PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KETAKUTAN SAGA SAGI


__ADS_3

"Xue Lian kamu darimana saja, aku dari tadi mencari mu kemana mana ."


Tegur Fei Yang sambil tersenyum lega.


Xue Lian tidak bisa menjawab, karena mulutnya sedang penuh, baru setelah dia menggunakan air untuk mendorong makanan di dalam mulutnya masuk keperut.


Baru dia bisa menjawab,


"Aku tadi pulang ke tempat tinggal rahasia ayah ibu ku, untuk ambil ini."


ucap Xue Lian sambil menyerahkan sebuah peta, sebuah kantong kecil berkain halus, dan sebuah patung dirinya..


"Ini..apa,..?"


tanya Fei Yang bingung


Xue Lian sambil tersenyum kemudian berkata,


"Ini adalah peta untuk keluar masuk tempat ini, setelah kamu ada peta ini dan mempelajarinya."


"Kamu akan bisa bebas keluar dan masuk kemari.."


Fei Yang menatap Xue Lian dengan kaget dan berkata,


"Kamu berikan rahasia ini kenapa ?"


"Apa kamu tidak takut ayah ibu mu akan menghukum mu ?"


Xue Lian menghela nafas pelan dan berkata,


"Aku sudah pikirkan, meski aku bisa menahan orang mu, tapi aku tidak akan pernah bisa menahan hati mu, jadi buat apa ?"


"Cepat lambat kamu tetap akan pergi juga.."


"Ibu ku sudah pergi 3 tahun belum juga kembali, sedangkan ayah ku sejak aku masih di kandungan, dia sudah pergi tinggalin aku dan ibu.."


"Aku gak yakin mereka berdua akan kembali demi aku.."


ucap Xue Lian tertunduk sedih.


Fei Yang tidak tahan lagi melihat kesedihan Xue Lian teman baiknya ini.


Fei Yang ikut duduk di samping Xue Lian, kemudian memegang tangan nya dengan lembut, untuk memberi sedikit hiburan pada Xue Lian.


Xue Lian menghela nafas kemudian berkata,


"Aku tidak takut mereka marah, karena mereka juga belum tentu pulang.."


"Lagi pula aku lebih takut, kelak kamu tidak tahu jalan kembali untuk melihat ku di sini.."


ucapnya dengan mata sedikit berkaca kaca.


Tapi dia membuang wajahnya kesamping, agar Fei Yang tidak melihatnya.


Setelah beberapa saat terdiam, dia baru kembali melanjutkan berkata,


"Selain itu aku juga tidak mau, mengantar kepergian mu.."


ucap Xue Lian mencoba memakan penganan di hadapan nya, untuk mengurangi rasa sedihnya.


Tapi kenyataannya, airmata nya, malah jatuh menitik membasahi kue, yang ada di piringnya.

__ADS_1


Xue Lian tidak rela Fei Yang pergi meninggalkan nya, hati dan perasaan nya sangat kecewa dan sedih, setiap kali terbayang Fei Yang akan segera pergi meninggalkan dirinya.


Baru terbayang pun sudah sesedih ini, bagaimana bila nanti saat dia harus mengantar kepergian nya.


Makanya dia memutuskan, tidak akan pergi mengantar Fei Yang meninggalkan tempat ini.


Dulu dia terbiasa hidup sendirian.


Sehingga dia tidak masalah, tapi semenjak Fei Yang hadir dalam kehidupannya.


Kehidupannya sudah jauh berubah,


Dia tidak bisa seperti dulu lagi, dia sekarang sangat takut kesepian, bila Fei Yang pergi.


Tapi sebagai seorang gadis, tentu dia tidak bisa mengungkapkan semua perasaannya.


Dia juga gengsi bila harus merengek meminta Fei Yang, jangan pergi meninggalkan dirinya, dan dia menyadari hal itu tidak akan ada gunanya.


Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Jadi yang bisa dia lakukan saat ini, adalah berusaha memendamnya di dalam hati, semua kesedihan, kekecewaan, dan semua ketakutan yang ada di dalam dirinya.


Sedangkan di.luat dia hanya bisa berusaha menunjukkan kepada Fei Yang, dia mendukung keinginannya.


Melihat hal ini, Fei Yang mengambil piring berisi kue dari tangan Xue Lian.


