PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENUJU PULAU MISTERIUS


__ADS_3

"Anak muda bila tertarik menguji ilmu, boleh kunjungi aku di surga barat, sebelah timur ada Sui Lian Dong, disana tempat tinggal ku."


"Aku akan menanti mu disana.."


"Bila ada yang menghalangi mu, katakan saja mau bertemu, Buddha perang ."


Ucap kera emas itu setelah menghilang dari sana.


"Wu Kung,..kamu jangan mengacau lagi.."


"Anak muda maafkan murid ku, abaikan saja ucapannya tadi.."


ucap sebuah suara lain.


"Ayo Wu Kung kita pulang..!"


ucap sebuah suara lain kembali.


"Baik guru.."


jawab suara kera emas itu lagi dengan patuh.


Setelah itu suasana pun kembali hening.


Nan Thian tersenyum menanggapi suara yang hanya terdengar olehnya saja.


Tentu saja Kim Kim juga mendengarnya.


"Kakak aku sarankan jangan sekali kali berani ribut dengan kera kecil itu.."


"Dia tercipta dari batu panca warna seperti milik kakak itu.."


"Bila kalian ribut, alam mu ini, akan menyusul tempat asal ku.semuanya musnah tanpa sisa.."


"Tapi bila Chi Le Thian kemari mengacau, dia bisa menjadi pasangan kakak untuk menghadapinya.."


ucap Kim Kim mengingatkan dengan serius.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Kamu boleh bertenang hati."


"Kakak mu ini adalah orang yang paling tidak bisa ribut dengan orang lain, tanpa sebab yang jelas."


Kim Kim mengangguk dan berkata,


"Kalau itu aku sangat percaya, ayo kak kita pergi dari sini.."


"Kita masih harus mengunjungi pulau pelangi dan pulau ikan.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Baiklah, aku permisi dulu dengan dewa air setelah itu kita bisa lanjutkan perjalanan.


Nan Thian menoleh kearah dewa air dan berkata,


"Dewa air, maaf aku telah banyak menganggu mu, aku mohon permisi, bila tidak ada hal lainnya.."


Dewa air mengangguk pelan, wajahnya masih kurang puas, tapi dia bisa apa.


Bisa selamat pun sudah termasuk baik.


Dewa air masih merasa kurang puas karena,

__ADS_1


Meski nyawanya tertolong, dengan bunga teratai es dari kaisar langit.


Tapi kekuatan nya, jelas telah hilang hampir setengahnya, setelah Batu inti Es Surgawi miliknya di ambil oleh Nan Thian.


Nan Thian juga menyadari hal itu, tapi mau bagaimana lagi dia memang membutuhkan nya.


Dia tidak ada cara lain, selain tersenyum canggung kearah Dewa air.


Lalu melesat meninggalkan arena, saat mencapai perisai pelindung, perisai terbuka sendiri untuk dia lewat.


Nan Thian tahu Dewa air lah yang membuka nya untuk dia lewat.


Tanpa halangan Nan Thian pun melesat meninggalkan tempat kediaman Dewa air.


Setelah keluar dari terowongan panjang dan Palung laut dalam.


Nan Thian sudah muncul kembali di atas permukaan Palung laut dalam.


Dia membuka mulutnya, Kim Kim pun melesat keluar kembali kebentuk Naga Emas.


Nan Thian kembali duduk di punggung Kim Kim yang membawanya terus melaju kearah timur.


Di mana matahari terbit dari sana,


"Byuuur...!"


Air laut muncrat keatas, saat Kim Kim melesat keluar dari dalam air.


Sesaat kemudian mereka berdua, terlihat melesat keangkasa, bergerak cepat ke sebelah timur.


Kemunculan mereka yang tiba tiba mengangetkan beberapa perahu nelayan, yang sedang menangkap ikan tidak jauh dari lokasi mereka muncul.


"Naga...! Naga...! Aku melihat Naga Emas..!"


"Ya,..ya..benar ..! aku juga melihatnya..!"


"Dewa Naga Emas muncul, lekas berlutut..!"


teriak para nelayan itu saling bersahutan dengan suara kaget cemas dan ketakutan.


Mereka semua segera berlutut dan menyembah di atas lantai perahu mereka.


