PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMARAHAN SIAN SIAN


__ADS_3

Fei Yang memanfaatkan waktu yang singkat, dengan tehnik pengenalan ilmu dasar dan titik lemah lawan.


Fei Yang berseliweran dengan cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh Terbang bebas di udara tanpa bayangan (Wu Ying Thian Shang Fei) dari Wu Ti Sin Tong.


Dan menggunakan tarian pedang Phoenix api dan Naga es, untuk menyerang titik lemah ketiga lawannya secara serentak.


Sasaran pertama Fei Yang adalah Thasu yang datang dengan serangan Cakra terbang dan tapak sinar emas nya.


Cakra berhasil Fei Yang hindari dengan Wu Ying Thian Shang Fei (Terbang bebas di udara tanpa bayangan).


Sehingga Cakra emas menemui tempat kosong.


Sedangkan Telapak Tangan Cahaya Emas yang datang menyerang wajah dada dan ubun ubun.


Terhenti oleh ancaman sepasang pedang, yang akan menembus sambungan siku kedua tangan Thasu Lhama.


Selagi Thasu lhama sedang menarik kembali kedua tangan nya yang terancam ujung pedang Fei Yang.


Ujung pedang Api sudah menembus lehernya, yang langsung membuat tubuh Thasu Lhama hancur menjadi abu.


Sedangkan pedang es Fei Yang sudah meluncur cepat kebawah menusuk ubun-ubun kepala Thase yang sedang bergerak di bawah ingin mencengkram bagian bawah tubuhnya.


Pedang es dengan tepat menusuk ubun ubun kepala Thase, hingga tubuhnya berubah menjadi patung es.


Sedangkan serangan Cakra emas Thase kini bergerak berputar-putar tertahan oleh pedang api.


Sepasang Cakra emas itu dilepaskan oleh Fei Yang untuk menyambut serangan Cakra emas Thasa.


Benturan dahsyat terjadi di udara.


"Trangggg,....Trangggg,..!"


Keempat senjata Cakra terpental kesegala arah, sehabis saling berbenturan sendiri.


Di saat bersamaan Fei Yang sendiri fokus menebaskan Pedang esnya, untuk menyambut serangan energi pedang tak terlihat dari Thasa lhama.


Fei Yang memainkan jurus ke 4 dari tarian pedang Naga Es dan Phoenix Api, yaitu Naga es membelah langit, Phoenix api membelah bumi.


Seekor bayangan Naga biru menabrak apapun yang menghalangi jalan nya.


Energi pedang Thasa lhama yang di lewati oleh Bayangan Naga Es, langsung membeku di udara.


Sebelum kemudian di hancurkan oleh bayangan Phoenix Api yang melewatinya dan terus melesat menembus tubuh Thasa lhama.


Tubuh Thasa lhama langsung terbelah dua, sebelum kemudian terbakar hancur menjadi debu.


Setelah melepaskan jurus ke 4 nya dari tarian pedang Naga Es dan Phoenix Api, tanpa memperdulikan hasil akhirnya.


Fei Yang sudah menghilang dari posisinya, muncul dibelakang Thasi Lhama, yang sedang terbang di udara sambil mencengkram tengkuk Sian Sian.

__ADS_1


Fei Yang langsung melepaskan jurus ke 7 nya, Naga Es dan Phoenix Api membasmi iblis.


Kedua pedang Fei Yang membentuk gunting secara menyilang, langsung memotong leher Thasi Lhama.


Thasi Lhama sendiri bahkan belum sadar dan tidak sempat menjerit, kepalanya sudah jatuh menggelinding di atas tanah, terpisah dari tubuhnya.


Tubuhnya sendiri terpental jauh terkena tendangan Fei Yang, yang sedang merangkul pinggang Sian Sian yang ramping, sambil melayang pelan pelan berputaran turun keatas tanah.


Sian Sian sendiri setelah berada dalam pelukan Fei Yang, tanpa sadar dia secara reflek melingkarkan sepasang tangannya di belakang leher Fei Yang.


Untuk mencegah dirinya agar tidak terlepas dari Fei Yang dan terjatuh kebawah.


Sepasang matanya terbelalak menatap kearah wajah Fei Yang yang tertutup topeng besi penuh kagum.


Sian Sian sangat terpesona dengan kharisma yang di tunjukkan oleh si topeng besi di hadapannya, hingga dia lupa melepaskan rangkulannya.


