
"Tiga..!"
Jawab Nan Thian sambil melangkah keluar dari dalam restoran.
"Aku di sini tak perlu teriak teriak, kamu mau selesaikan di sini atau di mana terserah.."
"Tapi saran ku carilah tempat yang sepi, agar tidak menganggu ."
"Banyak bicara rasakan ini,..!"
bentak salah satu dari tiga pria paruh baya yang berdiri di hadapan Nan Thian.
Mereka bertiga adalah wakil pimpinan Jing Yi Kai Pang, biasanya terkenal dengan sebutan Koai Tung San Kai ( Tiga pengemis tongkat sakti ).
Orang pertama yang berwajah tirus dengan jenggot kambing biasanya di panggil Ta lang..
Sedangkan orang kedua yang wajahnya ada tompel di pipi biasanya di panggil Er Lang.
Terakhir yang berwajah sangar penuh brewok biasanya di panggil San Lang.
Mereka bertiga adalah andalan ketua Jing Yi Kai Pang cabang Lan Zhou, Kai Sun.
Kemampuan ilmu tongkat mereka sudah di akui oleh semua jagoan di kota Lan Zhou
Hampir tidak ada orang yang berani mencari masalah dengan mereka.
Kemunculan Nan Thian yang langsung melukai anggota mereka, tentu saja membuat mereka bertiga sulit menerimanya.
Makanya mereka bertiga langsung datang mencari Nan Thian untuk membalasnya.
Tapi melihat Nan Thian masih begitu muda, seorang diri pula.
Mereka yang punya reputasi di kota Lan Zhou tentu saja malu, begitu tiba langsung mengeroyok Nan Thian.
Itu akan merusak reputasi mereka, jadi mereka membiarkan, saudara ketiga mereka.
Si muka brewok yang berangasan maju duluan.
Kini Si muka brewok tanpa banyak bicara dan menanyakan asal usul Nan Thian.
Dia langsung maju menyerang Nan Thian dengan kemplangan tongkat yang diarahkan dari atas kebawah sambil melakukan lompatan tinggi.
Bila terkena pukulan tersebut niscaya batok kepala Nan Thian akan remuk di buatnya.
"Brakkk,..!"
Hantaman keras itu menghantam pot bunga di belakang posisi Nan Thian berdiri, hingga terbelah dua.
Nan Thian sendiri dengan santai bergeser kesamping, sehingga hantaman itu lewat begitu saja di samping badannya.
Lalu Nan Thian menginjak ujung tongkat yang baru saja menghantam pot bunga hingga terbelah, dengan ujung kakinya.
Melihat yang di lakukan oleh Nan Thian, si brewok langsung melakukan gerakan menarik kembali tongkat nya.
Dia ingin membuat Nan Thian terjungkal, lalu menghadiahi tubuh Nan Thian, dengan sebuah pukulan, saat tubuh Nan Thian sedang berada di udara.
__ADS_1
Tapi itu adalah rencananya, pada prakteknya, hasil tidaklah sesuai harapan.
Jangankan membuat Nan Thian terjungkal, bahkan untuk menarik kembali tongkat nya saja, dia tidak sanggup.
Dengan wajah kaget Si brewok menambah tenaga, tapi hasilnya tetap sama tidak ada perubahan.
Hal ini adalah akibat Nan Thian mengerahkan ilmu Jian Cin Tui (Kaki ribuan kati )
Sehingga si brewok sulit menggerakkan tongkatnya, yang bagaimana di tarik.
Tetap saja tidak bergeming. Seperti telah menyatu dan mengakar dengan lantai.
Si brewok yang merasa malu, dengan mata melotot marah menatap kearah Nan Thian.
Dia berteriak keras, sambil berusaha menarik tongkat nya dengan sekuat tenaga.
"Arggghhh...!!"
"Blukkkkk...!"
Di saat bersamaan, Nan Thian justru menarik kembali kakinya, melepaskan injakan kakinya yang menekan tongkat itu.
Kesudahan nya, malah si brewok yang terjungkal kebelakang, dengan tubuh terbanting keatas tanah.
Orang sekitar yang menonton di sekitar pada menutup mulut menahan tawa.
Mereka tidak ada yang bersimpati dengan pengemis pengemis ini, karena anak buah mereka yang banyak tersebar.
