
Fei Yang mengangguk sambil membalas dengan senyum mesra.
Lalu tanpa berkata apa-apa, Fei Yang meninggalkan kamar mereka.
Kini di dalam kamar hanya tinggal mereka berdua.
Sambil menepuk punggung tangan Fei Hsia dengan lembut.
Xue Lian berkata pelan setengah berbisik,
"Fei Hsia mei mei, aku meminta mu untuk tetap tinggal bukan tanpa alasan.."
"Kamu lihat kondisi ku kini, sedangkan musuh Yang Ke ke sangat banyak, setiap saat mereka bisa datang mengancam.."
"Keadaan Nan Thian dan Zi Zi kamu juga bukan tidak tahu, cepat lambat mereka pasti tidak mungkin bisa bertahan di sini.."
"Hanya kamu satu satunya harapan yang bisa membantu ku menjaga Yang ke ke.."
"Dia sudah terlalu banyak berkorban untuk ku, aku benar benar tidak bisa lagi melihat, sesuatu apapun itu, kembali terjadi dengan nya."
"Selain itu, bila suatu hari aku harus pergi, aku akan pergi dengan lebih tenang, karena di sisinya sudah ada kamu, yang akan selalu menemani, menghibur, menjaga, dan mencintainya dengan sepenuh hati."
"Kakak tahu permintaan kakak ini sangat egois, dan agak merugikan mu, tapi demi kebahagiaan nya, kebahagiaan kita.."
"Kakak tidak bisa tidak memohon hal ini pada mu.."
ucap Xue Lian serius.
Fei Hsia yang sedari tadi sepasang matanya yang indah sudah basah.
Dia tidak bisa menahan dirinya menahan airmata nya runtuh membasahi wajahnya, saat dia menganggukkan kepalanya.
Dia langsung maju memeluk Xue Lian dan menangis terharu.
Sesaat kemudian setelah tangisannya mereda, Fei Hsia pun berkata,
"Cie cie jangan khawatir, Fei Hsia tidak akan pernah kecewakan harapan kakak.."
"Biar tubuh ini hancur lebur, Fei Hsia juga tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kakak, juga dia.."
ucap Fei Hsia penuh tekad.
Xue Lian tersenyum lega, dia mengangguk kecil, menepuk nepuk punggung Fei Hsia.. dengan lembut.
"Adik ku yang baik,.. adik ku yang cantik.. terimakasih banyak.."
ucap Xue Lian penuh haru, matanya pun ikut basah, air bening pun mengalir turun menggantung di pipinya yang berkulit putih halus.
Beberapa saat kemudian kedua wanita cantik itu, sambil bergandengan tangan.
Mereka berdua berjalan keluar dari dalam kamar, pergi menemui Fei Yang yang sedang duduk santai di pondok kecil peristirahatan di depan halaman rumah.
__ADS_1
Fei Yang duduk di sana memperhatikan Zi Zi, yang sedang menemani kedua adik kembarnya berlatih dan membimbing mereka.
Di puncak Yu Ni Feng sendiri, Nan Thian terlihat sedang berkemas kemas, merapikan pondok kediaman sementara nya selama ini.
Dia sedang bersiap meninggalkan puncak Yu Ni Feng dan kediaman Fei Yang yang penuh kenangan.
Tadi pagi dia sudah memastikan kondisi nenek bibi guru nya Xue Lian, sepasang kakinya sudah pulih total.
Jadi sudah tidak punya alasan baginya untuk menganggu lebih lama di tempat ini.
Kehadiran nya terus di sana, hanya akan menambah duka bagi dirinya dan Zi Zi.
Dia harus belajar merelakan kepergian bintang cahaya kehidupannya itu dari sisinya.
Karena bintang itu, kini sudah bukan miliknya lagi.
Nan Thian memutuskan, dia akan kembali ke Xu San.
Setelah itu dia baru pergi mengunjungi dan membantu kakaknya mengusir bangsa penjajah Mongolia, yang suka menindas rakyat Han, agar segera bisa diusir pergi selamanya dari bumi Pertiwi mereka.
Dengan keputusan dan arah hidup yang baru itu, Nan Thian mencoba mengalihkan perhatian nya ke hal hal lebih bermanfaat.