Fei Yang setelah mendarat di atas tanah, dia langsung melepaskan rangkulannya dari pinggang Sian Sian.


Dan berkata,


"Nona apa kamu baik baik saja..?"


Pertanyaan Fei Yang langsung membuat Sian Sian tersadar dari keterpesonaannya terhadap Fei Yang.


Dia buru-buru melepaskan rangkulannya dan sedikit menjauh dari Fei Yang, dengan kepala tertunduk malu, Sian Sian berkata,


"Terimakasih banyak Ping Huo Ta Sia,.. aku..aku.. baik baik saja.


Wajahnya merah padam, jantungnya berdebar dengan hebat.


Ini adalah kali pertama dia merasakan perasaan yang seperti itu, bahkan terhadap Li Dan yang dia kagumi pun.


Dia tidak pernah merasakan yang seperti dia rasakan saat ini, ada perasaan nyaman aman tenang bahagia gembira, juga malu yang sulit di lukiskan.


Hal ini mungkin di karena kan seumur hidup, ini adalah baru kali pertama dia di peluk oleh seorang pria yang bukan ayah ataupun kakeknya.


Fei Yang menyadari kecanggungan sikap Sian Sian terhadap dirinya.


Jadi dia pun buru-buru berkata,


"Maafkan aku Nona,.. atas segala sikap yang kurang sopan tadi..."


"Bila tidak ada hal lain aku pergi dulu, sampai jumpa..."


ucap Fei Yang memberi hormat.


Tanpa menunggu jawaban dari Sian Sian, Fei Yang sudah melesat keatas, berdiri diatas punggung Kim Tiaw, yang langsung membawanya terbang tinggi diudara.


Ketika Sian Sian tersadar Fei Yang telah pergi, dia buru-buru berlari mengejar kearah Kim Tiaw sedang terbang pergi, sambil melihat keatas Sian Sian berteriak,

__ADS_1


"Ping Huo Ta Sia tunggu...!!!"


Fei Yang menoleh kearah Sian Sian sambil tersenyum dia berkata,


"Bila berjodoh suatu hari kita akan bertemu kembali..!"


Setelah itu hanya terdengar bunyi pekik Kim Tiaw yang semakin menjauh dari sana.


Kini di sana hanya terlihat Sian Sian yang berdiri diam menatap kosong kearah bayangan punggung Fei Yang, yang perlahan lahan menghilang dari pandangannya.


Li Dan setelah berdiri di belakang Sian Sian, dia pun berkata,


"Adik Sian Sian kamu tidak apa-apa ?"


Sian Sian sambil menghela nafas kecewa, lalu perlahan-lahan dia menoleh kearah Li Dan dan berkata,


"Terimakasih perhatian nya, kak Li Dan."


"Aku baik baik saja, permisi.."


Sian Sian sambil menundukkan kepalanya berjalan dengan lesu menghampiri kakeknya dan berkata,


"Ayo kek,.. kita lanjutkan saja perjalanan kita.."


"Ehh ohh ya,.. tapi Afei yang pergi buang air besar kesebelah sana, belum kembali dari tadi.."


"Coba aku periksa sebentar kesana.."


ucap Kakek Li Cing yang merasa suka dan cocok dengan Afei.


Dia tidak ingin mereka pergi dari sana tanpa membawa Afei.


Tapi baru saja kakek Li berjalan mendekati tempat di mana Afei pergi buang air besar.


Dari balik rerimbunan rumput tinggi, muncul Afei yang sedang berjalan keluar sambil mengikat tali celana nya.


"Aku di sini paman Li, ayo kita berangkat.."


Melihat kemunculan Afei, Li Cing pun tertawa gembira dan berkata,


"Ayo,.. ayo kita berangkat sekarang, daripada nanti muncul masalah baru.."


Afei sambil tersenyum cengengesan, dia melihat kearah Sian Sian, yang sedang menatap kearahnya dengan tatapan tidak senang.


Dia pun berkata,


"Ada apa Nona Sian Sian ? kenapa terus menatap ku ?"


"Jangan bilang kini kamu mulai suka dengan ku, jangan Nona Sian Sian ingat status mu.."

__ADS_1


"Bajingan,.. bermulut lancang..!!"


teriak Sian Sian yang kembali terpancing emosinya oleh ucapan Afei.


__ADS_2