PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMUNCULAN PUTRI BIAN


__ADS_3

Sesuai dengan dugaan Fei Yang prajurit tersisa terus berlari mundur menuju gerbang istana.


Dari jauh Fei Yang melihat gerbang istana di jaga dengan jauh lebih ketat, mungkin ada ribuan pasukan yang berjaga di sana.


Fei Yang terus terbang melewati pasukan penjaga gerbang istana, yang hanya bisa menembaki dirinya dan Wei Wen, dengan ribuan anak panah, yang mereka lepaskan ke udara.


Tapi panah panah itu tidak ada yang berhasil menembus perisai energi, yang menyelimuti seluruh tubuh Fei Yang dan Wei Wen.


Fei Yang baru turun mendarat di halaman dalam istana, saat melihat dua orang kakek aneh berdiri di depan istana menghadang langkahnya.


Begitu melihat Fei Yang kedua kakek itu langsung menggabungkan energi mereka memanggil Senjata iblis mereka.


"Tombak Iblis Pemusnah Dunia,..!!"


Teriak kakek yang berdiri paling depan sambil menunjuk tangannya kearah langit.


Seberkas cahaya hijau melesat keluar dari tangannya, menembus langit.


Sesaat kemudian, sebuah tombak bercagak tiga, yang mengeluarkan cahaya hijau.


Meluncur turun dari langit langsung menerjang kearah Fei Yang, Fei Yang menyambutnya dengan mendorongkan sepasang telapak tangannya kedepan.


Dua ekor Naga api dan es meluncur menyambut serangan tombak itu.


"Duarrr,...!!"


tubuh kedua kakek itu terdorong mundur kebelakang.


Sedangkan Fei Yang masih di posisinya.


Sepasang naga api dan es hilang bersamaan dengan hilangnya tombak hijau bercagak tiga.


Fei Yang melanjutkan dengan melepaskan 64 pedang Cahaya ungu menerjang kearah kedua kakek itu.


Mereka kembali menggabungkan kekuatan membentuk perisai energi bertuliskan huruf huruf kuno, untuk mencoba menahan serangan Fei Yang.


"Duarrr,..!!"


Kembali terdengar suara ledakan dahsyat di udara,tapi kali ini tubuh kedua kakek itu terpental mundur bagaikan layang layang putus.


Perisai energi hijau mereka hancur pecah berkeping-keping tidak kuat menahan terjangan pedang ungu Fei Yang.


Ke 64 pedang ungu kini bergabung menjadi satu menerjang mengejar kearah kedua kakek itu.


Kedua kakek itu sambil berjungkir balik berulang kali, sambil berpegangan tangan.


Mereka berdua dengan kompak menunjuk kearah langit.


Dua cahaya hijau melesat dari ujung jari mereka melesat menuju langit.


"Tombak iblis Pemusnah Semesta,..!!"


"Hancurkan dia..!!!"


teriak kedua orang itu kompak.

__ADS_1


Dari langit muncul sesosok mahluk hijau bertanduk bertaring panjang sedang menyeringai.


Dia bergerak melemparkan dua tombak bercagak tiga yang mengeluarkan cahaya hijau dan di kelilingi oleh listrik yang menyambar nyambar.


Kedua Tombak yang di lemparkan oleh tangan kiri dan kanan iblis hijau itu.


Langsung meluncur deras menyerang kearah Fei Yang.


Ke 64 pedang ungu tiba tiba berbelok arah menerjang keatas, untuk menyambut serangan kedua tombak, yang di lontarkan oleh iblis hijau.


Duaarrr,..!!!"


Terjadi ledakan dahsyat di udara, ke 64 pedang ungu, yang sempat menggabungkan diri, membentuk dua pedang ungu raksasa dalam rangka menghadapi lemparan sepasang Tombak iblis hijau.


Tapi saat bertemu dengan pedang ungu, kedua tombak hijau hancur berkeping-keping.


Pedang ungu kembali membelah diri, menjadi 64 pedang cahaya ungu, melesat cepat menembus, tubuh mahluk hijau yang berada di balik awan .


"Arggggghhh,..!!!"


mahluk hijau itu berteriak keras.


Sebelum akhirnya tubuhnya ikut hancur berkeping-keping tak berbekas, langit pun kembali terang.


Kedua kakek aneh terjatuh terduduk di atas lantai, mereka berulang kali memuntahkan darah dan memegangi dada mereka, yang terasa nyeri dengan tangan kanan mereka.


