
"Di Hua San ada Yu Ni Feng, di Yu Ni Feng ada Gua Api Surgawi..!"
"Kun Lun San ada 36 gua surgawi kecil dan satu gua malaikat besar..!"
"Bila berjodoh akan bertemu, bila tidak berjodoh sampai kapanpun tidak akan bisa bertemu..!"
"Hidup adalah derita, bisa melepaskan nya, baru bisa bahagia..!"
"Bisa mensyukurinya baru bisa menikmatinya..!"
"Teorinya sederhana datang tidak bawa, pergi pun tidak bisa membawanya..!"
"Jalani takdir dengan pikiran terbuka cahaya terang menanti anda meraih nya..!"
Suara Wu Ming Lau Jen semakin lama semakin kecil, hingga akhirnya hilang sepenuhnya.
"Guru tunggu..!"
Fei Yang pun tersadar dari mimpinya, karena suara teriakan nya sendiri.
"Yang ke ke apa yang terjadi ?"
tanya Xue Lian yang berjongkok di sebelah Fei Yang cemas.
Fei Yang yang terlihat sedikit berkeringat menatap kearah istrinya dengan wajah bingung.
"Ehh apa aku sedang bermimpi ?"
tanya Fei Yang pada dirinya sendiri.
"Ya, Yang Ke ke dari tadi sambil tidur berbicara sendiri tidak jelas, kemudian berteriak teriak sendiri.."
ucap Xue Lian menjelaskan, sambil menatap kearah Fei Yang dengan khawatir.
"Sejak kapan kamu di sini sayang ?"
tanya Fei Yang tersenyum lembut, pikiran jernihnya mulai kembali normal.
"Sejak Yang Ke Ke teriak teriak sendiri, akupun kemari, sebenarnya apa yang terjadi..?"
tanya Xue Lian sambil mengambil tempat, duduk dalam pangkuan suaminya dengan manja.
"Maaf sayang, aku tidak sengaja malah ganggu istirahat mu.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum canggung.
Xue Lian melingkarkan tangannya di belakang leher Fei Yang, dia menatap Fei Yang dengan lembut sambil menggelengkan kepalanya.
Dia berkata pelan,
"Tidak apa-apa sayang, hari juga sudah sore, aku memang sudah saatnya bangun.."
"Bila tidak, nanti malam aku akan sulit tidur.."
ucap Xue Lian sambil menyentuh wajah suaminya dengan lembut.
Fei Yang mengangguk pelan, lalu berkata,
"Sayang tadi aku bermimpi bertemu Wu Ming Lau Jen guru ku, pemilik pedang Mestika Panca Warna itu.."
Xue Lian menoleh kearah Fei Yang, dia menatap kearah Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Apa yang di bicarakan dewa abadi itu padamu?"
Fei Yang sambil termenung dia berkata,
"Beliau mengatakan kedepannya aku akan mengalami banyak cobaan dan penderitaan, hingga aku tidak sanggup menjalaninya.."
Xue Lian menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Bila dewa abadi itu mengatakan Yang Ke ke sampai tidak sanggup menjalaninya, itu berarti masalahnya sangat berat.."
"Apa beliau ada katakan apa masalahnya ?"
tanya Xue Lian serius.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
'Tidak ada, guru bilang itu rahasia alam tidak boleh di buka, bisa mendatangkan bencana bagi ki bila di buka.."
Xue Lian menghela nafas kecewa dan berkata,
"Memang begitulah Naga Sakti kepala terlihat buntut tidak, atau sebaliknya ."
'Lalu apalagi pesannya ?"
tanya Xue Lian penasaran.
"Guru bilang lembah ini mengandung Hawa Yin tinggi tidak cocok dengan keadaan ku.."
"Dia memintaku pindah ke Hua San tepatnya Yu Ni Feng."
"Di sana ada gua api surgawi, bisa membantu memulihkan kondisi ku.."
ucap Fei Yang sambil menatap wajah istrinya, yang sedikit demi sedikit sudah jauh lebih segar.
"Sebentar rasanya aku tahu tempat itu, kalau tidak salah tempat itu terletak di sebelah timur Hua San.."
"Untuk mencapainya harus melewati hutan Cang Lung Ling yang berbahaya, aku dulu sempat ingin menjadikan tempat itu sebagai markas ku.."
