
Setelah Lu Fan menggendong Fei Hsia, dia langsung menghilang dari hadapan mereka, dan muncul lagi di tepi danau.
Lu Fan meletakkan jasad Fei Hsia di hadapannya, lalu dia berlutut disana dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
Lu Fan berdoa sambil mengirim pesan suara kearah barat.
Tidak butuh waktu lama Dewi Kwan Im yang duduk di atas bunga teratai, melayang mendekati tempat itu.
Fei Yang dan Xue Lian yang baru muncul dari dalam portal dan mendarat di tepi danau.
Mereka ikut berlutut dan bersedekap menghadapi kearah sang Dewi.
"Putra ku yang perkasa, ada yang bisa saya bantu..?"
ucap Dewi Kwan Im sambil tersenyum lembut menatap kearah Lu Fan.
"Dewi agung gadis muda malang ini keturunan terakhir kakak ku dan kakak seperguruan ku.."
"Aku mohon kebijaksanaan Dewi, untuk membantunya hidup kembali.."
Dewi Kwan Im tersenyum lembut dan berkata,
"Takdirnya sudah habis di dunia ini, tapi berhubung kematiannya ada hubungannya dengan tugas membasmi angkara murka.."
"Aku akan membantunya, tapi kamu harus tahu putra ku..'
"Karena takdirnya di dunia ini telah habis, meski dia hidup kembali.."
"Ada kemungkinan semua kenangan masa lalunya akan terhapus tanpa sisa.."
"Dia ada kemungkinan akan seperti bayi yang baru terlahir kembali, dengan tubuh orang dewasa.."
"Terimakasih banyak Dewi, itu bukan masalah.."
ucap Lu Fan cepat
Dewi Kwan Im, membaca mantra yang mengeluarkan cahaya Swastika dan huruf huruf Sansekerta yang mengeluarkan cahaya keemasan.
Melayang masuk kedalam tubuh Fei Hsia, lalu di akhiri dengan kibasan daun di tangannya kearah tubuh Fei Hsia yang terbaring di atas tanah.
Butiran air embun menyelimuti seluruh wajah Fei Hsia, dari arah wajah mengeluarkan cahaya yang terus merembet hingga ke seluruh tubuh Fei Hsia.
Beberapa detik kemudian, sepasang mata Fei Hsia kembali terbuka.
Menatap kearah sekitarnya dengan wajah linglung, menatap semua orang yang hadir di sana dengan pandangan mata bingung.
Lu Fan tersenyum dan berkata,
"Ponakan ku, jangan bingung aku akan antar kamu kembali ke pulau pelangi.."
"Nanti semua akan di jelaskan oleh kakek dan nenek mu.."
Fei Hsia menatap bodoh kearah Lu Fan tidak berkata apa-apa.
Lu Fan menghadapi kearah Dewi Kwan Im dan berkata,
__ADS_1
"Terimakasih banyak Dewi agung.."
Dewi Kwan Im hanya tersenyum lembut, lalu dia menghilang dari tempat tersebut, bersama bunga teratai yang di duduknya.
"Mari ponakan ku kita juga harus pergi.."
"Paman akan mengajak mu naik awan.."
ucap Lu Fan lembut sanbil mengulurkan tangannya kehadapan Fei Hsia.
Fei Hsia tersenyum, lalu menyambut uluran tangan Lu Fan.
Tanpa melihat kearah Xue Lian dan Fei Yang lagi, dia langsung mengikuti Lu Fan naik keatas sebuah awan putih kecil yang baru turun dari langit.
"Jalan.."
ucap Lu Fan pelan, awan kecil itu segera membawa Lu Fan dan Fei Hsia terbang keatas langit.
"Sampai jumpa..!"
Belum selesai ucapan Lu Fan, Jin Tou Yun sudah membawa dia dan Fei Hsia menghilang dari tempat tersebut.
Fei Yang dan istrinya saling tatap dengan mesra dan tersenyum bahagia.
"Ayo kita juga pulang sekarang.."
ucap Fei Yang sambil membelai wajah istrinya.
Xue Lian mengangguk, lalu maju memeluk suaminya.
Membiarkan Fei Yang membawanya terbang dan mendarat di punggung Kim Tiaw.
