PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KETERKEJUTAN WEI WEN


__ADS_3

Fei Yang sudah tidak berharap bisa keluar dari jalan mereka masuk, dia hanya bisa mencari cari jalan keluar dengan mengetuk ngetuk dinding mencari celah, bahkan langit langit pun dia periksa tapi tetap saja gagal.


Berdasarkan perhitungan perkiraan Fei Yang sendiri, dia sudah menghabiskan waktu satu bulan melakukan pemeriksaan.


Tetapi hasilnya masih nihil, sementara pohon pohon buah mulai habis buahnya, yang tersisa tidak banyak.


Kini Fei Yang mulai mengerem makan nya, sehari dia hanya makan sekali sebutir buah.


Padahal biasanya dia bisa menghabiskan 3 hingga 5 butir buah seharinya.


Wei Wen meski sehari tetap makan dua kali jatahnya juga sama dia kurangi, setiap jadwal makan dia hanya bisa makan satu butir buah.


Tapi meski situasi sudah seperti itu, Wei Wen tetap bersikap ceria.


Dia tidak mau membuat Fei Yang semakin cemas dengan keadaan mereka.


Saat mereka berdua sedang duduk beristirahat, Fei Yang berkata,


"Maaf Wen Wen, kakak Yang tak berguna masih belum berhasil menemukan jalan keluar."


"Kamu jadi harus mengalami situasi kelaparan seperti ini."


Wei Wen tersenyum manis, dia duduk merapat ke Fei Yang dan berkata,


"Orang kelaparan biasanya akan merasa dingin, seperti saat ini aku merasa sedikit dingin.."


"Tapi tidak apa-apa, selama ada kakak aku tidak akan pernah merasakan dingin.."


Fei Yang menatap Wen Wen dengan penuh haru dan berkata,


"Kamu selalu bisa aja.."


Fei Yang menarik Wen Wen kedalam pelukannya, dia sudah tidak mau berpikir banyak.


Hanya menuruti insting dan perasaannya saja.


Saat ini dalam keadaan seperti, berpikir banyak juga percuma, dia juga tidak mungkin bisa keluar dari sini, untuk memenuhi janji dan harapan nya.


Satu satunya saat ini adalah mencoba sebisa mungkin membahagiakan pendamping hidup tinggalnya ini.


Jadi saat gadis ini pergi nanti, setidaknya dia pergi dalam keadaan bahagia.


Dia tidak ingin teman satu satunya ini pergi dalam keadaan penuh penyesalan dan bersedih hati.


"Wen Wen kalau kamu merasa begini lebih baik, kakak akan selalu siap kapan pun kamu membutuhkannya."


"Kamu tidurlah, tidur bisa mengurangi pikiran lapar mu.."


ucap Fei Yang lembut.


Wei Wen tersenyum dan berkata,


"Aku suka begini, bila tidur aku tidak bisa merasakannya, aku belum ngantuk lagipula aku sedang tidak ingin tidur.."

__ADS_1


"Kakak, apakah tunangan mu sangat cantik ? kakak pasti sangat menyesal ya, ? ikut terkurung di sini bersama gadis jelek seperti aku.."


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kamu salah, dia memang cantik tapi kamu juga tak kalah cantik."


"Diantara kami meski terikat tali pertunangan, tapi perasaan ku terhadap dirinya hanya teman, hanya perasaan kakak beradik, tidak lebih..'


Wei Wen tersenyum senang dan mengangguk puas akan jawaban Fei Yang.


"Kakak Yang bagaimana dengan kak Xue Lian ?"


Fei Yang termenung sesaat kemudian berkata,


"Aku sangat merindukan nya, tapi kini semua percuma itu cuma impian saja.."


"Kakak apakah kakak mencintai kak Xue Lian ?"


Fei Yang terlihat termenung lalu menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tidak tahu soal itu, aku hanya tahu aku sangat berhutang banyak padanya, aku merasa kasihan dengan nya, aku juga sering teringat dengan nya.'


"Aku sangat ingin menghibur dan memberikan kebahagiaan untuk nya.."


