PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENEMUI WU CONG KUAN


__ADS_3

Nan Thian tidak ambil peduli dengan keadaan Komandan pasukan Mongol itu.


Dia hanya fokus menghajar siapapun yang berani menghalangi langkah nya, masuk kedalam gedung besar itu.


Saat Nan Thian mengibaskan tangannya kedepan, serangkum hawa yang sangat panas melesat kedepan.


Puluhan penjaga berseragam hijau yang menghadang di depan nya langsung hangus menjadi abu.


Nan Thian dengan tenang mendorong pintu gerbang yang tertutup rapat hingga terbuka lebar.


Lalu melangkah memasuki halaman dalam gedung.


Sisa para penjaga berseragam hijau yang menghabisi kepala komandan Mongol.


Begitu mereka melihat Nan Thian sudah melangkah masuk ke halaman gedung bagian dalam.


Mereka buru buru berteriak sambil mengejarnya dari belakang.


"Hei berhenti kamu..!"


Bentak puluhan penjaga di depan gerbang.


Tanpa menoleh Nan Thian tahu mereka sedang mengejar kearahnya dari belakang.


Dengan satu kibasan tangan kebelakang, serangkum angin dingin berhembus melewati para penjaga yang sedang mengejarnya.


Seketika para penjaga itu, langsung membeku di sana, tidak berkutik lagi.


Sebelum akhirnya hancur menjadi pecahan kristal es, meluruk berceceran di atas tanah.


Nan Thian terus melangkah masuk kedalam.


Di bagian dalam, di bawah beberapa undakan anak tangga yang sedikit menurun kebawah.


Nan Thian melihat mungkin ada ratusan anak buah Lim Ping Chi sedang berlatih di sana.


Melihat kedatangan Nan Thian mereka langsung menghentikan latihan yang sedang mereka jalani, di bawah pengawasan seorang pria berjambang lebat.


Pria berjambang lebat yang sedang mengawasi dan membina pelatihan di sana.


Dia segera menyeruak maju dan berkata,


"Siapa kamu berani menerobos masuk kemari tanpa ijin..!?'


Nan Thian dengan wajah datar berkata,


"Aku hanya mencari Hung Ping Chi, tidak ada hubungannya dengan kalian.."


"Bila ingin selamat, jangan menghalangi jalan ku.."


Si jambang panjang langsung menjawab Nan Thian,


"Di sini tidak ada yang bernama Hung Ping Chi.."


"Kamu cepat enyahlah dari sini,! sebelum aku benar benar marah..!"


bentak si jambang dengan mata melotot.


Nan Thian tersenyum mengejek dan berkata,


"Minggirlah biar aku periksa kedalam, bila tidak ada, tanpa kamu minta sekalipun, aku akan pergi sendiri.."


"Keparat kamu ini, di beri arak kehormatan tidak mau, malah cari arak hukuman..!"


Bentak Si jambang marah.

__ADS_1


Lalu dia menerjang kearah Nan Thian dengan sepasang tinjunya yang besar.


"Wuutttt,..!"


"Wuutttt,..!"


Nan Thian dengan gerakan santai, menarik mundur wajah nya kebelakang.


Sehingga kedua tinju besar itu lewat begitu saja di depan wajahnya.


Setelah tinju si jambang melewati wajahnya, Nan Thian langsung membalasnya dengan kibasan tangan.


"Wusss,..!"


angin panas berhembus menerpa tubuh si jambang panjang.


Tanpa sempat menjerit, Si jambang langsung berubah menjadi abu.


Melihat hal itu, puluhan anak buah gubernur Lim, mereka langsung mengambil senjata dari rak senjata, yang terletak di samping mereka.


Setelah itu mereka sambil berteriak keras dengan senjata ditangan, langsung menerjang kearah Nan Thian.


Nan Thian langsung menyambut kedatangan mereka dengan kibasan tangan kirinya.


Serangkum angin dingin berhembus menyambut mereka, sebelum mereka sempat menyarangkan senjata mereka kearah Nan Thian.


"Wussss..!"


Puluhan orang itu langsung berubah menjadi patung.


"Piaaarrr..!!"


Tubuh mereka langsung hancur berantakan, saat jatuh membentur lantai di bawah mereka.


Rombongan lain kembali maju menerjang kearah Nan Thian dengan nekad.


