
"Maaf Thian Er belum bisa memberi hormat dengan cara selayaknya.."
ucap Nan Thian sambil tersenyum pahit.
"Kamu sudah seperti ini, masih bicara segala macam peradatan.."
ucap Ye Hong Yi tidak bisa menahan airmata nya yang kembali mengalir deras.
Saat dia menyaksikan langsung kondisi putranya.
Untung saja perjalanan Xu San ke Qing Hai sangat jauh, di tambah dengan kabar yang mereka terima sedikit terlambat.
Sehingga setelah kejadian hampir 1 bulan mereka baru tiba.
Bila Ye Hong Yi melihat kondisi putranya sebulan yang lalu, tidak tahu apa reaksi Hong Yi, bila saat inipun dia sudah seperti ini.
Ye Hong Yi maju membantu memapah putranya kembali kedalam kamar, di bantu oleh Xue Xue, yang selama ini dengan setia selalu menemani Nan Thian melewati musibah ini.
Setelah membantu putranya duduk diatas ranjang, Ye Hong Yi dengan wajah penuh sesal berkata,
"Ini semua salah ibu, yang tidak berusaha mempertahankan mu di sisi ibu.."
"Bila waktu itu ibu tidak terlalu mendengarkan kemauan ayah mu, tentu semua ini tidak akan pernah terjadi.."
ucap Ye Hong penuh sesal dan agak marah dengan suaminya.
Yue Feng bahkan tidak berani bersuara, dia hanya bisa menatap putra dan istrinya dengan penuh rasa sesal.
Nan Thian sambil berusaha tersenyum berkata,
"Ibu jangan seperti itu, ini bukan salah siapa siapa.."
"Ayah mengirim ku kemari, dia juga tidak pernah berharap musibah seperti ini terjadi.."
"Ini adalah musibah siapa pun tidak ada yang menghendakinya.."
"Maksud ayah sudah baik, dia ingin mendidik Thian Er menjadi karakter dewasa bertanggung jawab, tidak manja, bisa mandiri.."
"Bila mau di salahkan, dalam hal ini Thian Er sendirilah yang paling salah.."
"Siapa suruh Thian Er tidak belajar dengan baik, sehingga kemampuan tidak mampu menandingi orang lain.."
"Thian Er pantas terima ini, Thian Er sudah menerimanya, tak perlu ada yang saling menyalahkan lagi.."
"Ada satu hal positif, setidaknya disinilah Thian Er bisa bertemu Xue Xue.."
"Bila selama waktu ini, tidak ada Xue Xue, Thian Er benar benar tidak tahu bagaimana menjalani semua ini.."
ucap Nan Thian sambil menoleh kearah Xue Xue menatap gadis itu penuh rasa terimakasih dan cinta.
Xue Xue tertunduk malu dengan wajah merah, sambil tersenyum malu-malu di hadapan kedua orang tua Nan Thian.
Dia duduk diam di sisi Nan Thian, sambil memainkan ujung bajunya, tanpa berani mengangkat kepalanya sama sekali.
__ADS_1
Ye Hong Yi menatap putranya dan berkata,
"Soal kemampuan ibu yakin kamu pasti sudah berusaha semaksimal mungkin."
"Kamu tidak mungkin bisa menandingi para Datuk sesat yang sudah berlatih puluhan tahun lebih awal dari mu.."
"Dalam hal ini mungkin hanya ayah mu, yang bisa menandingi mereka.."
"Sayangnya kakek paman guru mu, Li Fei Yang dan istrinya, telah lama menghilang tanpa kabar.."
"Bila mereka ada, semua pasti akan jadi mudah.."
ucap Ye Hong Yi penuh sesal.
Nan Thian tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum pahit dan berkata dalam hati,
"Memohon pada Tuhan, mohon pada orang lain, lebih baik memohon dan berharap pada diri sendiri.."
"Jangan pernah berharap pada yang lain, bila tidak ingin kecewa.."
"Itulah teori yang paling tepat, untuk keadaan nya saat ini.."
Ye Hong Yi menatap kearah putranya dan Xue Xue secara bergantian.
Lalu dia berkata,
"Putra ku katakan pada ibu, apakah kamu benar menyukai dan mencintai Pai Xue Xue."