"Tapi menimbang tempat nya yang begitu terisolasi, akhirnya aku memilih Lian Hua Feng, puncak tertinggi perguruan Hua San Pai sebagai markas ku.."
ucap Xue Lian sambil mengenang masa lalu nya dulu.
Sewaktu dirinya masih menjadi Hua San Lao Lao dan membangun aliran Mo Ciao disana.
Fei Yang melihat istrinya termenung mengenang masa lalu, dia sambil tersenyum berbisik di telinga istri nya.
"Sedangkan mikirin apa ?"
"Jangan bilang sedang mikirin Lao Lao genit itu..?"
Xue Lian langsung cemberut dan berkata,
"Kamu yang genit dan mata keranjang, udah sana mandi.."
"Aku mau ke dapur siapin makan malam.."
dengus Xue Lian berpura pura kesal, menutupi rasa jengah nya.
Dia buru buru bangkit berdiri, lalu hendak pergi dari sana.
Tapi tangan di pegang oleh Fei Yang yang menariknya kembali kedalam pangkuannya.
"Heiii..!"
"Jangan..!"
__ADS_1
"Mmmphhh..!"
"Ouuwww,..!"
"Jangan, lepaskan aku mau masak..!"
"Hei mau di bawa kemana,..! Mmmhhh..!"
Tanpa menghiraukan penolakan istrinya yang dia tahu hanya sedang jual mahal.
Fei Yang sudah menggendong istrinya kembali ke kasur.
Tidak tahu tenaga setan dari mana, tiba tiba Fei Yang yang paginya masih lemah.
Kini terlihat normal kembali, hingga membuat Xue Lian menjerit jerit.
Beberapa waktu berlalu, Fei Yang kembali tertidur pulas kelelahan dengan senyum puas.
Sedangkan Xue Lian meski terlihat lelah, sambil menahan senyum bahagia.
Dia merapikan rambutnya yang sedikit terurai berantakan, lalu mengenakan kembali pakaiannya satu persatu.
Setelah itu dengan hati hati dia beranjak meninggalkan Fei Yang yang sedang tertidur pulas di sana.
Fei Yang sudah bukan Fei Yang yang dulu lagi, setelah menghabiskan seluruh energi Yang nya untuk menolong istrinya.
Dia kini tak ubahnya seperti orang biasa, mudah lelah mudah capek bila melakukan aktivitas berlebih.
Sepeninggal Xue Lian, perlahan lahan Fei Yang yang sedang tertidur pulas tadi mulai terlihat gelisah.
Tubuhnya mulai mengigil, wajahnya pucat seperti mayat, bibirnya juga membiru.
Keringat dingin yang memenuhi keningnya perlahan-lahan mulai membeku.
Karena terlalu bersemangat tadi, dia menghamburkan terlalu banyak energi Yang nya.
Sehingga penyakit hawa Im di dalam tubuh Fei Yang yang berlebihan kambuh.
Fei Yang terus mengigil meringkuk di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher.
Semakin lama mengigil Fei Yang semakin hebat, hingga gigi atas bawahnya saling berbenturan bergemerutukkan.
Uap dingin mulai memancar memenuhi seluruh ruangan, perlahan lahan tubuh Fei Yang juga mulai di selimuti lapisan es tipis.
Rambut putih nya terlihat mengeras membeku, alis mata Fei Yang juga seperti ada butiran halus putih menempel di sana.
Sehingga alisnya terlihat berwarna abu abu.
Hal itu terus berlangsung tanpa ada yang tahu
Karena Xue Lian sendiri sedang sibuk masak di dapur, menyiapkan masakan buat nanti malam.
"Ibu ayah mana..?"
tanya Zi Zi yang menghampiri ibunya di dapur.
"Ayah mu sedang tidur di kamar jangan menganggunya.."
"Ada apa kamu tiba tiba mencari ayah mu..?"
tanya Xue Lian menghentikan aktivitasnya, lalu berjongkok di hadapan putrinya.
"Aku ingin ajak ayah bermain dengan ku.."
ucap Zi Zi polos.
"Bukannya ada mereka yang selalu menemani mu main ?"
tanya Xue Lian heran.
