PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BERKELILING DI KOTA XIANG YANG,


__ADS_3

Fei Yang menoleh kearah Yue Feng dan Hong Yi memberi tanda agar mereka mengikutinya.


Fei Yang berjalan santai di depan, Yue Feng dan Hong Yi mengikutinya dari arah belakang,


Fei Yang memimpin mereka memasuki kedai mie kecil yang secara kebetulan berada di depan toko besi itu.


Setelah mendapatkan tempat duduk strategis, Fei Yang pun berkata.


"Kek tolong mie Yang Chun 3,..!"


Kakek tukang mie yang sedang sibuk merebus mie, menganggukkan kepalanya tanda ok, sambil tersenyum lebar, menampilkan rongga mulut yang giginya tinggal dua..


Yue Feng berbisik pada Hong Yi,


"Nona Hong Yi coba kamu lihat, meski mereka cuma punya kedai mie sederhana di pinggir jalan begini.."


"Tapi hingga sudah menjadi.kakek kakek dan nenek nenek, mereka tetap terlihat sangat bahagia.."


"Bila kelak aku bisa hidup bersama pasangan ku, hingga seperti mereka, maka hidup ku tentu tidak akan ada penyesalan lagi.."


Hong Yi melirik kearah Yue Feng sambil menahan senyum dia balas berkata dengan pelan,


"Bila ingin seperti itu, maka jangan menyerah dan melepaskannya, tetap setia pada pilihan mu."


"Suatu hari pasti akan terwujud.."


Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Apa ini pakai bisik bisik segala,? lagi bahas apa nih, serius amat ?"


"Gak ada apa apa adik Yang, hanya kagum saja dengan pasangan kakek dan nenek itu yang terlihat kompak dan bahagia.."


ucap Yue Feng menjelaskan.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Kamu benar, terkadang hidup sederhana asal merasa cukup."


"itu akan jauh lebih bahagia dari pada orang yang hidup bergelimang harta kekuasaan dan nama, tapi hidupnya terikat oleh berbagai aturan yang mengikat.."


"Yang ada adalah kesepian, kecurigaan, ketakutan keserakahan iri hati dan kebencian serta dendam.."


"Semua hanya demi benda di luar tubuh kita, datang tidak bawa, pergi pun akan meninggalkan semuanya, jadi buat apa.?"


ucap Fei Yang mengemukakan pandangan hidupnya.


"Anak muda, semuda ini kamu sudah memiliki pemikiran sejauh itu, yang tua ini sungguh salut dengan pola pikir mu.."


ucap kakek tua itu sambil tersenyum lebar, dan meletakkan 3 mangkok mie Yang Chun di hadapan mereka.

__ADS_1


Mie Yang Chun,.mie kuah tradisional China.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Itu hanya pandangan pribadi ku saja, maaf bila jadi tertawaan kakek.."


"Ayo kek kita makan dulu.."


"Ayo semuanya, kita makan mumpung panas,.."


ucap Fei Yang, kemudian dia pun mulai makan dengan santai.


Sambil sesekali matanya melirik kearah toko pandai besi itu.


Kakek itu melihat rombongan Fei Yang mulai makan, dia pun mundur kembali ke dapur kecil tempat.dia memasak mie untuk pelanggannya.


Fei Yang makan dan ngobrol di sana dengan santai, sambil memantau gerak gerik toko pandai besi itu.


Hingga jelang siang, terlihat seorang gadis cilik datang sambil menggandeng seorang wanita muda cantik, tapi kedua matanya buta dan kakinya pincang.


Wanita muda itu datang membawa rantangan makanan ke toko pandai besi itu.


Melihat kedatangan wanita muda itu, Fei Yang pun bisa menebak pasti inilah wanita yang di maksud oleh kakek, dan pemuda yang memberinya informasi itu.


Inilah istri Cheng A Niu, yang di duga adalah Kian Li yang bersembunyi dan berganti nama.


"A Ping kenapa kamu nekad datang kemari, kamu sedang hamil muda, jangan sembarangan bergerak.."


