
Fei Yang memperhatikan beberapa jenis masakan yang tersaji di hadapannya.
Semua terlihat sangat cantik penuh warna dan sangat wangi.
Fei Yang mengambil mangkuk kecil mengisinya dengan sup ikan warna warni.
Saat sup itu masuk kedalam mulut Fei Yang merasakan sensasi kelezatan yang luar biasa.
Ini adalah kali pertama dia merasakan sup seenak ini dalam hidupnya.
Dia sendiri mampu masak dan hafal dengan berbagai rasa dan paduan bumbu.
Tapi terhadap rasa ini, Fei Yang baru pertama kali merasakan nya.
"Ini sup sup apa ? kenapa rasanya begitu berbeda ?"
tanya Fei Yang heran.
"Kenapa ? tidak enak ya ? tidak sesuai selera Kakak' Yang ya ?"
ucap Fei Hsia terlihat cemas.
Dia buru buru mencoba mencicip ulang sup buatannya, tapi dia menggelengkan kepalanya.
Rasanya sudah benar, tidak ada yang salah pikirnya.
Dia sedikit menggelengkan kepalanya, lalu dengan wajah bingung dia berkata,
"Biar aku ganti saja yang lain.."
"Ini kakak coba buburnya saja.."
ucap Fei Hsia ingin menyingkirkan sup buatannya dari hadapan Fei Yang.
Tapi tangannya di tahan oleh Fei Yang dengan lembut,
"Istri ku kamu salah paham akan maksud ku, sup mu ini enak luar biasa."
"Aku justru penasaran dan ingin tahu, kamu sebenarnya menggunakan bahan apa,? sehingga rasanya bisa seperti ini..?"
Mendengar ucapan Fei Yang, Fei Hsia pun menghela nafas lega.
"Huff,..!"
"Syukurlah kakak Yang menyukainya, aku malah berpikir.."
ucapan Fei Hsia terhenti saat menyadari Fei Yang sedang menyentuh tangan nya dengan lembut.
Selain itu dia jadi teringat ucapan Fei Yang tadi yang memanggilnya istri ku.
Kini ditambah dengan tatapan mata mesra dan lembut dari Fei Yang lengkap lah sudah.
Perasaan gembira dan haru menyeruak memenuhi perasaannya.
Fei Hsia tiba tiba menjadi salah tingkah, seluruh wajahnya merah padam, dengan kepala tertunduk malu.
Dia menggerlingkan matanya menatap Fei Yang dan berkata dengan suara pelan,
__ADS_1
"Kakak Yang kamu tadi memanggil ku apa ?"
Melihat sikap Fei Hsia yang menggemaskan, Fei Yang sambil menahan senyum berkata,
"Aku memanggil mu istri ku, kamu kan yang bilang kamu istri ku, apa ada yang salah ?"
Fei Hsia melirik kearah tangan Fei Yang yang masih memegang tangan nya disana.
Dia tidak menarik kembali tangannya, hanya dia semakin menundukkan kepalanya dan wajahnya semakin merah.
Fei Hsia terlihat sangat gelisah dan semakin salah tingkah, jantungnya berdebar dengan sangat kencang.
Hingga dia bisa mendengarnya sendiri dengan sangat jelas, dia bahkan takut Fei Yang bisa ikut mendengarnya.
Fei Yang melihat sikap Fei Hsia yang semakin salah tingkah, dia jadi timbul jahilnya.
Fei Yang menggeser posisi duduk nya menempel ke Fei Hsia, lalu dia menarik tangannya.
Sehingga Fei Hsia tertarik kedalam pelukannya.
"Heiii,..!"
teriak Fei Hsia kaget.
Secara reflek dia langsung meronta, tapi dia kesulitan bergerak.
Karena kedua tangannya telah di kunci oleh Fei Yang, dengan memeluk perutnya yang rata, dengan sangat erat.
Fei Hsia jadi tak berkutik, wajahnya semakin merah, tubuhnya sampai bergetar hebat.
Saat dia melirik kearah Fei Yang, menyadari wajah mereka begitu dekat.
"Kakak mau apa,.. ? jangan sembarangan,"
"Hari sudah terang, akan sangat memalukan, bila terdengar dan terlihat oleh kakek nenek di luar sana.."
ucap Fei Hsia semakin panik dan gelisah, jantungnya serasa mau copot menghadapi aksi yang dilakukan oleh Fei Yang.
