PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMUNCULAN 3 PENTOLAN GOLONGAN HITAM


__ADS_3

"Anak muda aku mendapat laporan dari Zhu Li murid ku yang menjaga gerbang lembah, katanya kamu memiliki ilmu yang luar biasa tinggi."


"Boleh aku tahu siapa nama dan marga mu..?"


tanya Pai Su Seng sambil menatap tajam kearah Fei Yang.


Fei Yang mengangkat tangannya memberi hormat kearah Pai Su Seng dan berkata,


"Nona Zhu Li sedikit berlebihan, aku hanya kenalan baik kakak Siaw,.. marga ku Li nama ku Fei Yang.."


Wajah Pai Su Seng tidak berubah tapi jantung nya berdetak cepat, keringat dingin membasahi lengannya.


Di dalam hati dia berpikir jangan jangan pemuda ini adalah Raja Xi Xia, Li Fei Yang pendekar api dan es (Ping Huo Ta Xia)


Di dalam buku susunan nya berada pada peringkat ke 8 itu.


"Li Fei Yang apakah kamu adalah orang yang sama dengan raja di negara Xi Xia sana..?"


tanya Pai Su Seng sedikit ragu.


Fei Yang tersenyum tenang dan berkata,


"Aku memang pernah jadi raja Xi Xia, tapi sekarang sudah tidak lagi.."


"Ha,..ha,..ha,..!"


untuk menutupi rasa gugupnya Pai Su Seng mengeluarkan suara tawa, sebelum dia kembali berkata,


"Bagus,..! bagus,..! sungguh tidak di sangka Ping Huo Ta Xia bisa hadir di tempat jelek ku ."


"Selamat datang Ping Huo Ta Xia, silahkan duduk, terimalah sulang dari ku.. sebagai tanda persahabatan.."


ucap Pai Su Seng sambil bersulang kearah Fei Yang.


Fei Yang sambil tersenyum membalas sulangan Pai Su Seng.


Fei Yang yang sudah kenyang asam garam kehidupan, bukan anak muda, yang baru turun gunung lagi seperti dulu.


Mulut manis dan pujian dari Pai Su Seng, yang memilki latar belakang misterius dan arah tujuan yang tidak bisa di tebak.


Sudah tidak mempan terhadap Fei Yang, Fei Yang tidak serta merta langsung mempercayainya, Fei Yang masih mewaspadai dan menaruh curiga padanya.


Di saat mereka sedang bersulang, muncul 7 ketua partai aliran putih, yang datang di antar oleh Zhu Li.


Saat ingin meninggalkan ruangan kembali ke pos jaganya, Zhu Li sempat melemparkan kerlingan dan anggukan kepala kearah Fei Yang.


Fei Yang membalasnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum ringan.


Selamat datang dan silahkan duduk, "


"Silahkan ketua Wu Dang Pai saudara Zhang Cui San.."

__ADS_1


"ketua Shaolin Pai biksu Kong Tek Hwesio."


"Ketua Thian San Pai saudara Yang Le."


"Ketua Xu San Pai saudara Yue Feng."


"Ketua Khong Thong Pai saudara Jian Ye."


"Ketua Kun Lun Pai saudara Chang Fu,"


"Ketua Er Mei, saudari Mi Jue Se Tai..!"


ucap Pai Su Seng satu persatu dan mempersilahkan mereka semua untuk duduk.


Yue Feng yang melihat Fei Yang hadir di sana duduk bersama Siaw Hong.


Dia segera mengambil tempat duduk di dekat mereka.


"Adik Yang lama tak bertemu kamu semakin tampan saja.."


"Bagaimana sudah berapa orang istri mu sekarang..?"


tanya Yue Feng menggoda Fei Yang.


Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,


"Tidak takut di tertawai, adik belum laku setelah yang itu gagal dan penuh tragedi..'


tanya Fei Yang mengalihkan pembicaraan, untuk mengurangi cerita kenangan yang menimbulkan luka perih di hati..


"Ohh Hong Yi dia harus urus putra kami Yue Lin yang masih bayi..jadi belum bisa di bawa bawa.."


