
Fei Yang bahkan tidak makan, minum hanya secukupnya, di bantu oleh Lung Er.
Sedangkan tabib Hua Sin, dia juga punya kesibukan sendiri, meracik obat, mengawasi kondisi dan perubahan kondisi racun Xue Lian, serta mengawasi jarum jarum yang dia tusukkan ketubuh Xue Lian.
Setiap sejam tabib Hua harus memindahkan lokasi jarum jarumnya, yang menempel di tubuh Xue Lian.
Hal ini di lakukan untuk mencegah racun bergerak kearah lain.
Sekaligus membantu menjaga aliran darah Xue Lian tetap bisa mengalir dengan lancar.
Sambil mengawasi itu, tabib Hua juga memberikan petunjuk pada Fei Yang bagaimana mengerahkan hawa Yang nya membantu menghancurkan racun yang bersemayam dalam Dan Tian Xue Lian.
Jawa murni di dalam Dan Tian Xue Lian yang terkontaminasi racun.
Terus bergerak memberikan perlawanan sehingga tidak mudah bagi Fei Yang untuk menghancurkan racun itu.
Tepat di hari ke tujuh, di mana itu adalah hari batas akhir, sukses ataupun gagal semua bergantung di hari itu.
Seluruh tubuh Fei Yang terlihat bergetar hebat, wajahnya yang pucat pasi terlihat penuh dengan keringat.
Ubun ubun di atas kepalanya terus mengepulkan asap.
"Critt,..!"
Dari ujung bibir Fei Yang terlihat darah segar sedikit menyembur keluar.
"Sedikit lagi nak Fei Yang, kamu harus bertahan.."
"Bila tidak semua kerja keras kita selama 7 hari ini akan jadi sia sia.."
ucap Tabib Hua pelan.
Sambil tetap fokus membantu menusukkan jarum ke bagian kening, kepala, hingga ubun ubun kepala Xue Lian, dengan sangat hati hati.
Lung Er berdiri tegang di sana, menyaksikan proses terakhir pengobatan yang sedang berlangsung.
Fei Yang menanggapi ucapan tabib Hua dengan anggukan lemah.
Meski dia terlihat lemas dan lemah, tapi sepasang matanya bersinar tajam, menunjukkan tekad dan semangat nya yang kuat.
"Criit..!"
Fei Yang lagi lagi menyemburkan darah dari mulutnya, Lung Er buru buru maju membantu membersihkan nya, dengan kain lembut yang sedikit basah.
Baru saja Lung Er selesai,
Fei Yang langsung batuk batuk.
"Uhukkk..! Uhukkk..! Uhukkk..!"
"Hoeek..!"
Fei Yang memuntahkan darah segar kesamping, berceceran di atas lantai.
Keringat di wajahnya berubah menjadi butiran es halus, sepasang telapak tangan dan wajahnya mulai tertutup lapisan es tipis.
Tapi kejadian ini tidak membuat Fei Yang berhenti menyalurkan hawa Yang terus menerus membakar sisa racun di dalam Dan Tian Xue Lian yang tinggal sedikit lagi.
Tabib Hua menatap khawatir kearah Fei Yang tapi dia juga tidak bisa apa-apa.
Karena dia sendiri harus fokus mengobati dan menjaga kestabilan keadaan Xue Lian.
Waktu seperti berjalan dengan lambat sedetik demi sedetik.
"Selesai,. kerja keras kita, akhirnya selesai juga..!"
Teriak Tabib Hua gembira, sambil buru buru menyangga tubuh Xue Lian.
Karena Fei Yang sudah tidak sanggup menyanggah tubuh istrinya lagi.
"Bruuurrrr...!"
Seiring dengan pendengaran dan sisa kesadarannya menangkap ucapan terakhir dari tabib Hua
Fei Yang sudah tidak bisa menahan darah, yang bergolak hebat di dadanya.
Darah itu tanpa tertahankan lagi menyembur keluar melewati tenggorokan nya.
Lalu menyembur keluar dari mulutnya.
Darah dari mulut Fei Yang menyembur keatas, karena kepalanya sedikit mendongak keatas.
Mengikuti tubuhnya yang tumbang kearah belakang, dengan sepasang mata mendelik keatas.
Fei Yang sepenuhnya gelap pandangan nya, saat mendengar ucapan terakhir dari tabib Hua tadi.
