PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
YI WEN KASIM KECIL.


__ADS_3

Mereka ada Yi Ling Cin, pasukan khusus kerajaan Song.


Sedangkan pemuda yang berpakaian bersulam naga, dia adalah Putra Mahkota saat ini Zhou Yuan Xi.


Rombongan ini tidak mengikuti antrian, bahkan semua yang mengantri harus menyibak ke kiri kanan, dan di wajibkan untuk berlutut saat dia hendak lewat.


Fei Yang yang tidak ingin banyak menarik perhatian, dia juga ikut berlutut.


Fei Yang sedikit heran dengan tingkah Yi Wen yang biasanya paling suka dengan keributan, kini malah menundukkan kepalanya dalam dalam, ikut berlutut di sebelah nya, tanpa bersuara.


Fei Yang sambil berlutut bertanya sama orang di sebelahnya,


"Paman siapa pemuda itu ?"


"Mengapa kita semua di wajibkan berlutut seperti ini..?"


Pria itu tanpa menoleh berkata,


"Kamu pasti orang baru ya, ?"


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Benar paman aku dan teman ku, baru pertama kali mengunjungi ibu kota ini.."


Pria di sebelah Fei Yang menghela nafas panjang, lalu dengan wajah kecewa, dia berkata,


"Dia adalah putra mahkota pengganti putra mahkota lama Zhau Heng."


"Dia memang gila hormat, sangat berbeda jauh dengan putra mahkota sebelumnya, yang sangat menghormati dan menyayangi rakyat..'


"Bila putra mahkota yang lama, dia pasti akan mengikuti antrian ngobrol dengan rakyat, tidak bakal memaksa antrian, apalagi menyuruh kita pada berlutut.."


"Tapi mau bilang apa, orang baik mudah tersingkir, sama seperti jendral Yue yang harus berakhir dengan tuduhan memberontak.."


"Nasib negara ini mungkin tidak akan lama lagi, kita rakyat kecil yang akan celaka, bila Liao dan Xi Xia datang dan berhasil menginvasi kita.."


"Apalagi kabarnya putra mahkota Xi Xia yang terkenal dengan nama Ping Huo Ta Xia, adalah seorang yang sangat sakti bahkan memiliki tunggangan Rajawali raksasa dan Seekor Naga Hitam."


"Nasib negara ini benar benar di ujung tanduk.."


ucap pria itu sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Fei Yang sedikit terkejut, ternyata namanya sudah terbawa sampai ke masyarakat kota yang bahkan belum pernah dia datangi ini..


Setelah rombongan itu lewat, Fei Yang pun mengikuti orang orang kembali berdiri, meneruskan antrian mereka.


Memasuki kota Kai Feng, diam diam Fei Yang sangat kagum dengan kemajuan dan keramaian kota tersebut.


Semua bangunan yang berdiri di kanan kiri jalan terlihat sangat indah dan anggun.


Jalanan juga sangat rata, tidak ada lubang sama sekali dan sangat bersih.


Sangat berbeda jauh dengan Xi Xia yang lantainya dari tanah, debu dan pasir juga sangat banyak.


Setiap saat selalu ada saja angin badai yang berhembus kencang.


Di sini sangat berbeda, cuacanya sangat bersahabat dan tenang.


Fei Yang berjalan menuju sebuah restoran dan penginapan yang terlihat sangat besar dan mewah.

__ADS_1


Tapi sebelum dia melangkah masuk,. tangannya di tahan oleh Yi Wen.


"Kak jangan yang ini, sebaiknya kita ke yang di depan sana saja.."


ucap Yi Wen penuh percaya diri.


Fei Yang menatapnya dan berkata,


"Kenapa ? bukankah tempat ini sangat bagus dan ramai, ? tentunya servis nya sangat memuaskan."


"Ya sudah kakak coba saja, nanti juga tahu.."


"Aku tunggu di depan sana saja.."


ucap Yi Wen santai.


Fei Yang sedikit ragu tapi dia tetap melanjutkan langkahnya memasuki restoran mewah itu.


Tak lama berselang Fei Yang keluar lagi dengan wajah merah padam.


Yi Wen sambil tertawa nakal berkata,


"Bagaimana kak kenapa keluar lagi..?"


