
Nan Thian yang tidak menyangka gurunya hadir disana, dia buru-buru menoleh menatap kearah Zi Zi dengan penuh rasa ingin tahu..
Zi Zi sambil menatap Nan Thian dengan prihatin, dia melanjutkan berkata pelan.
"Guru kakak Pai Wang hadir di sana ingin menolong kami, tapi karena dia di kalahkan dan di lumpuhkan oleh Qi Lian Lao Koai.."
"Jadi saat kejadian berlangsung, dia yang tidak bisa bergerak, juga ikut tewas, sama seperti kakak Siu Lian dan kakak Siau Yen yang di lumpuhkan jalan darah nya oleh Qi Lian Lao Koai."
ucap Zi Zi pelan.
Sepasang mata Nan Thian berkilat penuh kemarahan, tapi hanya sesaat saja.
Sebagai orang yang sudah pernah menjinakkan iblis hatinya, dia lebih cepat menguasai emosi dan perasaannya.
Zi Zi yang sempat cemas, akhirnya bisa bernafas lega.
saat melihat Nan Thian sudah kembali stabil emosinya.
Melihat Nan Thian sudah stabil, dia mengeratkan tangannya menggenggam telapak tangan Nan Thian dan kembali melanjutkan ceritanya.
"Setelah berhasil mengusir kedua iblis itu, guru ku menemani ku mencari kakak kedasar jurang, tapi kami gagal menemukan kakak.."
"Saat kami kembali kepuncak Lian Hua Feng, kakak Sun sudah tidak ada di sana.."
"Aku hanya menemukan 3 makam di sana, makam guru kakak, makam kakak Siu Lian dan kakak Siau Yen, terakhir makan Siau Hei."
"Mungkin setelah memakamkan mereka, kakak Sun ikut dengan gurunya, biksu maha Kasapa ke Tibet.."
"Aku juga sempat mendatangi Hua San Pai, tapi keadaan Hua San Pai sudah hancur, hanya ada mayat dan kebakaran di mana mana.."
"Bila di lihat dari sisa mayat yang bergelimpangan di sana, kelihatannya hal ini tidak terlepas dari campur tangan pihak pemerintah Mongolia.."
"Karena banyak mayat pasukan Mongolia juga ikut berserakan di sana."
ucap Zi Zi mengemukakan dugaan yang pernah di ucapkan oleh gurunya.
Nan Thian mengangguk dan menghela nafas panjang.
Dia kemudian tersenyum lembut dan berkata,
"Biarkanlah dulu, nanti kalau ada waktu kita baru pergi mengurusnya."
Zi Zi mengangguk, tiba tiba dia menunjuk kearah kiri dan berkata,
"Kakak tampan, itu di sana yang kiri pulau ikan..yang kanan dan lebih jauh itu pulau pelangi."
Nan Thian mengikuti arah yang di tunjuk oleh Zi Zi.
Kim Kim juga sudah melihatnya, dia langsung meraung keras.
__ADS_1
"Rooaaarrrrrrr..!"
Lalu melesat cepat menuju pulau pelangi langsung.
Tapi belum sampai ke pulau pelangi, terlihat seekor burung bangau Dewata menghalangi pergerakannya.
Di punggung burung Dewata itu terlihat seorang gadis yang sangat cantik duduk di sana dengan gaya nya yang anggun.
"Siapa kalian,..? ada perlu apa kalian kemari...?"
tanya gadis cantik itu dengan suara dingin.
"Guru...ini aku,.. mereka teman ku.."
"Dia kakak ku yang terjatuh kedalam jurang dulu, Yue Nan Thian namanya.."
ucap Zi Zi muncul dari balik punggung Nan Thian, sambil tersenyum lebar.
Dia duduk di belakang Nan Thian sehingga dari kejauhan Gurunya tidak melihat dia ikut hadir di sana.
"Ehh Zi Zi..kamu darimana saja..?"
tanya wanita cantik itu yang bukan lain adalah Wu Fei Hsia, guru Zi Zi.
"Cerita nya panjang guru, lebih baik kita mendarat dulu, nanti Zi Zi akan ceritakan dengan lengkap.."
Fei Hsia yang sangat menyayangi muridnya, hanya bisa menahan senyum, sambil menggelengkan kepalanya.
