
Lei Mo langsung melesat ingin memberikan pukulan terakhir.
Tapi pergerakan nya tertahan di tengah jalan oleh teriakan Yesebuhua.
"Senior Lei tahan..!"
Yesebuhua melangkah maju, lalu dia melayang ringan mendarat di dekat Yang Di dan Song Wan.
"Senior Lei aku punya rencana untuk mereka, cukup lumpuhkan saja.."
"Jangan di bunuh.."
ucap Yesebuhua tenang.
"Baik tuan putri, silahkan saja.."
Yesebuhua menoleh kearah Thian Tu dan berkata,
"Paman Thian Tu, aku ingin mereka setia mengabdi pada kerajaan Yuan apa ada caranya ?"
"Beri ini, jamin mereka akan setia seumur hidup.."
ucap Thian Tu dingin..
Thian Tu melempar sebuah porselen putih kecil kearah Yesebuhua.
Yesebuhua menangkapnya, lalu dia menuang ke telapak tangannya, 2 butir pil yang berwarna merah yang mengeluarkan bau amis.
Tanpa banyak bicara, Yesebuhua dengan senyum dingin, memasukkan dua butir pil itu, kedalam mulut Yang Di dan Song Wan yang sedang tak berdaya.
Yesebuhua menutup hidung dan mulut kedua orang itu secara bergantian saat pil itu dia masukkan kedalam mulut mereka.
Karena kesulitan bernafas, kedua orang itu dengan terpaksa, mau tidak mau harus menelan pil tersebut.
Setelah melakukan nya, Yesebuhua menoleh kearah Thian Tu dan berkata,
"Paman,..maaf, bagaimana cara kerjanya..?"
Thian Tu dengan wajah tanpa ekspresi dia berkata,
"Mudah saja, sebulan sekali mereka akan selalu kembali mencari mu.."
"Bila mereka tidak menurut pada mu, jangan berikan pil ini pada mereka.."
"Mereka boleh mencobanya."
"Bahkan dewa sekalipun, tidak akan ada yang bisa, menahan rasa kesakitan dan penderitaan nya, saat racunnya kambuh.."
ucap Thian Tu penuh percaya diri.
"Sundal keji bunuh saja kami, jangan harap kami akan tunduk dengan mu..!"
bentak Yang Di dengan mata melotot marah.
Yesebuhua tersenyum dan berkata,
__ADS_1
"Jangan buru buru ambil keputusan, kita lihat bulan depan baru bicara.."
Yang Di mendengus kesal dan membuang muka.
Song Wan tidak berkata apa-apa, dia memilih memejamkan matanya.
Mencoba bersikap tenang dan berpikiran jernih.
Di tempat pertempuran Kim Hong Kim Lan dan Kim Sin , sebelum Ye Ying dan Ye Hong roboh.
Ketiga gadis itu sudah tertawan oleh pasukan Yuan, Kim Hong terluka di betis dan lengan oleh panah.
Sedangkan Kim SIn terkena tusukan tombak di kedua bahunya.
Kim Lan putus sebelah tangan kirinya, ditebas oleh salah satu komandan pasukan elite Yuan.
Mereka bertiga tidak sampai tewas di bawah hujanan senjata lawan juga berkat perintah yang di keluarkan oleh Yesebuhua.
Yesebuhua sebagai sesama wanita, tidak tega melihat mereka di aniaya dan dilecehkan oleh tentara Yuan, yang terkenal ganas dan brutal terhadap tahan wanita.
Untuk itu Yesebuhua meminta mereka di tahan secara terpisah oleh pasukan pribadinya, yang terdiri dari pasukan wanita semua.
Pasukan wanita ini tidak banyak jumlahnya, hanya sekitar 100 orang.
Tapi mereka rata-rata memilki kemampuan yang tidak kalah dari pasukan pengawal istana.
Di tempat pertempuran Ye Bu Cin dan Bai Xue Sethai melawan Ping Mo, juga sudah berakhir dengan Ye Bu Cin dan Bai Xue Sethai, meringkuk kedinginan dengan tubuh mengigil di atas tanah.
Yesebuhua juga menghadiahi mereka berdua pil yang sama dengan yang di konsumsi oleh Yang Di dan Song Wan.
