PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
GADIS BERCADAR


__ADS_3

Mereka berdua saat menyadari sedang berada di atas punggung Kim Tiaw.


Mereka pun menghela nafas lega, meneruskan berbaring dengan tenang diatas punggung Kim Tiaw.


Membiarkan Kim Tiaw terbang pergi sesuka hati membawa mereka berdua pergi meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu.


Kembali ketempat Fei Yang, yang terlihat sedang terbaring tak berdaya.


Saat Cakra di tangan Kipu Lhama hampir mengenai leher Fei Yang.


Tiba-tiba muncul sebilah pedang Giok hijau, menangkis dan mementalkan senjata Cakra Kipu Lhama.


Sebelum kaget Kipu Lhama hilang, ribuan cahaya mata pedang, sudah melesat memaksanya untuk melayang mundur dan membuat pertahanan.


Tapi tidak tahu datang dari mana, tahu tahu ada sebuah kekuatan dahsyat yang menembus dadanya.


Kipu Lhama berdiri diam ditempat, sebelum akhirnya tubuhnya perlahan lahan tumbang kearah belakang, dengan dada dan punggung yang berlubang, terus menyemburkan darah yang bagaikan keran bocor.


Kipu Lhama tewas dalam posisi sepasang mata terbelalak kaget tak percaya.


Jigme dan Dote, sangat terkejut dan marah melihat kejadian yang terjadi dengan begitu cepat di hadapan mereka.


Mereka meletakkan tubuh Sangha dan Dheva lhama yang sedang pingsan keatas tanah.


Lalu sambil berteriak marah mereka berdua melesat untuk menyerang orang yang telah berani menewaskan saudara mereka itu.


Dote melepaskan pukulan beruntun yang memunculkan puluhan tinju cahaya emas, melesat menghantam lawan di hadapannya.


Sedangkan Jigme melepaskan cakar Naga yang bersinar kebiruan, menyerang kepala leher dada dan perut lawannya secara beruntun, sambil bergerak cepat mengelilingi lawannya.


Lawan mereka yang dari penampilan dan pakaian yang di kenakannya adalah seorang gadis, bergerak ringan menyelinap kesana kemari.


Dengan sepasang kaki hampir tidak pernah menyentuh tanah, seolah olah dirinya adalah sebuah roh halus, yang bisa terbang gentayangan kesana kemari.


Gadis yang wajahnya tertutup cadar tipis itu, bergerak kesana-kemari kemari menghindari serangan kedua orang itu.


Hingga suatu saat terdengar teriakan suara lembut dan dingin dari balik cadar.


"Mati..!!"


Jigme dan Dote pun berdiri diam tak bergerak, sepasang Cakra emas ditangan mereka jatuh berkerontangan diatas tanah.


Sedangkan gadis itu dengan posisi tubuh setengah membungkuk, dia berada pada posisi kurang lebih 5 meter di belakang Dote dan Jigme.


Ketiga orang itu terlihat berada pada posisi diam tidak bergerak saling memunggungi.

__ADS_1


Hingga gadis itu kembali membalikkan badannya, dengan pedang terhunus di tangan.


Baru terlihat tubuh Dote dan Jigme terjengkang kebelakang dengan jidat dan leher berlubang


Jigme tewas dengan jidat berlubang, sedangkan Dote tewas dengan leher berlubang.


Saking cepatnya, luka kedua orang itu hanya meninggalkan setitik darah di sana.


Hingga beberapa detik luka mereka, baru mengalirkan darah dengan deras.


Vipasana lhama yang telah berhasil memulihkan hampir 70% kekuatannya, dia segera bergerak terbang keatas, kemudian membentak,


"Kesaktian Budha Tiada Tara..!!"


Sebuah bayangan Buddha Asurra melesat dengan sepasang telapak tangan terbuka kearah gadis bercadar yang memegang pedang giok di tangan.


Ribuan Buddha kecil melakukan hal yang sama mengikuti bayangan Budha besar menerjang kearah gadis itu.


Gadis itu tidak terlihat jerih, dia malah menyimpan pedangnya, membentuk sebuah Diagram bertulisan kuno bergambar Pat Kwa.


Untuk menyambut serangan Vipasana lhama, yang meluncur dahsyat dari atas kebawah.


Sebelum serangan tiba, tanah di sekitar gadis itu berdiri sudah retak retak, melesak kebawah.


