PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KAKEK DENGAN 9 JENIS PEDANG


__ADS_3

Setelah meminum dua butir pil tabib Hua, Fei Yang mengatur pernapasan, berusaha secepatnya menstabilkan kondisinya.


Agar siap melanjutkan pertempuran babak berikutnya.


Setelah kejadian tadi Fei Yang pun sadar dengan kecerobohan nya, dia jadi teringat dengan nasehat Huo Lung dan Ping Feng agar dirinya selalu tenang dalam berbagai situasi.


Jangan pernah terburu nafsu,. semakin terlihat lawan sudah tak berdaya, kamu harus ekstra hati-hati.


Jangan sampai masuk dalam pancingan dan jebakan lawan.


Tekan lawan mu yang sudah dibawah angin, dengan serangan jarak jauh, kurung dia dan tekan hingga dia tidak mampu bergerak.


Baru ledakkan dia hingga tanpa sisa.


Begitulah nasehat yang pernah di ajarkan oleh Huo Lung dan Ping Feng.


Seandainya tadi dia mengikuti nasehat tersebut keadaan tidak akan seperti saat ini.


Dia pasti sudah berhasil mengalahkan pendekar ular emas, tanpa perlu mengalami luka, dan kembali ke posisi imbang.


Berpikir sampai di situ, begitu pendekar ular emas mulai bergerak, berubah menjadi seberkas cahaya keemasan datang menyerangnya.


Fei Yang pun menghentakkan seluruh energinya, hingga tubuhnya berubah menjadi sebatang pedang bercahaya putih.


Hanya terlihat cahaya kuning dan putih saling berkelebat lewat, meninggalkan sebuah retakan besar di atas tanah.


Fei Yang dan Pendekar ular emas, terlihat saling memunggungi dalam jarak 10 meteran.


Fei Yang dalam.posisi berlutut, dengan sepasang tangan dan sudut bibirnya meneteskan darah.


Sedangkan lawan nya pendekar ular emas, terlihat berdiri diam dengan pedang tergenggam erat di samping badannya,.dalam posisi terhunus kesamping.


Fei Yang terbatuk kecil, menyemburkan darah keatas tanah, tubuhnya gemetaran.


Bila tidak ditopang oleh sepasang pedangnya niscaya, dia sudah roboh.


Sedangkan di tempat lain, pendekar ular emas perlahan lahan, tubuhnya tumbang keatas tanah,.dengan pedang masih tergenggam erat ditangannya.


Seluruh tubuhnya sudah kaku, lehernya terlihat mulai mengalir darah segar, begitu pula dengan dada kirinya yang berlubang dan mengepul asap seperti terbakar.


Sebenarnya luka dileher pendekar ular emas sangatlah parah, dan fatal, tadi tidak berdarah karena luka bagian itu membeku, tapi nadi utama dileher telah putus.


Begitu pula dengan luka di jantungnya, yang terlambat berdarah, ini.karna bagian jantungnya telah hangus terbakar.


Yue Feng dan Hong Yi buru buru mendekat dan memapah Fei Yang menjauhi arena pertempuran.

__ADS_1


"Paman guru bagaimana keadaan mu ?"


tanya Hong Yi cemas.


Yue Feng juga menatap Fei Yang dengan cemas, menunggu reaksi jawaban Fei Yang atas pertanyaan Hong Yi.


"Aku tidak apa-apa, hanya perlu istirahat satu dua hari, kondisi ku akan pulih kembali.."


"Kakak Feng kamu boleh bantu aku,? tolong kuburkan dia, dia juga termasuk seorang pendekar hebat yang patut di hormati.."


ucap Fei Yang pelan.


Yue Feng mengangguk dan berkata,


"Tentu saja boleh, itu bukan masalah,.."


"Nona Hong Yi, kamu tolong bantu jaga adik Yang, aku kesana sebentar.."


ucap Yue Feng lembut.


Hong Yi mengangguk dan berkata,


"Pergilah, kubur di dekat sini saja, jangan jauh jauh, tempat asing ini tidak tahu ada bahaya apa yang mengintai."


Lagipula sepanjang mereka saling kenal, ucapan ini, adalah ucapan terpanjang Hong Yi untuknya.


