PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENUMPANG DI KAPAL KAKEK UMAR ALI


__ADS_3

Suara senandung lembut Wei Wen yang sedang mandi, membuat Fei Yang semakin panas dingin.


Untuk menghilangkan pikiran yang semakin liar dan sulit di kontrol.


Fei Yang melayang ke sebuah puncak karang terjal yang paling tinggi.


Dari puncak itu Fei Yang berulang kali mengirimkan Pesan suara ribuan Li ke temannya Kim Tiaw.


Tapi setelah menunggu beberapa waktu, menatap kearah langit. H


ingga matanya berair karena silau oleh teriknya matahari.


Tetap saja Kim Tiaw tidak kunjung datang, Fei Yang akhirnya mengedarkan pandangannya kesekitarnya.


Melihat apakah ada petunjuk lain selain berharap pada Kim Tiaw.


Tapi lagi lagi secara tidak sengaja Fei Yang malah melihat tubuh Wei Wen yang polos dan indah sedang berdiri di bawah sana bermain air.


Fei Yang buru buru


memunggunginya.


Di saat bersamaan Wei Wen kebetulan melihat keatas, karena ada guguran batu yang jatuh kearah kolam tempat dia mandi.


Saat melihat bayangan punggung Fei Yang ada di atas sana, sadarlah Wei Wen.


Fei Yang yang berada di tempat itu tadi pasti sudah melihat semuanya.


Wei Wen yang merasa malu, buru buru bersembunyi dalam air, tapi air yang begitu bening mana bisa menutupi tubuhnya yang polos.


Wei Wen menggunakan kedua tangannya menutupi tubuhnya seadanya, lalu berteriak kesal kearah Fei Yang.


"Kakak Yang nakal,..!!"


"Apa bagusnya mengintip orang sedang mandi,..!?"


"Mengapa begitu tidak sabaran,..?!"


"Dasar tidak bisa di percaya,.. menyebalkan.."


gerutu Wei Wen panjang pendek, sambil buru buru berpakaian.


Fei Yang sendiri menyadari kesalahannya, dia tidak berani membantah sedikitpun Omelan dari kekasihnya.


Fei Yang yang sedang menghadap kearah lain secara tidak sengaja, malah melihat ada kapal besar sedang melintas.


Dengan gembira Fei Yang buru buru membalikkan badannya ingin mengabari Wen Wen.


Tapi dia malah kembali melihat pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat, dengan jauh lebih jelas lagi.


Semua kini terpampang jelas, karena Wei Wen sedang keluar dari air dan sedang berpakaian.


"Ahhhhh,..!!"

__ADS_1


teriak Wei Wen kaget, dia buru buru menutupi tubuhnya dengan pakaian seadanya.


"Kakak,... kakak sungguh jahat,...!!"


teriak Wei Wen kesal bercampur malu.


Fei Yang sendiri sudah kembali memunggunginya dan berkata,


"Wen Wen maaf, ! kakak bukan sengaja, kakak tadi hanya mau memberitahu..di sana ada kapal lewat.."


"Kita bisa segera meninggalkan tempat ini menumpang kapal itu,"


Wei Wen yang sudah berpakaian lengkap pun berkata,


"Sudahlah lupakan saja, ayo turunlah kak,.. aku sudah selesai.."


"Kim Tiaw gimana kak ?"


tanya Wei Wen saat Fei Yang sudah mendarat di depan nya.


"Kim Tiaw tidak merespon ku.."


"Kemungkinan dia berada di tempat yang sangat jauh dari tempat ini.."


"Ayo naiklah ke punggung ku, aku akan membawa mu segera kesana.."


ucap Fei Yang sambil berjongkok memunggungi Wei Wen.


Wei Wen dengan wajah sedikit merah, karena teringat dengan kejadian sebelumnya.


Sebelumnya dia sudah sering di gendong dan di peluk Fei Yang, tapi dia tidak pernah merasa canggung sedikitpun.


Tapi kini setelah Fei Yang berjanji akan menikahinya, dan sudah melihat semuanya, tidak tahu kenapa dia justru merasa malu dan canggung, dia tidak bisa bersikap bebas semuanya seperti dulu.


Sifat feminim alaminya keluar dengan sendirinya.


