
Kim Kim merasa buah buah ini, sangat mirip dengan makanan di negerinya yang telah hancur.
Mengingat hal itu, Kim Kim jadi teringat dengan negerinya yang telah tiada, juga seluruh keluarganya.
Kini yang tersisa hanya dia dan Naga Hijau, yang tidak di ketahui keberadaan nya, ada di mana.
Sehingga tanpa di sadari dua air bening mengalir turun dari sepasang matanya yang indah.
Tiba-tiba Nan Thian sudah duduk di sebelahnya dan berkata,
"Sudah jangan sedih lagi, paman ada nyiapin banyak masakan enak..'
"Ayo kita makan, selepas makan paman akan antar kita keluar dari sini..'
Kim Kim mengangguk pelan, lalu dia mengikuti Nan Thian menuju ruang makan.
Di mana di sana sudah di siapkan berbagai macam masakan lezat lezat.
Di sana hanya ada Fei Yang yang tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua.
Dengan heran Nan Thian bertanya,
"Ehh di mana bibi dan kembar..?"
"Hari ini khusus kita rayakan untuk kalian berdua, bibi mu dan kembar sudah makan duluan.."
"Mereka ada di kamar.."
"Ayo kita makan sepuasnya, setelah ini kita akan segera berpisah."
"Tidak tahu sampai kapan, kita baru bisa bertemu kembali.?"
"Ayo silahkan jangan sungkan.."
ucap Fei Yang ramah.
Kim Kim mencicipi masakan di hadapannya, dia mencoba nya lagi dan lagi.
"Paman tampan masakan mu hari ini luar biasa.."
"Biasanya juga sudah enak, tapi hari ini luar biasa.."
ucap Kim Kim sambil mengacungkan jempolnya penuh semangat.
Fei Yang hanya tersenyum dan berkata,
"Bila suka makanlah yang banyak, ini memang sengaja ku siapkan buat kalian berdua.."
"Sebagai ucapan terimakasih ku yang tidak ada artinya, di bandingkan bantuan kalian berdua selama 10 tahun ini."
ucap Fei Yang sambil menyumpitkan lauk buat Nan Thian dan Kim Kim secara bergantian.
Dia juga menuangkan sari buah dingin kedalam cawan Kim Kim dan Nan Thian.
"Paman bicara apa, justru aku yang banyak merepotkan paman."
"Selain itu, aku juga menerima banyak limpahan Budi, dalam petunjuk dan warisan ilmu berharga dari paman.."
ucap Nan Thian serius.
__ADS_1
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Semua ini memang adalah kewajiban ku, sebagai paman mu, tentu kewajiban ku untuk berbagi pengetahuan ku padamu..'
"Adalah usaha kerja keras dan kecerdasan serta bakat mu lah, semua bisa terwujud."
"Ini semua memang sudah takdir dan jodoh.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum.
Sementara Fei Yang dan Nan Thian sedang sibuk ngobrol, K Kim tidak ambil pusing.
Dia terlalu suka dengan semua makanan yang ada di hadapannya, sehingga dia hanya fokus dengan masakan di atas meja.
Kim Kim meski kini berwujud seorang gadis cantik, bertubuh kecil
Tapi aslinya dia tetap adalah ras naga, yang memilki kemampuan makan besar terutama terhadap segala macam daging, dia benar benar sangat menyukainya.
Tak butuh waktu lama, seluruh masakan di atas meja sudah ludes berpindah kedalam perut Kim Kim.
Kim Kim sambil tersenyum malu, menatap kearah Fei Yang dan berkata,
"Paman tampan, maaf masakan nya terlalu enak, aku tidak bisa mengontrol diri jadinya.."
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Bukan masalah, masakan ini memang sengaja di buat untuk di habiskan.."
"Bila tidak malah sayang sekali, karena bila sudah dingin rasanya sudah berubah.."
"Meski di hangatkan kembali, rasanya sudah tidak sama.'
Nan Thian hanya tersenyum melirik sahabatnya.
