PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENDAKI KE PUNCAK LEWAT JALAN ALTERNATIF


__ADS_3

Sedangkan bagian atasannya tidak begitu terlihat dengan jelas.


Karena tertutup dengan bahan kain mirip selimut berbahan wol..


Yang unik adalah anting anting besar yang terpasang di kedua daun telinga mereka.


Tapi secara keseluruhan mereka rata rata terlihat sangat cantik dan unik, dengan rambut yang dipilin dan diikat kecil kecil.


Fei Yang hanya membalas tatapan mereka, dengan anggukan kepala dan tersenyum.


Tapi hal ini sudah cukup membuat para gadis itu, ada yang tersipu malu, ada yang membalas senyum Fei Yang, ada juga yang heboh berbisik-bisik dengan temannya, sambil tertawa menutupi mulut mereka.


Tapi itu adalah hak mereka, Fei Yang tidak terlalu ambil pusing.


Fei Yang langsung mampir kesebuah restoran, memesan daging dan roti kering, untuk bekal persiapan nya menuju puncak Chomolungma.


Fei Yang sambil menunggu pesanan nya, dia duduk ngobrol dan bertanya tanya kepada pelayan restoran yang sedang santai.


Karena pagi pagi begini, biasanya pengunjung masih sepi.


Jadi dengan santai dia berdiri di hadapan Fei Yang, melayani pertanyaan pertanyaan Fei Yang dengan senang hati.


Karena Fei Yang adalah langganan pagi yang cukup potensial, pesanannya termasuk cukup banyak.


"Jadi sebaiknya aku lewat jalan sebelah mana,? bila aku ingin naik ke puncak Chomolungma..?"


tanya Fei Yang sambil menatap serius kearah pelayan restoran, yang berdiri di hadapan nya.


Dengan tubuh sedikit terbungkuk bungkuk dan penuh hormat,


pelayan itu menjawab,


"Jalan terdekat dan termudah untuk di lewati, tetap harus melewati kuil halilintar."


"Tapi kuil halilintar, adalah tempat Kramat, bila ingin berkunjung ke sana pun, orang harus menunggu jadwal dan antrian masuk.."


"Hanya setiap tanggal 1 dan tanggal 15, kuil terbuka untuk pengunjung umum..'


"Tapi pengunjung hanya di ijinkan, berkunjung sampai bagian depan kuil saja.."


"Sedangkan untuk jalan naik ke puncak Chomolungma, itu harus melewati halaman belakang kuil."


ucap Biksu itu memberikan penjelasan.


Fei Yang mengangguk paham, sewaktu kecil di perpustakaan istana, dia pernah baca.


Bagaimana hebatnya ilmu beladiri, dan ilmu kebatinan, serta ilmu sihir,.dari para lhama yang tinggal di kuil halilintar tersebut.


Fei Yang meski sangat ingin naik kepuncak sana, tapi dia juga tidak ingin menanam permusuhan dengan para biksu lhama di Tibet ini.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, Fei Yang pun berkata,


"Selain melewati kuil halilintar, apa tidak ada jalan lainnya ?"


Pelayan itu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Ada sih ada, hanya saja jalan itu tidak mungkin di tempuh manusia yang tidak memiliki sayap.."


"Semisal memiliki sayap sekalipun, saat angin badai yang sangat kuat tiba-tiba datang berhembus."


"Semua yang bisa terbang pasti akan di sapunya, hingga terjatuh terhempas ke bawah.."


"Makanya sekitar puncak Chomolungma, hampir tidak ada burung jenis apapun, yang berani terbang kesana."


"Tuan sebenarnya apa yang tuan cari di atas sana ? kalau bisa sebaiknya tuan batalkan saja niat tuan itu.."


"Karena selain jalan yang ditempuh sangat sulit, konon kabarnya di puncak sana, ada seekor naga hitam yang sangat ganas."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku membutuhkan obat penawar racun, yang hanya ada di puncak sana.."


"Jadi bagaimana pun, aku tetap harus naik ke puncak sana. untuk mencari obat itu.."


ucap Fei Yang sambil menatap pelayan itu penuh tekad.


Pelayan itu menghela nafas berat dan berkata,


Setelah terdiam sesaat pelayan itu kembali melanjutkan ceritanya..


"Kuil halilintar yang telah berdiri ribuan tahun di sini pun, sebenarnya di maksudkan oleh Buddha Ru Lai, untuk mencegah mahluk itu turun kebawah membuat onar.."