Meskipun dia sangat menginginkan Fei Yang, tapi ini adalah pertama kalinya, tentu dia sangat gugup dan panik.
Fei Yang melihat reaksi Fei Hsia yang seperti kelinci ketakutan dia semakin tertarik ingin menggodanya.
Fei Yang sengaja berbisik di dekat telinga Fei Hsia,
"Kamu kan istri resmi ku, kenapa harus malu ? harusnya mereka yang malu.."
"Mengintip dan mencuri dengar pasangan suami istri sedang ..."
Fei Yang sengaja menggantung kalimatnya, agar Fei Hsia berfantasi sendiri dengan kalimat yang menggantung itu.
Benar saja Fei Hsia tubuhnya semakin gemetaran.
Di tambah dengan hembusan nafas hangat Fei Yang saat berbisik.
Menimbulkan angin hangat yang menyapu telinga dan leher Fei Hsia yang putih jenjang.
Maka lengkaplah sudah perasaan dan pikiran Fei Hsia yang semakin kacau balau di buat Fei Yang.
__ADS_1
Fei Hsia merasa jantungnya serasa berhenti sesaat di buat aksi Fei Yang, darah di dalam tubuhnya juga ikut berdesir hebat.
Sepasang mata Fei Hsia sudah terpejam rapat, hanya terlihat bulu matanya yang panjang melengkung keatas.
Terlihat bergetar getar, bibirnya yang ranum sedikit terbuka, siap menyambut ciuman mesra dari Fei Yang.
Tapi Fei Yang yang wajahnya sudah begitu dekat, dia malah menggeser wajahnya kesisi wajah Fei Hsia yang lain dan kembali berbisik di sana.
"Ayo kita sarapan, nanti masakan nya dingin."
Fei Hsia yang dadanya sudah membusung indah dan bergelombang hebat menahan gelora perasaannya.
Tiba-tiba langsung lemas begitu mendengar bisikan nakal dan suara tawa tertahan Fei Yang.
Dia langsung membuka matanya kembali, menatap kearah Fei Yang yang sedang menahan tawa dengan sebal.
Bibirnya terlihat cemberut, dia mencubit pinggang Fei Yang dengan keras dan berkata,
"Dasar menyebalkan..!"
Setelah itu dia langsung bangkit berdiri dan berlari keluar dari dalam ruangan dengan wajah kesal dan keki.
Dia sudah hampir melayang ke awang Awang ternyata Fei Yang hanya mempermainkannya.
Membuat dia jatuh terbanting dengan memalukan, tentu saja Fei Hsia sangat keki.
Dia semakin keki dan kesal, saat dia mencoba menoleh kebelakang.
Dua mendapati Fei Yang ternyata tidak berusaha mengejar untuk membujuk dirinya yang sedang merajuk.
Fei Yang malah terlihat makan sendiri dengan nikmat tanpa memperdulikannya.
Sambil membanting kaki sebelahnya melampiaskan kekesalannya.
Fei Hsia langsung berlari menuju keanjungan kapal, berdiri di ujung kapal sana.
Sambil menghapus dua butir airmatanya yang melompat keluar, saking keki kesal dan kecewa dengan sikap Fei Yang.
"Di sini angin pagi sangat dingin, kamu belum sarapan, nanti masuk angin.."
terdengar suara lembut dari belakang.
"Ayo aku suapin makanlah buburnya sedikit.."
ucap suara itu kembali dari belakang.
Sepasang tangan kekar melingkar di pinggang dan perutnya sambil memegang mangkuk dan sendok keramik berisi bubur.
Di hadapan Fei Hsia tiba tiba muncul sebuah mangkok berisikan bubur udang yang masih hangat dan mengepulkan asap tertiup angin dingin pagi hari.
Fei Hsia yang melihat hal itu langsung menahan senyum, lalu dia menoleh keasal suara itu.
Melihat wajah Fei Yang muncul di sampingnya sambil tersenyum lembut dan penuh perhatian.
Seluruh perasaan keki dan kesalnya langsung hilang terbawa angin.
Sambil berpura-pura cemberut, dia berkata dengan ketus,
__ADS_1
"Apa perduli mu,? bukannya bila aku sakit dan mampus, kamu akan lebih senang dan puas ?"