
Bayangan Naga es dan Phoenix Api yang bergabung jadi satu, terus melesat bersama dengan tubuh Fei Yang, lalu langsung menembus bagian titik tengah dahi Budha Asurra, yang ada lambang Swastika nya.
Begitu bayangan tersebut ditembus, Sosok Budha raksasa' pun meledak, melemparkan sosok bayangan Budha kecil yang terpental kesegala arah, kemudian lenyap tak bersisa.
Dalam keadaan terjepit, dan terdesak hebat, bakat tulang dewa Naga di tubuh Fei Yang bereaksi.
Bakat alam itu membantu Fei Yang menembus batas penguasaan kitab tanpa tanding, dari 50% meningkat tembus ke 60%.
Sehingga Fei Yang berhasil memecahkan misteri kekuatan super tapak Budha Asurra, yang belum mencapai titik sempurna.
Karena titik lemahnya yang halus masih bisa terdeteksi oleh Fei Yang.
Bila ini tapak Budha asli seperti yang di mainkan oleh 9 biksu agung.
Fei Yang tidak bakal dengan semudah itu memecahkan rahasia jurus tersebut.
Apalagi mereka di dukung dengan senjata Budha, yang menyatu di tubuh para biksu agung itu.
Peluang Fei Yang menjadi sangat kecil, dan hampir mustahil, bisa menemukan titik lemah jurus puncak ini
.
Terlepas dari hal itu, Fei Yang yang kini berhasil meledakkan Sosok Budha berwajah Asurra.
Kini melesat turun dari atas kebawah seperti kilat, menyambar kearah Vipasana lhama...
Vipasana lhama yang licik, tiba-tiba menghilang dari posisinya di depan, dia muncul dibelakang punggung Sangha dan Dheva lhama.
Sambil mendorong tubuh kedua orang wakilnya kedepan menyambut Fei Yang, dia berkata
"Berkorban untuk mahluk suci,
Budha hidup titisan Budha, jiwa kalian akan di jamin ke surga.. berbahagialah..!!"
Sangha dan Dheva lhama yang awalnya kaget, akhir nya, mereka berdua tersenyum bahagia, menyambut serangan Fei Yang.
Begitu keempat telapak tangan bertemu di udara.
Tangan Dheva lhama langsung membeku, kemudahan pecah hancur berkeping-keping.
Saat telapak tangan Fei Yang mengenai dadanya, seluruh tubuhnya pun membeku,.lalu ikut meledak hancur berkeping keping menjadi pecahan es.
Di sisi lain Sangha lhama yang menyambut telapak tangan Fei Yang yang berisi tenaga sakti api semesta.
Tangannya juga langsung hancur terbakar menjadi debu.
Baru di susul dengan tubuhnya, yang ikut hancur menjadi debu, saat telapak tangan Fei Yang mendarat di dadanya, setelah menghancurkan tangan nya.
__ADS_1
Vipasana lhama sendiri memanfaat insiden tersebut, melayang mundur menjauh, dari balik saku bajunya, tangan Vipasana lhama kemudian melempar sesuatu keudara.
Benda itu berubah menjadi sebuah bunga teratai raksasa, Vipasana bergerak duduk di atas bunga teratai tersebut, yang langsung bergerak dengan sangat cepat menghilang dari hadapan Fei Yang.
Fei Yang setelah berhasil menewaskan Sangha dan Dheva lhama.
Dia harus berdecak kesal, dengan kelicikan Vipasana lhama, yang menghilang dari tempat tersebut.
Begitu tinggal dirinya sendirian melayang di udara, ribuan anak panah langsung di lesatkan dari berbagai arah menyambar kearahnya.
Tapi panah panah yang di lepaskan oleh pasukan istana, tidak ada yang berhasil menembus pertahanan tenaga sakti api dan es milik Fei Yang.
Tanpa menghiraukan pasukan yang ada dibawah, tubuh Fei Yang terus terbang tinggi ke udara,
Saat Fei Yang mengeluarkan siulan keras.
Kim Tiaw, langsung datang menyambut dan membawa Fei Yang meninggalkan tempat tersebut.
Meski tidak berhasil menghabisi Vipasana lhama, tapi Fei Yang di dalam hati yakin Vipasana lhama tidak akan pernah berani, menginjakkan kakinya kembali ke Xi Xia.