Sedangkan tangan kiri di gunakan untuk menopang tubuh mereka agar tidak terguling keatas lantai.


64 pedang ungu, setelah menghancurkan bayangan iblis di langit.


Kini ke 64 pedang ungu mengambang di udara mengelilingi tubuh kedua kakek itu.


Pasukan kerajaan Champa hanya berani mengepung tapi tidak berani bertindak.


Mereka terus bergerak mundur, saat Fei Yang terus bergerak maju menghampiri kedua kakek aneh itu.


Setelah tiba di depan kakek itu, Fei Yang berkata,


"Kamu berdua mau memilih mengakhiri hidup kalian sendiri, atau menunggu ku turun tangan.."


Kedua kakek itu saling pandang kemudian mereka berdua tertawa terbahak bahak, salah satu dari mereka berkata,


"Kami sudah kalah, silahkan saja,.."


"Kemampuan kami tidak bisa menandingi mu, tidak ada yang perlu di salahkan dan sesalkan.."


"Ha,...ha,..ha,.ha,...!!"


kedua kakek itu mengeluarkan suara tawa keras.


Fei Yang menggerakkan ujung jarinya dua dari enam puluh empat pedang ungu.


Langsung meluncur menembus tenggorokan kedua Kakek itu.


Kedua kakek itu langsung roboh berkelenjotan dengan leher menyemburkan darah, mirip ayam dipotong lehernya.

__ADS_1


Wei Wen langsung berteriak kecil dan bersembunyi di belakang Fei Yang, dia ketakutan melihat kematian tragis yang menimpa kedua kakek itu.


"Raja Vijaya keluarlah,..!! atau kamu ingin lihat seluruh kerajaan dan rakyat mu binasa baru kamu puas..!?"


teriak Fei Yang sambil mengerahkan tenaga saktinya.


Sehingga suaranya menggelegar membuat seluruh istana kerajaan bergetar hebat.


Para pasukan kerajaan Champa yang mengepung Fei Yang pada jatuh malang melintang tidak sanggup berdiri.


Melihat Raja Vijaya tidak juga kunjung keluar, Fei Yang pun mengerahkan kekuatan energi api dan es nya.


Siap melepaskan jurus


Jutaan Pedang kembali' ke luluhur.


"Baiklah bila itu mau mu..!!"


"Bersiaplah terima kehancuran,..!!"


ucap Fei Yang siap melepaskan serangannya.


"Tunggu kak Fei Yang,...!!"


teriak seorang putri yang sangat cantik keluar dari dalam istana.


"Kalian semua mundurlah,..!!"


"Kembali ketempat kalian masing masing..!"


Perintah keluar dari mulut putri cantik itu, langsung membuat pasukan pengepung mundur teratur meninggalkan tempat tersebut.


"Kak Fei Yang ikutlah denganku, aku akan menunjukkan sesuatu pada mu.."


ucap gadis cantik itu yang tak lain tak bukan adalah putri Bian yang telah kembali ke kerajaan nya.


Wei Wen yang melihat munculnya putri cantik yang bertubuh aduhai dengan pakaian ketat membungkus tubuhnya yang indah dengan bagian pusar yang putih mulus di biarkan terbuka.


Dimana putri cantik itu bersikap begitu mesra saat berbicara maupun menatap Fei Yang.


Insting wanitanya berbisik padanya, bahwa putri cantik itu juga menaruh perasaan pada kekasihnya.


Wei Wen terlihat cemberut dan wajahnya terlihat merengut menahan kesal, api cemburu membakar dadanya membutuhkan pelampiasan.


Tanpa dapat di tahan lagi, dia mengibaskan pegangan tangan Fei Yang dan berkata,


"Kakak saja yang masuk, aku muak melihatnya.."


Fei Yang menoleh kearah Wei Wen, melihat calon istrinya kembali menunjukkan sikap anak kecilnya.


Sambil tersenyum lebar tanpa memperdulikan sekitarnya dan Putri Bian yang sedang menatap kearah mereka.


Fei Yang memegang lembut tangan Wei Wen dan berkata,


"Sudahlah jangan marah lagi, kamu adalah calon istri ku.."

__ADS_1


"Aku mana mungkin bisa masuk sendirian dan meninggalkan mu seorang diri di sini.."


"Bila terjadi sesuatu pada mu, aku pasti akan bersedih dan menyesal seumur hidup.."


__ADS_2