Fei Yang berlompatan ringan di atas laut mengejar kearah kapal besar, yang sedang bergerak menjauhi gugusan karang tempat Fei Yang dan Wei Wen berada.


Saat Fei Yang tiba-tiba melompat keatas kapal sambil menggendong Wei Wen di punggungnya.


Orang orang yang berada di atas kapal tentu sangat kaget, mereka langsung ribut sendiri dengan bahasa yang Fei Yang tidak paham.


"Maaf bila kehadiran kami berdua menganggu ketenangan kalian,.."


"Kami tidak punya maksud buruk, kami hanya ingin menumpang kapal ini menuju daratan terdekat."


Terlihat seorang kakek berjalan keluar dari balik kerumunan orang-orang yang berkerumun di atas kapal.


Melihat para awak kapal yang sangat menghormati kakek itu, Fei Yang menebak bila kakek ini, bukan pemilik kapal, kemungkinan dia adalah nahkoda kapal ini.


Fei Yang pun memberi hormat kearah kakek itu dengan kedua tangannya.


Kakek itu membalas penghormatan Fei Yang, lalu berkata,

__ADS_1


"Anak muda kalian berdua siapa ? darimana ? mau kemana ?"


"Nama ku Fei Yang dan dia calon istri ku Wen Wen, kami kesasar di gugusan karang sana.."


"Kami bermaksud menumpang kapal ini menuju daratan terdekat, menuju daratan tengah tempat asal kami..'


ucap Fei Yang sambil menurunkan Wei Wen dari gendongan nya.


Wei Wen yang mendengar cara Fei Yang memperkenalkan diri nya, wajahnya langsung terasa panah dan bersemu merah.


Tapi bibirnya menyunggingkan senyum bahagia, diam diam dia terus menatap kearah Fei Yang dengan mesra.


"Ohh begitu rupanya,.."


ucap kakek itu sambil menganggukkan kepalanya.


Meski hatinya masih bertanya-tanya, bagaimana orang yang berada di gugusan karang yang cukup jauh, bisa mendatangi kapalnya yang ditengah lautan, tanpa menggunakan perahu atau rakit.


Tapi kakek yang berpengalaman dalam berlayar, faham bahwa di dunia yang luas ini, memang banyak orang sakti.


Manusia manusia dari daratan tengah dan timur sana, memang terkenal banyak memiliki orang orang berkemampuan tidak lumrah manusia.


Menyadari Fei Yang ada kemungkinan adalah salah satu manusia sakti dari daratan tengah.


Kakek itupun berkata dengan sopan,


"Anak muda silahkan saja bila ingin menumpang di kapal kami, tapi terus terang saja."


"Tujuan kami bukan menuju daratan tengah, tujuan kami adalah kerajaan Champa di sebelah selatan sana."


ucap kakek itu memberi penjelasan.


Fei Yang memberi hormat dan berkata,


"Terimakasih kek, kami berdua nanti di turunkan di kerajaan champa juga tidak apa-apa.."


Kakek itu mengangguk dan berkata,


"Nak Fei Yang dan calon istrinya silahkan saja beristirahat senyumannya.."


"Nama ku Umar Ali, biasanya di panggil kakek Umar, bila perlu apa apa beritahukan saja kepada ku.."


ucap kakek itu sebelum pamit permisi dan membubarkan kerumunan awak kapal mereka.


Para awak kapal yang tadinya terus menatap kearah Wei Wen dengan tatapan mata penuh nafsu.


Tapi setelah mereka mendengar kata kata yang di sampaikan oleh kakek itu dalam bahasa mereka.


Para awak kapal itu langsung membubarkan diri, mereka pada menatap kearah Fei Yang dengan tatapan mata waspada dan penasaran.


Tapi mereka tidak berani lagi sembarangan menatap Wei Wen yang meringkuk agak ketakutan di belakang punggung Fei Yang.


Wei Wei sangat ngeri dengan tatapan mata para pria, yang rata rata tidak memakai baju, berkulit gelap dan berotot.

__ADS_1


Tatapan mereka seolah olah sedang menggerayangi seluruh tubuhnya, makanya Wei Wen memilih bersembunyi di balik punggung Fei Yang.


__ADS_2