PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
RAJA SULING PERAK


__ADS_3

Cahaya emas putih berkilauan, di sambut langsung dengan cahaya pedang putih berkilauan yang terbentuk bersama tubuh Fei Yang yang melesat kedepan.


Cahaya pedang putih Fei Yang berhasil menembus cahaya putih tajam yang datangnya bagaikan gelombang dahsyat.


Pedang cahaya putih yang membungkus tubuh Fei Yang, berhasil membelah gelombang tajam itu menjadi dua dan terus melesat kearah pria itu.


Pria itu menjadi kelabakan, melihat serangan jurus pamungkas nya, berhasil di pecahkan oleh Fei Yang.


Dia terpaksa mengerahkan energi pelindungnya dan kecapi giok hitam nya, untuk menyambut serangan Fei Yang dengan kekuatan penuh.


Rambutnya sampai berdiri berkibaran saat kedua kekuatan itu bentrok di udara.


"Brakkk,.. Bukkk,.. Deesss,...!!!"


Kecapi giok hitam kesayangan yang mengikutinya ratusan tahun harus pecah hancur berkeping-keping ditangan Fei Yang.


Untungnya di saat terakhir, Fei Yang menarik kembali sebagian besar kekuatannya.


Sehingga tubuh pria itu hanya terpental dan jatuh terduduk.diatas tanah dengan wajah pucat pasi.


Seluruh wajahnya dalam sesaat berubah menjadi penuh keriput, rambutnya yang hitam kini berubah menjadi seperti benang perak.


Dia beberapa kali batuk batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Pria itu sambil menahan nyeri di dadanya dengan tangan, dia berkata,


"Anak muda aku yang tua, kemampuan tidak bisa menandingi mu, terimakasih masih mengampuni nyawa tua ku.."


"Silahkan anda lewat,.."


ucap kakek itu, kemudian dia langsung duduk bersila mengatur pernafasannya.


Fei Yang memberi hormat kearah kakek itu, kemudian sambil tersenyum dia memberi kode kearah Yue Feng dan Hong Yi untuk mengikutinya masuk kedalam hutan bambu kuning.


Begitu memasuki hutan bambu itu, udara pun langsung berubah sejuk dan sangat nyaman bagi tubuh mereka bertiga.


Fei Yang sambil melangkah memejamkan matanya menghirup udaranya dalam dalam , bau dan suasana hutan bambu ini.


Langsung membangkitkan kenangannya terhadap hutan bambu misterius, dan wajah cantik seorang gadis, yang selalu muncul dalam mimpinya saat dirinya sedang tidur.


Fei Yang seolah-olah bisa merasakan kehadiran gadis itu di sisinya.


Di saat Fei Yang sedang terlena oleh suasana di sekitarnya, tiba tiba muncul alunan musik lembut yang sangat menghanyutkan perasaan.


Yue Feng dan Hong Yi yang lebih lemah sudah terlebih dahulu, jatuh terduduk di atas tanah.

__ADS_1


Mereka berdua terlihat sedang menangis sesunggukkan seperti anak kecil hingga sulit bernafas.


Yue Feng menangis karena terbayang kakek dan seluruh keluarganya yang mati penasaran.


Sedangkan Hong YI menangis tersedu-sedu karena terbayang kematian gurunya, semua saudara seperguruannya, ditambah lagi dengan kematian menyedihkan Kim Lan, yang telah berkorban begitu banyak demi menolong dirinya.


Teringat hal ini Hong Yi semakin tidak bisa mengontrol dirinya untuk menangis.


Fei Yang sendiri tidak sampai seperti kedua temannya, dia hanya termenung sedih, teringat semua kebaikan Xue Lian yang begitu menyentuh perasaannya.


Bila bukan berkat bimbingan gadis itu, sampai kini pun dia tidak akan bisa mengendalikan, dan menggunakan ketiga kekuatan dahsyat dalam tubuhnya dengan bebas seperti saat ini.


Teringat hal ini tanpa terasa sepasang mata Fei Yang mulai basah, dia berdiri.dengan tubuh gemetaran menahan rasa haru yang menyesakkan dada.