Mendengar penjelasan Fei Yang, Kim Kim sedikit merasa lega, dan tidak terlalu merasa tidak enak hati lagi.
"Paman boleh kami pergi menemui bibi dan si kembar sekalian berpamit.."
tanya Nan Thian.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Ayo kita temui bibi mu dan si kembar.."
Fei Yang berjalan di depan membimbing Xue Lian dan Nan Thian yang ikut di belakangnya.
Saat tiba di depan kamar Fei Yang berkata pelan,
"Sebentar ya saya lihat kedalam dulu.."
Nan Thian dan Kim Kim mengangguk cepat.
Fei Yang pun masuk kedalam, tak lama kemudian dia keluar lagi memberi kode agar Nan Thian dan Kim Kim bisa masuk.
Xue Lian terlihat duduk di kursi santainya setengah berbaring, sedangkan Fei Yung dan Fei Lung terlihat duduk diatas lantai, menemani di kedua sisi ibunya.
Xue Lian menoleh kearah Nan Thian dan Kim Kim, dia tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
Nan Thian maju berlutut di hadapan bibi dan paman nya, Kim Kim pun mengikutinya.
__ADS_1
"Paman Bibi, hari ini Nan Thian datang untuk pamit pada kalian berdua.."
'Terima kasih banyak atas semuanya, Nan Thian seumur hidup tidak akan pernah bisa lupa, dengan Budi baik paman dan Bibi.."
"Nan Thian berjanji setelah keluar dari sini, Nan Thian akan pergi mencari dan membawa Zi Zi dan Sun Er kembali kemari.."
"Kembali ke sisi paman dan bibi."
Xue Lian tersenyum penuh haru menatap Nan Thian dan mengangguk pelan.
Dia tidak bisa berbicara, tapi dari ekspresi wajahnya, dia jelas sangat cemas dan merindukan putri pertamanya itu.
Selesai berkata, penuh tekad.
Nan Thian pun merunduk kebawah, menempelkan dahinya di atas lantai, sebanyak 3 kali.
Kim Kim mengikuti di samping Nan Thian, meniru apa yang Nan Thian lakukan tanpa banyak bicara.
Fei Yang maju membangunkan kedua orang itu dan berkata,
"Nan Thian, Kim Kim, berdirilah mari paman antar meninggalkan tempat ini."
Nan Thian dan Kim Kim bangkit berdiri, Nan Thian menghampiri Fei Yung dan Fei Lung memeluk mereka berdua secara bergantian.
"Kakak, kapan kakak akan kembali kemari..?"
tanya kedua bocah itu terlihat berat melepas kepergian Nan Thian.
Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,
",Kalian tenang saja, setelah menemukan Zi Zi dan Sun Er."
"Kakak pasti akan secepatnya kemari.."
"Tapi kalian juga harus janji pada kakak, rajin berlatih jangan malas.."
"Tidak boleh nakal, membantah dan harus selalu menurut pada ayah kalian.."
"Mengerti..?"
ucap Nan Thian sambil membelai kepala kedua bocah itu dengan lembut.
Kedua bocah itu mengangguk pelan dengan wajah sedikit sedih dan berat untuk berpisah.
Nan Thian tersenyum dan berkata,
"Jangan bodoh, tersenyumlah, jangan bersedih, kita pasti akan bertemu kembali secepatnya.."
Fei Yung dan Fei Lung mengangguk cepat, lalu mereka berdua pun tersenyum mengawal Nan Thian sampai tiba di depan pondok.
Fei Yang di sana sudah siap menunggu, begitu Nan Thian dan Kim Kim tiba di sampingnya.
Fei Yang pun berkata,
"Bersiaplah, lalu dia terbang melesat duluan ke udara.
Nan Thian menatap bingung, dia berpikir Fei Yang akan membawa mereka berdua terbang keluar, kenapa dia kini malah melesat sendiri ke angkasa.
Di saat Nan Thian sedang bingung, terdengar suara tawa renyah Kim Kim,
__ADS_1
"Ayo kak naik ke punggung ku, kita menyusul paman mu.."