PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MELEPASKAN TAHANAN


__ADS_3

Sebagai gantinya adalah darah yang mengalir keluar dari mulutnya.


Akhirnya Xue Xue menutup kembali mulutnya, dia berusaha untuk tersenyum kearah Nan Thian.


Sebelum kepalanya dan tangan nya terkulai kebawah.


"Xue Xue Semei...!!!!"


Teriak Nan Thian sedih, sambil memeluk erat erat tubuh Xue Xue yang kurus dan lemah di dalam dekapan nya.


Nan Thian terlihat terus menggelengkan kepalanya, sambil menangis sedih.


Dia tidak pernah menyangka, sikapnya yang mengalah selama ini, demi kebahagiaan Xue Xue.


Malah secara tidak langsung, dia ikut menjerumuskan Xue Xue kedalam penderitaan tak berujung .


Hingga pada akhirnya, nasib Siau Semeinya, harus berakhir menyedihkan seperti ini.


Beberapa waktu larut dalam kesedihan, Nan Thian tiba tiba jadi teringat dengan Zi Zi.


"Akhh tidak, aku tidak boleh terus di sini,.."


"Aku harus secepatnya memastikan keadaan nya, jangan sampai kembali terulang tragedi seperti hari ini.."


"Aku tidak boleh mengalah lagi, aku harus memastikan dia hidup dengan bahagia.."


"Sebaiknya aku cepat mengurus jasad Siau Semei, lalu tinggalkan tempat ini.."


Gumam Nan Thian seorang diri.


Nan Thian membaringkan tubuh Siau Semeinya diatas pembaringan batu.


"Siau Semei selamat jalan.."


"Maafkan Nan Thian Sexiong yang hanya bisa gunakan cara praktis ini mengutus pemakaman mu.."


"Semoga kamu bisa tenang di sana."


ucap Nan Thian sambil menatap sedih kearah jasad Siau Semei yang membujur di hadapannya.


Nan Thian lalu mengeluarkan sebuah guci arak, mengosongkan isi nya.


Dengan satu dorongan tenaga inti api surgawi secara perlahan menyinari dari ujung kaki hingga kepala.


Jasad Xue Xue kini berubah menjadi serpihan abu putih, yang berserakan di atas ranjang batu.


Nan Thian memasukkan abu pembakaran jasad Xue Xue, kedalam guci arak yang dia kosongkan isinya.


Setelah selesai, Nan Thian langsung menyimpannya kedalam cincin penyimpanan.


Nan Thian mencoba mengetuk ngetuk dinding di sekitar tempat dia masuk tadi.


Hasil pemeriksaan di seluruh dinding dalam ruangan itu, Nan Thian menemukan bahwa, kondisi seluruh dinding disana padat.


Tidak mungkin bisa ada pintu rahasia di balik dinding itu.


Nan Thian mencoba memeriksa kearah lantai, hasilnya tetap sama.

__ADS_1


Sisa satu harapan, Nan Thian melayang keatas mengetuk ngetuk dan memeriksa langit langit ruangan.


Di sini Nan Thian pun tersenyum dingin dan berkata,


"Hung Ping Chi, kelihatannya Thian pun tidak ingin menolong mu.."


"Kamu tunggu dan lihat, kita akan segera bertemu, lihat bagaimana aku akan membereskan mu.."


gumam Nan Thian dalam hati.


Nan Thian mengetuk beberapa tempat di langit langit ruangan, begitu menemukan bunyi ruang kosong di balik langit langit.


Dengan pengerahan tenaga sakti Panca Warna, Nan Thian menghantam langit langit ruangan tersebut..


"Brakkkk..!"


"Pranggg..!"


Langit langit ruangan yang tertutup lapisan batu, langsung meluruk kebawah, sedangkan plat besi tebal di bagian atas langsung terpental ke udara.


Nan Thian sendiri langsung menyusul melesat keluar dari dalam lubang tersebut.


Kemunculan Nan Thian yang tiba tiba, mengejutkan beberapa orang berseragam hijau, yang bertugas jaga di tempat itu.


Tapi sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, Nan Thian sudah menotok jalan darah keempat orang itu.


Sehingga mereka hanya bisa berdiri mematung di sana.


Mereka menatap kearah Nan Thian dengan wajah pucat, kecepatan Nan Thian membuat mereka semua merasa gentar.


