
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas,
"Tidak Kim Semei, aku ingin ikuti pertandingan itu, kini kemampuan ku sudah pulih.."
"Aku ingin mencari pengalaman bertarung di sana."
Kim Kim bersungut, tidak berhasil membujuk Nan Thian.
Jadi dia memilih diam, kembali menyelam kedalam samudra luas, di dalam Dan Tian Nan Thian.
Nan Thian terus melesat mengambil arah Hua San, tanpa sengaja dia malah kembali melewati kelenteng bobrok.
Di mana dia kemaren, uang nya di curi orang disini.
Kemaren dia tidak berdaya, terpaksa mengalah.
Tapi hari ini semua kekuatan nya, pulih, bahkan meningkat cukup pesat.
Nan Thian ingin memanfaatkan kesempatan ini, mencoba kemampuan nya.
Nan Thian berjongkok mengambil beberapa batu yang berserakan, kemudian dia masukkan kedalam kantong uang nya.
Sambil tersenyum Nan Thian berjalan memasuki halaman kelenteng itu.
Nan Thian kembali menuju tempat, di mana uangnya di ambil kemaren.
Dia memilih pura pura tidur di sana, sambil menunggu pelakunya muncul.
Belum lama Nan Thian berbaring di sana, beberapa pengemis yang kebetulan keluar dari dalam kuil.
Melihat Nan Thian tiduran di sana, mereka saling pandang, lalu dengan langkah pelan pelan, salah satu di antara mereka berjongkok di dekat Nan Thian.
Memeriksa kantong bajunya, lalu dia mengambil kantong uang Nan Thian.
Menunjukkan kearah teman temannya sambil tersenyum lebar.
Tapi temannya tidak ikut tersenyum, mereka menatap kaget kebelakang temannya.
Melihat reaksi teman temannya, pengemis yang mengambil kantung uang dari Nan Thian.
Mengerutkan keningnya, dia merasa pasti ada yang tidak beres.
Dia buru buru menoleh kearah belakang nya.
Dia sangat kaget hingga jatuh terduduk dan berusaha mundur menjauh.
Dia yang berbuat salah, sesaat karena kaget, jadi ketakutan sendiri, melihat Nan Thian yang tiba-tiba sedang duduk menatap nya sambil tersenyum.
"Sudah,.. ? kalau sudah ambillah isinya, kantungnya harap kembalikan pada ku ."
ucap Nan Thian sambil mengulurkan telapak tangannya kedepan, menghadap kearah pengemis itu.
Pengemis itu sambil tersenyum nyengir canggung, dia mengeluarkan isi kantung tersebut.
Lalu kantungnya, dia lemparkan kembali kearah Nan Thian.
Tapi saat melihat dan menyadari dirinya di permainkan oleh Nan Thian.
Marahlah pengemis itu, dia dengan wajah berubah sangar, membanting batu di telapak tangannya.
Lalu melangkah maju mendekati Nan Thian mencengkram kerah baju Nan Thian.
Dia ingin menarik Nan Thian berdiri, tapi dia menjadi terkejut.
Bagaimana pun dia menyentak menarik mendorong, bahkan dengan menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
Nan Thian tetap diam tak bergerak di sana sambil tersenyum kearahnya.
Bo kong Nan Thian dan lantai yang didudukinya, seolah-olah menyatu di sana.
Bagaimana pun dia berusaha, tetap saja tidak berhasil.
"Cukup..kamu merusak baju ku.."
ucap Nan Thian pelan sambil mengetuk dua kali punggung telapak tangan pengemis itu.
Sambil mendorong dada pengemis tersebut, agar menjauh darinya.
Pengemis itu yang merasa sepasang tangannya kesemutan mati rasa sesaat.
Dengan terpaksa dia melepaskan pegangan tangannya, di saat bersamaan dia merasa ada dorongan kuat yang datang.
Tanpa bisa di tahan, tubuhnya langsung terjungkal kebelakang, menimpa beberapa rekannya di belakang sana
Hinggar mereka jatuh tumpang tindih.
Nan Thian dengan santai berdiri dari duduknya, menghampiri mereka yang sedang tumpang tindih dan berkata,
"Bila ingin selamat, kembalikan uang yang beberapa hari lalu, kalian curi dari ku.."
"Keparat,..bosan hidup..!"