"Mereka nyebelin, mereka lebih suka membaca buku daripada temani Zi Zi main.."
komplain Zi Zi dengan wajah cemberut.
Melihat hal ini, Xue Lian pun tersenyum, di dalam hati dia berpikir.
Pasti putrinya yang manja dan mau menang sendiri kembali berulah.
Ngambek marah marah uring uringan makanya datang kemari mengadu sekaligus mencari Fei Yang yang suka memanjakannya.
"Zi Zi anak baik, dengarkan ibu, Zi Zi temani ibu masak aja ya, biarkan ayah mu beristirahat.."
"Kasihan ayah mu, keadaan nya belum pulih benar dari sakitnya.."
Zi Zi menggelengkan kepalanya dengan bibir cemberut, lalu dia berlari meninggalkan dapur dan berkata,
"Zi Zi mau jenguk ayah saja, kalau begitu.."
Tanpa menghiraukan teriakan ibunya dia sudah terus berlari meninggalkan dapur.
Xue Lian tidak berdaya, karena sedang masak setengah jalan, tidak mungkin bisa dia tinggalkan.
Dia hanya bisa menghela nafas panjang lalu kembali melanjutkan masaknya.
Tapi belum lama berselang kembali terdengar suara teriakan panik putrinya sambil menangis.
"Ibu...! Ibu...! ayah..ibu...!"
"Ayah dia mati Bu..!"
Mendengar teriakan dan tangisan putrinya, dengan kaget, Xue Lian buru buru menghentikan kegiatan masaknya.
Dia menatap putrinya dengan kaget dan berkata,
"Zi Zi kamu jangan bicara sembarangan.."
"Apa yang terjadi, ? bicara yang jelas.."
Zi Zi dengan wajah pucat dan airmata bercucuran kembali berkata,
"Ayah jadi patung es bu..!"
"Ayah telah pergi, tinggalkan Zi Zi..!"
"Hu..hu..hu..!"
Mendengar ucapan ulang putrinya, tanpa menghiraukan masakan nya.
Xue Lian memukul padam, api di dalam tungku kayu bakar.
Setelah itu dia dengan panik berlari sambil menggendong Zi Zi kembali ke pondok nya.
Zi Zi meski keras kepala dan nakal, tapi dia tahu persis sifat putrinya itu. Zi Zi tidak pernah berbohong kalau berbicara.
Dengan perasaan dan pikiran kacau balau, Xue Lian buru buru berlari kembali ke pondok nya.
Begitu tiba di kamar melihat di sana ada Sun er dan Hua Lung berdiri dengan wajah pucat sedang menatap kearah kasur.
__ADS_1
Di mana di sana terlihat tabib Hua sudah hadir di sana, dia sedang berusaha menolong Fei Yang dengan tusukan jarum nya.
Xue Lian berdiri mematung melihat keadaan suaminya yang terlihat meringkuk kaku, dengan seluruh tubuh di selimuti lapisan es tipis.
Dia benar benar sulit percaya melihat pemandangan di hadapannya.
Sebelum nya, suaminya baik baik saja, bahkan sangat sehat dan normal saat mereka bersama tadi.
Sedikit terlihat lelah itu wajar, karena mereka baru melakukannya.
Tapi yang tidak di sangka, kini tiba tiba suaminya drop hingga jatuh ke kondisi seperti ini.
Xue Lian menyerahkan Zi Zi yang sedang menangis ke Sun er dan berkata,
"Sun er kamu bantu bibi jaga dan hibur Zi Zi ..ya..?"
Li Sun mengangguk cepat, sambil menggandeng tangan Zi Zi,
Li Sun berkata pelan,
"Adik Zi Zi jangan menangis di sini, nanti menganggu kakek Hua yang sedang mengobati paman.."
"Ayo kita keluar saja dari sini, kakak akan menemani Zi Zi di luar.."
Zi Zi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Kakak Sun, Zi Di ingin bersama ayah.."
"Zi Zi ingin di sini temani ayah, hu..hu..hu..hu..!"
Li Sun menghela nafas panjang, kemudian menarik Zi Zi kedalam pelukannya dan berbisik,
"adik Zi Zi kakak tahu perasaan mu, kakak juga sedih.."
"Tapi demi kebaikan dan kesembuhan paman, kita tidak boleh berisik di sini.."