"Hyaaaaaat..!"


teriak mereka sambil berlari menerjang ke arah Nan Thian.


Nan Thian kembali mendorongkan tapak kanannya kedepan.


Kini serangkum hawa panas, bercahaya kehitaman, bergerak melewati tubuh para penyerang itu.


"Wussss..!"


Seketika tubuh orang orang itu, langsung hancur menjadi abu, beterbangan di udara.


Melihat keadaan pelatih dan para penjaga senior yang maju menyerang Nan Thian, mereka semuanya mati di tangan Nan Thian dengan begitu mudah.


Sisa anak buah gubernur Lim yang hadir di sana, mereka langsung lari berhamburan menyelamatkan diri.


Tidak ada diantara mereka yang mau cari penyakit, berurusan dengan Nan Thian.


Nan Thian tidak memperdulikan mereka, dia hanya terus melangkah melewati halaman gedung, langsung menuju bagian dalam gedung.


"Kamu,..! kemarilah tunjukkan ke saya, di mana tuan mu berada..!?"


ucap Nan Thian sambil melambaikan tangannya.


Memanggil seorang pelayan muda, yang berdiri dipojok ruangan, sambil menatap kearah Nan Thian dengan penuh ketakutan.


Pelayan itu dengan wajah ketakutan, tubuh gemetaran menghampiri Nan Thian.


Dia lalu menjatuhkan diri berlutut, menyembah nyembah kearah Nan Thian dan berkata dengan suara ketakutan,

__ADS_1


"Ampun tuan muda, hamba cuma pelayan kecil di sini, hamba tidak tahu apa apa tuan muda.."


"Mohon ampuni nyawa hamba tuan muda.."


"Bangunlah tak perlu takut, kamu katakan saja dengan jujur apa yang kamu tahu..?"


ucap Nan Thian santai.


"Wu Cong Kuan (Kepala urusan rumah tangga Wu ).


Dia mungkin lebih tahu.."


jawab pelayan itu bangkit berdiri sambil menatap kearah Nan Thian dengan sikap takut takut.


"Baiklah aku percaya pada mu, tapi di mana Wu Cong Kuan berada..?"


"Kamu bantu aku menemukannya, setelah itu kamu boleh pergi."


ucap Nan Thian pelan.


"Baiklah tuan muda, mari saya antarkan.."


ucap pelayan muda itu cepat.


Setelah itu dia langsung bergegas masuk ke bagian dalam gedung,


Melewati ruangan penerimaan tamu yang luas, pelayan muda itu mengantar Nan Thian hingga tiba di depan sebuah kamar yang cukup besar.


Dia langsung mengetuk.pintu kamar itu,


"Tok,..! Tok,..! Tok,..!"


"Wu Cong Kuan, kamu di dalam kah..?"


"Aku membawa tamu, yang katanya ingin bertemu dengan anda tuan.."


Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka dari dalam, terlihat seorang pria paruh baya.


Dengan kumis jarang jarang, yang hanya tumbuh di kanan kiri diatas sudut bibirnya.


Pria paruh baya berwajah licik itupun berkata,


"Asam kamu pagi pagi ganggu saja, siapa yang kamu bawa kemari..?"


Tegur Wu Cong Kuan kurang senang, karena kesenangannya bersama seorang gadis pelayan muda di dalam sana, jadi terganggu.


"Ini..tuan Wu,..tuan ini katanya ingin bertemu dengan anda.."


ucap pelayan muda bernama Asam itu sambil melangkah mundur kebelakang Nan Thian.


Wu Cong Kuan menatap kearah Nan Thian dengan tatapan mata penuh curiga.


"Maaf anak muda, ada urusan apa kamu kemari..?"


tanya Wu Cong Kuan berhati hati.


Dia tidak berani bersikap sembarangan terhadap Nan Thian yang memilki aura wibawa dan kepercayaan diri yang tinggi.


Nan Thian dengan wajah dingin berkata,


"Tunjukkan saja di mana Hung Ping Chi berada, ? setelah itu kamu boleh pergi."


Wu Cong Kuan langsung menyadari ada yang tidak beres, dia langsung berusaha mengulur waktu.


"Tuan muda, saya mau berganti pakaian sejenak.."

__ADS_1


"Setelah itu saya sendiri yang akan antar tuan pergi menemui atasan saya.."


__ADS_2