Dia sudah mencapai batas maximal nya.
Tabib Hua buru buru membaringkan tubuh Xue Lian, lalu dengan hati hati mencabut satu persatu jarum yang di tancapkan di seluruh tubuh Xue Lian.
Nafas Xue Lian terlihat sudah teratur kembali, wajahnya pun mulai ada rona merahnya.
Tidak sampai sepucat sebelumnya.
Setelah memeriksa kondisi Xue Lian sebentar, dengan memegang pergelangan telapak tangan nya.
Tabib Hua mengangguk angguk kecil, dari ekspresi wajahnya, dia terlihat cukup puas.
Selesai dari Xue Lian tabib Hua buru buru beralih melihat keadaan Fei Yang.
Melihat keadaan Fei Yang tabib Hua menggeleng gelengkan kepalanya dan bergumam pelan,
"Hufff,..! kedepannya mungkin tidak akan ada lagi Ping Huo Ta Sia.."
"Semoga masih sempat tertolong.."
ucap Tabib Hua pelan, sambil kembali sibuk mengobati keadaan Fei Yang.
Beberapa waktu berlalu kondisi Fei Yang tetap belum ada perubahan.
Wajahnya tetap pucat, seluruh tubuhnya memancarkan hawa dingin.
Sepasang matanya tertutup rapat, hanya bibirnya yang terlihat, sedikit menyunggingkan senyum puas.
Tabib Hua terlihat masih terus bekerja keras hingga Lung Er harus berkali kali maju membantu menghapus keringat yang membasahi wajah hingga keleher kakeknya.
Di sebelah sana, Xue Lian bulu matanya mulai bisa bergerak gerak.
Sepasang matanya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit mulai bisa terbuka kembali.
Sesaat karena belum terbiasa dengan sinar penerangan di dalam kamarnya.
Xue Lian memejamkan kembali matanya yang silau, hingga dia mulai bisa menerima cahaya masuk dan mulai terbiasa dengan penerangan di sekitarnya.
__ADS_1
Pertama tama yang di lihat oleh Xue Lian, adalah langit langit tempat dia berbaring selama ini.
Xue Lian merasa sangat familiar dengan langit langit diatas pembaringan tersebut.
"Di mana aku sekarang ? apa yang telah terjadi ?"
batin Xue Lian dalam hati.
Perlahan-lahan ingatan nya mulai pulih, dia mulai teringat kejadian terakhir.
Saat dia sedang di kerubuti oleh lawan nya, di mana dia berhasil mengalahkan lawan lawannya.
Tapi secara tidak sengaja dia saat menyerap hawa saktinya kembali dia malah keracunan.
Terbayang sampai di sini, Xue Lian pun terkejut dia buru buru mengedarkan pandangannya melihat kearah sekitar.
Melihat kondisi ruangan di sekitarnya, Xue Lian yakin dia sekarang ada di kediaman orang tuanya.
Tempat tinggal lamanya, di lembah rahasia di balik hutan bambu sesat.
Xue Lian semakin kaget, saat melihat tabib Hua dan Lung Er seperti sedang sibuk merawat suaminya yang terlihat tergeletak pingsan di sampingnya.
Xue Lian buru buru memaksakan diri untuk bangun melihat lebih jelas keadaan suaminya.
Wajah Fei Yang masih terlihat pucat dan dia terlihat jauh lebih kurus dari biasanya.
"Nyonya sudah sadar baguslah.."
"Jangan terlalu banyak bergerak dulu, tubuh nyonya masih lemah perlu penyesuaian.."
ucap Tabib Hua tanpa menoleh.
Dia terlihat fokus memberikan tusuk jarum dan urutan ringan, untuk membantu melancarkan peredaran darah Fei Yang.
Dengan suara gemetar dan cemas Xue Lian bertanya,
"Apa yang terjadi dengan suami ku..?"
"Siapa kalian ?"
"Aihh,..! ya, di mana putri dan keponakan ku..?"
tanya Xue Lian sambil mengedarkan pandangannya dengan panik.
"Aku dan kakek ku adalah teman baik paman, paman membawa kami kemari untuk mengobati racun di tubuh Bibi.."
"Paman tidak apa-apa dia hanya kelelahan saja, kakek ku sedang berusaha membantu memulihkan keadaan nya .'
