PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
TEBING MISTERIUS


__ADS_3

Saat Fei Yang membaringkan tubuh Xue Lian diatas dipan bambu, yang menjadi lantai Ting baru buatan nya.


Sambil tersenyum bahagia dalam keadaan mata terpejam.


Xue Lian melingkarkan sepasang tangannya di leher Fei Yang.


Menahannya dan berkata pelan seperti orang sedang mengingau.


"Yang ke ke,.. ikut lah beristirahat.."


"Kamu pasti sudah lelah..nanti agak siangan baru teruskan lagi.."


Fei Yang tersenyum perlahan lahan dia ikut berbaring di sisi istrinya.


Mencium keningnya dengan lembut dan berkata,


"Baiklah, aku akan menemani mu sebentar ."


Fei Yang ikut berbaring membiarkan istrinya tidur meringkuk dalam pelukannya.


Posisi ini adalah posisi favorit Xue Lian sejak mereka menikah hingga kini.


Fei Yang tidak tega menolaknya, dia membiarkan Xue Lian nyaman di sana hingga tertidur.


Dia baru perlahan-lahan memindahkan kepala Xue Lian yang tidur di lengannya.


Di gantikan dengan selimut kulit harimau, yang merupakan jubah musim dingin milik nya.


Melihat anak dan istrinya semua tidur dengan nyaman.


Fei Yang sambil tersenyum dengan gerakan ringan, melayang meninggalkan ruangan Ting buatannya.


Fei Yang dan Kim Tiaw nya kembali lagi ke Cang Lung Lin.


Meneruskan pekerjaan yang jauh lebih berat.


Target Fei Yang berikutnya yang akan membuat sebuah pondok sederhana yang cukup besar untuk menampung dia dan keluarganya.


Fei Yang kembali sibuk mengumpulkan gelondongan kayu besar sebagai tiang penyangga pondok.


Saat lelah, Fei Yang akan duduk beristirahat sambil menganyam daun bambu kering.


Bila sudah pulih, rasa lelah sudah hilang Fei Yang akan melanjutkan pekerjaan nya.


3 hari berturut turut Fei Yang bekerja akhirnya sebuah pondok sederhana yang sempurna akhirnya selesai.


Pondok itu lebih banyak menggunakan batang bambu, karna lebih ringan dan lebih mudah di peroleh dan mengolahnya.


Tapi hasilnya tetap sangat memuaskan.


Zi Zi dan Sun Er yang paling gembira, mereka masing masing mendapatkan kamar sendiri sendiri, yang jendela kamarnya, menghadap kearah halaman belakang, yang ada tebing dan kolam air terjun.


Dari kamar mereka berdua pun ada akses pintu belakang yang membuat mereka lebih mudah keluar masuk rumah.


Fei Yang dan Xue Lian terlihat berdiri di halaman depan rumah baru mereka.


Mereka berdua tersenyum puas melihat kegembiraan anak anak yang berlari kesana kemari sambil tertawa tawa.


"Selanjutnya apa kira kira yang kurang..?"


tanya Fei Yang ke Xue Lian tanpa menoleh.


Pandangan matanya masih mengikuti pergerakan Zi Zi dan Sun Er yang sedang berlari gembira.


"Aku ingin menanam bunga bunga di halaman depan ini, sedangkan di halaman belakang sana.


"Aku berencana, ingin punya kebun sayur dan kebun buah sendiri.."


"Aku juga ingin memelihara ayam untuk di ambil telur dan mengembang biakkan nya.."


"Agar kita nanti bisa punya daging ayam buat di masak.."


"Bagaimana menurutmu..?"


tanya Xue Lian sambil tersenyum menatap suaminya.


Fei Yang sambil tersenyum berkata,


"Keinginan mu begitu banyak, sedangkan kita cuma berdua.."


"Kamu sedang hamil pula, tidak boleh banyak kerja berat.."


"Kelihatannya aku Ping Huo Ta Sia, sebentar lagi akan berubah menjadi peternak ayam dan tukang kebun.."


ucap Fei Yang pura pura mengeluh.


Xue Lian menahan tawa, mendengar keluh kesah suaminya.


"Yang ke ke ini, masa Ping Huo Ta Sia cuma kerjakan hal begitu saja udah mengeluh ."


ucap Xue Lian sambil menahan tawa.


