
Fei Yang tidak bodoh, dia tahu kaisar Zhao Kuang Yi, memanfaatkan hal ini meminjam tangannya membasmi pemberontak selatan, yang menjadi PR kaisar Zhao Kuang Yi.
Selain itu kaisar juga meminta Zhao Heng untuk ikut ke garis depan.
Tentu saja nyonya Guo tidak akan tinggal diam, dia akan mengerahkan militer keluarga Guo untuk maju ke garis depan.
Dengan cara ini kekuatan keluarga Guo akan berkurang, sehingga Kaisar Zhao bisa mengurangi ke khawatiran nya.
Di sisi lain masalah pemberontak selatan.
Tanpa mengeluarkan satu tentara pun, dia bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.
Paling paling setelah berhasil dia tinggal memberikan hadiah dan pangkat, itu jauh lebih hemat ketimbang mengerahkan kekuatan pasukannya kesana.
Di mana dia bisa kehilangan jendral perwira pasukan, belum lagi biaya.perbekalan dan ransum pasukan.
Tapi Fei Yang tidak menemukan cara lain
Untuk menepati janji dan membalas Budi kebaikan Wei Wen untuknya.
Hanya bisa mengikuti arahan kaisar Zhao Kuang Yi.
Fei Yang hanya bisa mengumpat dalam hati,
"Serigala tua yang licik, pantas saja rumor mengatakan dia membunuh kakaknya sendiri dengan racun, untuk merebut tahta."
"Kelihatannya rumor ini tidak lah palsu, dan tidak mungkin muncul tanpa sebab.."
"Tapi itu adalah urusan keluarganya sendiri, yang penting aku harus lebih hati hati dan jaga jarak dengan nya.."
"Terhadap keluarga sendiri aja tega, apalagi terhadap orang lain.."
batin Fei Yang dalam hati.
Wei Wen yang cerdas, tentu saja dia langsung menangkap niat ayahnya.
Tapi dia yang terlalu ingin berpetualang bersama pria yang sudah lama dia idola kan ini
Dia juga tidak mau berpikir terlalu banyak, selama tidak membahayakan nyawa Fei Yang dia tidak ambil pusing.
Lagipula dengan cara ini, mungkin bisa membantu kakak yang paling dekat dengannya, kembali lagi ke istana.
Bagaimana pun bila bisa memilih, dia lebih suka Kakak Zhao Heng yang menggantikan ayahnya kelak, ketimbang Yuan Xi yang ambisius.
Fei Yang dan Wei Wen hanya bisa mengangguk setuju dengan usul Kaisar Zhao Kuang Yi.
Setelah Wei Wen menerima sepucuk surat titipan dari ayahnya, buat kakaknya Zhao Heng.
Mereka berdua pun di ijinkan mengundurkan diri dari sana bersama para putra putri raja yang lain.
Sedangkan para pejabat sipil dan militer, masih melanjutkan rapat bersama.
__ADS_1
Wei Wen langsung menggandeng tangan Fei Yang menuju istana kediamannya.
Kakak kakak tiri perempuannya, hanya bisa menatap penuh rasa iri ke Wei Wen.
Wei Wen setelah tiba di kediaman nya, dengan ceria dia berkata,
"Kakak Yang tunggu di sini sebentar, aku mau kedalam bersiap siap."
"Setelah itu kita bisa langsung berangkat.."
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Pergilah, aku akan tunggu di sini.."
Wei Wen sambil tersenyum gembira berkata,
"Baik kak, tunggu sebentar aja, tidak akan lama.."
Setelah itu dia pun berlari ke ruangan dalam dengan sangat terburu-buru.
Setelah Wei Wen pergi, Fei Yang baru mengedarkan pandangannya melihat lihat ruangan di hadapannya.
Karena penasaran dengan lukisan dan syair syair yang tergantung di dinding berjejer rapi.
Fei Yang pun berdiri dari duduknya, dia mengamati satu persatu dari dekat sambil terus melangkah.
Akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah pintu ruangan yang tertutup rapat.
Fei Yang dengan gerakan ringan mendorong pintu di hadapan nya, hingga terbuka lebar.
