
Nan Thian lupa dengan keadaan dirinya yang sudah tidak sama seperti dulu lagi.
Melihat ketidakadilan terjadi di depan mata kepala nya.
Tanpa sadar jiwa pendekar nya terpanggil.
Dia langsung membelokkan langkahnya, menghampiri tempat duduk tentara Mongol itu.
"Lepaskan gadis itu, hentikan tindakan kalian..!"
bentak Nan Thian, sambil menunjuk kearah tentara tentara mongol itu.
"Ha..ha..ha..ha..!"
"Anak muda, kelihatannya kulit mu sudah gatal rupanya.."
"Berani mencampuri urusan tuan besar mu.."
ucap tentara bertubuh tinggi besar yang memukuli kakek malang itu.
Sedangkan rekan rekan mereka tidak ambil pusing dengan kehadiran Nan Thian.
Mereka tetap memaksa menarik gadis itu kedalam pangkuannya,
Lalu mereka mengerayangi tubuhnya dan memaksa gadis itu minum.
"Jangan..jangan... lepaskan aku..! Aihhh.. lepaskan...aduh .sakit jangan..!"
"Jangan ku mohon lepaskan aku,..!"
"Eihh tolong..! lepaskan..! tolong...!"
"Eihhhhmm...!"
teriakkan gadis itu terhenti.
Saat rahangnya di tekan hingga mulutnya terbuka.
Lalu dia di cekokoki arak oleh para tentara itu.
Pengunjung restoran tidak ada yang berani ikut campur, mereka satu persatu memilih meninggalkan tempat itu.
Tentara tentara Mongol itu, terlihat tidak perduli dengan tangisan dan teriakan ketakutan gadis itu.
Sambil tertawa-tawa mereka terus melanjutkan aksi brutalnya.
Melihat hal itu, Nan Thian menjadi naik pitam, dengan langkah lebar dia segera ingin turun tangan membantu gadis itu.
Tapi tindakan nya keburu di halangi oleh si tinggi besar yang berdiri di hadapannya.
Baru saja Nan Thian mengulurkan tangannya, tangannya sudah langsung di tangkap oleh Si tinggi besar.
"Hyaatt..!"
teriak si tinggi besar, tubuh Nan Thian langsung terangkat keatas, lalu dia banting keatas lantai.
Nan Thian meski tenaga dalamnya hilang tubuhnya cacat.
Tapi reflek dan kelenturannya sebagai seorang pesilat masihlah tetap ada.
Dengan gerakan indah Nan Thian berhasil jatuh dengan posisi kaki mendarat duluan.
Lalu dia memberikan tendangan putar kearah kepala tentara itu sekaligus melakukan tendangan sapuan kearah kaki lawannya.
Tendangan kearah kepala berhasil di hindari oleh tentara itu.
Tapi sapuan kearah kakinya yang tidak terduga.
Langsung membuat dia yang bertubuh tinggi besar, jatuh terjungkal.
__ADS_1
Dengan tubuh menimpa meja di belakangnya.
"Gubrakkkk...!"
Meja makan dan kursi yang tertimpa tubuh tinggi besar itu langsung hancur berantakan.
Si tinggi besar segera bangun, selain kaget, dia tidak terlihat kenapa kenapa.
Sebagai seorang ahli gulat, yang merupakan ilmu dasar setiap tentara Mongol.
Tentu saja dia memiliki fisik dan kekebalan tubuh diatas rata rata.
Dengan marah dia segera bangkit dari posisinya, sambil meraung seperti binatang terluka.
"Grrrrrr...!"
Dia langsung berlari maju menubruk kearah pinggang Nan Thian.
Dengan maksud ingin meraih pinggang Nan Thian, lalu melakukan jurus bantingannya.
Tapi Nan Tarang dengan gerakan reflek sudah menghindar, sambil melakukan tendangan ke sambungan tulang lutut lawannya.
Tentara bertubuh tinggi besar itu kembali tersungkur di atas lantai menangkap debu.
Melihat keadaan si tinggi besar yang bernama Monggu terus menjadi bulan bulanan.
Pimpinan kelompok itu yang sedang memangku gadis malang yang terlihat sudah teler.
Dia langsung memberi kode, agar tiga anak buahnya yang lain. Segera maju untuk membantu Monggu menangkap Nan Thian.
Dengan hadirnya bala bantuan Nan Thian pun tidak berkutik lagi, dia hanya sempat menyarangkan tinju dan tendangan nya beberapa kali, yang sama sekali tidak membawa pengaruh berarti bagi lawannya.
Sebelum dirinya akhirnya di ringkus kedua tangannya di pegangi oleh dua tentara Mongol dari kiri kanan.
