
Zi Zi sambil tersenyum lebar menggandeng tangan kedua adik kembarnya dan berkata,
"Kalian berdua, siapa nama kalian,? kalian begitu mirip kakak jadi sulit membedakan kalian.."
"Aku Fei Yung...dan dia Fei Lung.."
"Kakak tahi lalat di ujung bibir ku ini jadi pembedanya.."
"Kata ayah karena tahi lalat ini, aku jadi lebih cerewet di banding Fei Lung.."
ucap Fei Yung nyerocos tanpa henti.
Sedangkan Fei Lung hanya senyum senyum dan menganggukkan kepalanya.
Melihat sikap adiknya Fei Lung, Zi Xi jadi teringat dengan kakak tampan nya.
Mereka hampir sama, lebih banyak tersenyum jarang berbicara.
Andai Zi Zi tahu, Fei Lung ini memang dari kecil yang jaga Nan Thian.
Sedangkan Fei Yung banyak di jaga Fei Yang, dia pasti akan ngakak.
Mereka berempat ayah dan anak mulai sibuk mendirikan pondok baru.
Beberapa saat mereka sibuk, Fei Hsia pun tiba membawa makan siang buat mereka semua.
Mereka berlima akhirnya makan bersama, Zi Zi makan dengan lahap karena dia memang paling suka dengan masakan gurunya sederhana tapi lezat.
Fei Yang juga terlihat makan dengan semangat, diam diam dia pun jadi teringat, dengan kehangatan dia dan Fei Hsia, saat mereka masih tinggal di pulau dulu.
Ikan berbentuk jelek, yang dagingnya sangat halus, lembut, dan gurih seperti daging kepiting.
Juga udang udang berukuran besar dan memiliki sepasang capit besar.
Semua ini memang masakan kesukaan Fei Yang saat diam di pulau dulu.
Sesekali sambil makan diam diam Fei Yang mencuri pandang menatap Fei Hsia. yang terlihat lebih banyak membantu si kembar dan Zi Zi mengupas kulit udang, dan memisahkan daging ikan dari duri durinya.
Agar mereka bisa makan dengan lebih mudah dan nyaman.
Diam diam Fei Yang sangat terharu, tapi semua perasaan nya hanya bisa dia simpan dalam dalam.
Di sana mereka berlima terlihat seperti sedang makan keluarga dengan santai.
Di dalam pondok sana tabib Hua dan Nan Thian juga Hua Lung, mereka bertiga terlihat bermandi peluh.
Satu tusukan jarum terakhir di titik Bai Hui.
Tabib Hua pun terduduk lemas dengan nafas memburu.
Sedangkan Nan Thian yang terlihat duduk bersila di hadapan Xue Lian, yang juga terlihat sedang duduk dalam posisi bersila, dengan kepala tertunduk kebawah.
__ADS_1
Nan Thian terus menyalurkan energi Api dan Es surgawi mengisi titik titik Meridian di seluruh tubuh Xue Lian tanpa henti.
Dari sepasang telapak tangan Nan Thian yang berjarak 15 Cun dari bagian depan tubuh Xue Lian.
Terlihat hawa putih dan hitam yang berbentuk kabut uap, terus bergerak masuk kedalam tubuh dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Beberapa saat beristirahat dan minum beberapa teguk teh hangat, kondisi tubuh Kakek Hua mulai pulih.
Dia pun kembali berkata,
"Lung Er Tan Yao nya sudah jadi..?"
"Sebentar kek hampir jadi.."
Tan Yao adalah kristal obat, kristal ini terbentuk dari ramuan ramuan obat dari bahan bahan alami.
Di masak menggunakan tungku dan pot obat khusus, dengan api panas tinggi dengan waktu tertentu.
Hingga cairan obat, berubah menjadi kristal obat, yang mirip pil obat kecil kecil.
Hanya saja pil obat tidak bercahaya, sedangkan Tan Yao ini mengeluarkan cahaya mirip mutiara.
"Sabar Thian Er kamu tahan sebentar lagi, Tan Yao belum rampung."
ucap tabib Hua, menatap cemas kearah Nan Thian.
