PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEJADIAN ANEH DI KEDIAMAN LI CING


__ADS_3

Tapi tindakan nya yang heroik berani maju membela Sian Sian meski tidak mengerti ilmu bela diri.


Bagi Sian Sian hal ini cukup mengagumkan, dan sedikit merubah pandangan nya terhadap Fei Yang.


Sian Sian masih dengan bibir cemberut dan tatapan mata marah, menoleh kearah Fei Yang, lalu berkata,


"Masih berdiri di sana buat apa,? seperti patung saja..!"


"Ayo duduk,..!"


ucap Sian Sian dengan ketus, sambil menarik kursi yang ada disebelahnya buat Fei Yang.


Fei Yang buru buru duduk tanpa membantah, dia langsung memasang senyum gembira dan berkata,


"Terimakasih banyak Nona.."


Bagi Fei Yang meski Sian Sian terlihat ketus ucapan nya dan agak galak.


Tapi sikapnya yang menarik kursi dan mengijinkan Fei Yang, untuk duduk di sebelahnya. Ini sudah merupakan suatu kemajuan perubahan sikap, dari Sian Sian yang cukup luar biasa.


Li Cing tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung memulai mengambil lauk di hadapannya dengan sumpit.


Lalu mulai makan tanpa banyak cakap.


Sedangkan Li Dan yang juga duduk semeja dengan Li Cing, dia sedikit mengerutkan alisnya.


Saat melihat sikap yang di tunjukkan oleh Sian Sian ke Afei, si biang masalah itu.


Tapi dia tidak berani berkata apa apa, selain mengikuti Li Cing mengambil lauk di hadapannya buat makan.


Tapi tiba-tiba Li Dan menghentikan gerakan sumpit ke mulutnya.


Saat dia melihat pemandangan di hadapannya.


Sian Sian meski bicara dengan ketus, tapi lagi lagi dia bersikap di luar dugaan..


"Afei kamu bodoh atau apa ? mau mati kesedak nasi? ada banyak lauk di atas meja, malah sibuk dengan nasi putih..!"


"Ini makan,..! jangan sampai orang luar mengatai kami menindas bawahan, cuma kasih makan nasi putih..!"


ucap Sian Sian galak, tapi sumpitnya bermain mengambilkan sayur daging, bahkan sepotong besar paha bebek panggang, dia sematkan ke dalam mangkuk Afei.


Sehingga mangkuk Afei kini jadi penuh dengan lauk, dan hampir tumpah keluar.


Li Cing hanya menggelengkan kepalanya, melihat pola tingkah cucunya yang aneh dan sulit di tebak itu.


Afei tentu sangat heran dan sedikit terkejut, tapi tentu saja dia menerimanya dengan gembira.


"Terimakasih banyak Nona..."


ucap Afei sambil tersenyum lebar,

__ADS_1


Dia sempat melihat kearah Li Dan.


Afei sengaja mengangkat mangkuknya dan berkata,


"Ayo makan jendral,.."


Mendapatkan ledekan dari Afei,


Li Dan pun dengan kesal menghentikan makannya.


Dia jadi kehilangan selera makan nya, menyaksikan situasi di hadapannya.


Dia sempat melihat kearah Sian Sian, tapi Sian Sian bersikap seolah olah tidak perduli dengan kehadirannya di sana.


Li Dan sambil menghela nafas kecewa, dia berdiri dari duduknya dan berkata,


"Paman Li, aku sudah selesai,.aku permisi duluan,.. aku menunggu di depan sana.."


Li Cing tidak kaget, dia hanya mengangguk kecil saja.


Fei Yang pura-pura tidak tahu dan berkata,


"Sayang sekali padahal mangkuknya masih penuh, hidup tidak boleh menyia nyia kan makanan.."


"Dia gak mau biar aku saja yang habiskan."


Tanpa sungkan Fei Yang membawa mangkuk nasi Li Dan kehadapan nya.


Li Cing mengangguk menyetujui pendapat Fei Yang, sebagai seorang perdana menteri tua yang berpengalaman.


Tentu saja dia tahu dengan jelas, seberapa sulitnya rakyat daerah barat ingin menghasilkan sebutir beras.