"Ini ku kembalikan..!"
bentak salah satu pengemis yang berhasil bangun dari posisi tumpang tindih.
Begitu selesai berucap kepalan tangan nya yang besar, menimbulkan angin berkesiur yang keras.
Langsung di lepaskan menerjang kearah wajah Nan Thian.
"Jlebb,..!"
"Arggghh..!"
Bukan Nan Thian yang menjerit, justru pengemis yang menyerang itulah yang menjerit kesakitan.
Tinjunya, serasa di jepit oleh cengkraman baja.
Tinjunya serasa kiut miut, seolah olah seluruh tulang buku buku jarinya remuk di remas oleh Nan Thian.
Melihat keadaan temannya, pengemis yang lainnya, langsung mengangkat tongkat di tangan mereka.
Sambil berteriak marah, mereka maju memukuli Nan Thian dengan tongkat di tangan mereka.
Nan Thian menarik tubuh si pengemis yang tinjunya berada dalam cengkraman nya.
Untuk menjadi perisai menahan serangan tongkat yang datangnya bagai hujan kearahnya.
"Blukkk,..!"
"Ahhhh,..!"
"Blukkk,..!"
"Ahhhh,..!"
"Blukkk,..!"
"Ahhhh,..!"
Pengemis yang menjadi tumbal itu, menjerit jerit kesakitan, setiap hantaman tongkat temannya, menghajar dirinya dengan keras.
__ADS_1
Setelah menggunakan tubuh itu menangkis serangan, Nan Thian menggunakan tubuh itu.
Dia lemparkan kearah para penyerangnya, sehingga mereka kembali jatuh terjungkal, tertimpa tubuh teman mereka sendiri.
Keributan di luar memicu pengemis di dalam kuil yang mencapai puluhan orang pada lari keluar.
Untuk mencari tahu apa yang terjadi, begitu melihat rekan mereka babak belur tumpang tindih marahlah pengemis pengemis itu.
Mereka segera mengepung Nan Thian dengan tongkat teracung kedepan, siap menyerang Nan Thian.
"Tahan..!"
Bentak seorang pria berusia 40 an sambil melangkah keluar dari dalam kuil.
Melihat para pengemis yang mengepungnya, langsung berhenti Bergerak.
Begitu mendengar suara bentakan pria itu.
Nan Thian menebak orang ini pasti pimpinan kelompok pengemis ini,
Nan Thian hanya menanggapi kehadirannya sambil tersenyum dingin.
Nan Thian tidak menaruh respek padanya, karena orang inilah yang melarangnya tempo hari ikut berteduh di dalam kuil.
Orang ini sangat arogan sombong dan egois.
Selain itu, saat dirinya kecurian, orang ini juga ada di sana.
Akan sangat mustahil.
Bila dia tidak tahu ulah anak buahnya, yang mencuri uang Nan Thian.
"Anak muda apa yang kamu inginkan, ? mengapa kembali kemari membuat keributan ?"
tegur pria itu sambil menatap tajam kearah Nan Thian.
Nan Thian hanya tersenyum dingin dan menjawab dengan pertanyaan balik.
"Mengapa tidak kamu tanyakan pada anak buah mu sendiri.?"
"Perbuatan baik dan terpuji seperti apa yang mereka lakukan beberapa hari lalu dan hari ini,..?"
Pria itu menoleh kearah beberapa anggotanya yang babak belur dan berkata,
"Apa yang terjadi..?"
Kelima pengemis itu saling pandang, si pencuri uang Nan Thian lah yang menjawab sambil menunjuk kearah Nan Thian.
"Dia datang mengacau dan memukuli kami.."
"Padahal aku memberitahunya, ini markas Cing Yi Kai Pang (Partai pengemis baju bersih ) dan mempersilahkan dia pergi dari sini secara baik baik.."
"Tapi dia malah marah, mengandalkan kemampuan nya memukuli kami, hingga seperti ini.."
jawab pengemis itu membalik fakta, dengan sangat lancar.
Tanpa ada rasa bersalah, dan perubahan mimik wajah sedikitpun saat berbohong
Seolah olah memang itulah faktanya.
Nan Thian yang malas berdebat, dia hanya menjengek dingin, malas melayani debat dengan orang seperti itu.
Apalagi dia juga tahu karakter seperti apa ketua mereka ini.
Makanya bisa muncul anak buah seperti ini.
__ADS_1