"Selain itu Hong Yi juga bisa urus perguruan saat saya tidak di tempat.."


ucap Yue Feng penuh semangat.


"Selamat ya kak, aku bahkan belum sempat kunjungi kalian, dan tidak tahu kalian sudah punya putra.."


ucap Fei Yang yang merasa ikut dan turut bahagia.


Selagi mereka bertiga sedang asyik ngobrol bersama.


Zhu Li kembali memasuki ruangan membawa seorang pria berusia 50 an jenggot abu abu di potong rapi, dia mengenakan baju hijau pupus yang ada gambar naga di dada dan punggungnya.


Dialah ketua Cing Lung Pang, SHI Ma Cing Lung, dia menguasai seluruh perampok dan perompak di seluruh daratan China.


Di belakangnya menyusul datang seorang pria berusia 60 an dengan jenggot hitam terpelihara rapi, wajahnya gagah alisnya tebal seperti golok.


Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya masih hitam mengkilap.


Wajahnya selalu tersenyum ramah, tapi sepasang matanya jelas berkata lain.

__ADS_1


Matanya menunjukkan dirinya adalah seorang yang ambisius sadis dan sangat licik.


Dibalik senyum ramahnya, tersimpan sebilah golok jagal.


Dia adalah ketua Thian Sia Hwee (Partai Dunia) Xiong Pa.


Perkumpulan ini menguasai bidang pembunuh bayaran, siapa yang sanggup bayar, mereka akan menerima tugas darinya.


Mereka akan membunuh siapapun asalkan bayaran nya cocok.


Dibelakang Xiong Pa mengikuti dua orang pria muda, mungkin mereka adalah muridnya atau pengawalnya.


Dua orang pemuda itu yang satu berwajah dingin dan selalu merengut, seolah-olah semua orang dunia berhutang padanya.


Sedangkan yang satunya lagi meski selalu tersenyum ramah, tapi dapat terlihat dari matanya,. dia menyimpan duka dan kepedihan mendalam di hatinya.


Rombongan ketiga adalah ketua aliran iblis (Mo Ciaw) ketua nya adalah seorang nenek tua, yang biasanya di panggil Hoa San Lao Lao.


Hoa San Lao Lao mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan jubah hitamnya yang melambai lambai di punggungnya saat berjalan memasuki ruangan.


Sama seperti Ketua Cing Lung Pang, Hoa San Lao Lao hanya datang seorang diri.


Fei Yang begitu melihat kedatangan nenek itu hatinya tiba-tiba merasa gelisah.


Dia menjadi serba salah, saat nenek itu menyapukan pandangannya menatap semua yang hadir.


Melihat Fei Yang hadir di sana, dia langsung melemparkan sebuah senyum yang menampilkan giginya yang putih bersih berderet rapi.


Samar samar di pipinya yang keriput juga menampilkan sebuah lesung Pipit pemanis di pipi kanan.


Fei Yang yang melihat senyum dan gigi nenek itu, dia langsung terbayang kejadian pelecehan itu.


Fei Yang buru-buru menutupi mulutnya sendiri dan membuang muka kesamping menahan mual, seperti orang mau muntah.


Sepasang mata Fei Yang sampai merah dan sedikit berair, akibat menahan mual dan perasaan ingin muntah.


Melihat hal itu nenek itu malah tersenyum lebar dan mengirim pesan ke Fei Yang.


"Hai tampan, kamu semakin tampan dan menggemaskan saja.."


"Kalau nanti malam kesepian, kamu boleh mampir ke kamar ku, biar nenek bantu pijat.."


ucap nenek itu sambil menggedipi Fei Yang dengan penuh arti.


Fei Yang langsung bergidik ngeri mendengar pesan suara nenek itu, seluruh bulu di tubuhnya meremang.


Fei Yang melemparkan tatapan geram dan berkata, dengan mengirim pesan suara,


"Nenek cabul jahanam, percaya tidak aku akan mencabut semua gigi mu hingga ompong.."


Menanggapi ucapan Fei Yang nenek itu bukan nya takut, dia malah tertawa cekikikan dan terus melangkah menuju tempat duduknya .

__ADS_1


__ADS_2