PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
GOLOK NAGA HIJAU


__ADS_3

"Jadi kamu masih terhitung keponakan murid ku, kita satu akar mengapa harus saling berlawanan.."


"Asalkan kamu bersedia menjadi pengikut ku, kejadian hari ini akan ku anggap tak pernah terjadi.. bagaimana ?"


"Maaf senior kita jalan berbeda, jadi kita tidak mungkin bisa bekerja sama.."


ucap Fei Yang hormat tapi tegas.


Kakek tua itu tersenyum, dan berkata,


"Baiklah kelihatannya kamu sama seperti yang lainnya, bila tidak di kalahkan akan sulit di jinakkan."


"Mari ikut dengan ku, kita pindah ke dunia lain.."


"Agar tempat ini tidak rusak."


ucap kakek itu.


Kakek itu menunjuk kearah udara, muncul sebuah lingkaran yang mengeluarkan cahaya merah.


Kakek itu, kemudian melayang masuk kedalam cahaya tersebut.


Fei Yang menyusul di belakang nya tanpa keraguan.


Saat berpindah kedunia lain, Fei Yang menemukan dirinya berada di suatu tempat yang di kelilingi oleh gunung berapi.


Daratan tandus, tanpa pepohonan sama sekali, sejauh mata memandang hanya tanah hitam gersang dan tandus.


Langit sepenuhnya berwarna merah.


Kakek tua itu, berdiri di atas tanah gersang sedang menatap kearah nya sambil tersenyum.


"Selamat datang di dunia ku, di sini kita boleh mulai.."


"Keluarkan segenap kemampuan mu jangan sungkan.."


ucap kakek itu sambil tersenyum ramah.


"Baiklah, junior tidak akan sungkan bersiaplah.."


ucap Fei Yang singkat.


Fei Yang tidak mau banyak buang waktu, dia tahu dengan jelas.


Lawannya ini tidak mungkin bisa di hadapi dengan jurus biasa.


Hanya jurus peninggalan dari Wu Ming Lau Jen, yang bisa dia harapkan.


Fei Yang langsung mengeluarkan pedang Mestika Panca Warna miliknya.


Bersiap melancarkan serangannya. jurus pertama dengan cepat Fei Yang lepaskan,


"Tebasan Pedang Tanpa Wujud Rupa dan Bentuk.."


Kakek tua yang berdiri diam di posisinya, terlihat santai tidak memegang senjata apapun.


Saat serangan Fei Yang tiba, dia terlihat mengibaskan kedua lengan bajunya yang longgar ke kiri dan ke kanan.


Dua pusaran energi angin yang berputar putar seperti topan kecil, bergerak menyambut serangan Fei Yang.


"Boooom,..! Boooom,..!"


Serangan pertama Fei Yang di alihkan begitu saja oleh tenaga kibasan ujung lengan baju kakek itu.


Sehingga serangan Fei Yang yang teralihkan langsung meledakkan dua gunung berapi yang terletak tidak jauh dari sana.

__ADS_1


Gunung berapi yang meledak hancur berkeping keping menyisakan sebuah kawah lahar merah mirip danau kecil berwarna merah membara.


Melihat serangan pertama gagal, dengan mudah di halau oleh kakek itu, dengan memindahkan.ledakan energi tanpa wujudnya kearah lain.


Fei Yang langsung melanjutkan dengan serangan jurus kedua.


"Tebasan Pedang Tanpa Perasaan."


Terlihat seberkas sinar putih transparan melesat kearah kakek tua itu.


Kakek tua itu masih terlihat tenang, dia menyambut serangan Fei Yang seperti sedang menyambut serangan anak kecil.


Dia kembali mengibaskan kedua ujung lengan bajunya, untuk menangkis serangan jurus kedua Fei Yang.


"Wusss,..! Wusss,..!"


"Boooom,..! Boooom,..!"


Lagi lagi serangan kedua Fei Yang tertangkis oleh ujung lengan maju kakek itu.


Serangan Fei Yang kembali meluluh lantakkan dua gunung lainnya yang letaknya lebih jauh.


Melihat kekuatan dan kemampuan kakek tua itu, Fei Yang sesaat sedikit sangsi akan kekuatan jurus ketiganya.


"Tebasan Pedang Tanpa Keinginan,.."


"Sreeet,..!"


"Blaaaarrr,..!"


Tapi di luar dugaan Fei Yang juga Wu Ming Lau Jen.


Sekali ini kedua lengan baju, jubah luarnya kakek itu, kini terbabat putus.