Fei Yang menghela nafas panjang, lalu merangkul pundak Xue Lian dengan lembut dan berkata,


"Ya,..ya..aku akan kerjakan untuk mu, siapa suruh aku terlanjur sayang dan sangat mencintaimu.."


"Seumur hidup ku aku tidak mungkin bisa kecewakan keinginan dan pengharapan mu.."


Xue Lian menahan tawa bahagia, menggerling kearah suaminya dan berkata,


"Mulut mu paling manis, pantas saja banyak wanita baik baik, yang tergoda."


"Pada akhirnya mereka hanya bisa kecewa dan rela menghabiskan sisa hidupnya seorang diri selama nya.."


ucap Xue Lian menyindir mantan mantan yang Fei Yang tinggalkan.


Fei Yang tersenyum lebar dan mengeratkan pelukannya, lalu berbisik di telinga istrinya.


"Jadi kamu ingin bagaimana ? apa aku harus buatkan pondok dan membawa mereka semua kemari agar kita bisa hidup bersama sama.?"


Xue Lian langsung meronta melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Memandangnya dengan tatapan mata melotot marah.


"Kamu berani..percaya tidak ku potong benda mu..!"

__ADS_1


ucap Xue Lian galak sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengah nya yang membentuk gunting.


Fei Yang buru buru merangkapkan sepasang tangannya didepan wajah dengan tubuh sedikit membungkuk dan berkata,


"Maafkan kelancangan hamba, tuan putri yang mulia ."


"Hamba berjanji tidak akan pernah berani lagi ."


Melihat gaya suaminya, Xue Lian pun jadi kembali tertawa dan berkata,


"Sudah aku mau pergi masak ikan buat makan siang kita.."


"Yang ke ke sebaiknya pergi ke desa, beli bahan bahan ini, sekaligus cari orang untuk membantu pekerjaan kita.."


"Agar nanti saat melahirkan ada yang bisa membantu ku.."


ucap Xue Lian serius, sambil menyerahkan sebuah daftar ke Fei Yang.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Baiklah kalau begitu aku berangkat sekarang saja.."


Xue Lian mengangguk dan berkata,


"Hati hati di jalan, ingat jangan mencampuri urusan orang.."


"Keadaan mu sekarang berbeda dengan dulu.."


ucap Xue Lian mengingatkan dengan serius.


Fei Yang yang sedang berjalan menghampiri Kim Tiaw, dia tanpa menoleh mengangguk dan memberi tanda ok..kearah istrinya.


Xue Lian berdiri di sana sambil menggendong kedua tangannya didepan dada.


Memperhatikan suaminya yang menunggangi Kim Tiaw hingga menghilang dari pandangan nya.


Dia baru membalikkan badannya berjalan menuju halaman belakang rumah.


"Zi Zi ,..! Sun Er..! kalian berdua jangan cuma tahu bermain..!"


"Ingat latihannya...jangan di lupakan..,!"


teriak Xue Lian mengingatkan kedua anaknya, sebelum menghilang kebagian belakang rumah untuk masak.


"Ya Bu..!"


"Ya Bibi..!"


jawab kedua anak itu.


Sun Er menatap kearah Zi Zi dan berkata,


"Ayo Zi Zi kita latihan Qian Kun Im Yang Sen Kung dulu.."


Zi Zi dengan bibir cemberut menggelengkan kepalanya hingga kedua kuncir di rambutnya bergoyang kesana kemari.


Gadis kecil itu terlihat sangat lucu cantik dan sangat menggemaskan.


"Sun ke ke ayolah,.. Zi Zi tidak mau berlatih.."


"Zi Zi ingin Sun ke ke temani Zi Zi menangkap capung dan kupu kupu di sana.."


Sun Er terlihat serba salah,


"Zi Zi tapi bibi tadi meminta kita berlatih, bila kita bermain.."


"Nanti kita bisa kena marah.."


ucap Sun Er berusaha meyakinkan adiknya.


Tapi sebagai balasan nya, Zi Si malah menghempaskan tangan Li Sun dan berkata,


"Ya sudah kakak pergi sana berlatih hingga puas.."


"Biar Zi Zi main sendiri saja.."


gerutu Zi Zi ngambek, lalu dia membalikkan badannya berlari meninggalkan Sun er.