"Kakak lihat mereka menyembah ku, aku tidak boleh kecewakan mereka.."


"Sebentar ya kak.."


ucap Kim Kim ceria.


Tanpa menunggu persetujuan Nan Thian, Kim Kim berputar balik, kemudian kembali terjun kedalam air.


Didalam air Kim Kim bergerak mencari gerombolan ikan yang sedang bergerak bersama.


Kim Kim melesat mendekati gerombolan ikan itu, lalu dia bergerak melingkari gerombolan ikan itu dengan kekuatan daya hisap nya.


Mencegah ikan itu melarikan diri darinya.


Kim Kim membuat pusaran kuat melumpuhkan gerombolan ikan itu, lalu dia giring gerombolan ikan itu, mendekati kearah kelompok perahu nelayan berada.


Saat Kim Kim melesat keluar dari kedalaman laut ke permukaan.


"Byuuur..!!"


Air kembali muncrat tinggi keudara, bersama gerombolan ikan yang terbawa oleh arus pusaran yang di buat oleh Kim Kim.

__ADS_1


Saat Kim Kim kembali melesat keangkasa, gerombolan ikan yang sangat banyak jumlahnya berjatuhan dari atas kebawah.


Ikan ikan itu sebagian jatuh menumpuk kedalam perahu perahu nelayan, yang ada di sana


Sebagian lagi jatuh kembali kedalam lautan.


Keadaan saat itu terlihat seperti sedang ada hujan ikan dari langit, buat para nelayan yang ada di sana.


Para nelayan itu girang hingga menangis, mereka terlihat terus berlutut dan menyembah nyembah kearah Kim Kim sambil mengucapkan terimakasih.


"Kakak ternyata membantu orang, membuat mereka senang dan gembira adalah pekerjaan yang menyenangkan ya.."


ucap Kim Kim bersemangat.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Membiarkan semua berjalan natural adalah yang terbaik.."


"Kamu gembira dan senang karena bisa membantu para nelayan itu.."


"Para nelayan itu senang karena tanpa bersusah payah mendapatkan ikan berlimpah ."


"Tapi apa kamu ada berpikir bagaimana nasib nasib ikan ikan itu.."


"Mereka yang terjatuh di perahu nelayan kehilangan kesempatan hidup dan kebebasan mereka.."


"Sedangkan yang yang selamat kedalam lautan, mereka akan bersedih kehilangan keluarga dan teman teman mereka."


"Satu sisi ada yang gembira bahagia, tapi di sisi lain ada yang sedih kecewa dan bersukacita.."


"Apa itu masih bisa disebut kebaikan, atas perbuatan mu itu..?"


ucap Nan Thian


"Akhhh kakak ini, setelah mewarisi ilmu kakek itu..sekarang kalau berbicara pun kakak jadi mirip kakek Wu Ming Lau Jen itu."


"Aku jadi pusing memikirkan nya, sudah akhhh malas mikirnya.."


"Merusak kesenangan aja.."


ucap Kim Kim mengomel lalu mempercepat pergerakan nya menuju kearah timur.


Beberapa saat menempuh perjalanan, Kim Kim melihat ada sebuah pulau di kejauhan sana.


"Kakak di sebelah depan sana, ada sebuah pulau, bagaimana bila kita mampir istirahat di sana."


"Kakak juga bisa sekalian mencoba menyerap dan mengendalikan kedua batu api dan es surgawi itu."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Boleh juga ide mu, baiklah kita mampir kesana.."


"Aku akan mencoba menggunakan tehnik pengendalian kekuatan alam jagad raya."


"Untuk mencoba mengendalikan kedua kekuatan maha dahsyat itu.."


ucap Nan Thian di dalam hati.


Kim Kim mengangguk paham, lalu dia melesat dengan lebih cepat lagi langsung menuju pulau yang terlihat dari jauh berwarna hijau kegelapan itu.


Pulau apa itu, resiko apa yang akan mereka temukan di pulau tersebut tidak ada yang tahu.


Kim Kim terus meliuk liuk cepat diudara, bergerak dengan kecepatan tinggi, langsung menuju pulau hijau kegelapan itu.

__ADS_1


__ADS_2