Setelah melihat jelas, siapa yang berdiri di hadapan mereka, keempat orang itu semakin ketakutan.


Di mana Nan Thian seorang diri menghancurkan hampir setengah dari kekuatan kediaman gubernur Lim.


Mereka melihat dengan mata kepala sendiri, di mana teman teman mereka, di buat menjadi abu dan pecahan kristal es.


Mereka berani kembali bekerja di kediaman gubernur Lim, karena Wu Cong Kuan memberitahu dan memanggil mereka semua kembali.


Wu Cong Kuan meyakinkan mereka, bahwa Nan Thian telah di kepung dan di hancurkan oleh barisan pasukan pemerintah, yang di dukung dengan senjata meriam.


Tapi kini begitu melihat Nan Thian baik baik saja, mereka hanya bisa diam diam mengutuk Wu Cong Kuan, yang telah memberikan informasi menyesatkan.


Mereka benar benar tidak tahu bagaimana harus menghadapi Nan Thian, yang kini sedang berdiri di hadapan mereka.


"Katakan dengan jujur tempat apa ini ?"


tanya Nan Thian sambil melepaskan totokkan di tubuh salah satu orang itu.


Orang yang terlepas dari totokan Nan Thian, dengan gugup dia buru buru menjawab.


"Ini adalah penjara bawah tanah tuan.."


"Siapa saja yang di kurung di sini..?"


tanya Nan Thian ingin tahu.


Nan Thian berpikir siapa tahu, di antara para tahanan ditempat ini, ada yang dia kenal, sekalian bisa dia selamatkan.

__ADS_1


"Tidak banyak tuan hanya ada 2 wanita muda dan seorang wanita tua, yang semuanya adalah saudara seperguruan nyonya Kim Hong, istri gubernur Lim.."


jawab penjaga itu sejujurnya.


"Di mana mereka di tahan ?


Tanya Nan Thian cepat.


"Di sana tuan, mari saya antar.."


ucap penjaga itu cepat.


Penjaga itu membawa Nan Thian menuju ruangan tahanan pertama.


Di dalam ruangan terlihat Kim Lan Sethai sedang duduk bersemedi di atas ranjang batu.


Kaki dan tangan Kim Lan terikat rantai, yang membuat Nan Thian kaget adalah kondisi Kim Lan Sethai, yang kini hanya tersisa lengan kiri saja.


Baju lengan kanannya, terlihat menggantung kosong.


Kedatangan Nan Thian di antar oleh penjaga tahanan, membuat Kim Lan Sethai membuka matanya.


Saat melihat siapa yang ada di hadapannya dia sangat kaget.


"Kamu.. bukankah pendekar muda teman adik kami Kim Hong , kamu ternyata masih hidup..?"


ucap Kim Lan kaget bercampur heran.


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Benar sekali Sethai, mari saya bantu lepaskan rantainya."


Sekali sentak putuslah rantai yang mengikat kaki tangan Kim Lan Sethai.


Kim Lan Sethai, terbelalak kaget, bercampur kagum melihat kekuatan, yang di tunjukkan oleh Nan Thian.


"Anak muda kelihatannya kemampuan mu berkembang pesat.."


ucap Kim Lan Sethai kagum.


"Biasa saja Sethai, hanya serba kebetulan saja.."


"Ohh ya Sethai, mari kita lihat ke kamar yang lain.."


ucap Nan Thian cepat.


Kim Lan mengangguk cepat, mereka pun berpindah keruangan sebelah.


Kondisi Kim Sin Sethai jauh lebih baik, selain terbelenggu oleh rantai besi, dia dalam keadaan baik baik saja.


Sama seperti Kim Lan Sethai tadi, Nan Thian langsung mematahkan rantai besi yang membelenggu tangan dan kaki Kim Sin Sethai.


"Terimakasih banyak pendekar muda, untung anda kemari, bila tidak kami kemungkinan akan menutup usia di tempat ini.."


ucap Kim Sin Sethai penuh syukur.


"Itu sudah tugas ku, sebagai sesama saling tolong menolong.."

__ADS_1


"Mari Sethai berdua, kita sekarang pergi lihat keadaan Bai Xue Sethai.."


ucap Nan Thian terburu-buru, karena dia masih punya tugas lain.


__ADS_2