
Beberapa saat berbaring di kasur dan kamar hangat, Hung Ping Chi akhirnya sadar dari pingsannya.
Dia membuka matanya pelan pelan, dia memperhatikan langit langit di tempat tidurnya.
Ping Chi kembali memejamkan matanya saat merasa langit langit diatas sana berputar-putar.
Sehingga kepalanya terasa pusing, hingga perutnya terasa mual ingin muntah.
Tapi Ping Chi berusaha menahannya, sambil buru buru
kembali memejamkan matanya, untuk mengusir rasa pusing itu.
"Kamu sudah bangun, minumlah sup ini bisa menghangatkan tubuh juga bisa memulihkan kondisi mu.."
ucap sebuah suara lembut yang sedang melangkah menghampiri tempat Ping Chi berbaring.
Hung Ping Chi membuka kembali matanya, untuk melihat siapa pemilik suara lembut, yang sedang berbicara dengan nya.
Hung Ping Chi sedikit bengong, saat melihat gadis cantik berbaju putih, yang sedang meletakkan semangkuk sup hangat di dekatnya.
"Kamu lihat apa,? ini sup mu minumlah agar cepat sembuh..jangan berpikir kemana mana.."
ucap Xue Xue sambil menahan senyum, saat melihat reaksi Ping Chi.
Hung Ping Chi dengan wajah tersipu merah berkata,
"Terimakasih banyak nona, maaf nona ini siapa ? mengapa aku ada di sini..?"
Xue Xue mengambil tempat duduk di samping tempat tidur Ping Chi,sambil tersenyum lembut dia berkata,
"Aku putri Pai Wang ketua perguruan Qing Hai Pai ini, kamu pingsan di depan pintu perguruan ku.."
"Ayahku yang menyuruh para Sexiong ku membawa mu kemari.."
Mendengar penjelasan Xue Xue, Hung Ping Chi sedikit kaget tapi juga girang.
Akhirnya dia bisa di terima di dalam perguruan Qing Hai Pai, perjuangannya ternyata tidak sia sia, pikir Hung Ping Chi dalam hati.
Selain itu Hung Ping Chi juga berpikir dalam hati, untuk bisa membalas dendam kematian kedua orang tuanya.
Dia harus rajin rajin berlatih dan mempelajari ilmu ilmu rahasia tingkat tinggi Qing Hai Pai.
Untuk itu, dia harus bisa dekati putri ketua ini, lewat gadis inilah dia bisa punya lebih banyak kesempatan.
Hung Ping Chi ini putra Ciang Nan Suang Sia, setelah kedua orang tuanya bertengkar dengan Yue Feng dan berakhir dengan luka parah.
Dalam perjalanan pulang mereka di hadang oleh sekelompok perampok.
Karena orang tuanya dalam kondisi terluka, mereka tidak sanggup menghadapi pimpinan rampok itu.
__ADS_1
Hung Ping Chi berhasil melarikan diri, tapi kedua orang tua nya tewas di bawah siksaan para perampok.
Hung Ping Chi menaruh dendam, selain sama perampok perampok itu, dia juga menaruh dendam besar terhadap Ye Hong Yi dan Yue Feng.
Bila bukan karena orang tuanya di lukai oleh mereka, tentu orang tuanya tidak mungkin bisa celaka di tangan para perampok itu.
Setelah berhasil melarikan diri, dengan susah payah, dia memutuskan kembali ke Qing Hai Pai.
Berharap di sana dia bisa memperoleh kesaktian, agar kelak dia bisa membalas dendam pada semua musuhnya.
Karena sebelumnya tujuan orang tuanya membawa dirinya kesana, memang ingin mengantarnya berguru kesana.
Tapi karena keributan tersebut, orang tuanya terpaksa membawanya meninggalkan tempat tersebut.
Qing Hai Pai dewasa ini termasuk, salah satu dari 5 partai besar dunia persilatan
Makanya Hung Ping Chi dan kedua orang tuanya memilih mengirim dia berguru di perguruan Qing Hai Pai.
Hung Ping Chi mencoba untuk bangun duduk agar bisa minum sup itu.
Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk itu, dia berusaha untuk bangun beberapa kali tapi selalu gagal.