"Sedangkan Zi Zi dan Sun Er, bibi jangan khawatir, mereka berdua aman di luar sana,"
"Mereka berdua sepenuhnya aman, ada Kim Tiaw yang menjaga mereka."
ucap Lung Er menjelaskan, untuk menenangkan Xue Lian.
Xue Lian sedikit lega mendengar penjelasan Lung Er.
Kini dia hanya menatap kearah suaminya dengan kasihan,
"Apa yang terjadi dengan suamiku, mengapa dia bisa begini..?"
tanya Xue Lian ingin memastikan saja.
Padahal dia sendiri tahu dengan jelas, pasti demi menyelamatkan diri nya, Fei Yang baru bisa begini.
"Nyonya kondisi mu masih lemah, ingat jaga diri juga kandungan mu.."
"Jangan terlalu banyak berpikir dulu, Fei Yang baik baik saja.."
"Jangan membuat pengorbanan kami selama 7 hari ini jadi sia sia.."
ucap Tabib Hua mengingatkan dengan lembut tapi tegas.
Xue Lian mengangguk pelan sambil membersihkan airmata nya yang jatuh berderai membasahi pipinya.
"Yang ke ke, kamu harus sembuh,.. jangan sampai terjadi sesuatu dengan mu.."
ucap Xue Lian sedih.
Xue Lian mengulurkan tangannya meraih telapak tangan Fei Yang yang dingin.
"Nyonya sebaiknya jangan pegang tangannya, kondisi hawa Im di tubuhnya belum stabil.."
"Nyonya sendiri belum boleh mengerahkan tenaga dalam selama 7 hari kedepan.."
ucap Tabib Hua mengingatkan.
Xue Lian dengan raut wajah sedih menahan Isak tangis, dengan hati hati dia meletakkan kembali tangan suaminya.
Setelah itu dia ikut berbaring di samping Guo Yun.
Lung Er buru buru meninggalkan kamar, tak lama kemudian dia kembali dengan semangkuk sup ditangannya.
"Bibi, selama 7 hari ini, perut bibi belum terisi dengan benar.."
"Minumlah sup ini dulu, biar cepat pulih, sehingga bibi bisa membantu kami merawat kakak Yang.'
ucap Lung Er mencoba membangkitkan semangat Xue Lian dengan meminjam nama Fei Yang.
Hal itu terbukti efektif, tanpa banyak bicara, Xue Lian kembali bangun menerima Sup itu dari Lung Er dan berkata pelan,
"Terimakasih anak muda.."
Xue Lian dengan cepat langsing menghabiskan sup itu, dan mengembalikan mangkuknya ke Lung Er.
"Bagaimana aku menyebut mu dan kakek mu..?"
tanya Xue Lian pelan.
"Nama ku Hua Lung, kakek ku Hua Sin, kakek ku biasanya di panggil tabib Hua.."
"Sedangkan aku bebas, bibi boleh panggil aku apa saja.."
ucap Lung Er ringan.
"Terimakasih banyak Tabib Hua dan Lung Er, bila tidak ada kalian berdua entah bagaimana nasib kami berdua.."
"Sekali lagi terimakasih banyak.."
ucap Xue Lian setulus hati.
Dia benar-benar merasa berhutang Budi dengan tabib tua itu dan cucunya.
Tanpa mereka, dia pasti sudah tewas keracunan, Fei Yang mungkin juga tidak akan selamat.
__ADS_1
batin Xue Lian yang merasa sangat berhutang Budi kepada tabib Hua dan cucunya.
"Tak perlu seperti itu nyonya, bantuan ku tidak gratis ."
"Setelah Fei Yang sembuh, dia harus memuaskan nafsu makan ku.."
"Kami mungkin akan numpang tidur dan , numpang makan di sini selama sebulan, sebelum kami kembali lagi kekediaman kami di puncak Xuan Wu..."
'Harap nyonya nanti tidak berkeberatan.."
ucap Tabib Hua sambil tersenyum ramah.
Xue Lian mengangguk cepat dan berkata,
"Tentu saja,..tentu saja,.. itu sudah seharusnya.."
"Itu sudah sepantasnya,..itu adalah kewajiban kami.."
"Hanya saja aku tidak bisa masak.."
ucap Xue Lian tertunduk malu.