Meletakkan nya kesamping, lalu dia maju memeluk Xue Lian dan berkata,


"Aku tidak jadi pergi, aku akan menemanimu di sini, hingga salah satu dari mereka pulang."


"Bila dalam waktu 6 bulan kedepan, mereka tetap belum pulang, aku akan mengajak mu berkeliling dunia mencari mereka.."


"Bagaimana adik Lian,..aku bolehkah memanggil mu adik Lian..?"


Xue Lian menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Terimakasih banyak kakak Yang.."


Sesaat kemudian Fei Yang bertanya,


"Adik Lian apa isi bungkusan ini ?"


"Ini uang untuk perjalanan mu, aku tidak mau kamu pergi mengembara tanpa uang sepeserpun di saku.."


ucap Xue Lian sambil tersenyum.


Fei Yang terharu dengan perhatian Xue Lian padanya, setelah terdiam sejenak, diapun berkata,


"Terimakasih banyak adik Lian, aku akan menyimpan nya dulu, kalau begitu.."


Fei Yang kemudian memasukkan nya kedalam cincin penyimpanan.


Selanjutnya Fei Yang memegang patung ukir yang sangat halus itu, lalu berkata,


"Patung ini sangat mirip dengan mu, apakah ini juga untuk ku..?"


Xue Lian mengangguk dan berkata,


"Ya, aku ingin kakak Yang menyimpan nya, agar setiap melihat patung ini."


"Kakak Yang tidak akan pernah lupa, di sini Kakak Yang punya seorang teman yang selalu menanti mu kembali.."

__ADS_1


Fei Yang membelai rambut Xue Lian dan berkata,


"Kita tidak jadi berpisah, kita akan terus bersama, tapi patung ini aku tetap akan menyimpan nya.."


Fei Yang lalu memasukkan patung tersebut kedalam cincinnya.


Xue Lian melepaskan pelukan Fei Yang, kemudian berkata,


"Kakak Yang pasti belum makan dari pagi, yuk kita makan di dapur..?."


ucap Xue Lian mulai bisa kembali tersenyum.


Fei Yang mengangguk, lalu mereka berdua bergandengan tangan berjalan menuju dapur


"Kakak Yang selesai makan, aku ingin mengajak kakak Yang ke suatu tempat.."


ucap Xue Lian tanpa menoleh.


"Kemana ?"


tanya Fei Yang heran


"Ada deh pokoknya, tapi kita sebaiknya makan dulu."


"Sayang masakan sebanyak itu di sia sia kan.."


ucap Xue Lian tersenyum misterius.


Fei Yang cuma menggelengkan kepalanya menanggapi sikap Xue Lian, yang gampang berubah seperti cuaca.


Tadi pagi marah, terus sedih, sekarang sudah kembali normal.


Dulu saat baru kenal dengan gadis ini, dia selalu terlihat dingin, galak dan sedikit bicara,


Tapi kini setelah mereka berdua bergaul cukup lama dan akrab.


Dia baru menyadari Xue Lian ternyata tidak sedingin penampilan luarnya.


Xue Lian sangat baik lembut dan penuh perhatian.


Fei Yang hapal dengan sifat Xue Lian, bila dia belum mau bicara, akan percuma memaksa bertanya padanya.


Ikutin saja kemauannya, nanti cepat lambat, dia juga akan bicara sendiri.


Tapi saat tiba di dapur, mereka berdua sangat kaget melihat keadaan meja makan yang berantakan.


Semua piring kosong, tinggal sisa kuah saja, yang terlihat berceceran di atas meja.


Padahal beberapa waktu yang lalu, saat Xue Lian mengambil kue, dia masih sempat cek semua masakan Fei Yang, yang tertutup rapi dengan piring, semua nya masih utuh.


Salahnya tadi setelah memeriksa isi masakan, dia tidak menutupinya kembali dengan rapi, langsung main tinggal saja.


Xue Lian dengan wajah kesal langsung berteriak,


"Saga...!!! Sagi....!!!"


"Keluar kalian berdua...!!"


Dua Kirin besar itu langsung muncul dari balik dapur dengan kepala tertunduk.


Dari mulut mereka yang belepotan minyak, Fei Yang sudah bisa menebak.

__ADS_1


Keadaan di meja pasti ulah mereka berdua.


Fei Yang hanya tersenyum menanggapi sikap kedua Kirin yang tertunduk ketakutan.


__ADS_2