Akhirnya dia terbaring pasrah sambil menggelengkan kepalanya, dia berkata,
"Maaf nona aku belum mampu bangun untuk duduk.."
Xue Xue menatap Ping Chi dengan kasihan dan berkata,
"Mana bisa seperti itu, bila perut mu tidak terisi kamu akan semakin tidak bertenaga."
"Sini biar aku bantu suapin saja.."
ucap Xue Xue lalu dengan hati hati sesendok demi sesendok dia menyuapi Hung Ping Chi.
Tidak terasa 6 bulan telah berlalu, berkat bantuan kitab salinan Ciu Yang Sen Kung dan Ih Cin Cing.
Kondisi Nan Thian sudah pulih total seperti orang normal biasa.
Tapi untuk berlatih sudah tidak mungkin, Dan Tian rusak, persendian cacat, nadi banyak yang putus, begitu pula dengan syaraf syaraf halusnya.
Dia kini tak ubahnya seorang biasa, yang tidak mampu ilmu silat.
Dulu dia adalah pemuda dengan bakat dan ilmu terbaik, semua orang menghormatinya.
Tapi kini kondisinya berbeda, bahkan murid murid baru pun berani menghina dan menggunjingnya sebagai kantong sampah tak berguna.
Hidupnya cuma menjadi benalu di perguruan Qing Hai Pai.
Untungnya masih ada Xue Xue, yang terus mendampinginya selama ini, sehingga orang masih tidak terlalu berani terang terangan mencari masalah dengan nya.
__ADS_1
Tapi mulai sebulan terakhir ini, Xue Xue mulai jarang mengunjunginya dengan alasan sibuk berlatih.
Hal ini membuat Nan Thian merasa jenuh dan kesepian, sehingga dia sering duduk di tepi jendela termenung sedih sendirian.
Untuk meninggalkan kamarnya tanpa di temani Xue Xue, Nan Thian kini kurang percaya diri.
Dia malas mendengar pergunjingan orang orang tentang dirinya.
Dia sendiri sudah banyak masalah dia tidak ingin menambah masalah baru bagi dirinya lagi.
Jadi suka tidak suka, mau tidak mau, dia kini lebih banyak menghabiskan waktunya berdiam di dalam kamar, sambil menanti Xue Xue datang mengunjunginya.
Pagi ini seperti biasa Nan Thian, kembali duduk termenung di depan jendela kamarnya seorang diri.
Wajah Nan Thian terlihat kuyu tidak bersemangat, sudah hampir seminggu Xue Xue seolah olah menghilang dari muka bumi.
Dia tidak pernah lagi datang menemui nya, bahkan sekedar lewat di depan halaman kamarnya pun tidak.
Sambil termenung Nan Thian, bergumam sendiri,
"Xue Xue kamu kemana saja,..?"
"Mengapa sudah seminggu lebih kamu tidak mengunjungi ku ?"
"Apa kamu tidak merindukan dan tidak mencintai ku lagi..?"
"Atau kamu sudah jenuh berdekatan dengan kantong sampah perguruan ini lagi..?"
"Tidak kamu tidak boleh berpikir seperti itu, dia sangat baik dan tulus mencintai mu.."
"Xue Xue bukan tipe gadis seperti itu.."
"Dia pasti sedang punya kesulitan.."
"Jangan jangan dia sakit..atau sedang ada masalah.."
"Tidak aku tidak boleh diam terus di sini, aku harus pergi memastikan keadaan nya baik baik saja.."
ucap Nan Thian sambil bangkit dari tempat duduknya.
Lalu dia untuk pertama kalinya melangkah keluar dari kamarnya tanpa di temani Xue Xue.
Nan Thian terus berjalan dengan perasaan cemas dan sedikit terburu-buru menuju kamar Xue Xue.
Tapi saat sampai di sana, Nan Thian menemukan kamar Xue Xue kosong, Xue Xue tidak berada di tempat.
Nan Thian melanjutkan langkahnya menuju taman tempat Xue Xue biasanya berlatih.
Sampai di sana Nan Thian mendengar suara tawa riang Xue Xue di taman sana, juga ada suara pedang beradu.
__ADS_1