
Fei Yang terus memanggil manggil nama Xue Lian, hingga akhirnya dia terbangun dari tidurnya.
"Huh untung cuma mimpi,.."
gumam Fei Yang sambil bangun duduk di ranjangnya sejenak.
Lalu dia pun bergerak menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri dan menyegarkan pikiran nya yang kusut, karena mimpi aneh itu.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Fei Yang yang hendak keluar dari kamarnya.
Tapi dia di kejutkan dengan kehadiran 8 dayang cantik, yang sedang bersujud di depan pintu kamar nya.
Dengan heran Fei Yang berkata,
"Hei apa yang sedang kalian lakukan di sini..?"
Salah satu dari dayang itu dengan kepala tertunduk berkata,
"Kami di sini di tugaskan untuk melayani semua keperluan Yang Mulia pangeran.."
Fei Yang menatap kearah 8 dayang itu dan berkata,
"Jadi selama aku tidur tadi, hingga kini kalian terus menunggu ku disini ?"
Ke 8 dayang cantik itu menganggukkan kepalanya serentak dan berkata,
"Benar yang mulia pangeran.."
"Waduh kenapa begini ? berlutut begitu lama di sini, sekarang mau berdiri pun pasti sulit bukan..?"
ucap Fei Yang sambil berjongkok dan menatap ke 8 orang itu dengan tatapan kasihan.
Ke 8 orang itu tidak ada yang berani menyahut pertanyaan Fei Yang, mereka hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Kalau duduk sambil meluruskan kaki, kalian bisa ?"
tanya Fei Yang.
Ke 8 gadis itu mengangguk, sambil menggigit bibir menahan nyeri, mereka berusaha meluruskan kakinya sambil duduk di atas lantai.
"Aku bantu pijitin kaki kalian ya,? biar cepat sembuh."
ucap Fei Yang yang merasa kasihan.
Wajah ke 8 dayang cantik itu langsung merah dan mereka dengan suara lirih berkata,
"Jangan Yang Mulia, itu tidak boleh.."
Salah satu dari mereka segera berkata,
"Yang Mulia tidak boleh mengotori tubuh Yang Mulia, yang suci dengan menyentuh tubuh para hamba mu yang kotor.."
"Bila hal ini di ketahui oleh kepala pelayan istana, kami bisa di hukum dengan sangat berat Yang Mulia.."
"Kalian ini,.. ku pikir kenapa, kalau kepala pelayan itu berani menghukum kalian, biar ku patahkan lehernya.."
"Kalian tenang saja, bagi ku kita semua sama gak ada yang suci dan kotor.."
__ADS_1
"Biar aku membantu melancarkan aliran darah kalian, bila kalian cepat sembuh, kalian kan bisa kerjakan hal lainnya."
Tanpa memperdulikan penolakan ke 8 dayang nya.
Fei Yang langsung membantu memijit dengan menyalurkan energinya ke lutut dayang, yang posisinya paling dekat dengannya.
Dayang itu awalnya wajahnya merah padam menahan malu.
Tapi setelah menerima pijatan Fei Yang sepasang matanya langsung terpejam, dia merasakan nikmat yang luar biasa.
Saat Fei Yang menghentikan pijatan nya, dia pun merasa kakinya sudah pulih dan normal kembali.
Beruntun Fei Yang membantu 7 orang lainnya, tanpa memperdulikan respon canggung dari mereka.
Setelah mereka semua pulih Fei Yang pun berkata,
"Nah sekarang kalian semua sudah pulih, kembalilah ketempat kalian masing masing untuk istirahat."
"Aku tidak perlu pelayan,.aku bisa lakukan sendiri semua.."
Tapi saat mendengar ucapan Fei Yang, bukannya pergi ke 8 dayang itu malah kembali berlutut dengan wajah pucat dan airmata bercucuran.
"Yang Mulia kami mohon, Yang Mulia janganlah usir kami, bila kami ada salah, kami akan memperbaikinya.."
"Bila Yang Mulia mengusir kami dari sini, kami semua bisa terkena hukuman mati,. karena dianggap gagal melayani Yang mulia."
ucap salah satu dayang itu dengan suara ketakutan dan sedih.
