
Fei Yang melanjutkan perjalanan memasuki gua satu satunya, yang menjadi tempat tinggal laba laba raksasa itu.
Setelah menempuh perjalanan berliku liku terus menurun ke bawah hingga bertemu dengan sebuah kolam air, akhirnya langkah Fei Yang terhenti di sana.
Di sekitar kolam air tersebut, terlihat di kelilingi oleh lubang lubang besar, di mana dari dalam setiap lubang tersebut.
Terlihat dua cahaya merah menyorot kearah Fei Yang dengan ganas.
Fei Yang lagi lagi menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Hutan sialan ini sungguh parah, pantas saja tidak ada satupun dari kedua kerajaan itu berani melakukan ekspedisi kemari."
"Mari kita lihat mahluk apalagi yang akan menjadi penghuni tempat ini..?"
ucap Fei Yang seorang diri, sambil mengeluarkan sepasang pedang nya.
"Ayo majulah,..!"
"Tunggu apalagi kalian,..!?"
bentak Fei Yang dengan suara menggelegar.
Dari dalam gua menjawab dengan suara mencicit, perlahan-lahan dari balik mulut gua muncul kepala mahluk bermulut lancip.
Mahluk mahluk itu sambil mengeluarkan suara mencicit, mereka memamerkan taring mereka yang besar besar.
Fei Yang sangat kaget melihat tikus dengan ukuran sebesar gajah.
Di dalam hati Fei Yang membatin tempat apa ini, mengapa mahluk mahluk di dunianya yang berukuran mini.
Di sini menjadi begitu besar dan mengerikan.
Binatang terkecil sebesar ini, bagaimana dengan mahluk mahluk buas yang berukuran besar di luar sana.
Di sini mau sebesar apa mereka nanti nya ?
batin Fei Yang dalam hati.
Tikus tikus raksasa itu dengan kompak langsung menerjang kearah Fei Yang, ingin mencabik cabik Fei Yang dengan taring mereka yang super tajam..
Tapi terkaman mereka masih kalah cepat dengan pergerakan Fei Yang.
Sebelum mereka saling bertabrakan sendiri, kehilangan sasaran.
Fei Yang sudah melayang diatas udara, memberikan serangan balik dengan tebasan pedang nya, yang langsung memenggal kepala kawanan tikus yang berada di bawah sana.
Setiap satu tebasan pasti ada satu
__ADS_1
kepala yang jatuh menggelinding diatas tanah.
Sisa mahluk mahluk itu, langsung melarikan diri masuk bersembunyi kembali ke dalam gua, mereka masing-masing.
Fei Yang tidak sempat mencegah mereka, untuk kembali masuk kedalam gua yang jumlahnya sangat banyak di sana.
Berdasarkan peta yang pernah dia lihat, kolam air inilah yang menjadi pintu gerbang menuju Hutan Misterius Perut Bumi.
Dengan tanpa ragu ragu, Fei Yang pun terjun menyelam ke dasar kolam.
Benar saja di bagian dasar kolam ada sebuah cahaya kecil, Fei Yang sambil mengatur nafas.
Berenang menyusuri terowongan bawah air itu, situasi ini sedikit mengingatkan Fei Yang akan kenangan pertemuan pertama nya dengan Ni Xue Lian.
Sambil berenang Fei Yang bertanya tanya pada diri sendiri, kira kira gadis itu masih ada atau tidak, di hutan bambu sesat.
Fei Yang tiba tiba jadi merasa rindu padanya,
"Setelah masalah Wen Wen selesai, aku mau pergi menemuinya, baru melanjutkan pengejaran ku ke wilayah timur.."
Batin Fei Yang dalam hati.
Akhirnya Fei Yang keluar dari terowongan bawah air dan muncul ke permukaan yang terang benderang.
Fei Yang menghirup udara segar di luar sepuasnya, baru terbang keluar dari dalam air.
Tiba-tiba ada sesuatu yang membelit kedua kakinya, lalu tubuhnya kembali di seret paksa masuk kembali kedalam air.
Fei Yang sangat kaget sehingga sempat meneguk beberapa suap air kedalam perutnya.