"Makan siang kamu tak perlu repot repot antar kemari,.aku.dan ayah bisa bergantian pulang makan.."


ucap pria itu, buru buru menyambut rantangan yang di antar istrinya.


Lalu dia membungkuk menggendong anak kecil yang datang menuntun wanita bernama A Ping itu, lalu berkata.


"Hua er kamu pasti belum makan, ikut makan bersama ayah dan kakek mau..?"


Anak kecil itu mengangguk cepat dan berkata,


"Mau,.. mau,.. ayah,.. Hua er mau.."


Pria itu tersenyum dan menciumi pipi putri nya yang lucu.


Pria itu sambil menggendong putrinya, dan memegang rantang makanan, dia juga menggunakan tangannya yang lain, untuk membantu membimbing istrinya yang tidak bisa melihat berjalan masuk kedalam toko.


Fei Yang tentu langsung mengenali pria itulah yang sedang dia cari cari selama ini.


Hanya saja melihat kebahagian keluarga kecil itu, Fei Yang ada sedikit rasa tidak tega untuk langsung turun tangan menghukumnya.


Kian Li sendiri terlalu fokus dengan anak istrinya,...sehingga dia tidak menyadari kehadiran rombongan Fei Yang di sana.

__ADS_1


Bila dia memperhatikan dengan seksama, setidaknya dia pasti akan mengenali kehadiran Hong Yi di sana.


Fei Yang sengaja duduk menunggu di sana, hingga Kian Li dan keluarganya selesai makan siang.


Di mana terlihat Kian Li sendiri yang mengantar anak istri pulang kerumah.


Saat Kian Li sedang berjalan santai kembali ketoko, Fei Yang baru keluar menghadang di depannya dan berkata,


"Kak Kian Li apa kabar lama tak bertemu.?"


Kian Li sangat terkejut, ada orang yang tiba tiba muncul menegurnya dan menghadang langkahnya.


Yang lebih mengejutkan, adalah orang yang menghadang langkahnya, mengenali nama lamanya yang sudah lama sekali, tidak dia gunakan..


Tapi saat Kian Li mengedarkan pandangannya dan melihat kehadiran Hong Yi di sana.


Dia pun segera sadar siapa orang yang datang kemari menemuinya.


Sambil tersenyum tenang, Kian Li berkata,


"Akhirnya hari penebusan dosa ku tiba.."


"kedatangan kalian pasti ingin menuntut pertanggungjawaban akan kehancuran Xu San pada ku kan ?"


"Itu bukan masalah, tapi tolong beri aku waktu, setelah kentungan ketiga, aku janji akan menemui kalian di gerbang kota utara."


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Itu bukan masalah, aku juga tidak takut, kamu akan bisa kabur dan tidak menepati janji mu."


Fei Yang menggeser kesamping, memberi jalan pada Kian Li.


Dia kemudian berjalan meninggalkan tempat itu diikuti oleh Yue Feng dan Hong Yi.


Hong Yi menatap Kian Li dengan tatapan mata penuh kebencian.


Tapi Kian Li bersikap.seolah olah tidak tahu, saat mereka berdua berpapasan jalan.


Meninggalkan toko pandai besi, Fei Yang mencari sebuah penginapan, membuka dua kamar untuk mereka bertiga.


Selesai membuka kamar, mereka bertiga memutuskan berkeliling keliling melihat lihat keunikan dan keramaian di kota Xiang Yang.


Hong Yi yang terlihat paling gembira, dia melihat kesana kemari dengan penuh antusias.


Yue Feng dengan setia selalu menemani di sisinya menjadi pembantunya memberikan pendapat dan membayar barang yang Hong Yi inginkan.


Sedangkan Fei Yang lebih senang melihat tukang obat keliling melakukan atraksi, dan mempromosikan obat gosok yang mereka jual.


Berbagai macam atraksi menarik di pamerkan di sana, seperti tidur di atas paku, di tindih lempengan batu besar, kemudian di pukul dengan palu hingga lempengan batu terbelah.

__ADS_1


__ADS_2