Tapi saat kedua kekuatan bertemu di udara, seluruh bayangan Budha Asurra raksasa dan ribuan Budha kecil, semuanya tersedot kedalam lingkaran pusaran Pat Kwa.


Sebelum akhirnya di lontarkan kembali menjadi sebuah kekuatan tanpa batas dan wujud,


yang langsung melontarkan tubuh Vipasana lhama terpental menembus langit


Setelah mementalkan Vipasana lhama, gadis itu menarik kembali kekuatan nya.


Lalu dia menyambar tubuh Fei Yang yang terbaring tak berdaya kedalam pondongan nya.


Gadis itu kemudian melesat keangkasa, dan terbang bebas menghilang dari tempat tersebut.


Gadis itu terus terbang menuju sebuah puncak gunung tertinggi, di mana di puncak tersebut ada sebuah tebing batu besar bertuliskan dua huruf besar yang di ukir di atas batu tebing.


Dua huruf itu adalah Hua San ( Gunung Hua ).


Gadis itu mendarat ringan di atas puncak gunung itu, dalam guyuran hujan salju lebat.


Dia membawa Fei Yang, yang berada di dalam pondongan nya menuju sebuah gua kecil, yang terdapat diantar tebing batu tinggi diatas puncak gunung tersebut.


Tiba di dalam gua, gadis itu meletakkan tubuh Fei Yang dengan hati hati diatas sebuah ranjang batu datar.

__ADS_1


Setelah itu dia baru mengumpulkan ranting kayu kering di dalam gua untuk menyalakan api, menghangatkan ruangan di dalam gua tersebut.


Selesai menyalakan Api unggun, gadis itu bergerak menghampiri Fei Yang, yang terbaring lemah diatas ranjang batu.


Gadis itu menatap wajah Fei Yang lekat lekat dan berkata,


"Jangan khawatir kakak Yang, aku pasti akan berusaha menyembuhkan mu.."


"Untuk sementara waktu, kamu terpaksa beristirahat dengan tenang di sini.."


Gadis itu lalu mulai membuka pakaian atas Fei Yang, perlahan-lahan dengan hati hati dia membangunkan Fei Yang untuk duduk bersila.


Gadis itu lalu menempelkan sepasang telapak tangan nya yang putih halus di dada dan punggung Fei Yang.


Perlahan lahan tenaga saktinya mulai mengalir masuk kedalam tubuh Fei Yang, untuk membantu proses pengumpulan tenaga sakti Fei Yang yang buyar tak terkendali.


Tenaga sakti gadis itu bergerak menuntun sirkulasi tenaga sakti Fei Yang yang buyar, untuk di simpan kembali kedalam Dan Tian.


Setelah itu dia memberikan sebutir pil pelangi untuk di masukkan kedalam mulut Fei Yang.


Berhubung Fei Yang belum bisa menelan obat, dan minum air.


Gadis itu terpaksa menggunakan air di dalam mulutnya, untuk membantu mendorong obat di dalam mulut Fei Yang masuk kedalam perutnya.


Untuk proses tersebut, gadis itu terpaksa menyingkap sedikit cadarnya, membiarkan bibirnya yang merah indah, untuk di tempelkan pada bibir Fei Yang.


Seluruh wajah hingga leher gadis itu berubah menjadi merah, saat proses itu berlangsung.


Setelah selesai gadis itu menatap Fei Yang dengan tatapan sedih dan berkata,


"Kakak Yang anggap saja ini ciuman perpisahan kita yang terakhir kalinya.."


"Tunangan mu sangat cantik, dia sangat pantas menjadi pendamping mu.."


"Aku akan mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua.."


Gadis itu lalu menghapus dua air bening, yang menggantung di dagunya.


Setelah itu sambil tersenyum sedih, dia lalu kembali menempelkan sepasang telapak tangan nya, di depan dada dan punggung Fei Yang.


Hal itu terus berlangsung tanpa jeda selama 3 hari 3 malam, hingga di pagi hari keempat.


Seluruh urat di wajah dan tubuh Fei Yang sudah kembali normal, pernafasan Fei Yang pun mulai teratur.


Sebaliknya di kening gadis itu terlihat, di penuhi oleh peluh yang seperti mutiara kecil.

__ADS_1


__ADS_2