PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI BERTEMU


__ADS_3

"Kakak tampan tolong....!!!"


teriak Siao Tie semakin ketakutan, saat dia melihat Wuluzhen sedang mencopot celana nya sendiri.


Hingga kini tersisa celana petarung sumo, dengan benda tumpul keras menonjol besar di sana.


Melihat hal itu, Siao Tie semakin histeris ketakutan, sepasang matanya terbelalak ketakutan, bibirnya yang indah setengah membuka kering tidak mampu bersuara lagi.


Wajahnya pucat pasi, keringat sudah membasahi kening, dan lehernya yang mulus.


Di bagian tengah kedua bukitnya yang membusung indah, juga terlihat butiran keringat halus penuh di sana.


Nafasnya tersengal sengal tidak beraturan.


Di saat Wuluzhen sedang tersenyum penuh kemenangan, sambil melorotkan bagian penutup terakhirnya.


Tiba-tiba dari arah pintu penghubung terdengar bunyi suara ledakan dahsyat.


"Brakkkk...!"


Pintu penghubung yang terkunci rapat kini pecah hancur berantakan.


Dari balik pintu penghubung melesat Nan Thian, tahu tahu sudah muncul di belakang Wuluzhen.


Wuluzhen menoleh kaget kearah Nan Thian, sebelum sempat dia berkata.


Terdengar suara Nan Thian yang dingin,


"Keparat,..! mampuslah..!"


Dengan sekali sentak, tangan Nan Thian yang mencengkram titik Ya Men dan Feng Fu, yang membuat Wuluzhen terkulai lumpuh tak berdaya.


Tubuh Wuluzhen yang tinggi besar langsung terlempar jauh hingga menabrak kain pembatas ruangan.


"Breeet...!"


Kemudian terus melayang hingga menabrak pintu depan ruangan.


"Brakkkk...!"


Tubuh Wuluzhen yang tinggi besar terbanting pingsan tidak sadarkan diri di depan pintu kamar.


Sementara Nan Thian setelah melempar Wuluzhen, dia yang sekilas sempat melihat keadaan Siao Tie yang menyedihkan.


Dia langsung menarik kain penutup ranjang, melemparnya kearah Xiao Tie tanpa berani menoleh kebelakang.


Siao Tie sendiri yang terlalu kaget dan terpesona, oleh kedatangan Nan Thian, yang tiba tepat waktu menyelamatkan kesuciannya.


Dia terbelalak kaget hingga membiarkan dirinya terlentang tanpa Bu sa na di hadapan Nan Thian.


Baru setelah ada kain muncul menyelimuti tubuh nya, Siao Tie baru sadar akan kondisi dirinya yang sangat memalukan.

__ADS_1


Dia buru-buru menyambar kain itu menutupi seluruh tubuhnya, kemudian meringkuk di sudut ranjang.


Hanya tersisa kepalanya yang menongol dari balik kain penutup, menatap kearah Nan Thian dengan wajah merah padam menahan malu.


Untungnya Nan Thian sama sekali tidak menoleh kearah Siau Tie.


Nan Thian menggunakan ujung kakinya mencongkel pakaian Wuluzhen yang berserakan di sekitarnya.


Saat pakaian itu terbang keatas, Nan Thian langsung mengibaskan tangannya tanpa menoleh.


Seluruh pakaian itu bergerak terbang ke hadapan Siao Tie.


Nan Thian sendiri melanjutkan langkahnya menyusul keluar dari dalam kamar tersebut dengan wajah sedingin es menahan emosi.


Dia hampir saja terlambat, mencegah Angkara murka yang sedang berlangsung di dekatnya.


Dia yang sebelumnya ada di kamar sebelah tanpa menghiraukan suasana hinggar bingar di sebelah kamarnya, yang suaranya terdengar jelas hingga ke kamarnya.


Suara musik dan tawa pria wanita disebelah sana, membuat Nan Thian merasa muak dan sangat terganggu.


Untuk mengurangi suara keributan di sebelah sana yang sangat menganggu kenyamanannya.


Nan Thian sengaja menyumpal pendengarannya dengan kain kecil.


Setelah itu dia baru melanjutkan minumnya, hingga dirinya mabuk, terjatuh tidur menyandarkan kepalanya di atas meja.


Kim Kim yang juga mengalami gangguan keributan di sebelah, dia menutup telinga nya dengan selimut melanjutkan tidurnya.


