PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
DI DATANGI PENGEMIS TONGKAT BAMBU KUNING


__ADS_3

Pemuda itu dengan tidak tahu malu telah mengeluarkan karangan indah.


Hingga orang orang sekitar yang tidak mengerti duduk perkara, mengira semua itu benar.


Mereka pada menganggap Fei Yang lah yang tidak setia kawan.


pemuda itu tersenyum mengejek kearah Fei Yang dan meneruskan Karangan nya semakin jadi jadi..


"Kakak Yang apakah kamu lupa,? ketika saat kamu pertama kali datang kerumah ku mengemis makan.."


"Bagaimana perlakuan ku pada mu waktu itu, bagaimana aku memberi mu modal hingga kamu bisa sukses seperti hari ini..."


Fei Yang yang kehabisan akal dan tidak tahu harus bicara apa, akhirnya hanya bisa memegang tangan pemuda itu merangkul dan menutupi mulutnya.


Kemudian menyeretnya untuk ikut dengan nya masuk kedalam penginapan.


Fei Yang tak punya pilihan, bila berbantahan dengan orang seperti itu, dia pasti akan di hakimi publik.


Tidak akan ada orang yang bakal percaya dan mendukungnya.


Sebagai pihak yang lemah dan tertindas, si pemuda itu sudah menang satu langkah dari nya, terlepas fakta benar salahnya.


Jadi langkah yang paling tepat memang hanya bisa membungkamnya, agar tidak celoteh lebih banyak lagi di muka umum.


Setelah tiba di dalam kamar Fei Yang, dia langsung lompat tidur di atas kasur Fei Yang tanpa melepas sepatu.


Sambil berbaring dia membalas menatap Fei Yang yang sedang menatapnya dengan kesal dengan senyum penuh kemenangan.


"Sudah tak perlu marah marah, di situ ada teh gratis, duduk minum kan jauh lebih baik dari pada marah marah.."


ucap pemuda itu menyindir sambil tertawa menyebalkan.


Fei Yang tanpa sadar, benar menurutinya, menghempaskan pantatnya duduk di kursi dengan kesal.


Menuang teh ke dalam cawan hingga penuh, dengan sekali tegak habislah isi cawan.


Fei Yang terus menerus minum hingga habis sampai 5 cawan baru perasaannya bisa lebih tenang.


"Sebenarnya apa yang kamu kehendaki dari ku..?"


tanya Fei Yang berusaha tenang.


Pemuda itu tersenyum manis dan berkata,


"Mudah saja, seperti permintaan ku sebelumnya, kamu cukup biarkan aku ikut dengan mu, kemanapun kamu pergi itu saja.."


"Sisanya aku bisa mengurus nya sendiri.."


Fei Yang kembali menuang teh memenuhi cawan nya, lalu menegak nya hingga habis baru berkata,


"Baiklah terserah pada mu, tapi aku katakan dari awal.."


"Jangan sampai nanti kamu menyalahkan ku di kemudian hari.."


"Hidup ku dan perjalanan ku penuh bahaya,.setiap saat selalu di kepung oleh pertempuran tiada putus.."

__ADS_1


"Musuh musuh ku juga rata rata sangat sakti, kemampuan mereka tidak berada di bawah ku..'


"Bila pertempuran pecah, aku sama sekali tidak bisa melindungi mu, bila terjadi sesuatu hal buruk dengan mu, itu adalah resiko mu.."


Pemuda itu tersenyum lebar dan berkata,


"Itu bukan masalah, asal kamu bukan sengaja membiarkan ku celaka.."


"Bila kamu ada unsur kesengajaan, percayalah aku akan menghantui mu seumur hidup.."


"Membuat mu putus keturunan,.."


"Kau,..,!""


teriak Fei Yang yang hampir menimpuk cawan di tangan nya kearah pemuda itu.


Pemuda itu langsung mengangkat kedua tangannya menutupi wajahnya dan berkata,


Timpuk saja,.. bila aku mati, berarti kamu memang ingin aku cepat cepat menghantui mu.."


"Bila aku terluka, ranjang mu juga yang kotor dan kamu tentu harus mengobati ku.."


Fei Yang meremas cawan di tangannya hingga menjadi tepung, saking kesalnya dia dengan pemuda itu.