Wei Wen mengangguk dan berkata,


"Itu berarti kakak perduli dengan nya, tanpa kakak sadari kakak sudah jatuh cinta pada kak Xue Lian.."


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Bila itu di katakan cinta, bukankah saat ini aku juga bisa di katakan jatuh cinta pada mu.."


"Entahlah Wen Wen terhadap sial ini, aku selalu tidak punya jawaban."


ucap Fei Yang apa adanya.


Tak ada yang perlu di tutupi lagi pikir Fei Yang, toh hidup mereka juga belum jelas, bisa bertahan berapa lama lagi.


"Kakak di antara kami bertiga, siapa paling cantik ? bila harus memilih kakak ingin hidup bersama siapa ?"


Fei Yang tersenyum menatap Wei Wen dan berkata,


"Apa itu penting ? apa kini aku masih punya kesempatan memilih ?"


"Tidak Wen Wen, saat ini ada kamu di sini yang menemani ku, aku sudah sangat bersyukur.."


"Tak perlu pusing memilih, serahkan saja semua ke takdir, bukankah itu jauh lebih baik.."


"Yang paling penting saat ini kamu gembira, aku gembira sudah jalani saja.."


"Bila kamu menyukainya, aku akan katakan pada mu, kamu lah yang paling cantik di dunia ini, dan aku memilih hidup bersama mu hingga mau tiba.."


"Bagaimana,..? puas,..?"

__ADS_1


Wei Wen cemberut dan berkata,


"Itu karena kakak gak punya pilihan , itu jawaban terpaksa, Wen Wen gak suka.."


"Kakak nyebelin, udah ahh lepasin,..Wen Wen mau sendirian aja.."


ucap Wei Wen tiba tiba keki dengan jawaban Fei Yang.


Fei Yang melepaskan pelukannya, membiarkan Wei Wen berjalan pergi.


Dia hanya tersenyum kecut menanggapi sikap Wei Wen.


"Dasar gadis yang yang di besarkan dengan obat peledak, mau kumat langsung kumat.."


"Sulit di tebak,.."


ucap Fei Yang sambil menggelengkan kepalanya tak berdaya.


Bila sudah seperti ini, Fei Yang pun tidak mau menganggunya lagi.


Dia kembali meneruskan kegiatan nya mencari jalan keluar.


Selagi Fei Yang sedang fokus memeriksa setiap sudut mencari jalan keluar.


Wei Wen sendiri terlihat dengan wajah cemberut menahan kesal, menaiki undakan tangga menuju kesebuah kursi singasana yang terbuat dari batu giok.


Fei Yang tidak menyimpan harta ini, karena berulang kali dia mencoba kursi ini seolah-olah melekat dengan lantai.


Tidak bisa di pindahkan sehingga, akhirnya Fei Yang biarkan tetap teronggok di tempatnya.


Wei Wen yang sedang kesal dengan Fei Yang, dia langsung menghempaskan dirinya duduk di kursi itu dengan kasar.


Sambil meletakkan kedua tangannya di pinggiran kursi yang dia pukul berulang kali dengan kesal.


Dia lalu menghempaskan punggungnya berulang kali kearah sandaran kursi untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Tak cukup sampai di sana, dia juga menghentakkan kedua kakinya dengan kesal secara bergantian di area ukiran tempat meletakkan kaki bagi yang duduk di singgasana tersebut.


Tiba-tiba singasana tersebut berderak keras.


"Krakkk,..!Krakkk,..! Kreekkk,..!Kreekkk,..!Kreekkk,..!"


"Bangggg,...!!"


"Ahhhhh,...!!!"


jerit Wen Wen kaget.


Saat kursi itu bagian lantainya terbuka otomatis,.Wei Wen berikut kursinya langsung jatuh kedalam lubang gelap tak berdasar.


Fei Yang yang sedang memeriksa dinding gua, mendengar jeritan kaget Wei Wen.


Dia langsung meninggalkan pekerjaannya melesat cepat kearah menghilangnya Wei Wen bersama kursi singasana itu.

__ADS_1


Sebelum lubang itu sempat menutup kembali, tanpa pikir panjang, Fei Yang pun ikut terjun kedalam lubang gelap tersebut.


__ADS_2