
Xue Lian menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Benar sekali kakak Yang, "
"Aku sudah selesai, kakak Yang sudah makan nya ? kalau sudah kita bisa lanjutkan perjalanan kita.."
ucap Xue Lian.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Ayo kita berangkat ."
Beberapa waktu kemudian terlihat Fei Yang dan Xue Lian sudah kembali duduk di punggung Kim Tiaw meninggalkan kota Ying Tian.
Menjelang sore Fei Yang dan Xue Lian singgah di ibukota Kai Feng.
Melihat tembok kota, dan suasana bangunan kota yang terlihat tidak banyak perubahan, Fei Yang diam diam teringat dengan kenangan lamanya.
Dulu dia datang kekota ini bersama Wei Wen dan sempat menghabiskan beberapa waktu tinggal di balik tembok istana yang masih menjulang megah.
Tapi kini penghuninya sudah berganti, kini yang menempati istana megah itu adalah Wanyen Khan dari Jin.
Bukan lagi keluarga Zhao dari Song.
Sepanjang jalan, Fei Yang melihat wajah masyarakat ibu kota terlihat murung.
Di beberapa tempat Fei Yang menjumpai prajurit Jin banyak yang sedang melakukan penindasan dan pemerasan terhadap rakyat Song.
Dia hanya bisa menghela nafas panjang merasa prihatin dengan situasi tersebut.
Fei Yang yang tadinya tidak ingin ikut campur, dia terpaksa menghentikan langkahnya, saat melihat penindasan yang di lakukan seorang prajurit terhadap seorang kakek tua penjual Man Tou.
Tidak jauh dari hadapan Fei Yang, terlihat seorang kakek sedang berlutut sambil memeluk cucunya, dia berkata, kepada seorang prajurit Jin
"Tuan tolong jangan di rusak dagangan ku, ini adalah satu satunya mata pencaharian ku.."
"Kami kakek dan cucu sangat bergantung pada dagangan ini untuk menyambung hidup.."
ucap kakek itu memelas.
Tidak ada orang yang berani mendekat apalagi mencampuri urusan tersebut.
Prajurit itu terlihat tidak bergeming, dia malah menggunakan kakinya mendorong kakek itu hingga jatuh terguling.
Kakek itu, saat jatuh terguling tanpa sengaja kepalanya membentur gerobak dagangannya.
Akibat benturan keras di bagian belakang kepala nya, kakek itu jadi tidak sadarkan diri.
Gadis kecil itu, mengira kakeknya telah meninggal.
Dia menjadi sangat sedih, sambil menangis, dia terus berteriak dan menguncang guncang tubuh kakeknya.
"Kakekkkk,..! Kakekkkk,..!"
"Kakek kamu kenapa, kek,!? jangan menakuti Xue Xue,! kakek jangan tinggalkan Xue Xue, kek..!"
ucap gadis kecil itu sambil menangis dan mengguncang guncang tubuh kakeknya.
__ADS_1
Tiba-tiba gadis kecil itu bangun berdiri, lalu berlari menghampiri prajurit Jin itu.
Dia menggunakan kaki tangannya, untuk memukuli prajurit Jin itu sambil berteriak,
"Kembalikan kakek ku,..! kembalikan kakek ku..! kamu orang jahat..! kamu jahat..!"
Prajurit itu menjadi marah, karena merasa terusik, dengan sekali Jambak, tubuh gadis kecil itupun terangkat keatas.
Prajurit itu dengan tanpa perasaan, langsung melemparkan gadis kecil itu, seperti orang melempar sampah.
Melihat hal itu, Fei Yang dengan sigap bergerak menyambut tubuh gadis kecil itu kedalam gendongannya.
Gadis kecil itu menangis ketakutan dalam pelukan Fei Yang.
"Anak baik tidak menangis,..kakak ada disini menjaga mu, jangan takut..tenanglah.."
ucap Fei Yang berusaha menenangkan gadis itu.
Sedangkan Xue Lian yang sudah tidak bisa menahan emosi nya.
Dia menunjuk kearah prajurit itu dan berteriak marah.
"Hei kamu berhenti..!"
Prajurit Jin yang tadinya mau pergi, jadi menunda langkahnya.
Dia menoleh kebelakang ingin tahu siapa yang sedang meneriakinya.