"Makanya kuil halilintar di bangun untuk menutupi jalan naik kepuncak tersebut."


"Konon 1500 tahun yang lalu, Buddha Ru Lai lah yang menahlukkan Naga itu, dan mengurungnya di sana.,"


"Karena merasa kasihan dengan mahluk itu..Buddha Ru Lai jua lah yang menabur benih sebatang pohon buah Naga di sana.."


"Sehingga kelanjutan dari usia naga itupun bergantung pada buah itu.."


"Satu biji buah itu, hanya akan berbuah 1000 tahun sekali, setelah memakannya, khasiat buah itu akan memperpanjang usia Naga itu selama 1000 tahun..Hingga buah berikutnya kembali tumbuh lagi..'


ucap pelayan itu menutup ceritanya, sambil menatap kearah Fei Yang dengan tatapan prihatin.


Melihat Fei Yang yang seperti termenung, setelah mendengar cerita nya


Pelayan itu sambil tersenyum kembali menambahkan,


"Tapi semua itu adalah cerita turun temurun, tanpa ada bukti nyata, semua cuma cerita dongeng orang tua dulu, yang di ceritakan dari mulut ke mulut hingga saat ini.."

__ADS_1


"Yang jelas, belum ada yang bisa memastikan keberadaan makhluk itu hingga saat ini.."


ucap pelayan itu memberikan pendapatnya..


Bersamaan dengan selesainya cerita dari pelayan yang sangat pandai bercerita itu.


Restoran mulai ada pengunjung lain yang berdatangan untuk sarapan.


Fei Yang sendiri pesanannya juga sudah siap, setelah membayar sejumlah uang ke kasir.


Fei Yang pun meninggalkan restoran tersebut, perbekalannya Fei Yang simpan kedalam cincinnya.


Agar pergerakan nya, lebih praktis dan tidak terganggu.


Fei Yang sambil bertanya tanya,.dia mengambil jalan melingkar, yang berlawanan arah dengan kuil Halilintar.


Fei Yang ingin mengandalkan kemampuan nya, mencoba mendaki dan menahlukkan puncak Chomolungma, tanpa harus bentrok dan bermusuhan dengan pihak lhama di kuil halilintar.


Berdasarkan pengalaman nya, yang bertemu dengan Tan Sim Houw kemarin, di mana hampir membuatnya tewas.


Jadi bila tidak dalam keadaan terpaksa.


Sebisa mungkin Fei Yang ingin menghindari bentrokan dengan pihak lhama Tibet, yang bertindak sebagai penghuni sekaligus pelindung kuil suci halilintar.


Dengan mengambil jalan memutar yang sepi, dan jarang bertemu dengan orang orang.


Fei Yang bisa mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya, meniti diatas daun.


Sehingga semua jalan yang di lalui nya, tidak terlihat jejak kakinya sama sekali.


Fei Yang berkelebatan cepat diatas hamparan salju, salju dari langit jatuh tanpa henti.


Semakin mendaki keatas, salju yang turun pun semakin lebat dan deras.


Saat tiba di sebuah ujung tebing, yang berdiri tegak lurus keatas, dimana seluruh tebing terlihat tidak ada lekukan, yang bisa di jadikan sebagai tempat pijakan ataupun cengkraman sama sekali,


sehingga siapa pun yang mencoba untuk naik keatas akan kesulitan menahan tubuhnya, agar tidak merosot dan jatuh kembali kebawah.


Fei Yang mendongakkan kepalanya melihat keatas, menantang hujan salju yang jatuh ke wajahnya.


Sejauh mata memandang Fei Yang tidak berhasil melihat ujungnya tebing, yang berdiri tegak lurus keatas itu.


Sejauh mata memandang hanya terlihat awan, yang menutupi bagian yang terlihat.


Seluruh tubuh Fei Yang yang mengenakan mantel bulu hitam, kini telah menjadi putih semua tertutup salju.


Dengan sedikit mengibaskan badannya, maka lepaslah semua salju yang menempel di mantel bulu hitam nya itu.


Fei Yang bersiap siap, mengerahkan ilmu meringankan tubuh hingga level ke 5, mengendarai awan dari kitab tanpa tanding.

__ADS_1


Sepasang kaki Fei Yang terlihat di selimuti oleh awan tipis, saat dia mengerahkan hingga ke titik puncak ilmu tersebut.


Saat dia menghentakkan kedua kakinya ke bawah.


__ADS_2