Di dalam ruangan tersebut ternyata terdapat lebih banyak lagi tulisan kaligrafi indah dan puisi-puisi yang di tulis dengan gaya tulisan sangat indah dan menarik.
Diantara puisi itu Fei Yang melihat ada puisi yang pernah di nyanyikan oleh Wei Wen saat mereka sedang menuju kota raja Kai Feng.
Hanya saja di sini deretan syairnya lebih lengkap hingga penghujung kalimat menggambarkan bahwa,
Setelah bertahun tahun kemudian hanya tersisa dirinya seorang duduk di depan jendela di temani sinar rembulan.
Sungguh suatu syair yang indah dan penuh kesedihan karena penantian yang hampa.
Tidak tahu kenapa wajah Xue Lian yang sedang menatapnya dengan sedih Tiba tiba muncul dalam ingatan nya.
Fei Yang setelah menghela nafas, dia pun bergerak melihat ke yang lainnya.
Tanpa dia sadari Fei Yang sudah melangkah masuk kedalam ruangan tersebut.
Di penghujung ruangan yang di batasi sebuah meja, di sepanjang dinding dekat meja,.terlihat begitu banyak lukisan yang menggambarkan seorang pria dalam berbagai wujud jenis pakaian yang berbeda-beda.
Ada dalam wujud pakaian perang, pakaian santai, pakaian pelajar, pakaian bangsawan, petani hingga pemburu.
Yang membuat Fei Yang terbelalak melihat nya adalah, semua gambar itu sosok pria di dalamnya, semua berwajah sama persis dengan dirinya.
__ADS_1
Bila di lihat dari tanggal pembuatan yang tertera di pojok bawah sana, semua gambar ini di buat jauh sebelum dia dan Wei Wen saling mengenal.
Fei Yang menjadi heran dan penasaran mengapa bisa ada begitu banyak gambar wajah nya berada di tempat ini.
Padahal saat itu dia masih sedang berada di Xu Xia.
Melihat di atas meja ada sebuah kertas gambar panjang yang sedang dalam posisi menghadap ke bawah.
Fei Yang mengulurkan tangannya hendak membalik dan melihat gambar di sana.
Tiba-tiba dia di kejutkan oleh suara teriakan Wei Wen,
"Jangan di buka,..!!"
Fei Yang pun menoleh dan menghentikan gerakan tangannya.
Wei Wen terlihat berlari dengan wajah merah dan panik, dia langsung merebut kertas tersebut dari tangan Fei Yang.
Lalu menggulungnya dan menyimpan nya kedalam laci dengan sangat terburu-buru..
"Ayo keluar dari sini !.. bukankah ku suruh tunggu di depan sana, kenapa malah keliaran sampai kemari..'
tegur Wei Wen sambil berusaha membalikkan badan Fei Yang, lalu mendorongnya keluar dari kamar tersebut
Fei Yang hanya bisa mengikuti dorongan Wei Wen keluar dari kamar tersebut.
Setelah Fei Yang keluar dari dalam sana, dengan heran Fei Yang pun bertanya,
"Adik Wen mengapa kamu bisa punya begitu banyak gambar ku di dalam sana.."
Wei Wen yang sudah dalam wujud Yi Wen si Kasim cilik, mempelototi Fei Yang dan berkata,
"Kenapa kamu jadi begitu ingin tahu urusan orang.!?"
"Dasar usil,..!"
"Ayo kita jalan,.. hari sudah siang.."
ucap Wei Wen sambil berjalan dengan kepala tertunduk dan wajah merah padam meninggalkan Fei Yang di belakangnya.
"Hei, . aku kan cuma bertanya, karena foto ku ada di dalam sana..,!"
bantah Fei Yang kurang puas.
"Cerewet, ayo jalan cepat,..!"
ucap Wei Wen kesal.
"Kenapa lagi dia,..?"
gumam Fei Yang bingung.
__ADS_1
Lalu dia mempercepat langkahnya menyusul Wei Wen yang berjalan seperti setengah berlari.
Fei Yang hanya bisa menggelengkan kepalanya dan bergerak menyusulnya.