
Nan Thian menghampiri mereka membungkukkan badannya dalam dalam dan berkata,
Kim Hong, aku mohon maaf atas keputusan yang telah ku ambil.."
"Aku harap, kamu bisa memahami kesulitan ku.."
Tanpa menunggu respon jawaban Kim Hong yang sedang menangis sedih.
Nan Thian memberi hormat ke Bai Xue Sethai Kim Lan dan Kim Sin Sethai.
"Sethai semua, berhubung Nan Thian masih ada tugas lain.."
"Di sini Nan Thian sekalian mohon pamit, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi.."
ucap Nan Thian penuh hormat.
Bai Xue Sethai mengangguk kecil membalas penghormatan Nan Thian dan berkata,
"Terimakasih banyak pendekar muda, semoga perjalanan mu lancar, sampai ketemu lagi.."
Kim Lan dan Kim Sin sambil tersenyum ramah, mereka berdua merangkapkan kedua tangan mereka kedepan, dengan tubuh sedikit membungkuk.
Mereka berdua balas memberi hormat kepada Nan Thian dan berkata,
"Jaga diri mu pendekar muda.."
Nan Thian mengangguk sambil tersenyum, dia menatap kearah punggung Kim Hong sejenak.
Setelah itu tanpa berkata apa-apa, Nan Thian langsung membalikkan badannya meninggalkan tempat tersebut.
"Kakak Nan Thian,..tunggu..!"
teriak Kim Hong dari belakang.
Nan Thian terpaksa menghentikan langkahnya, lalu dia menoleh kebelakang.
"Ya adik Kim Hong.."
ucap Nan Thian sambil membalikkan badannya menghadap kearah Kim Hong.
"Kakak Nan Thian maafkan permintaan Kim Hong sebelumnya yang kurang pantas dan agak egois.."
"Ping Chi dia memang layak menuai karma perbuatannya sendiri.."
"Harusnya Kim Hong paham itu.."
ucap Kim Hong dengan kepala tertunduk.
Nan Thian sambil tersenyum lembut, dia menyentuh kedua pundak Kim Hong dan berkata,
"Tidak ada yang perlu di maafkan adik Kim Hong.."
"Aku mengerti jalan pikiran dan perasaan mu saat itu.."
"Jaga kesehatan mu, jangan terlalu bersedih.."
"Kakak pergi dulu,.. sampai jumpa.."
ucap Nan Thian sambil tersenyum lembut.
Kim Hong mengangguk kecil dengan kepala tertunduk, dia berkata pelan.
"Kakak juga..jaga diri..sampai jumpa.."
__ADS_1
Kim Hong baru berani mengangkat wajahnya setelah Nan Thian berjalan pergi dari hadapannya.
Dia menatap bayangan punggung Nan Thian dengan wajah basah airmata.
Dia terus menatap punggung Nan Thian hingga hilang dari pandangan nya, dia pun bergumam pelan dalam hati,
"Alangkah bahagianya bila waktu bisa di putar kembali.."
"Alangkah bahagianya, bila bisa menjadi pendamping hidup mu.."
"Tidak tahu wanita beruntung mana,? yang akan mendapatkan cinta dan kasih sayang mu.."
"Aku sungguh iri padanya.."
Selesai berkata, Kim Hong pun berjalan menghampiri gurunya, dia langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya.
"Guru,.. Kim Hong sudah putuskan, Kim Hong ingin ikuti jejak guru dan kedua suci.."
"Kim Hong mau keluar dari kehidupan fana, Kim Hong ingin mengambil jalan Tao, berlatih diri menuju jalan dewa."
Bai Xue Sethai tersenyum lembut dan berkata,
"Asalkan kamu punya tekad, pasti bisa.."
"Hanya saja ini harus datang dari hati mu, bukan karena paksaan atau pelarian diri."
"Bila karena itu, maka semuanya akan jadi sia sia dan percuma..kamu hanya membuang waktu dan masa muda mu saja.."
"Jadi pertimbangkan lagi lah matang matang sebelum memutuskan.."
"Kapan pun kamu siap, baru beritahukan pada guru. '
"Sekarang berdirilah mari kita bersiap siap kembali ke Xue San Pai.."
Kim Hong menggelengkan kepalanya dan tetap bertahan di sana.