Jadi ucapan Afei yang singkat itu, memang mengandung makna yang sangat dalam dan luas.


Sian Sian sendiri juga tidak perduli dengan apa yang Afei lakukan, dia meneruskan makan nya, seolah olah tidak tahu apa yang sedang di lakukan oleh Afei.


Selesai bersantap, Li Cing pun berkata,


"Sudah siap makannya ? kalau sudah siap mari kita lanjutkan perjalanan.."


Fei Yang mengangguk cepat, lalu Fei Yang mengangkat tangannya keatas dan berteriak,


"Pelayan,..! Pelayan,..!"


"Kemarilah,..!"


ucap Fei Yang sambil melambaikan tangannya kearah pelayan yang berdiri tidak begitu jauh darinya.


Pelayan itu dengan tergopoh-gopoh berlari menghampiri Fei Yang dan berkata,


"Ya tuan ? ada yang bisa saya bantu tuan .?"

__ADS_1


"Tolong bungkus kan sisa makanan ini untuk ku.."


Sian Sian melirik kearah Fei Yang dengan tidak senang, dia merasa sikap Fei Yang sangat memalukan dan Narsis.


Tapi dia tidak berkata apa-apa.. langsung berdiri pura-pura tidak tahu, dan berjalan keluar dari restoran.


Sedangkan Li Cing juga tidak berkata apa-apa, dia langsung berjalan menuju kasir melakukan pembayaran.


Pelayan itu mengangguk dan berkata,


"Baik tuan di tunggu sebentar.."


Pelayan itu bergerak cepat membawa sisa makanan ke bagian dapur untuk di bungkus.


Di luar dia bersikap biasa, tapi di dalam hati dia mengutuki sikap Fei Yang yang Narsis tidak tahu malu, dan hanya menambah nambah kerepotan buat mereka.


Fei Yang sengaja mengambil sikap ini, untuk melengkapi penyamarannya.


Fei Yang yang teringat dengan sikap Kimala dulu, orang yang pernah merasakan hidup susah, dengan yang selalu hidup berkecukupan tentu pola pikirnya berbeda.


Fei Yang yang sedang menyamar jadi orang rendahan, yang hidupnya susah, tentu sikap seperti ini paling cocok untuk melengkapi penyamarannya.


Setelah menerima bungkusan dari pelayan, Fei Yang pun buru buru berlari mengejar kearah rombongan Li Cing, yang sudah bersiap meninggalkan restoran.


Melihat Fei Yang sudah datang, rombongan itu pun melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki.


Li Cing yang berjalan paling depan menuju sebuah gedung yang besar dan sepi yang letaknya tidak terlalu jauh dari restoran tersebut.


Li Cing berjalan paling depan langsung melangkah menghampiri pintu gerbang besar, yang berada di depan nya.


Li Cing mengulurkan tangannya, menggunakan gelang yang menggantung di mulut ukiran kepala singa, yang menyatu dengan Pintu, untuk mengetuk pintu di hadapannya.


Setelah mengetuk beberapa kali tidak ada respon dari dalam, dengan heran Li Cing lalu mendorong pintu di hadapannya.


Begitu pintu di dorong hingga terbuka, Li Cing semakin heran, dengan kondisi pintu yang tidak terkunci.


Kemana perginya beberapa orang pelayan setianya, meski semua pelayannya berhenti, tapi kepala pelayan nya Afuk, juga tidak bakalan berhenti.


Dengan perasaan was was dan curiga, Li Cing melangkah masuk kedalam gedung besar itu, Li Dan yang mencium ada situasi tidak beres.


Dia bersama pasukannya, buru buru bergerak masuk mengiringi Li Cing dari sisi kanan kiri.


Begitu masuk kedalam gedung, di halaman depan bagian dalam terlihat mayat para pelayan tua muda perempuan laki laki, semuanya terkapar malang melintang tak bergerak.


Dengan sekujur tubuh mengalirkan darah yang menggenangi mayat mereka.


Sian Sian yang berjalan di paling belakang, saat melihat situasi di hadapannya, dia langsung berteriak ketakutan.


"Ahhhh,...!!!"


Secara reflek Sian Sian pun membalikkan badannya ingin berlindung pada Afei, yang ada di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2