Dia khawatir Nan Thian tidak kuat bertahan maka semua capek lelahnya akan menjadi sia sia.
Xue Lian pun bisa celaka karena nya.
Dia hanya mengangguk kecil.
Nan Thian terlihat berat bukan karena kekuatannya tidak cukup, justru kekuatannya berlebih tak terbatas.
Saat ini yang menjadi kesulitan Nan Thian adalah harus terus mengendalikan dan menyalurkan tenaga api es surgawi nya, yang memiliki kekuatan raksasa.
Tapi saat keluar dari tubuhnya masuk kedalam tubuh Xue Lian harus sedikit demi sedikit, di sesuaikan dengan kondisi tubuh Xue Lian, berdasarkan petunjuk dari tabib Hua.
Energi yang masuk takarannya harus pas tidak boleh lebih tidak boleh kurang harus stabil.
Hal ini yang sangat sulit, apalagi dalam jangka lama, di.mana Nan Thian harus menghadapi tekanan dari dalam dan mengatur saat energinya keluar.
Tekanan luar dalam ini yang sangat menguras daya tahan tubuhnya.
Melihat Nan Thian masih bisa mengangguk, meski masih terlihat tegang, tapi Kakek Hua sedikit bisa bernafas lega.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Hua Lung berkata,
"Kek,.. Tugas mulia akhirnya selesai .."
Dengan penuh semangat,kakek Hua bangkit berdiri, menghampiri tungku obat kunonya.
__ADS_1
Dia membuka tutup pot, tungku kuno.
Di mana terlihat sebutir kristal obat yang mengeluarkan cahaya biru merah, melayang-layang di dalam tungku obat.
Tabib Hua dengan cepat mengambil pil langka tersebut, membawanya lalu dia menekan dua titik rahang di kiri kanan Xue Lian.
Memaksa mulut Xue Lian terbuka, begitu terbuka pil itu langsung di masukkan kedalam mulutnya.
Begitu terkena air liur dan hawa panas di dalam rongga mulut, pil itu langsung mencair alami.
Masuk kedalam perut Xue Lian, mengikuti air liurnya yang tertelan.
Begitu pil masuk kedalam perut, khasiatnya langsung terlihat.
Perlahan lahan terlihat hawa biru merah naik dari arah pusar, terus bergerak ke arah perut, naik ke dada, tenggorokan, hingga tiba di wajah.
Di mana wajah Xue Lian kini terlihat mengeluarkan cahaya sebentar merah sebentar biru.
Sepasang alis Xue Lian yang indah terlihat mengerut, dia seperti sedang menahan rasa tidak nyaman luar biasa di tubuhnya.
Melihat perubahan itu, tabib Hua pun berkata,
"Sekarang Thian Er,.titik Kun Lun.. arahkan kekuatan mu kesana..."
Titik Kun Lun terletak di atas tumit kaki.
Nan Thian dengan gerakan cepat membuat tubuh Xue Lian melayang keudara.
Dengan kepala di bawah kaki diatas.
Sepasang tangan Nan Thian secara bergantian di tunjukkan ke titik tersebut.
Cahaya hitam dan putih secara bergantian menyinari titik tersebut tanpa henti.
Nan Thian terus menyalurkan energinya sambil menunggu petunjuk dari tabib Hua.
Xue Lian sendiri kerut di alisnya terlihat semakin dalam, butiran keringat mulai muncul di keningnya.
"Titik Pu Shen sekarang..!"
teriak Tabib Hua kembali memberi petunjuk.
Dia terlihat terus memantau perkembangan wajah Xue Lian, tabib Hua terlihat tegang.
Nan Thian kini mengalihkan cahaya dari ujung jarinya menyinari titik tengah tengah tumit kaki.
Begitu titik itu terkena sinar jari Nan Thian, Xue Lian terlihat seperti meringis, butiran keringat di keningnya semakin banyak.
"Titik Shen Mai..!"
teriak Tabib Hua.
__ADS_1
Nan Thian langsung mengalihkan cahaya ke sambungan tumit dan telapak kaki dalam.
Xue Lian tubuhnya sedikit tersentak, seperti terkena setrum, butiran keringat di kening mulai mengalir ke ujung rambutnya.