"Tidak guru, keputusan Kim Hong sudah bulat tabiskanlah Kim Hong hari ini juga.."
ucap Kim Hong berkeras.
"Baiklah bila itu mau mu ."
"Guru akan membantu mu memenuhinya.."
ucap Bai Xue Sethai sambil mengulurkan tangannya kearah Kim Lan dan Kim Sin Sethai.
Kedua orang itu mengerti, Kim Lan buru buru maju memberikan pisau cukur, yang di butuhkan oleh gurunya .
Sesaat kemudian terlihat Rambut Kim Hong yang hitam halus, mulai berjatuhan memenuhi sekitar tempat di mana Kim Hong sedang berlutut.
Beberapa waktu kemudian, saat Bai Xue Sethai menyelesaikan pekerjaan nya.
Di hadapan Bai Xue Sethai, kini terlihat ada seorang gadis muda dengan kepala plontos tanpa rambut, sedang berlutut di sana.
Gadis muda itu meski kepalanya kini plontos, tapi tetap tidak bisa menutupi kecantikan nya yang cemerlang.
Kepalanya telinganya hingga lehernya yang putih halus kemerahan, membuatnya terlihat semakin menawan.
Bai Xue Sethai memberikan sebuah topi pendeta Tao untuk menutupi bagian kulit kepala muridnya yang plontos.
Lalu dia membantu Kim Hong untuk bangkit berdiri.
Kim Hong terlihat seperti sosok yang kembali terlahir kembali.
__ADS_1
Wajahnya terlihat tersenyum penuh kesabaran dan kelembutan , awan mendung yang menutupi wajahnya kini terusir oleh pancaran sinar pengertian dan welas asih.
Keempat wanita itu akhirnya bergerak meninggalkan kediaman gubernur yang besar dan mewah, tapi kini terlihat sepi dan hening .
Nan Thian yang keluar duluan dari gedung kediaman Lim Ping Chi.
Di halaman depan gedung dua langsung di sambut oleh Kim Kim yang berdiri bersandaran di bawah pohon menunggunya.
"Ehh kakak bagaimana ? sudah beres kah..?"
tanya Kim Kim sambil berlompatan riang menghampiri Nan Thian.
Nan Thian mengangguk dan berkata,
"Sudah di sini sudah beres.."
"Kamu sendiri bagaimana ?"
"Siluman tua itu, berhasil tidak kamu jinakkan.."
"Aman kak,..siluman tua itu, kini sudah berpindah ke sini, ampasnya sudah ku buang jadi angin.."
ucap Kim Kim sambil tertawa nakal.
Nan Thian hanya menggelengkan kepalanya menanggapi sikap Kim Kim.
Dia tahu Qi Lian Lao Koai pasti sudah di telan habis oleh Naga emas nya
"Sekarang kita mau kemana dulu kak..?"
tanya Kim Kim bersemangat.
"Aku ada sedikit rejeki dari dalam gedung itu, kita bagi bagikan saja dulu ke rakyat tidak mampu.."
ucap Nan Thian
Kim Kim mengangguk dan berkata,
"Terserah kakak, aku ikut saja..'
"Kalau begitu kita mulai saja, makin cepat makin baik.."
ucap Nan Thian sambil mempercepat langkahnya, berjalan menyusuri pinggiran kota.
Do mana banyak rumah rumah kumuh yang di bangun berdesak desakan di sana.
Setiap melewati rumah kumuh, Nan Thian secara otomatis langsung melemparkan sekantung uang kedepan pintu rumah tersebut.
Saat pemilik rumah keluar dan menemukan kantong uang tersebut, Nan Thian sudah jauh meninggalkan rumah itu.
Pemilik rumah kumuh yang keluar dari dalam rumah, begitu menemukan hadiah itu.
Mereka langsung bersujud dan menyembah nyembah kearah langit, untuk mengungkapkan rasa bersyukur dan ucapan terimakasih mereka ke langit .
Nan Thian terus bergerak berkeliling, membagi bagi harta, hingga harta yang dia dapatkan dari kediaman Ping Chi habis.
Dia dan Kim Kim baru meninggalkan kota Chang An.
Saat keluar dari gerbang kota Chang An, Kim Kim pun bertanya,
"Kakak kita sekarang kemana dulu.."
"Kita ke Qing Hai Pai saja,.ada sesuatu, yang harus aku serahkan ke para tetua di sana.."
__ADS_1