PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI DI HADANG LAWAN


__ADS_3

Saat tiba di bagian depan kapal, di mana dermaga Hu Yang yang ramai mulai terlihat.


Kapal yang di tumpangi nya, sedikit demi sedikit mulai bergerak merapat.


Nan Thian langsung buru buru kembali ke kamar nya dan berkata,


"Paman kecil bersiap siaplah, kapal hampir menepi di dermaga.."


'Jangan lupa memberitahu kamar sebelah untuk bersiap siap.."


ucap Nan Thian sambil membereskan barang bawaannya.


Setelah itu dengan langkah buru buru dia berkata,


"Ayo Siau Hei..!"


Anjing hitam kecil itu menyalak sekali, lalu sambil menggoyang goyangkan ekornya dia berlarian lucu mengejar kearah Nan Thian.


Saat Sun er, Zi Zi, Siau Yen, dan Siu Lian tiba di kereta, Nan Thian dan Siau Hei sudah siap duduk di kereta menanti kedatangan mereka.


Setelah mereka semua naik kedalam kereta,


Nan Thian bertanya ke Sun er tanpa menoleh,


"Kalian semua sudah siap ? tidak ada yang tertinggal kan..?"


"Sudah kak.."


jawab Sun er yakin.


"Mereka bagaimana..?"


tanya Nan Thian memastikan.


Jalan lah kak Nan, kami juga sudah siap, semuanya.


Jawab suara lembut Siu Lian dari dalam kereta.


Nan Thian mengangguk Lalu dia mulai mengendalikan kuda nya, perlahan-lahan meninggalkan kapal yang sudah berlabuh.


Dengan di bantu oleh para awak kapal, akhirnya kuda dan kereta Nan Thian bisa kembali ke darat dengan lancar.


Setelah mengucapkan terima kasih ke awak kapal yang membantunya.


Nan Thian kemudian mengendarai kudanya, meninggalkan pelabuhan Hu Yang.


Pelabuhan Hu Yang terlihat sangat ramai, di penuhi orang yang sedang bongkar muat barang.


Juga ada kapal kapal nelayan sedang menurunkan hasil tangkapan ikan mereka.


Zi Zi Siau Yen dan Siu Lian, melihat keramaian itu, lewat jendela kereta mereka.

__ADS_1


Nan Thian mengendarai kereta memasuki kota Hu Yang untuk membeli perlengkapan dan makanan kering, yang mereka perlukan dalam perjalanan.


Nan Thian memarkirkan kudanya, di depan sebuah restoran besar di kota tersebut.


Nan Thian menyerahkan beberapa keping uang, agar pelayan di restoran tersebut, mau membantu mengurus kereta dan kuda kudanya.


Sehingga dia dan rombongannya bisa makan dengan tenang tanpa perlu khawatir.


Setelah duduk dalam restoran, Nan Thian memesan cukup banyak masakan enak.


Selesai berpesan, Nan Thian memberikan selembar kertas ke pelayan yang melayani pesanan makanan nya dan berkata,


"Aku memerlukan semua yang tertera di dalam daftar ini.."


"Bila kamu bisa membantu ku mendapatkannya dan mengemasnya dengan rapi kedalam kereta ku.."


"Maka uang bonus ini boleh menjadi milik mu, bagaimana apa kamu bisa..?"


tanya Nan Thian sambil menatap pelayan itu dengan serius.


"Bisa,.. bisa.. tentu saja bisa tuan, harap di tunggu aku akan membantu mengurusnya.."


ucap Pelayan itu sambil tersenyum dengan penuh semangat.


"Tapi pesanan makanan ku, jangan lupa di siapkan ya,.."


ucap Nan Thian mengingatkan sambil tersenyum dan memberikan sebagian bonus itu ke pelayan itu.


"Tentu,..tentu tuan muda, itu pasti."


"Ini sebagian bonus mu, bila pekerjaan mu selesai dengan memuaskan, akan ada tambahannya.."


ucap Nan Thian untuk membangkitkan semangat dan antusias pelayan itu dalam bekerja.


Pelayan itu mengangguk gembira dan berkata,


"Baik tuan muda,.. terimakasih.."


"Kak Nan dari sini masih jauh tidak ke Hua San,..?"


tanya Siau Yen sambil menuang teh buat Nan Thian.