Suka memaksa meminta uang keamanan kepada mereka yang buka usaha di kota Lan Zhou.
Terbukti sudah banyak pendekar yang kebetulan melewati kota Lan Zhou, melihat ketidakadilan, mereka turun tangan.
Tapi hasil nya para pendekar itu sendiri, yang babak belur di hajar oleh para pimpinan pengemis itu.
Melihat si brewok saudara ketiga mereka di permainkan sedemikian rupa.
Ta Lang orang pertama pimpinan Koai Tung San Kai, segera buka suara.
"Formasi tongkat maut..!"
Begitu dia berteriak, kedua saudaranya langsung bergerak terbang kearah Nan Thian, dengan hantaman tongkat mereka dari kiri kanan.
Sedangkan dia sendiri datang menyusul dengan putaran tongkat, yang menimbulkan angin pusaran dan puluhan bayangan tongkat.
Menyerang kebagian depan tubuh Nan Thian.
Nan Thian bersikap santai menunggu hingga serangan tongkat dari kiri kanan mendekat.
Dia baru mengulurkan kedua tangannya, yang di penuhi energi Ciu Yang Sen Kung, untuk menangkap ujung tongkat kedua lawannya.
"Tapppp..! Tapppp..!"
Begitu tertangkap, Nan Thian langsung menyentaknya dengan kuat.
Sehingga tubuh Er Lang dan San Lang tersentak kedepan, mengikuti arah tarikan Nan Thian.
__ADS_1
Nan Thian membuat tubuh kedua orang itu menjadi perisai untuk menghadapi serangan dari Ta Lang.
"Bakk,..! Bukk..! Bakk,..! Bukk..!"
"Bakk,..! Bukk..! Bakk,..! Bukk..!"
Er Lang dan San Lang yang bernasib sial, langsung menjadi bulan bulanan pukulan tongkat saudara mereka sendiri.
Selain menjerit kesakitan, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Sedangkan Ta Lang yang kaget, dia sudah tidak sempat menghentikan serangannya.
Alhasil kedua saudaranya itulah yang babak belur oleh serangan tongkatnya tanpa ampun.
Nan Thian sekarang bukan Nan Thian yang dulu lagi.
Setelah tubuhnya di sembuhkan dan Kim Kim berdiam di dalam Dan Tian nya.
Semua ilmu baik yang di ajarkan oleh gurunya, maupun ayahnya,, semua kini telah dia kuasai dengan sempurna.
Dahulu semua ilmu itu terasa rumit dan sulit di pelajari, terutama ilmu dari ayah nya, yang sangat memerlukan tenaga dalam tingkat tinggi .
Baru ilmu itu bisa di mainkan dengan sempurna.
Kini semuanya menjadi mudah, tidak lagi menyulitkan nya, juga tidak lagi menguras dan menghamburkan energinya.
Saat dia memainkan ilmu ilmu warisan ayahnya itu.
Di mana selama ini ilmu ilmu itu hanya bisa dia kenal lewat teorinya saja.
Nan Thian mengayunkan kedua tangannya yang memegang tongkat.
Menghempaskan nya kearah wajah Ta Lang yang sedang melakukan serangan.
"Bukkk,..! Bukkk,..!"
Tanpa ampun hidung Ta Lang langsung bonyok, bibirnya sobek terkena hantaman tongkat saudaranya sendiri.
Tubuh mereka bertiga terpental jatuh tumpang tindih, saat Nan Thian mainkan jurus.
"Mendorong pintu membuka jendela.."
salah satu ilmu Qing Hai Quan Fa (Ilmu silat tangan kosong Qing Hai ) yang terlihat sederhana.
Tapi bila sudah di salurkan Qiu Yang Sen Kung dan Ih Cin Cing menjadi terlihat sangat berbeda.
"Kalau masih sayang nyawa, enyahlah jangan pernah muncul lagi di hadapan ku..!'
Bentak Nan Thian mengingatkan ketiga orang itu.
Tanpa banyak cakap, Koai Tung San Kai langsung meninggalkan tempat tersebut terseok-seok sambil saling memapah.
Saat sudah cukup jauh, Ta Lang baru menoleh kearah Nan Thian dengan tatapan mata penuh kebencian berkata,
"Kamu tunggu saja, kami pasti akan kembali membalasnya.!"
__ADS_1