Baru saat dia merasa dada kirinya terkena totokan keras, hingga tubuhnya terpental jatuh bergulingan di atas tanah dan memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Dia baru kembali.sadar dari alam khayalnya.


Sedangkan Hong Yi dan Yue Feng kini sudah tertotok pingsan tidak bergerak di atas tanah.


Seorang pria yang juga terlihat berusia 40 an tahun dengan kumis dan jenggot terpelihara rapi.


Berdiri di hadapan Fei Yang sambil tersenyum dingin berkata,


"Kamu hebat juga, setelah terkena totokan maut ku tidak mati, malah masih bisa bebas bergerak."


Pria itu menatap kearah Fei Yang sekilas, lalu memutar tubuhnya berjalan meninggalkan Fei Yang, sambil berkata,


"Melihat kamu masih muda, dan juga telah berbaik hati, tidak mengambil nyawa teman baik ku.."


"Kamu boleh pergi dari sini, bawalah kedua teman mu itu, segera tinggalkan tempat ini, jangan pernah kembali lagi kemari.."


"Anggap lah itu untuk membayar hutang rasa kemanusiaan mu kepada teman baik ku.."


"Urusan hari ini akan aku anggap impas.."


Fei Yang dari tadi diam saja membiarkan pria itu berkoar-koar, karena dia sedang menyerap pil pemulih luka dalam, dari tabib Hua.


Dengan diamnya Fei Yang pria itu, mengira Fei Yang sudah tak berdaya.


"Tunggu,..!"


teriak Fei Yang sambil bangkit berdiri.


Pria itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Fei Yang dengan tatapan mata heran.

__ADS_1


"Kamu tidak lekas pergi, memanggil ku mau apa ?"


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"aku tadi lengah, sehingga terperdaya oleh mu,.."


"Sekarang kamu boleh mencobanya kembali, kalau mampu.."


"Tapi aku katakan di awal, kamu jangan menyesal bila nanti bernasib sama dengan kakek di depan sana."


Pria itu tertawa keras dan berkata,


"Anak muda mulut mu besar juga,..semoga mulut dan kemampuan mu sebanding.."


"Bila tidak, tahun depan dari hari ini, akan menjadi hari peringatan kematian mu..'


Fei Yang tersenyum dingin dan berkata,


"Coba saja,.. kita lihat siapa yang lebih mulut besar, kamu atau aku.."


Mendengar sindiran Fei Yang pria itu sepasang alisnya yang hitam panjang langsung berdiri.


Sambil melayang mundur dengan ringan, dia langsung menempelkan suling perak di tangannya di depan bibir kemudian meniupnya,


Suling itu mengeluarkan suara yang melengking tinggi, seolah olah hendak meledakkan gendang telinga dan jantung orang yang diserangnya.


Fei Yang tidak terlalu terpengaruh, sambil mengeluarkan suara raungannya yang menggetarkan, Fei Yang berhasil menahan serangan suara itu.


Bahkan Fei Yang menggunakan suara raungan nya dan suara melengking suling itu, untuk di kombinasi menjadi suara yang mengandung tenaga sakti, menyadarkan dan membebaskan totokan di tubuh Yue Feng dan Hong Yi.


Saat kedua orang itu kembali sadar, di mana mereka bisa kembali menggerakkan anggota tubuh mereka.


Karena totokan mereka telah terbebaskan lewat adu suara suling dan raungan yang keluar dari mulut Fei Yang.


Mereka berdua kemudian langsung buru buru mundur menjauh mencari tempat aman


Begitu melihat kedua orang yang sudah dia lumpuhkan kini telah di bantu bebaskan lewat adu suara tenaga sakti mereka marahlah pria itu.


Dia langsung menambah kekuatan serangan suara nya ingin meledakkan seluruh pembuluh darah di tubuh Fei Yang.


"Jangan terlalu emosi, sekarang kita impas satu sama.."


"Jaga nafas mu,.. jangan sampai putus pak tua.."


ucap Fei Yang menyindir sambil tertawa.

__ADS_1


Sepasang telinga pria itu menjadi merah, seperti habis di bakar.


Sambil menggertakkan gigi, dia meneruskan tiupannya yang kini memunculkan bayangan delapan bayangan pedang bergerak menyerang Fei Yang.


__ADS_2