Nan Thian baru sedikit tersadar, saat ada suara sayup sayup, yang terus memanggil nya kakak tampan meminta tolong pada nya.


Di dalam mimpi sana, Nan Thian yang mendengar suara panggilan itu, justru melihat Zi Zi sambil menangis sedih, mengulurkan tangannya kearah dia, memanggilnya kakak tampan meminta dia menolongnya.


Nan Thian ingin pergi menghampirinya, tapi dia tidak bisa, tubuhnya tidak mau menurut pada pikirannya.


Dia terus berusaha dan berusaha untuk bergerak, hingga akhirnya saat dia berhasil menggerakkan tubuhnya.


Zi Zi justru sudah menghilang dari sana, sebagai gantinya, Nan Thian pun terbangun dari mimpinya.


Dia segera menyadari itu cuma mimpi saja, tapi seiring dengan kesadarannya, dia kini justru mendengar dengan jelas.


Ada suara orang yang sedang memanggilnya kakak tampan, meminta dia agar menolongnya.


Suara tersebut berasal dari sebelah kamarnya, di mana kini selain suara jeritan minta tolong, suara tawa dan suara hinggar bingar musik, sudah tidak terdengar lagi.


Nan Thian pun langsung menjebol pintu penghubung dengan pukulan tapak penghancur karang .


Lalu pergi melihat situasi di sebelah sana.


Kini Nan Thian yang baru keluar dari dalam kamar, dia langsung di kepung oleh puluhan orang berpakaian hijau.


Mereka semua sudah mengeluarkan senjata di tangan, menatap kearah Nan Thian dengan penuh ancaman.

__ADS_1


Di belakang mereka berdiri seorang pemuda yang sangat di kenalnya, pemuda itu sedang menatap kearahnya dengan kaget.


Melihat pemuda musuh lamanya Hung Ping Chi hadir bersama rombongan pangeran bejad itu.


Nan Thian tidak merasa heran dengan itu, sambil tersenyum dingin Nan Thian berkata,


"Bagus,.. hari ini perhitungan lama dan baru kita hitung sekaligus hingga jelas.'


"Ayo majulah,..! sekalian panggil juga guru bejad mu kemari..!"


ucap Nan Thian sedikit mengeraskan suara nya, agar bisa terdengar hingga keseluruh ruangan di bangunan itu.


Benar saja sesuai harapan Nan Thian, tak lama kemudian Qi Lian Lao Koai pun terlihat muncul di sana, dengan tali celana kedodoran belum sempat di benarkan.


Dia baru saja menyelesaikan kesenangannya, merengut paksa masa depan Siau Lan dan Siau Cui yang malang.


Sama seperti kejadian di pundak Lian Hua San dulu.


Di mana dia juga melakukan itu pada Siau Yen dan Siu Lian.


Qi Lian Lao Koai dengan wajah sedikit kaget menunjuk kearah Nan Thian dan berkata,


"Ehh bocah bangsat, nyawa mu alot juga, ternyata belum juga mampus.juga.."


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Tidak semudah itu, sebaiknya kalian berdua lah yang harus hati hati, dengan nyawa kecil kalian."


Selagi Nan Thian sedang ngobrol, salah satu pria berbaju hijau yang ada di sana.


Dia diam diam mencoba memindahkan tubuh Wuluzhen yang sedang pingsan, dari tempat itu.


"Hei kamu mau bawa kemana dia..!?"


"Kalian tahan saja di sana..!"


ucap Nan Thian sambil mengibaskan tangannya kearah mereka.


Serangkum hawa dingin inti es surgawi meluncur cepat melewati tubuh kedua orang itu.


"Wusssh .!"


Seketika kedua orang itu, dari pinggang kebawah langsung berubah menjadi patung es beku.


Mereka berdua tidak bisa bergerak lagi, karena kini sebagian tubuh mereka telah menyatu dengan lantai ruangan.


Lim Ping Chi dan guru nya Qi Lian Lao Koai sangat kaget, saat melihat perubahan kemampuan Nan Thian, yang mengalami peningkatan yang begitu pesat.


Dulu mereka berdua ragu mampu melawan Nan Thian, bila tidak membuat nya keracunan.


Kini bila di lihat dari kemampuan Nan Thian saat ini, mereka sadar peluang mereka untuk memenangkan pertarungan ini sangat tipis.

__ADS_1


__ADS_2