Sambil berusaha meronta, Fei Yang membuka matanya lebar lebar melihat benda apa yang telah menjerat kaki nya.
Begitu melihat ada belalai berlubang lubang berkulit kasar dan licin berlendir menjerat kedua kakinya.
Fei Yang pun menelusuri hingga keujung nya, ternyata yang menahan pergerakannya adalah seekor gurita raksasa yang tidak tahu muncul dari mana tahu tahu ada di sana
Fei Yang kembali mengeluarkan sepasang pedang nya menebas tangan gurita yang menahan kakinya.
Tebasan pertama gurita raksasa itu masih berhasil menahannya, tapi tiba di tebasan ketiga.
Gurita tersebut terpaksa melepaskan jeratan nya dari sepasang kaki Fei Yang.
Tapi tangan gurita yang lain telah menangkap kedua tangan dan pinggang Fei Yang.
Baru di susul dengan tangkapan ulang kearah kedua kaki Fei Yang.
Fei Yang secara reflek melepaskan ribuan energi pedang merah biru membabat kesegala arah, sambil membuat pusaran energi terbang keluar dari dalam air.
__ADS_1
Gurita itu sangat kaget, dia langsung menyemburkan tinta hitam, lalu menghilang melarikan diri bersembunyi disalah satu gua di dasar kolam.
Gurita itu melepaskan potongan tangannya menempel di tubuh Fei Yang.
Meski lengannya pada putus di babat Fei Yang, tapi gurita itu tidak khawatir, karena tangannya bisa beregenerasi sendiri.
Fei Yang terbang keluar dari dalam kolam, sambil membawa pusaran air dan lengan gurita yang nempel di tubuhnya.
Dia langsung meledakkan nya diudara, sehingga air dan potongan lengan gurita berhamburan kemana mana.
Setelah itu Fei Yang baru bersalto beberapa kali diudara, kemudian mendarat ringan di pinggir kolam.
Fei Yang saat mengedarkan pandangannya melihat alam sekitar, dia baru merasa heran.
Dia merasa dirinya amatlah sangat kecil di tempat itu, seluruh rumput dan pepohonan begitu besar.
Mahluk yang dia temui juga ukuran nya sangat fantastis, seumur hidup dia baru pertama kali melihat mahluk aneh bertubuh besar, berkulit seperti gajah tapi lehernya sangat panjang mirip jerapah.
Suara yang di keluarkan nya pun sangat mirip dengan suara gajah.
"Apa ini leluhurnya gajah,..?"
tanya Fei Yang di dalam hati.
Fei Yang hanya memperhatikan gerak gerik mahluk raksasa yang tingginya hampir 20 meteran itu.
Tapi mahluk itu hanya menoleh sekilas menatap kearah Fei Yang, lalu dia bergerak meninggalkan tepi danau tempat dia sedang minum tadi.
Setelah mahluk itu pergi suasana menjadi hening kembali.
Berhubung rumput di sana sangat tinggi, Fei Yang kesulitan menemukan arah jalan, jadi dia memilih melayang ringan di atas rumput.
Tapi di saat dia sedang asyik melayang ringan sambil memperhatikan keadaan sekitarnya.
Di mana dia mencoba mencari keberadaan kawanan kera emas, seperti yang di ceritakan oleh Shanti Dewi.
Tiba-tiba ada burung besar yang menyambar kearah dirinya, dengan sepasang cakarnya, yang berkuku tajam dan paruh burung itu, yang runcing berusaha mematukinya.
Secara reflek Fei Yang langsung menghindar, sambil melepaskan pukulan jarak jauh, untuk menahan pergerakan burung itu.
Tapi terlepas dari burung itu, urusan belum selesai, Fei Yang harus kembali menghindari serangan dari burung lainnya.
Semua terjadi berulang ulang, puluhan ekor burung walet, yang biasanya berukuran kecil.
Kini terlihat bagaikan Kim Tiaw, semua menyerangnya dengan ganas.
Lebih hebatnya lagi, mereka seperti tahu cara bekerja sama, mengeroyok dan mengurung Fei Yang
__ADS_1