"Bukan kah restoran dan penginapan yang besar dan ramai harusnya servisnya juga ok..?"


ucap Yi Wen sambil tertawa.


Fei Yang melampiaskan kekesalannya ke Yi Wen yang menyebalkan.


Fei Yang tiba tiba menghilang dari posisinya dan menarik telinga Yi Wen dengan keras.


teriak Yi Wen kesakitan sampai bercucuran air mata.


Fei Yang tidak perduli dengan reaksi Yi Wen dia terus menyeretnya meninggalkan tempat tersebut sambil mengomeli Yi Wen


"Kenapa kamu tidak bilang itu adalah tempat pelacuran,? kamu membuat ku kehilangan 50 Tael perak hanya untuk bikin kartu anggota brengsek ini.."


ucap Fei Yang sambil meremas sebuah plat besi kecil, hingga tak berbentuk lagi.


Fei Yang sembarangan melempar plat besi itu langsung menembus tembok hingga sama rata dengan tembok.


"Aku mana tahu ? kamu sendiri yang bilang ingin di servis dengan bagus.."


"Ku pikir wanita wanita cantik di sana, cocok untuk menservis mu dengan bagus.."


ucap Yi Wen sambil menggosok gosok telinga nya yang merah.


Mendengar ucapan Yi Wen, Fei Yang langsung mengangkat tangannya ingin menjitak kepala Yi Wen.


Yi Wen buru buru menghindar dari berkata,


"Jangan terus menindas ku, mentang mentang aku bukan lawan mu.."


"Kalau jantan carilah lawan yang sepadan jangan cuma tahu menyiksa yang lemah saja.."


"Seperti bukan laki laki saja.."


Dumel Yi Wen kesal.

__ADS_1


"Apa kata mu, coba ulangi lagi...!!"


teriak Fei Yang kesal..


Yi Wen sambil tertawa berlari menjauh dia berkata,


"Aku bilang kamu bukan pria..!"


"Kau,..!"


teriak Fei Yang keki.


Tapi Yi Wen sudah jauh di depan sana.


Dia bisa saja menangkap dan menyiksanya, tapi itu percuma saja, mulut itu mulutnya, dia mau bilang apa Fei Yang juga gak bisa mencegahnya.


Memotong lidahnya, juga tidak mungkin, anggap saja hiburan jadi perjalanan gak sepi.


Setelah dia kehilangan Yue Feng dan Hong Yi dalam perjalanan, kemunculan banci cilik ini juga lumayanlah pikir Fei Yang dalam hati.


Pilihan kedua sangat memuaskan sebuah penginapan yang tidak kalah mewah dan sangat bersih, masakan di restoran tersebut juga sangat lezat dan istimewa.


Semua ini adalah Yi Wen yang memilihkan buat Fei Yang.


Sambil makan dengan lahap Fei Yang berkata,


"Yi Wen kamu tahu darimana tentang restoran dan penginapan di kota ini..?"


"Aku pernah kerja di istana dan tinggal di kota ini sejak lahir, bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu.."


Fei Yang langsung tersedak makanan di mulutnya mendengar ucapan Yi Wen.


"Uhuk,.. uhuk,.. uhuk,...!"


Dia sambil terbatuk batuk menatap kearah Yi Wen dan menunjuknya.


"Jadi kamu seorang Kasim,...?"


tanya Fei Yang kaget.


Secara reflek dia menunduk menatap kearah bawah pusar Yi Wen sambil menelan ludahnya sendiri.


Di otak sudah kebayang wajah wajah pembesar kebiri di istana Xi Xia, yang berwajah menor pesolek, yang tidak memiliki perkakas.


Pria bukan wanita bukan.


Membayangkan hal ini Fei Yang langsung bergidik.


Yi Wen yang merasa Fei Yang sedang menatap kearah yang tidak pantas, dia langsung buru buru menutupi dengan kedua tangannya dan berteriak marah..


"Apa yang kamu lihat,.. !?"


"Percaya tidak aku akan mencongkel mata mu nanti bila ada kesempatan,..!"


teriak Yi Wen marah penuh ancaman.


Fei Yang meleletkan Lidahnya, lalu sambil menahan tawa dia berkata,


"Kamu teruskan saja, aku mau kembali ke kamar.."

__ADS_1


.


__ADS_2