Hal ini cukup menenangkan perasaan Fei Yang, sehingga dia pun berbaring santai di atas punggung Kim Tiaw melepas lelah.
Menikmati udara sejuk dari langit mendung dan hujan gerimis kecil yang menetes dari langit jatuh kebawah.
Tak terasa Kim Tiaw sudah membawa Fei Yang kembali ke depan halaman pondok sederhana Li Cing.
Lalu berjalan memasuki pondok yang sepi itu dengan perasaan heran.
Setelah masuk kedalam pondok dan melakukan pemeriksaan, Fei Yang hanya menemukan sepucuk surat di atas meja.
Fei Yang mengulurkan tangannya meraih surat tersebut dan membacanya.
Di dalam surat itu ada sederet tulisan Li Cing yang rapi.
"Pangeran Fei Yang saat kamu kembali, susul lah kami ke Lan Zhou.
"Gubernur Lan Zhou Pang Hui dan adiknya jendral Pang Tek.
Kini sudah menjadi sekutu kita."
"Mereka tadi mengirim utusan mengundang kami kesana, Lan Zhou nantinya akan di gunakan sebagai markas kita.."
"Sebagai basis untuk mengumpulkan seluruh pendukung raja Li Yuan Ming."
Setelah membaca surat tersebut, Fei Yang pun kembali keluar dari pondok, melompat ke punggung Kim Tiaw dan berkata,
"Tiaw Siung kita ke kota Lan Zhou sekarang.."
__ADS_1
Kim Tiaw mengangguk kecil, kemudian melesat keudara dan terbang mengambil arah selatan.
Tidak butuh waktu lama, Fei Yang dan Kim Tiaw sudah berhasil menemukan rombongan kereta yang membawa Li Cing, Sian Sian, raja Li Yuan Ming, Ratu Sabrina, dan Ibu Suri.
"Tiaw Siung kita bergerak lambat saja, awasi rombongan kereta itu.."
Bisik Fei Yang sambil membelai leher burung kesayangan nya dengan lembut.
Fei Yang mengambil waktu itu untuk duduk bersila melatih tehnik pengendalian tenaga sakti semesta.
Rombongan kereta itu terus bergerak menuju kota Lan Zhou.
Menjelang malam, rombongan kereta itu baru memasuki kota Lan Zhou.
Rombongan tersebut langsung di bawa, menuju sebuah gedung besar yang merupakan tempat kediaman gubernur Pang Hui.
Di depan gedung tersebut terlihat Pang Hui dan adiknya Pang Tek, berlutut memberi hormat kearah kereta yang berisi Raja Li Yuan Hau dan perdana menteri Li Cing.
Sedangkan ratu Sabrina dan Ibu Suri Halima memilih duduk satu kereta dengan Sian Sian.
Kedua wanita itu, ingin lebih dekat dan akrab dengan calon mantu pilihan mereka itu.
Mereka sangat antusias dan gembira melihat Sian Sian, yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan menarik.
Kedua wanita itu sangat berharap setelah urusan pengembalian kekuasaan selesai.
Mereka bisa segera menikahkan Fei Yang dan Sian Sian, agar bisa cepat menggendong cucu.
"Selamat datang Yang Mulia Raja Li Yuan Ming dan perdana menteri Li Cing, semoga panjang umur selalu..!"
ucap Pang Hui dan Pang Tek dengan suara lantang sambil berlutut.
Raja Li Yuan Ming yang di dampingi oleh Li Cing keluar dari dalam kereta dan berkata,
"Kalian semua berdirilah, tak perlu banyak peradatan.."
Pang Hui dan Pang Tek pun berdiri,.di susul oleh para pelayan dan pengawal yang tadi ikut berlutut
Pang Hui segera maju dan berkata,
"Yang mulia dan perdana menteri Li, silahkan kita kedalam."
"Aku sudah menyiapkan perjamuan kecil, untuk menyambut kedatangan Yang mulia dan perdana menteri Li.."
"Ayo mari lewat sini.."
ucap Pang Hui ramah, dengan tubuh sedikit di bungkuk bungkukkan, dengan penuh hormat, dia bertindak sebagai penunjuk jalan.
__ADS_1