Sen Tiaw mengiringi Kim Tiaw terbang bersama.
Fei Yang dan Xue Lian duduk santai sambil berpelukan diatas punggung Kim Tiaw.
Mereka berdua menikmati perjalanan tersebut dalam hening, masing masing menikmati pemandangan alam yang menakjubkan yang terpampang di hadapan mereka.
Setelah kembali ke istana, Fei Yang dan Xue Lian harus menjalani adat pernikahan.
Mereka harus berpisah sementara waktu hingga acara pernikahan yang akan di gelar esok hari selesai.
Mereka baru bisa kembali bersama lagi.
Saat hendak berpisah, Xue Lian dan Fei Yang sama sama terlihat berat dan enggan melepaskan pelukan mereka.
Tapi di bawah pengawasan Ibu Xue Lian dan Sabrina.
Mereka berdua hanya bisa parah dan mengikuti peraturan dari orang tua mereka.
Sebelum meninggalkan halaman kamar Xue Lian, Fei Yang berkata,
"Ibu apa tidak ada negosiasinya, kami kan sudah menikah..?"
"Besok kan cuma pestanya saja, masa masih harus pisah segala..?"
__ADS_1
tanya Fei Yang mencoba bernegosiasi dengan ibunya.
Mendengar ucapan Fei Yang, ibu Xue Lian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan menarik putri nya, ikut dengan nya masuk kedalam kamar.
Sambil berjalan mengikuti tarikan tangan ibunya, Xue Lian menoleh kebelakang menatap Fei Yang dengan tatapan enggan berpisah.
Ratu Sabrina menjawab bantahan Fei Yang dengan menarik telinga nya dan berkata,
"Kamu ini, cuma semalam aja, banyak nawar.."
"Dulu ayah dan ibu di pingit sampai 1 bulan juga kagak protes.."
"Ayo jalan..jangan mempermalukan ibu dan ayah mu.."
ucap Sabrina galak sambil menarik telinga Fei Yang meninggalkan tempat tersebut.
Tanpa banyak membantah, Fei Yang terpaksa mengikuti ibunya meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua yang sudah biasa tidur berdua, kini harus tidur terpisah.
Mereka sedikit gelisah dan sulit tidur, bolak balik di ranjang tak kunjung bisa tidur.
Fei Yang dan Xue Lian akhirnya sama sama memutuskan, melakukan meditasi untuk meningkatkan kekuatan mereka.
Dalam meditasi Ilmu pedang berpasangan, karena terhubung oleh pertalian batin dan kasih.
Mereka masing masing malah larut dalam bayangan pasangan masing masing.
Mereka berlatih bersama secara berpasangan dalam meditasi mereka.
Tanpa mereka sadari, keduanya kini tersenyum gembira dalam meditasi mereka.
Mereka terus berlatih hingga kamar mereka di ketuk dari luar.
Mereka terpaksa menghentikan latihan meditasi mereka, karena para pelayan mulai masuk kedalam kamar, untuk membantu mereka berganti dan bersiap siap menuju tempat acara sembahyang pernikahan.
Fei Yang lebih cepat selesai dan langsung menuju lokasi acara.
Sedangkan Xue Lian lebih lambat.
Karena dia harus berias dulu, sebelum bisa pergi ketempat acara.
Pernak pernik perhiasan yang harus dia kenakan juga jauh lebih banyak, kedua hal itu cukup menyita waktu
Tapi semua berjalan tepat waktu dan sesuai jadwal hari baik dan jam yang sudah di tentukan.
Mereka berdua hadir di sana melakukan upacara sembahyang langit dan bumi.
Acara berlangsung sangat meriah, tamu yang datang pun sangat banyak.
Di antaranya di sana terlihat hadir Ye Hong Yi dan Yue Feng suaminya, serta kedua putra putri mereka yang masih kecil-kecil.
Wei Wen yang mengenakan pakaian biksuni juga terlihat hadir di sana.
Dia tidak berhenti menatap Fei Yang, yang sedang tersenyum bahagia dengan tatapan mata penuh kesedihan.
__ADS_1
Meski sudah berlalu begitu lama, dia tetap belum bisa melepaskan perasaannya dari Fei Yang.
Rasa sesal kehilangan Fei Yang tetap masih berbekas di hatinya.