Dengan perasaan ringan.dan berbunga-bunga , dengan senyum tak pernah meninggalkan wajahnya.


Setelah melemparkan.tatapan mesra ke Hong Yi, Yue Feng pun berlalu dari sana.


Pergi membantu menguburkan jasad pendekar ular emas.


Yue Feng memakamkan pendekar ular emas, beserta pedang sakti milikinya.


Yue Feng sangat paham arti kata,


"Orang ada pedang ada, orang tiada pedang pun mengikutinya.."


Setelah memakamkan pendekar ular emas tidak jauh dari lokasi di mana, dia menemui ajalnya di tangan Fei Yang.


Yue Feng membuat sebuah nisan sederhana dari sepotong bambu yang di ukir, dengan menggunakan senjata rahasia pendekar ular emas yang tajam.


Di nisan sederhana itu Yue Feng hanya menulis nama makam pendekar sakti ular emas.


Tanpa menggunakan nama asli, karena selain dirinya, yang lain juga tidak ada yang tahu siapa nama asli tokoh hebat tersebut.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan semuanya dengan rapi, Yue Feng memberi hormat kearah makam tersebut, dengan membungkukkan tubuhnya sebanyak tiga kali.


Yue Feng Hong Yi dan Fei Yang terpaksa menumpang di pondok sederhana milik pendekar ular emas.


Sebelum luka Fei Yang benar benar pulih total, mereka tidak berani ambil resiko, untuk memasuki ke bagian lebih dalam dan lebih jauh dari tempat ini.


Karena didepan sana, mereka tidak tahu akan berjumpa dengan tokoh lain yang kesaktian setinggi apa.


Fei Yang sendiri sangat terbantu berkat pil dari tabib Hua.


Dengan rutin konsumsi selama 3 hari berturut turut, di hari ke 3 kondisi Fei Yang akhirnya pulih total.


Mereka bertiga pagi itu mulai berani melangkah masuk ke bagian yang lebih dalam dari hutan bambu kuning itu.


Fei Yang memimpin jalan di depan, sedangkan Yue Feng dan Hong Yi mengikutinya dari belakang.


Setelah memasuki lebih kedalam pohon bambu di sekitar mereka mulai bergerak gerak menutupi, gerak langkah mereka.


Setelah mencoba dan mengamatinya sejenak, Fei Yang sambil tersenyum, mulai melanjutkan melangkah santai memasuki wilayah, yang sengaja di pasangi formasi pelindung, agar tidak ada orang yang mampu melewatinya tanpa ijin..'


Tapi formasi itu bagi Fei Yang bukan masalah besar, dengan mengikuti langkah maju mundur ke kiri ke kanan, seperti orang mabuk, bahkan tempat yang ada penghalang atau ada jurang sekalipun tetap dia tabrak begitu saja.


Akhirnya mereka bertiga bisa keluar dari hutan bambu kuning itu.


Saat keluar dari dalam hutan bambu kuning mereka di suguhkan sebuah tempat yang tidak begitu luas.


Di kelilingi oleh tebing tinggi dan tirai air terjun, dengan sebuah kolam penampung air terjun yang jernih airnya.


di bagian luar kolam, ada beberapa aliran air dangkal yang terus mengalir kesebuah anak sungai dengan dasar bebatuan.


Sehingga air di sungai kecil itu sangat bening dan jernih.


Di tepi kolam air terjun diatas sebuah tonjolan batu datar, duduk seorang kakek dengan rambut abu abu menutupi wajahnya.


dihadapannya terlihat ada 9 batang pedang dengan 9 macam bentuk, tertancap dalam posisi berdiri dengan gagang pedang menghadap keatas.


Pedang pertama adalah sebatang pedang yang sangat besar dan sangat tidak normal.


Sehingga lebih mirip golok berbentuk pedang.


Pedang sebesar itu, jangankan di mainkan, bahkan untuk di angkat sekalipun rasanya sulit.


pedang besar panjang dan lebar itu berwarna abu abu kusam.


Di sebelahnya adalah sebilah pedang sinar biru, masih tetap besar dan lebar, hanya saja sedikit lebih kecil dari pedang pertama.

__ADS_1


__ADS_2