Tabib Hua sedikit melengak mendengar ucapan jujur Xue Lian.
Tapi hanya sesaat, sesaat kemudian sambil tersenyum penuh pengertian dia berkata,
"Itu bukan masalah, kamu tidak kan ada dia.."
Xue Lian wajahnya semakin merah, mendengar ucapan Tabib Hua.
"Kalian beristirahat lah, kami keluar dulu, ada apa apa panggil saja.."
ucap Tabib Hua sambil membereskan peralatannya, setelah itu dia mengajak cucunya keluar dari dalam kamar..
Lung Er sudah bikin sebuah pondok sederhana, untuk dirinya dan kakeknya tinggal, untuk sementara waktu.
Sun er dan Zi Zi juga ikut andil membantunya mendirikan pondok sederhana itu.
Menjelang tengah malam Fei Yang bangun sekali,
"Haus .."
ucap nya pelan.
Xue Lian buru buru bangun membantunya minum.
Setelah itu Fei Yang kembali tertidur lemah.
Selama tiga hari, Fei Yang selalu seperti itu, bangun hanya saat ingin minum saja.
Selesai minum, dia pun kembali tidur.
Baru di hari ketiga, Fei Yang bisa membuka matanya, bangkit untuk duduk.
Tapi untuk berjalan keluar pondok Fei Yang masih membutuhkan bantuan dari Xue Lian.
Xue Lian sendiri, sudah jauh membaik, meski belum boleh menggunakan tenaga dalam.
Tapi secara keseluruhan keadaan Xue Lian sudah jauh membaik.
Dengan membaiknya Xue Lian, pekerjaan Tabib Hua dan Lung Er menjadi semakin ringan.
Pagi itu setelah membantu Fei Yang untuk keluar dari dalam pondok, menikmati udara segar.
Mereka berdua duduk santai di teras depan rumah.
"Sayang Zi Zi dan Sun Er kemana ? kenapa tidak kelihatan..?"
tanya Fei Yang begitu duduk santai di sana.
"Tadi pagi pagi selesai sarapan, mereka bertiga dengan Lung Er, pamit ingin menaiki Kim Tiaw."
"Pergi melihat anak anak Kim Tiaw dan Sen Tiaw yang masih kecil kecil."
"Karena kasihan dengan mereka yang minim hiburan, selama kita berdua sakit beberapa waktu ini.."
"Jadi aku mengijinkan nya, Yang ke ke gak berkeberatan kan ?"
Fei Yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum berkata,
"Apapun keputusan mu, aku akan selalu mendukungnya, sama seperti kamu yang selama ini selalu mendukung ku."
Xue Lian tersenyum bahagia, menatap suaminya dan berkata,
"Yang ke ke paling pintar menyenangkan hati wanita kalau sudah berbicara.."
"Pantas saja begitu banyak yang ngantri ingin bersama Yang ke ke."
Fei Yang tersenyum lebar, lalu menarik Xue Lian kedalam pelukannya dan berkata,
"Tapi bukankah pada akhirnya aku hanya milik mu seorang..?"
Xue Xue tersenyum dan berkata,
"Ya terhitung kamu masih sedikit punya hati nurani..dan tidak mengecewakan ku.."
Fei Yang hanya menanggapinya dengan tersenyum dan menciumi kepala istrinya dengan lembut.
Sesaat mereka berdua larut dalam kemesraan dan keheningan.
Hingga akhirnya, Xue Lian kembali bertanya,
"Yang Ke ke,.. kenapa sejak aku bangun, hingga sekarang.
Aku tidak melihat ayah ibu keluar dari dalam pondok mereka..?"
"Padahal ini sudah hari ke 4 kita berada di sini..?"
tanya Xue Lian penasaran.
Fei Yang menatap lembut istrinya dengan tatapan mata kasihan.
"Bantulah aku, kita kesana melihatnya.."
"Tapi berjanjilah kamu tidak boleh terlalu bersedih, harus ingat jaga kesehatan mu.."
ucap Fei Yang serius.
Mendengar ucapan Fei Yang, sepasang mata Xue Lian yang indah langsung membulat dan berkata,
"Apa sesuatu yang buruk telah terjadi pada mereka..?"
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Baik buruk sulit di jelaskan, lebih baik aku temani kamu kesana melihatnya langsung.."