
Beberapa saat mengetuk dan memanggil tidak ada jawaban.
Nan Thian yang merasa heran, akhirnya mencoba mendorong dengan lebih kuat kearah pintu pondok.
"Krieet..!!"
Pintu pondok langsung terdorong kedalam dan terbuka lebar terbuka lebar.
Melihat keadaan rumah yang sepi,
Nan Thian semakin penasaran, Saat melihat debu dan sarang laba laba yang ada di mana mana .
Nan Thian pun sadar pondok ini sudah lama di tinggalkan oleh penghuninya.
Nan Thian mencoba masuk kedalam, untuk memeriksa keadaan di dalam sana.
Akhirnya Nan Thian tiba di kamar pengantin, hiasan dan tempelan kertas merah masih menempel di depan pintu kamar.
"Ada orang kah di rumah..!?"
"Zi Zi,..!"
"Sun Er..!"
panggil Nan Thian sekali lagi.
Menunggu beberapa saat tidak ada jawaban, Nan Thian akhirnya mengulurkan tangannya kedepan mendorong pintu kamar itu.
"Krieet..!"
Dengan mudah pintu kamar yang tidak terkunci langsung terbuka.
Begitu pintu kamar terbuka, Nan Thian bisa melihat dengan jelas suasana di dalam kamar pengantin yang serba merah itu.
Semuanya masih utuh, selain debu dan sarang laba laba yang lainnya masih utuh.
Hanya ranjang terlihat sedikit kusut, meja terlihat penuh berbagai hidangan yang sudah membusuk.
Hal lainnya terlihat normal, tatapan mata Nan Thian akhirnya berhenti di jendela kamar yang terbuka lebar.
Nan Thian langsung melangkah maju memeriksa nya.
Melihat pintu jendela yang jebol, dengan pecahan dan potongan pintu jendela berceceran di sebelah luar kamar.
Nan Thian dengan perasaan cemas langsung melesat meninggalkan kamar tersebut.
Dia langsung melesat kearah jurang sebelah barat.
"Kim Kim aku bawah sana dulu,..!"
ucap Nan Thian sedikit terburu-buru.
"Ikut..!"
Balas Kim Kim langsung bergerak menyusul Nan Thian masuk kedalam jurang.
Kim Kim berhasil menyusul masuk kedalam pintu portal, yang di buat oleh Nan Thian, sebelum pintu portal cahaya itu menutup kembali.
Melewati lorong cahaya, Nan Thian dan Kim Kim akhirnya tiba di hamparan rumput pendek di Pinggir Hutan.
Begitu Nan Thian dan Kim Kim tiba di tempat itu, terlihat Siao Huo berlarian keluar dari dalam hutan.
Begitu mendekat Siao Huo langsung melompat menerkam kearah Nan Thian dengan gembira.
__ADS_1
Mereka cukup lama tak bertemu, Siao Huo terlihat cukup merindukan kedatangan Nan Thian.
Nan Thian melayani Siao Huo bermain sebentar, kemudian dia baru berkata,
"Siao Huo, paman dan yang lainnya apa ada di dalam sana..?"
Siao menatap Nan Thian, menggeleng lemah.
Dia terlihat lesu, saat Nan Thian bertanya tentang Fei Yang tuan nya itu.
Melihat hal ini, Nan Thian semakin heran.
"Siao Huo aku masuk dulu kedalam.."
ucap Nan Thian cepat.
Lalu dia sudah menghilang dari tempat itu, langsung masuk kedalam hutan belantara.
Siao Huo dan Kim Kim saling pandang sejenak.
Lalu mereka berdua ikut menyusul kedalam hutan.
Nan Thian dalam sekejab sudah tiba di depan halaman bangunan pondok Fei Yang.
"Paman kakek guru,..!"
"Bibi nenek guru..!"
"Fei Yung,..! Fei Lung..!"
"Zi Zi,..! Sun Er..!"
"Dimana kalian berada..!"
Tapi setelah beberapa saat mencari kesana kemari, Nan Thian akhirnya kembali ke depan halaman pondok kediaman Fei Yang.
Dia terlihat berdiri diam di sana, dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Kemana sebenarnya mereka semua..?"
"Apa yang sebenarnya terjadi..?"
batin Nan Thian dengan wajah bingung.