Mongke Khan dan Yesebuhua, memimpin pasukan kerajaan Yuan meninggalkan tempat tersebut, sambil membawa tawanan hidup yang ada.
Yang Di, Song Wan, Ye Bu Cin, Bai Xue Sethai, Kim Hong, Kim Sin Kim Lan, Pai Xue Xue, tabib Sie, Ye Sun, dan beberapa murid Qing Hai Pai yang bertugas menjaga Pai Xue Xue.
Mereka semua menjadi tawanan hidup, yang di bawa menuju istana pangeran ke 8.
Menunggu hukuman yang bakal mereka terima setelah melalui sidang tertutup nantinya.
Qi Lian Lao Koai yang datang terlambat bersama muridnya, mereka langsung mengikuti rombongan besar itu bergerak meninggalkan Lian Hua Feng, yang merupakan salah satu puncak di mana Hua San Pai berada.
Sementara itu di dasar jurang sana, Fei Hsia menemani Zi Zi melakukan pencarian selama tiga hari tiga malam tanpa hasil.
Akhirnya Zi Zi dengan berat hati harus ikut dengan gurunya meninggalkan dasar jurang.
Saat mereka kembali ke puncak tebing, di sana suasana sudah sepi.
Zi Zi langsung melompat turun dari punggung Bangau Dewata, dia berlarian kesana kemari memangil manggil kakak nya.
"Sun ke ke..!"
"Sun ke ke..!"
"Sun ke ke..!"
"Kamu di mana .!?"
__ADS_1
Panggil Zi Zi berulang kali, tapi selain tiga buah makam baru di sana.
Zi Zi tidak menemukan ada siapapun di tempat itu.
Sambil duduk bersimpuh lesu di hadapan makam Siau Hei Siau Yen dan Siu Lian.
Zi Zi menangis sedih di sana dan berkata,
"Mengapa,.!. mengapa kalian semua tega satu persatu pergi meninggalkan Zi Zi.?"
"Emangnya Zi Zi salah apa ? apa Zi Zi nakal dan tidak penurut sehingga kalian semua pergi..?"
ucap Zi Zi sedih sambil menatap kearah makam teman temannya.
Sesaat kemudian dia menatap kearah langit dan berkata,
"Ayah Ibu kalian di mana !?"
"Apa kalian tidak sayang dan menginginkan Zi Zi lagi..?"
"Kakak tampan,..kakak Sun,..kakak Siau Yen, kakak Siu Lian, Siau Hei mengapa kalian semua juga ikut pergi tinggalkan Zi Zi..?"
"Mengapa ? apa karena Zi Zi tidak penurut, dan tidak mendengar kata kata kalian ?"
ucap Zi Zi sambil tertunduk sedih dengan airmata bercucuran.
Sesaat kemudian Zi Zi, kembali berkata,
"Kalian kembalilah, asalkan kalian kembali, Zi Zi janji akan menjadi anak baik penurut dan tidak akan nakal lagi.."
"Kembalilah kalian semuanya,..!"
"Kembali..!"
"Hu..hu...hu..hu...!"
tangis Zi Zi sedih sambil merangkak maju memeluk nisan Siau Hei, Siau Yen dan Siu Lian secara bergantian.
Fei Hsia tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri diam menatap Zi Zi dengan air mata mengalir membasahi pipinya.
Dia mengerti kesepian yang di rasakan oleh Zi Zi, karena sampai saat ini pun dia juga masih merasakan hal itu.
Semenjak Fei Yang ayah kandung Zi Zi pergi dari sisinya.
Setelah beberapa waktu berlalu, Fei Hsia baru duduk di samping Zi Zi dan berkata,
"Zi Zi jangan bersedih lagi, semua ini adalah takdir.."
"Ikutlah dengan kakak, kakak berjanji akan menjaga dan menyayangi mu seperti putri kakak sendiri.."
"Kakak yang akan menggantikan mereka semua, Zi Zi mau kan..?"
ucap Fei Hsia sambil membelai lembut kepala Zi Zi.
Zi Zi menoleh kearah Fei Hsia dan berkata dengan wajah sedih,
__ADS_1
"Kakak cantik berjanji, tidak akan pernah tinggalkan Zi Zi dengan alasan apapun..?"