Nan Thian yang mendapat todongan pertanyaan seperti itu.
Dengan gugup, dia melirik sekilas kearah Xue Xue sekilas.
Di mana Xue Xue wajahnya menjadi semakin merah dan kepalanya tertunduk semakin dalam.
Seolah-olah ingin mencari sebuah lubang untuk bersembunyi.
Nan Thian dengan tegas menganggukkan kepalanya dan berkata,
"Benar ibu, aku memang sangat menyukai adik Xue Xue dan sangat mencintainya.."
Ye Hong Yi tersenyum girang, dia kini menoleh kearah Xue Xue dan berkata,
"Xue Xue katakan dengan jujur pada bibi, bagaimana perasaan mu terhadap putra bibi..?"
Xue Xue terlihat gelisah dan gugup, tapi karena dia sedang di tunggu jawabannya.
Dia akhirnya memberanikan diri mengangkat sedikit wajah nya yang merah padam.
Menatap kearah Nan Thian dan Ibunya secara bergantian, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Maaf bibi, aku belum mengerti soal cinta, kalau sayang aku tentu sangat menyayangi Thian Sexiong."
"Aku hanya tahu selama berada di sisinya aku sangat nyaman, dan bahagia.."
__ADS_1
Ye Hong Yi langsung tersenyum lebar mendengar jawaban dari Xue Xue.
Dia langsung berkata,
"Ini sudah lebih dari cukup.."
Lalu dia menggamit tangan Xue Xue yang halus lembut, untuk di letakkan bertumpang tindih dengan tangan putranya.
"Masalah ini biar bibi bantu kalian putuskan saja.."
"Serahkan pada bibi, bibi akan bantu kalian mengurusnya.."
ucap Ye Hong Yi sambil tersenyum lembut.
Tapi saat menoleh kearah Yue Feng wajahnya langsung berubah judes.
Dengan suara ketus dia berkata,
"Mengapa masih bengong di sana ? bukannya cepat pergi mengundang Pai Wang dan Istrinya kemari..!"
"Dasar tidak berguna, aku sungguh menyesal kenapa dulu bisa memilih mu..!"
Bentak Ye Hong Yi ketus.
Yue Feng hanya bisa menghela nafas panjang, menelan semuanya.
Belasan tahun bersama, dia mana mungkin tidak mengenal karakter istrinya.
Sambil menelan ludah, dan tersenyum canggung kearah putra dan Xue Xue yang hadir di sana.
Yue Feng tanpa berkata apa-apa, dengan kepala tertunduk.
Dia berjalan keluar dari dalam ruangan, seperti ayam aduan yang baru saja kalah bertanding.
Melihat hal ini, Nan Thian dan Xue Xue saling melirik, mereka berdua sama sama menahan senyum.
Ye Hong Yi kembali tersenyum lembut, dan berkata dengan suara yang jauh berbeda dengan tadi.
"Kalian berdua tunggu di sini, saja, biar bibi pergi memastikan nya saja sendiri."
"Jangan sampai si tak berguna itu mengacaukan semuanya.."
ucap Ye Hong Yi sambil menepuk lembut kedua tangan Xue Xue dan Nan Thian yang masih menyatu.
Kedua anak muda itu seolah olah tidak ada yang ingin saling mendahului melepaskan tangan mereka.
Ye Hong Yi sambil tersenyum bahagia segera berlalu dari ruangan tersebut.
Dia melangkah dengan agak sedikit terburu-buru pergi menyusul suaminya.
Yue Feng sambil terus menghela nafas, dia terus berjalan pergi menuju ruang utama perguruan Qing Hai Pai, ditemani oleh seorang murid senior Qing Hai Pai.
Setelah tiba di ruangan tersebut, secara kebetulan Yue Feng melihat di sana hadir ketua Qing Hai Pai Pai Wang sahabatnya, istri Pai Wang, tiga tetua Qing Hai Pai.
__ADS_1
Selain itu juga ada tamu sepasang pasangan pendekar yang berpakaian indah dan di belakang mereka berdiri seorang pemuda yang sangat tampan berpakaian biru yang sangat indah dan mentereng.