Dengan langkah kaki lesu, Nan Thian berjalan menuju, bangunan di depan pondok Fei Yang.
Tempat itu biasa di gunakan oleh Fei Yang untuk bersantai sambil minum teh bersama istri nya.
Saat memasuki pondok bersantai itu, secara tidak sengaja, Nan Thian melihat ada sebuah sampul surat, yang di selipkan di bawah tungku kecil, tempat Fei Yang biasa memasak air panas, untuk menyeduh daun teh.
Nan Thian buru buru mengambil dan membaca isi surat di dalam amplop tersebut.
"Thian Er,.. bila kamu kembali kemari.. segera susul kami Xu San ke kediaman orang tua mu.."
"Kami semua sedang menuju kesana,.. ada masalah besar di sana.."
"Paman tidak sempat menjelaskan panjang lebar, masalah ini ada hubungannya dengan Zi Zi kamu dan Sun Er.."
Membaca pesan tersebut wajah Nan Thian seketika berubah pucat.
Nan Thian buru buru menyimpan surat itu kedalam sakunya, lalu dia langsung melesat meninggalkan tempat itu.
"Kim Kim ayo kita ke Xu San sekarang..!"
__ADS_1
"Siao Huo jaga tempat ini baik baik, kami pergi dulu.."
ucap Nan Thian sambil melesat keangkasa, dia langsung membuka portal cahaya.
Kemudian tanpa menunggu lebih lanjut, dia langsung melesat meninggalkan tempat kediaman Fei Yang.
"Dasar kakak ini,.. datang terburu-buru, pergi pun begitu.."
omel Kim Kim sambil melesat menyusul Nan Thian.
Saat Kim Kim keluar dari pintu portal cahaya, Nan Thian langsung mendarat ringan di punggungnya.
"Kim Kim cepat kerahkan seluruh kecepatan mu, kita harus segera tiba di Xu San, di kediaman kedua orang tua ku.."
ucap Nan Thian terlihat cemas dan panik.
Kim Kim dapat merasakan kecemasan Nan Thian, tanpa banyak bicara.
Dia langsung melesat dengan kecepatan maksimal, keluar dari dalam jurang naik ke angkasa.
Menembus awan terus bergerak dengan sangat cepat membelah udara.
"Kakak berpegang erat erat, saya akan gunakan kecepatan maksimal..!"
ucap Kim Kim setengah berteriak mengingatkan.
Nan Thian mengangguk pelan, membungkukkan badannya, tubuhnya menempel sejajar di punggung Kim Kim.
"Wusss...!"
Kim Kim melesat berubah menjadi sebuah cahaya emas, membelah angkasa.
Pergesekan udara yang begitu cepat akhirnya menimbulkan nyala api menyelubungi tubuh Kim Kim.
Untung yang duduk di punggungnya adalah Nan Thian, yang terlindungi oleh energi Inti Es Surgawi.
Bila orang lain, mungkin sudah hangus terbakar oleh pergesekan udara kecepatan tinggi itu.
Tidak butuh satu hari, Nan Thian dan Kim Kim sudah bisa melihat gunung Xu San yang menjulang tinggi keangkasa.
Di kelilingi oleh 4 gunung lainnya yang lebih rendah.
Kim Kim yang tahu tempat kediaman orang tua Nan Thian adalah puncak gunung Xuan Wu.
Tanpa ragu, dia langsung melesat kearah puncak gunung tersebut.
Dari ketinggian sana, Nan Thian dan Kim Kim yang memiliki mata tajam.
Mereka dari kejauhan sudah melihat apa yang terjadi di puncak gunung Xuan Yu.
Baik Nan Thian maupun Kim Kim, mereka berdua terlihat tegang, melihat keadaan di puncak gunung Xuan Wu sana.
"Kakak sepertinya kita datang terlambat.."
ucap Kim Kim mulai memperlambat laju kecepatan nya.
Karena jarak mereka semakin dekat dengan puncak gunung itu.
Nan Thian tidak menjawab ucapan Kim Kim, karena dia sendiri juga tidak tahu, sampai sejauh mana situasi di tempat itu.
"Kim Kim aku kesana duluan..!"
belum selesai ucapan Nan Thian.
__ADS_1
Dia sudah menghilang dari punggung Kim Kim.