Tapi saat melihat orang yang sedang berteriak padanya, adalah seorang gadis yang sangat cantik luar biasa.
Dia langsung berbalik, sambil tersenyum lebar, se cabul cabul nya.
"Manis,.. kenapa kamu rindu ya ? atau gatal pengen di garuk garuk.."
ucap prajurit itu sambil tersenyum lebar
Xue Lian menjadi semakin muak melihat tingkah laku prajurit itu.
"Mampuslah bajingan..!"
Teriak Xue Lian sambil menunjuk jarinya kearah kening prajurit Jin itu, dari jarak jauh.
Prajurit itu tanpa sempat berteriak, tubuhnya langsung terjungkal kebelakang dengan dahi berlubang.
Darah dan cairan otaknya terlihat berceceran di sekitar tempat tubuhnya terbaring tak bergerak.
Kejadian itu membuat para wanita di sekitar sana pada menjerit ketakutan.
Orang orang pada berhamburan melarikan diri menjauhi tempat itu.
Prajurit Jin yang berada di sekitar sana, segera bergerak mengepung Xue Lian.
Mereka membentuk barisan melingkari Xue Lian, dengan senjata tombak terarah ke Xue Lian.
Fei Yang yang melihat hal itu tidak terlalu khawatir, dia lebih mencemaskan kakek tua yang pingsan.
"Adik manis jangan menangis lagi, bagaimana bila kakak bantu menyadarkan kakek mu.?"
__ADS_1
Gadis kecil itu mengangguk cepat, dia segera menghentikan tangisannya.
Menghapus sisa airmata nya dan berkata,
"Baik kak,.."
Fei Yang menurunkan gadis kecil itu dari gendongan nya, lalu dia menggandeng tangan gadis kecil itu menghampiri kakeknya yang tergeletak tak bergerak di atas tanah.
Fei Yang berjongkok di sebelah kakek itu, lalu dia mulai menekan dan mengurut beberapa tempat di tubuh kakek itu.
Beberapa saat kemudian, kakek itupun sadar dan mulai bisa membuka kembali sepasang matanya.
Dia melihat kearah Fei Yang dan cucunya dengan tatapan heran.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Tadi kakek sempat pingsan, tapi kini sudah tidak apa-apa lagi, syukurlah.."
"Anak muda terimakasih banyak,.."
ucap kakek itu pelan.
"Sama sama kek, kakek beristirahatlah sebentar.."
Fei Yang menoleh ke gadis kecil itu dan berkata,
"Adik manis, ini ada kantong air, kamu bantu kakek mu minum ya.."
"Kakak mau lihat keadaan di sebelah sana."
Gadis kecil itu dengan cepat menerima kantong air dari tangan Fei Yang dan berkata,
"Terimakasih banyak kakak baik.."
"Sama sama,.."
jawab Fei Yang sambil membelai kepala gadis kecil itu.
Fei Yang lalu berdiri dan berjalan kearah arena pertempuran, di mana kini sudah ada puluhan ribu pasukan Jin, yang mulai bergerak mengepung tempat itu.
Di sekitar Xue Lian dalam sekejab sudah ada ratusan mayat pasukan Jin memenuhi tempat itu.
Tadi saat Xue Lian di kepung dan di serang dengan tombak, dia langsung menghilang dari posisinya.
Belum juga prajurit Jin itu menyadari Xue Lian sedang melayang keatas.
Puluhan prajurit Jin itu sudah terjengkang kebelakang dengan leher hampir putus.
Gerakan Xue Lian terlalu cepat untuk di ikuti oleh mata awam seperti mereka.
Bahkan komandan pasukan yang berdiri di belakang bawahannya yang sedang mengepung Xue Lian.
Dia juga tidak melihat apa yang Xue Lian lakukan, sehingga semua bawahan nya, dalam sekejab sudah tewas semuanya.
Melihat keadaan yang tak terkendali, komandan pasukan itu, dengan cepat melepaskan tanda bahaya.
Begitu tanda bahaya terlepas, komandan itu juga terpental tubuhnya dengan kening berlubang.
__ADS_1
Setelah komandan itu tewas, dalam sekejab, pasukan penjaga keamanan kota Jin mulai berdatangan, mengepung tempat tersebut.