Tidak hanya itu saja, tubuh Kakek tua itu, sekali ini terpental mundur kebelakang.


Kakek tua sambil tertawa melepaskan jubah luarnya yang robek, dia lalu melemparnya keatas tanah.


Sambil menatap kearah Fei Yang penuh kagum dia berkata,


"Kamu kelihatannya mewarisi ilmu kakak ku dengan sangat baik.."


"Baiklah kamu layak menjadi lawan ku,.."


"Golok naga hijau..!"


teriak kakek itu sambil mengangkat tangannya ke udara.


Sebuah golok yang terbuat dari batu Kumala hijau dengan gagang panjang muncul dalam genggaman tangannya.


Dengan golok di tangan, kakek itu kini langsung melesat keudara.


Dia menyerang Fei Yang dengan putaran golok hijaunya, yang mendatangkan angin pusaran, seperti badai menerjang kearah Fei Yang.


Melihat jurus ketiganya tadi mampu menggempur kakek tua itu.


Fei Yang menjadi kembali naik rasa percaya dirinya, dia ikut melesat maju kedepan menyambut serangan kakek itu, dengan mengulangi jurus yang sama.


"Tebasan Pedang Tanpa Keinginan.."


Jurus yang sama yang telah menewaskan Sen Kung Bao.


Kakek tua masih menyimpan keinginan untuk menjadi penguasa langit.


Makanya dia tidak bisa lolos dari tebasan pedang Fei Yang yang terlihat sederhana tapi sangat mematikan itu.

__ADS_1


Pusaran badai golok hijau terbelah oleh tebasan sinar putih yang Fei Yang lepaskan.


Tapi saat berbenturan dengan Golok Naga Hijau, energi sinar putih serangan Fei Yang juga terbelah.


Sehingga kedua senjata pusaka Fei Yang dan kakek tua akhirnya bertemu di udara.


"Trangggg,...!!"


"Boooom,..! Boooom,..! Boooom,.!"


"Boooom,..! Boooom,..! Boooom,.!"


"Boooom,..! Boooom,..! Boooom,.!"


"Boooom,..! Boooom,..! Boooom,.!"


Terjadi.ledakan beruntun di sekitar arena pertempuran.


Meski benturan terjadi di udara, di mana Fei Yang dan Kakek tua sedang melayang di angkasa.


Tapi efek benturan itu, membuat tanah di bawah sana, yang tidak kuat menahan tenaga bias, akibat benturan kedua tenaga raksasa'.


Timbul ledakan beruntun di bawah sana susul menyusul setelah benturan kedua senjata terjadi.


Baik kakek tua maupun Fei Yang sama sama terpental mundur saling menjauh.


Masing masing merasa tangan mereka yang memegang senjata gemetaran.


Ini menandakan kekuatan mereka berdua termasuk imbang.


Masing masing terlebih dahulu memeriksa keadaan kondisi senjata mereka.


Setelah mastikan senjata mereka dalam keadaan baik baik saja.


Mereka baru kembali melesat saling mendekat saling serang dengan ganas dalam jarak dekat.


Fei Yang berubah menjadi gulungan sinar putih,. sedangkan kakek tua berubah menjadi gulungan sinar hijau.


"Trangggg,.! Trangggg,.! Trangggg,!"


"Trangggg,.! Trangggg,.! Trangggg,!"


"Trangggg,.! Trangggg,.! Trangggg,!"


"Trangggg,.! Trangggg,.! Trangggg,!"


Benturan keras terjadi berulang ulang di udara, mereka saling serang secara bergantian.


Terakhir kedua senjata mereka saling menempel di udara.


Masing-masing mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk saling dorong.


Setelah beberapa saat saling dorong mendorong di udara, kini keduanya, mulai saling serang, dengan tendangan kaki mereka kearah lawan secara bergantian.


Sapuan sapuan kaki mereka gunakan untuk menggoyahkan pertahanan lawan mereka.


Setelah beberapa waktu berlalu belum juga ada hasilnya, kakek tua mulai kesal dan malu.


Dia yang seorang senior, masih terhitung paman guru Fei Yang.


Kini saat berhadapan dengan keponakan muridnya berakhir imbang begini.


Bagaimana mau menghadapi kakaknya Wu Ming Lau Jen guru Fei Yang.


Berpikir sampai di situ, kakek tua yang berada dalam jarak sangat dekat dengan Fei Yang.

__ADS_1


Tiba-tiba dia membuka mulutnya menyemburkan api hijau kearah wajah Fei Yang.


"Arggghhh,..!"


__ADS_2