
"Kami sudah terbiasa berbagi tugas, jadi ibu jangan salah paham.."
"Ini bukan salahnya, kami memang sudah biasa seperti ini, selama ini pun kami selalu seperti itu."
"Jadi tolong Bu..jangan sakit Lian mei.."
ucap Fei Yang berusaha membujuk ibu mertuanya.
Xue Lian juga mengangguk angguk membenarkan dengan wajah memelas.
Sesekali dia melirik kearah suaminya yang sedang menjelaskan ke ibunya dengan penuh terimakasih.
Dia sadar demi dia suaminya terpaksa banyak berbohong pada ibunya.
__ADS_1
Fei Yang sambil menjelaskan, memberi kode ke ayah mertuanya, minta tolong.
"Istri ku, sudahlah jangan seperti ini.."
ucap Ayah Xue Lian sambil membantu melepaskan jeweran tangan istrinya.
Akhirnya Ibu Xue Lian melepaskan tangannya dari berkata dengan suara sedih.
"Ini salah kita, kita tidak mendidiknya dengan baik, lihat dia jadi tidak mengerti urusan begini.."
ucap Ibu Xue Lian sedih kesal dan malu.
"Sudah lah, dia sudah besar, sudah punya suami
Biar suaminya saja yang mengajarinya."
"Masa masa kita sudah lewat, semua tidak mungkin di ulang kembali.."
"Saat ini selain wejangan dan nasehat tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.."
ucap ayah Xue Lian sambil merangkul istrinya, mencoba menenangkan nya.
Fei Yang juga buru buru ikut berkata, sambil menarik Xue Lian kebelakang nya.
"Ibu ayah duduklah dulu, ayo cicipi masakan Fei Yang mumpung masih hangat."
"Bantu berikan penilaian.."
"Urusan Lian mei ibu ayah jangan khawatir, saya yang akan mendidiknya nanti.."
"Kamu mendidiknya, memanjakannya aja kamu takut terlambat apalagi mendidiknya.."
ucap ibu Xue Lian kurang puas.
Tapi dia tidak menolak menerima uluran sumpit dari Fei Yang.
Sambil duduk dia mencoba mencicipi masakan cumi goreng tepung Fei Yang.
Mencicip satu suap, matanya terbelalak menatap kearah Fei Yang.
"Bagaimana bu..?"
tanya Fei Yang sambil tersenyum.
Ibu Xue Lian kembali mencoba udang goreng tepung nya, lalu mencoba olahan potongan udang ayam cincang Balur tepung.
Dia berulang kali menatap Fei Yang dengan tak percaya lalu sumpitnya juga beterbangan seperti lalat mengikuti gaya Xue Lian.
Sesaat dia lupa dengan kemarahan nya, Bahakan dia lupa menjawab pertanyaan menantunya.
Ayah Xue Lian juga ikut mencoba nya, dia pun terlihat antusias mencicip dan terus mencicip.
Fei Yang memberi kode ke petugas dapur untuk melanjutkan sendiri sisanya.
Sedangkan dia diam diam menarik Xue Lian, meninggalkan dapur.
"Sayang masih sakit kah,..sini saya lihat ."
ucap Fei Yang lembut sambil memperhatikan daun telinga istrinya yang terlihat masih kemerahan.
__ADS_1
Fei Yang membimbing Xue Lian kembali kekamar mereka, lalu dengan hati hati dia membantu mengoleskan salep di daun telinga Istrinya.