Lalu perut dan wajahnya di hajar habis habisan oleh Monggu dan teman temannya.
"Bukkkk..!"
"Bukkkk..!"
"Hekkk..!"
"Bukkkk..!"
"Ngekkk..!"
Tubuh Nan Tidak sampai terlonjak keatas setiap perutnya, di hajar oleh tentara itu secara bergantian.
Pukulan kearah wajahnya, membuat wajah Nan Thian terlempar kesamping dan mendongak keatas saat dagu dan rahangnya terkena upercut para penyiksanya.
Dalam sekejap saja wajah Nan Thian sudah babak belur di hajar oleh para tentara itu.
Bahkan kini begitu pegangan tangannya di lepas, Nan Thian langsung jatuh meringkuk di atas tanah.
"Blaakk,..!"
"Blukkk..!"
"Blaakk,..!"
"Blukkk..!"
Terdengar suara tendangan, yang di lepaskan oleh para pengeroyoknya, dengan sadis menghujani seluruh tubuh Nan Thian.
Mereka bukan hanya menendang, bahkan kini mulai menginjak nginjaknya.
Nan Thian hanya bisa meringkuk diatas lantai, sambil berusaha menggunakan kedua tangannya melindungi kepala dan wajahnya.
"Hentikan kalian semuanya..!"
__ADS_1
terdengar sebuah suara lembut dari arah pintu masuk restoran.
Di depan pintu masuk restoran, terlihat Xue Xue dan Hung Ping Chi berdiri di sana sambil bergandengan tangan.
Para pengeroyok Nan Thian begitu mendengar suara teguran lembut itu.
Mereka langsung menghentikan aksi mereka, lalu menoleh kearah asal suara itu.
Begitu melihat yang menegur mereka adalah seorang gadis yang cantik seperti bidadari.
Mereka langsung tersenyum lebar, meninggalkan Nan Thian, yang terlihat babak belur meringkuk di atas tanah, dalam keadaan mengenaskan.
Mereka sambil tersenyum lebar berjalan menghampiri Xue Xue.
"Aduh cantiknya boneka kecil ku, mari sini temani kakak minum.."
"Kakak jamin kamu pasti akan puas..!"
"Ha..ha..ha..ha..!"
Terdengar suara tertawa tentara tentara itu, mendengar ucapan Monggu yang sangat tidak sopan dan beradab itu.
"Tapi hanya sesaat saja, sebelum terdengar bunyi."
"Singgg..!"
"Sreettt,..! Sreettt,..! Sreettt,..!"
"Sreettt,..! Sreettt,..! Sreettt,..!"
"Arggghhh...!"
"Blukkkk,..! Blukkkk,..! Blukkkk,..!
Blukkkk,..!"
Keempat tentara itu langsung jatuh terlentang dengan leher bercucuran darah.
Mereka hanya mengorok sejenak dengan suara tidak jelas karena mulut mereka berlumuran darah.
Sedetik kemudian mengejang, lalu nyawa pun melayang.
"Lepaskan gadis itu,..!'
terdengar suara dingin Hung Ping Chi.
Sambil melangkah menghampiri kearah pimpinan tentara itu, yang terlihat masih duduk di sana, sambil memangku gadis pengamen malang itu.
Pimpinan pasukan Mongol itu segera bangkit berdiri, diikuti oleh beberapa bawahannya.
Mereka segera mencabut golok bengkok di pinggang mereka, lalu mengepung Hung Ping Chi.
Di tempat lain, Xue Xue sudah berjongkok di samping Nan Thian, menyentuh pundak Nan Thian dengan lembut dan berkata,
"Nan Thian Sexiong, kamu baik baik saja..?"
Xue Xue terlihat bercucuran air mata melihat keadaan Nan Thian yang terlihat mengenaskan.
Dia benar-benar merasa bersalah dan menyesal melihat keadaan mantan kekasihnya saat ini.
Tapi saat ini yang bisa dia lakukan hanya bisa sampai batas ini saja.
Karena statusnya kini sudah menjadi istri Ping Chi.
Ping Chi bersedia memenuhi permintaan nya datang memastikan keselamatan dan kondisi Nan Thian, setelah meninggalkan perguruan.
Itupun sudah termasuk luar biasa, karena hari ini adalah hari pertama setelah malam pertama pernikahan mereka semalam.
Melihat Xue Xue yang terus bersedih menyesal dan mengkhawatirkan keselamatan dan keadaan Nan Thian.
__ADS_1
Ping Chi akhirnya menemani istrinya turun gunung untuk memastikan keadaan Nan Thian.