"Ya sudah kamu nikmati saja sesuka mu, aku pindah ke sebelah.."


"Kalau tidak ada hal penting jangan menganggu ku,.dua hari kemudian kita baru tinggalkan kota ini.."


ucap Fei Yang malas berpanjang lebar dengan orang seperti ini.


Fei Yang benar benar kehabisan akal menghadapi pemuda tidak tahu malu ini.


Tanpa menunggu jawaban persetujuan pemuda itu, Fei Yang langsung keluar dari kamar tersebut.


Fei Yang langsung turun ke lantai dasar menuju tempat kasir membuka satu kamar baru lagi.


Fei Yang tidak mau sekamar dengan pemuda cantik yang menjijikkan itu.


Memikirkannya saja rasanya mau muntah, jadi Fei Yang malas berpikir terlalu jauh dengan latar belakang dan keadaan pemuda itu.


Setelah mendapatkan kamar privasinya sendiri, Fei Yang pun melepas lelah dengan mandi , lalu duduk bermeditasi untuk meningkatkan pengendalian tenaga nya.


"Tok,.. Tok,.. Tok,..!!"


Siapa lagi ini batin Fei Yang jangan jangan pemuda itu lagi yang datang menganggunya, pikir Fei Yang kesal.


"Benar benar seperti hantu penasaran yang terus mengganggu ku tanpa putus.."


dumel Fei Yang sambil turun dari ranjangnya pergi membuka pintu kamar nya.


Tapi begitu pintu kamar terbuka, terlihat pelayan yang dari awal melayaninya berkata dengan wajah pucat pasi..


"Tuan muda, di depan penginapan ada ratusan pengemis tongkat kuning ingin bertemu dengan tuan.."


"Mereka juga mengancam, bila tuan tidak keluar menemui mereka, mereka akan menyerang masuk kemari, melakukan pencarian sendiri.."

__ADS_1


ucap pelayan itu dengan tubuh gemetar ketakutan.


Fei Yang tersenyum tenang dan berkata,


"Tak perlu takut, kamu tenang saja."


"Biar aku turun menemui mereka,.."


ucap Fei Yang santai.


Tapi baru saja Fei Yang bersiap turun ke bawah, pintu kamar di sebelahnya terbuka lebar.


Seorang pemuda bertopi.dan bertubuh kecil, melangkah keluar dari dalam kamar nya, sambil menguap dan ditutupi dengan tangannya nya sendiri.


"Kakak Yang,.. ayo kita kabur saja lewat pintu belakang.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Pria sejati tidak akan pernah melarikan diri dari masalah, aku akan pergi menemui mereka.."


"Kamu mau lari silahkan saja seorang diri.."


Si pemuda itu mempelototi.feiYang


"Pria sejati apa ? itu namanya bodoh dan cari mati.."


"Mereka berani datang, berarti mereka sudah punya persiapan."


"Keras lawan keras menghadapi mereka hanya merugikan diri sendiri.."


"Pria sejati itu kalau sudah punya istri dan anak, lah kamu pacar aja tidak terlihat, bagaimana mau punya istri apalagi anak.."


ucap pria itu sambil tersenyum mengejek Fei Yang.


Fei Yang hanya meliriknya sekilas dan berkata,


"Aku tidak punya banyak waktu melayani mu berdebat,.."


"Silahkan saja sesuka mu sendiri,"


"Dasar gak jelas.."


"Apa kata mu ? sialan coba jelaskan apa nya yang gak jelas..!?"


teriak pemuda itu kesal dan gak terima.


Tapi Fei Yang sudah menuruni tangga tidak memperdulikan nya.


Fei Yang sambil menuruni tangga Tersenyum puas, karena bisa membuat pemuda sialan itu kesal.


Sampai di halaman depan penginapan, benar saja di sana terlihat telah berkumpul ratusan orang pengemis, masing masing memegang tongkat kuning ditangan mereka.


Di bagian paling depan terlihat 5 orang pria paruh baya yang memegang tongkat kuning dengan pakaian yang di hiasi banyak kantong.


Bila di hitung jumlah nya mencapai 9 kantong.

__ADS_1


Di samping mereka terlihat si mata besar sebelah.


__ADS_2