Melihat hal itu tentu saja Sun er sangat kaget, dua buru buru berlari menyusul mengejar kearah Zu Zi pergi dan berteriak,


"Zi Zi tunggu kakak..!"


"Zi Zi tunggu..!"


Zi Zi menoleh kebelakang dan berkata,


"Sini kak tangkap Zi Zi..hi..hi..hi..!"


Zi Zi tadi masih ngambek kini sudah tertawa tawa.


perubahannya sangat cepat,tapi Sun er yang sudah biasa bergaul dengan Zi Zi.


Dia sudah paham dengan sikap adiknya itu, jadi dia tidak terlalu heran lagi.


Sun Er berlari mengejar kearah Zi Zi, akhirnya kedua anak itu tidak jadi berlatih.


Mereka berdua bermain dengan gembira, Xue Lian bukannya tidak tahu.


Tapi melihat kegembiraan mereka berdua, dia jadi tidak tega memaksa mereka berlatih.


Dia memilih fokus dengan menyiapkan masakan untuk makan siang mereka.


Menjelang tengah hari Fei Yang pun kembali dengan dua orang yang ikut dengan nya datang menunggangi Kim Tiaw.


Setelah turun dari punggung Kim Tiaw, kedua orang itu yang merupakan pasangan pria dan wanita paruh baya.


Dengan gesit, mereka membantu Fei Yang menurunkan berbagai macam barang belanjaan, dari punggung Kim Tiaw.


Wanita paruh baya itu langsung membawa barang barang belanjaan dapur menuju halaman belakang pondok, sesuai arah yang di tunjuk oleh Fei Yang.


Sedangkan Pria paruh baya yang merupakan suami wanita itu, dia membantu Fei Yang membawa beberapa ekor ayam dan kandang ayam.


Sedangkan Fei Yang sendiri mengangkut potongan bambu dan karung berisi bibit bibit sayuran dan berbagai macam bibit tanaman bahan bumbu.


Mereka bertiga langsung membawanya menuju halaman belakang.

__ADS_1


Saat tiba di halaman belakang, melihat Xue Lian sedang sibuk sendirian di sana.


Fei Yang pun berkata,


"Sayang,.. kemarilah sebentar.."


"Aku akan mengenalkan mereka pada mu.."


Xue Lian menghentikan pekerjaannya sementara.


Dia melangkah menghampiri Fei Yang, rambutnya terlihat sedikit kusut tak terurus.


Wajahnya juga ada bekas bekas jelaga hitam dari tungku kayu bakar.


Melihat hal ini Fei Yang meletakkan barang bawaannya, lalu menggunakan ujung lengan bajunya.


Membantu membersihkan wajah istrinya itu dengan lembut.


Dan berkata,


"Sayang kedepan nya kamu tak perlu serepot ini lagi."


"Biar bibi Fu yang nantinya membantu mu.."


ucap Fei Yang sambil membantu merapikan rambut istri.


"Mereka berdua ini..?"


tanya Xue Lian sambil menatap kearah pasangan paruh baya yang datang bersama Fei Yang.


Fei Yang sambil tersenyum menunjuk kearah kedua orang itu dan berkata,


"Yang ini bibi Fu..dia nanti yang akan membantu segala sesuatu urusan rumah tangga kita ."


"Sedangkan yang ini paman Lai, dia yang nanti akan membantu ku mewujudkan harapan mu, punya taman bunga kebun sayur dan peternakan.."


"Paman Lai sangat berpengalaman di bidangnya, kita bisa percayakan padanya.."


"Sedangkan bibi Fu dia selain bisa membantu mu, dia juga biasanya sering membantu orang melahirkan.."


"Jadi saat waktunya tiba kita tak perlu bingung dan khawatir lagi.."


ucap Fei Yang menjelaskan.


Xue Lian sambil tersenyum lembut berkata,


"Bibi Fu selamat bergabung dalam keluarga kecil kami, yang sederhana, dan masih banyak hal yang perlu di benahi di sini.."


"Semoga saja bibi Fu dan paman Kai betah ."


"Terimakasih nyonya tuan, kami sudah di beri kesempatan bekerja di sini.."


"Kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik yang kami bisa.."


ucap Bibi Fu penuh semangat dan penuh rasa hormat.