Tak berdaya menolak permintaan muridnya itu.
Fei Hsia memang sangat menyayangi muridnya ini, bahkan melebihi dia menyayangi dirinya sendiri.
Zi Zi adalah pelita dalam hidupnya yang suram setelah kehilangan kasih Fei Yang ayahnya Zi Zi.
Kebetulan Zi Zi memiliki sepasang mata yang sangat mirip dengan Fei Yang, sehingga setiap menatap mata Zi Zi.
Fei Hsia selalu tidak kuasa menolak permintaan murid yang sangat di manja nya ini.
Untungnya setelah melewati pengalaman pahit dan jelek, Zi Zi menjadi jauh lebih dewasa tidak kekanak Kanakan lagi.
Dia sangat tahu manfaat dari berlatih keras, jadi meski di manja, dia tetap berlatih keras dengan giat.
Sehingga ilmu silatnya berkembang pesat, hampir semua ilmu yang di kuasai oleh Fei Hsia semuanya dia turunkan ke Zi Zi semua.
Zi Zi hanya perlu mematangkannya lewat pertempuran berat, dan rajin berlatih untuk meningkatkan hawa saktinya.
Bahkan seluruh titik Meridian di tubuh Zi Zi juga sudah di bantu di bukakan oleh kakek Wu, yang juga sangat menyayangi Zi Zi.
"Baiklah kalian ikut dengan ku.."
__ADS_1
ucap Fei Hsia.
Burung bangau Dewata bergerak memutar balik menuju sebuah pulau yang mengeluarkan cahaya 7 warna yang sangat indah.
Setelah dari dekat baru terlihat jelas, cahaya 7 warna itu ternyata berasal dari 7 buah batu tebing karang.
Di mana masing masing batu tebing karang itu memancarkan satu warna cahaya.
Bila di lihat dari jauh, semua cahaya bergabung jadi satu, pulau itu akan terlihat seperti mengeluarkan cahaya pelangi.
Saat mendekati pulau, Fei Hsia mengulurkan kedua tangannya kedepan.
Bergerak kesana kemari, membuka segel formasi cahaya, yang melindungi pulau itu seperti sebuah kubah cahaya raksasa.
Formasi yang menjadi lapisan luar kubah cahaya bergerak gerak seperti putaran arah jarum jam.
Beberapa saat kemudian, sebuah pintu cahaya terbuka lebar.
Burung Bangau Dewata pun langsung meluncur masuk kedalam, begitu pula dengan Kim Kim yang bergerak menyusul di belakangnya.
Burung Bangau Dewata terus terbang melintas menuju sebuah istana yang terletak di tengah tengah pulau.
Istana itu adalah tempat kediaman kakek Wu dan istrinya.
Saat burung bangau Dewata mendarat di halaman depan istana.
Nan Thian dan Zi Zi juga melayang turun dari atas punggung Kim Kim.
Kim Kim sendiri yang telah merubah dirinya menjadi seorang gadis muda jelita.
Dia ikut mendarat di sisi Nan Thian sambil menatap kagum kearah bangunan di hadapannya itu.
Sesaat kemudian dari dalam istana, melayang keluar seorang kakek tua bersama istrinya.
Mereka mendarat di halaman depan istana, menyambut kedatangan Zi Zi bersama Teman temannya.
Fei Hsia maju memberi hormat kepada kakek neneknya, setelah itu dia ikut berdiri di samping kakek dan neneknya.
Kim Kim sambil tertawa gembira berlari maju menggandeng tangan kakek dan nenek Wu dengan akrab dan berkata,
"Kakek buyut nenek buyut,.. kenalkan,.. ini dia teman baikku, Yue Nan Thian dan Kim Kim .."
Nan Thian dan Kim Kim melangkah maju memberi hormat secara bergantian, mulai dari Fei Hsia, dan di akhiri dengan memberi hormat kearah kakek Wu.
"Selamat datang di pulau kami yang sederhana.."
"Kira kira ada masalah apa yang bisa kami bantu, ? hingga kalian berdua jauh jauh datang mengunjungi pulau terpencil Ki di sini."
ucap Kakek Wu dengan suaranya yang ramah dan sopan.
__ADS_1