"Adik ku Zi Zi, adik Zi Zi kan ingin melihat paman sembuh kembali bukan, ?"
"Nah bila adik Zi Zi inginkan hal itu, maka adik Zi Zi harus nurut sama kakak.."
ucap Sun Er lembut sambil menggandeng tangan Zi Zi membujuknya meninggalkan kamar tersebut.
Meski terlihat berat, sesekali Zi Zi masih terus menoleh melihat kearah ayahnya.
Tapi Zi Zi tidak menolak lagi, saat Sun er membimbingnya meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Zi Zi pergi, Xue Lian dengan airmata berlinang menghampiri tabib Hua dan berkata,
"Tabib apa ada yang bisa ku lakukan untuk menolongnya.."
Tabib Hua tanpa menoleh berkata,
"Nyonya Li jangan khawatir, aku masih bisa menangani penyakitnya."
"Sebaliknya Nyonya Li harus jaga kondisi mu, saat ini baru hari ketiga nyonya Li pulih dari racun.."
"Nyonya selama 4 hari kedelapan belum boleh menggunakan tenaga dalam dengan alasan apapun.."
"Atau hasilnya akan sulit di bayangkan.."
ucap Tabib Hua berpesan pada Xue Lian
"Tapi aku setidaknya harus melakukan sesuatu untuk nya, dia jadi begini aku juga tidak terlepas dari tanggung jawab.."
ucap Xue Lian sedih.
Tabib Hua menoleh kearah Xue Lian dan berkata,
"Bila nyonya Li ingin melakukan sesuatu, baiklah nyonya Li bisa pergi siapkan makanan enak.."
"Karena nanti setelah dia sadar, kita semua akan sangat lapar.."
"Alangkah baiknya bila ada makanan enak dan sehat buat kami.."
Mendengar hal itu, Xue Lian mengangguk cepat.
Lalu dia segera meninggalkan ruangan tersebut, pergi ke dapur untuk melanjutkan memasak.
Sambil memasak, Xue Lian tidak mampu menghentikan airmata nya, yang terus mengalir membasahi wajahnya.
Meski dia sangat khawatir dan sedih, tapi dia tetap berusaha menyiapkan makanan terenak untuk suami, anaknya, dan yang lain nya.
Saat Xue Lian selesai memasak dan membawanya kembali ke pondoknya.
Dia melihat Fei Yang sudah bisa kembali duduk diatas ranjang, sedang mengobrol santai dengan tabib Hua.
Xue Lian langsung bernafas lega, dia merasa semua beban yang menekan hati dan perasaan nya dengan berat.
Kini semuanya beban itu sudah terangkat hilang tak berbekas, hati dan perasaan nya menjadi jauh lebih ringan.
Xue Lian meletakkan semua masakan nya di atas meja dan berkata,
"Tabib Hua, Lung Er, makan malam sudah siap kalian makan lah dulu.."
Tabib Hua tanpa di suruh pun dia sudah duduk di sana, siap dengan semangkuk nasi dan sumpit di tangan.
Tanpa sungkan sungkan lagi tabib Hua langsung berkata,
"Kalau begitu aku tidak akan bersungkan lagi, aku duluan.."
Tabib Hua tadi siang sudah mencicipi masakan Xue Lian yang lezat.
Sehingga kini apalagi dengan perut sudah kelaparan, tanpa bisa menahan diri lagi.
Dia langsung makan dengan lahap.
Lung Er tentu saja tidak berani bersikap seperti Kakek nya.
Dia segera berkata,
"Biarlah kakek ku makan dulu, aku mau pergi cari dan ajak Zi Zi dan Sun Er kemari.."
"Biar kami nanti makan sama sama saja.."
Xue Lian mengangguk dan berkata,
"Maaf jadi merepotkan mu.."
"Tidak apa-apa kak, aku permisi dulu.."
ucap Lung Er lalu dia buru buru meninggalkan pondok pergi mencari Zi Zi dan Sun Er.
Xue Lian langsung menghampiri suaminya dengan khawatir, setelah melihat Lung Er pergi.
"Sayang gimana keadaan mu sekarang ?"
tanya Xue Lian sambil duduk di tepi ranjang.
__ADS_1