Nan Thian mengeluarkan peta pemberian kakek Chu, meletakkan nya di atas meja, dan berkata,


"Lumayan sih kita harus melewati dua gerbang kota ini, Wu Kuan dan Tong Kuan baru akan tiba di Chang An.."


"Dari Chang An kita menuju kekota Huai Yin inilah kota persinggahan terakhir yang terletak di kaki gunung Hua San.."


ucap Nan Thian sambil menunjuk kearah peta di atas meja.


Setelah itu dia menyimpan kembali petanya kedalam saku bajunya.

__ADS_1


Karena beberapa pelayan terlihat datang membawa sejumlah masakan pesanannya.


Setelah semua tersaji di atas meja, Nan Thian pun berkata,


"Ayo kita makan enak lagi.. sepuasnya.."


Kemudian Nan Thian menyumpitkan bakso ikan dan daging cincang ke mangkuk Sun er Zi Zi, juga buat Siau Yen dan Siu Lian.


Setelah itu dia sendiri sambil tersenyum melihat Sun er dan Zi Zi makan dengan penuh semangat, dia menghabiskan teh yang di tuangkan oleh Siau Yen untuk nya.


Setelah itu Nan Thian baru mulai ikut makan.


Nan Thian mengambil makanan mengikuti teriakan bawel Kim Kim di dalam pikirannya.


Dia hanya sibuk melayani orderan Kim Kim, dari luar terlihat dia sibuk makan dengan lahap.


Padahal aslinya, dia hanya sibuk melayani nafsu Kim Kim.


Setelah Kim Kim terpuaskan, Nan Thian baru menghabiskan nasi di hadapan nya dengan beberapa macam sayuran tersisa.


Selesai makan puas dan berbasa basi sejenak sambil menunggu laporan dari pelayan yang di utus Nan Thian pergi menyiapkan barang keperluan mereka di perjalanan.


Begitu semuanya beres, Nan Thian melakukan pembayaran, rombongan kecil itu pun berangkat meninggalkan kota Hu Yang.


Tapi baru saja menempuh perjalanan puluhan kilometer dari kota Hu Yang.


Di mulut hutan yang sepi, terlihat beberapa orang menghadang jalan akan di lewati oleh kereta kuda Nan Thian.


Nan Thian yang bermata tajam, bisa melihat dengan jelas wajah orang orang yang menghadang perjalanan nya.


Diam diam dia sedikit kaget, di sana dia melihat Siangkoan Li yang kemaren di hajar oleh Siau Hei, hingga terjatuh kedalam sungai.


Siangkoan Li adalah satu satunya pimpinan perompak tengkorak putih yang berhasil lolos.


Selain Siangkoan Li di sebelahnya ada 3 orang pria tua yang tidak dia kenal, Nan Thian menduga ketiga kakek itu kemungkinan besar adalah pimpinan kelompok perompak tengkorak putih yang di kenal dengan Huang Ho San Gui. {Tiga Hantu Sungai kuning ).


Di samping Huang Ho San Gui, Nan Thian melihat musuh lamanya kembali ikut muncul.


Tan Kim Lan Raja Golok Putih, Si Lao Mo, Pei Kui Wang, mereka bertiga juga terlihat hadir di sana.


Di bagian belakang orang orang itu terlihat dua orang pria paruh baya.


Sedang duduk santai menggelar meja bermain catur cina kuno ( Wei Qi )


Pria yang duduk di sisi kanan adalah seorang pria paruh baya berambut hijau dengan bagian tengah botak.


Sedangkan Pria paruh baya yang duduk di sebelah kiri adalah seorang pria paruh baya, berambut putih berkilauan tertimpa cahaya matahari.


Alis dan Jenggotnya juga berwarna putih, wajah nya putih sepucat kertas, seperti tidak punya darah.


Persamaan dari kedua orang itu adalah sama sama pria paruh baya, dengan sepasang mata mencorong mengerikan seperti Naga Sakti.

__ADS_1


Dari gerak gerik mereka dan hawa halus tapi menekan yang di pancarkan oleh tubuh mereka.


Nan Thian yakin kedua orang itu nanti pasti akan sangat menyulitkan nya.


__ADS_2