Fei Yang jadi bingung, dulu dia kecil gak terlalu merasakan kehadiran mereka.
Tapi setelah mendengar penjelasan mereka, dia juga jadi tidak tega.
"Baiklah,.. baiklah, kalian jangan menangis lagi, kalian ingin di sini juga bukan masalah besar, suka suka kalian saja.."
"Bikin aja diri kalian senyaman mungkin."
"Aku lapar mau kedapur cari makan.."
ucap Fei Yang hendak berlalu dari sana.
"Yang Mulia tunggu,! biar kami saja menyiapkan makanan buat Yang Mulia."
"Yang Mulia tak perlu kedapur, cukup tunggu saja di sini.."
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kami.."
"Gak usah aku lebih suka makan langsung di sana, lebih bebas.."
ucap Fei Yang tegas.
"Baiklah Yang mulia tapi setidaknya biarkan kami ikut dan layani tuan disana.."
"Kalian ini, Hais... ya sudah ikut ikut lah semua,.. terserah kalian dah,..pusing.."
ucap Fei Yang melangkah meninggalkan kamarnya, sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Kondisi ini, semakin membulatkan tekad Fei Yang, untuk cepat cepat menyelesaikan masalah di Xi Xia,.
__ADS_1
Setelah itu segera, pergi jauh jauh dari Xi Xia melanjutkan pertulangannya.
Ke 8 dayang cantik itu berlari kecil menyusul Fei Yang dari belakang.
Fei Yang yang merasa mendongkol pun berkata,
"Kalian ini, bagaimana bila aku mau ke kamar kecil ? apa kalian juga akan ikut masuk juga..?"
"Bila Yang Mulia menghendaki, tentu kami akan ikut.."
jawab salah satu dari dayang itu sambil menahan tawa, dengan menggunakan tangan nya menutupi mulut
Dayang yang lain pun melakukan hal yang sama.
"Haisss,...!"
ucap Fei Yang sambil menengadahkan kepalanya keatas, menepuk jidat sendiri.
Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya, sambil mengomel panjang pendek.
Saat Fei Yang tiba di dapur, melihat kedatangan nya para koki sangat kaget.
Tapi tanpa memperdulikan mereka, Fei Yang langsung berlari menghampiri tiga orang koki tua yang sedang masak.
Lalu merangkul mereka satu persatu dan berkata,
"Paman Chin Paman Cao Paman Sun, !"
"Fei Yang sungguh merindukan kalian, apa kalian ada merindukan Fei Yang !?"
"Kau,.. benarkah kau Yang Yang putra mahkota yang hilang ?"
tanya Paman Chin kaget, sepasang matanya langsung basah.
Paman Cao dan Paman Sun juga menatap Fei Yang dengan mata berkaca-kaca.
"Benar ini aku paman semuanya, selain aku mana ada pangeran yang suka main ke dapur..?"
ucap Fei Yang sambil tertawa gembira dan kembali maju merangkul ketiga koki tua itu.
Ketiga koki itupun tertawa terbahak-bahak dengan airmata bercucuran, lalu membalas memeluk Fei Yang dan berkata,
"Syukurlah,... syukurlah,.. akhirnya Lao Thian mengabulkan doa kami.."
"Dia mengembalikan Yang Yang kami...Ha,..ha,..ha,..!"
"Acao, Asun, kita hari ini harus masak yang spesial untuk menyambut kepulangan Yang Yang..!"
ucap Paman Chin kepada kedua rekannya sambil tertawa gembira.
Paman Cao dan Paman Sun mengangguk cepat, lalu mereka bertiga segera beraksi menunjukkan seluruh kemampuan memasak mereka.
Fei Yang tidak menjauh, dia malah ikut maju membantu menyiapkan bahan masakan, mencuci memotong, mengiris.
Setelah itu dengan serius, dia memperhatikan cara memasak ketiga paman tua, yang terhitung sebagai guru masaknya.
Fei Yang bisa memiliki kemampuan memasak sejak kecil, adalah karena rajin bergaul dengan ketiga koki ini.
__ADS_1