Paman Lai hanya tersenyum, tidak berkata apa apa, hanya memberi hormat kearah Xue Lian.


Setelah berbasa basi sejenak saling kenal.


Selanjutnya bibi Fu langsung bergerak membantu Xue Lian, mencuci piring dan segala peralatan bekas memasak.


Setelah itu dia juga membantu mencuci baju dan membantu membereskan rumah.


Sedangkan paman Lai, dia mulai sibuk menggarap tanah untuk menanam kebun sayuran.


Fei Yang sendiri membuat beberapa kandang buat ayam, mengikuti petunjuk dari paman Lai yang sudah ahli di bidangnya.


Menjelang sore saat semuanya selesai, Paman Lai dan bibi Fu pun di antar oleh Kim Tiaw pulang kerumah mereka, yang terletak di lereng gunung Lian Hua Feng.


Beberapa hari kemudian setelah Paman Kai dan bibi Lai sudah terbiasa dengan rutinitas pekerjaan mereka.


Kondisi kehidupan keluarga Fei Yang mulai teratur, dia mulai banyak waktu bersantai.


Fei Yang mulai sedikit sedikit berlatih menyerap hawa Yang yang sangat banyak di puncak Lian Hua Feng tersebut.


Tidak terasa sebulan pun berlalu, di saat Fei Yang merasa kondisinya semakin membaik, sedikit sedikit hawa Yang mulai mengisi Dan Tian nya kembali.


Fei Yang mulai bergerak mencari cari di mana letak Gua Api Surgawi ( Thian Huo Dong ) itu berada.


Fei Yang sudah mencari hampir keseluruh puncak Yu Ni Feng tempat mereka tinggal, tapi dia tetap tidak berhasil menemukannya.


Setelah menghabiskan waktu seminggu mencari kesana kemari, akhirnya Fei Yang menemukan Gua yang di carinya dengan mengikuti asal datangnya hawa Yang yang memenuhi puncak Yu Ni Feng.


Fei Yang menemukan hawa Yang itu berasal dari jurang di sebelah barat Yu Ni Feng.


Dengan mengikuti arah asal hawa Yang, Fei Yang merambat menuruni tebing sebelah barat dengan berpegangan pada seutas tali akar rotan, yang ujung satunya.


Fei Yang lilitkan di sebuah batu besar, sebagai penahannya.


Fei Yang tidak menggunakan jasa Kim Tiaw nya, karena menggunakan Kim Tiaw,.dia sulit melakukan pemeriksaan dengan teliti di tebing itu.


Selain itu kibasan sayap Kim Tiaw, juga akan membuyarkan hawa Yang, yang menjadi alat deteksinya, untuk menemukan keberadaan Gua yang di carinya.


Selain itu Kim Tiaw akhir akhir ini juga cukup sibuk melayani permintaan putri tunggalnya dan Sun Er yang penasaran dengan pemandangan alam di Hua San.


Kedua anak itu sering menggunakan jasa Kim Tiaw sehabis menjemput ataupun mengantar paman Lai dan bibi Fu pulang pergi.


Mereka akan pergi bermain dan di bawa jalan jalan oleh Kim Tiaw.


Untuk itulah pagi ini, selagi istrinya sedang sibuk di dapur, menyiapkan sarapan.


Fei Yang yang tidak ingin merepotkan nya, diam diam bergerak sendirian.


Fei Yang sadar sejak istrinya sembuh dari keracunan hebat, tenaga dalam istrinya juga hilang hampir separuhnya.


Di tambah dengan dirinya sedang hamil, kondisi ini membuat istrinya benar benar tidak leluasa.


Makanya pagi ini Fei Yang diam diam seorang diri menuruni tebing curam sebelah barat dengan menggunakan seutas tali akar rotan.


Fei Yang harus extra hati hati bila tidak ingin terjatuh kedalam jurang.


Karena kini kekuatan tenaga dalam nya, sepenuhnya belum bisa dia andalkan.


Beberapa waktu berlalu, saat tiba di penghujung tali akar rotan bagian paling bawah.

__ADS_1


Fei Yang melihat tiga tombak jaraknya dari dia, di bawah sana.


Terlihat sebuah puncak tebing tersembunyi.


__ADS_2