Sehingga dirinya tidak terus terpuruk dalam belenggu asmaranya, yang penuh dengan penderitaan tidak berujung pangkal.
Nan Thian memperhitungkan hari ini paling lambat, Kim Kim sahabatnya, akan tiba di Yu Ni Feng, sehabis pergi mengantar kedua orang tua nya ke Xu San.
Selesai beres beres, melihat Kim Kim belum juga tiba, Nan Thian sejenak berdiri termenung.
Nan Thian memutuskan tidak akan pergi pamit dengan Kakek paman gurunya, dan nenek bibi gurunya, juga guru Zi Zi, Fei Hsia.
Agar tidak menimbulkan rasa canggung dan tidak enak, yang tidak perlu.
Sedangkan terhadap Zi Zi Nan Thian sudah tidak berani berharap untuk bisa melihatnya lagi.
Setelah keputusannya yang dia ambil kemarin, mungkin itulah kenanga terindah yang paling menyakitkan yang tersisa.
Dia akan menjadi kan momen itu, sebagai kenangan terakhir yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.
Nan Thian sadar Zi Zi sengaja menghindarinya, karena Zi Zi tahu jadwal dirinya datang berkunjung kekediaman nya.
Awalnya dia sedikit kecewa, tapi lama lama dia bisa menerima nya, Zi Zi.lakukan itu demi memenuhi keputusan nya.
Zi Zi lakukan itu demi kebaikan mereka berdua, setelah paham Nan Thian pun tidak lagi kecewa.
Dia kini akan pergi, pergi jauh jauh dari kehidupan Zi Zi, mencoba memulai kehidupan baru.
Biarkan semua kesedihan kekecewaan dan penyesalan, dia bawa pergi dan simpan rapi di dalam hati nya.
Beberapa saat termenung, Kim Kim tidak juga muncul, Nan Thian pun akhirnya meninggalkan tempat itu.
Menuruni puncak Yu Ni Feng dengan melewati hutan Cang Lung Lin.
__ADS_1
Sambil menempuh perjalanan, Nan Thian mengenang perjalanan nya dulu bersama Sun er, Zi Zi, juga kedua temannya yang lain, dan Naga Kadal Terbang, saat mereka melewati hutan ini menuju puncak Yu Ni Feng..
"Booommm...!"
Booommm...!"
"Blaaaarrr..!"
"Blaaaarrr..!"
"Blaaaarrr..!"
Saat sedang menempuh perjalanan santai, sambil termenung, tiba tiba Nan Thian di kejutkan oleh bunyi suara ledakan beruntun, yang mengguncang seluruh hutan Cang Lung Lin.
"Apa yang terjadi ?"
batin Nan Thian kaget.
Lalu dia langsung melesat kearah pusat asal suara.
Nan Thian melesat cepat seperti bayangan yang beterbangan di dalam hutan, tanpa menyentuh tanah.
Saat hampir tiba di mulut hutan, Nan Thian mendengar suara raungan dahsyat.
"Rooaaarrrrrrr...!!!"
"Rooaaarrrrrrr...!!!"
"Rooaaarrrrrrr...!!!"
Nan Thian mengenali suara raungan itu pasti berasal dari Kim Kim sahabatnya yang sepertinya sedang sangat marah.
Nan Thian buru buru melesat ke depan sana, untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Saat tiba di tepi hutan Cang Lung Lin, Nan Thian tiba tiba di sambut oleh tubuh Kim Kim yang terlihat sedang terpental kearahnya.
Nan Thian dengan gerakan cepat langsung menyambut tubuh Kim Kim, dengan Qian Kun Im Yang Sen Kung.
Muncul sebuah cahaya Pat Kwa, hitam putih raksasa, dengan lembut menyambut tubuh Naga emas raksasa' Kim Kim, untuk di pindahkan kearah lain.
Sehingga tubuh Naga Emas raksasa' Kim Kim tidak sampai terhempas ke atas tanah.
Nan Thian tidak paham apa yang terjadi, dia hanya melihat Kim Kim setelah berhasil mendarat dengan mulus
"Rooaaarrrrrrr..!!!"
"Rooaaarrrrrrr..!!!"
"Rooaaarrrrrrr..!!!"
Kim Kim Langsung meraung marah, bersiap siap kembali menerjang kearah lawannya.
__ADS_1