PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
QI LIAN SAN


__ADS_3

Ye Hong Yi tersenyum dan berkata,


"Persoalan Qi Lian San Koai, itu juga persoalan kami juga.."


"Dalam hal ini kakak Pai tak perlu khawatir.."


"Suami ku,..kurasa saat ini sudah giliran mu untuk turun tangan bukan.."


ucap Ye Hong Yi sambil tersenyum dingin menatap suaminya penuh ancaman.


Yue Feng sebenarnya lebih peka, dia sudah menangkap maksud dari Pai Wang sahabatnya, yang berkeberatan punya mantu cacat.


Tapi dia tidak mampu berbantahan dengan istrinya, karena dia terlalu mengenal sifat istri nya.


Yue Feng bukan takut, tapi dia terlalu menghargai dan mencintai Hong Yi.


Sehingga sepanjang pernikahan mereka, dia lebih memilih banyak mengalah.


Dia selalu menuruti semua kehendak Hong Yi, meski terkadang dia merasa itu salah.


Dia hanya akan memberi pendapat saja, tapi dia tetap menjalankan kemauan Hong Yi.


Hingga Hong Yi sadar sendiri akan kesalahannya sendiri, maka nya kehidupan rumah tangga sangat adem, tidak pernah ada pertengkaran, meski sudah berjalan belasan tahun lamanya.


Sekali inipun sama, dia hanya mengangguk dan berkata,


"Kakak Pai, Hong Yi benar.. serahkan saja pada ku urusan Qi Lian San Koai itu.."


"Mengenai kondisi Nan Thian, sepulang aku membereskan Qi Lian San Koai.."


"Aku akan mencoba membantunya, aku permisi dulu silahkan kalian lanjutkan.."


ucap Yue Feng sambil memberi hormat.


Setelah itu dia menatap ke Istrinya dan berkata,


"Tunggu saja di sini, aku tidak akan lama.."


Ye Hong Yi mengangguk dan berkata,


"Kamu berhati-hati lah.."


Dia sangat percaya dengan kemampuan suaminya, jadi Hong Yi bersikap santai dan tenang.


Saat ini di dunia persilatan tidak akan lebih dari 10 orang, yang akan mampu menyulitkan suaminya.


Dan pemikiran Hong Yi memang tidak meleset, selain, Fei Yang suami istri, kedua mertua Fei Yang, Tan Sim Houw di gunung Altai, kakek Wu di pulau pelangi, 9 biksu di Tibet, Si topeng besi Yang Jian dan istrinya dari puncak Thian San


Dewasa ini, tidak akan ada yang mampu menyulitkan Yue Feng, setelah dia menerima warisan tenaga sakti dari biksu Hui Ke, sebagai murid utama Biksu Dharma dari India.


Yue Feng mengangguk kecil sambil tersenyum lembut.


Setelah itu dengan langkah lebar, dia langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


Setelah keluar dari dalam ruangan, Yue langsung meninggalkan wilayah Qing Hai Pai.


Dia langsung menuju Qi Lian San.


Setelah Yue Feng pergi, Ye Hong Yi pun berkata,


"Kakak Pai .. kakak ipar.. begitu saja, kita tunggu suami ku pulang, baru kita bicarakan lagi lebih lanjut urusan putra putri kita."


Tanpa menunggu jawaban, Hong Yi memberi hormat kesemuanya dan berkata,

__ADS_1


"Hong Yi pamit permisi dulu.."


Setelah itu dia langsung membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah Hong Yi pergi, Pai Wang menoleh kearah ketiga paman gurunya dan berkata,


"Bagaimana pendapat paman guru bertiga .?"


Mereka bertiga menghela nafas menatap Pai Wang dengan prihatin.


Sesaat kemudian salah satu di antara mereka bertiga buka suara.


"Wang er,.. dalam hal ini kami tidak layak ikut campur.."


"Ini adalah masalah internal keluarga mu, kalian suami istri dan putri mu, rundingkan lah dengan baik, baru ambil putusan."


"Kami akan selalu mendukung mu.."


"Hanya satu saran kami, tangani lah hal ini dengan sangat hati-hati.."


Setelah berkata, ketiga senior itupun menyusul meninggalkan ruangan tersebut sambil menghela nafas panjang.


Kini di sana hanya tinggal Pai Wang dan Istrinya, mereka saling pandang sejenak.


Pai Wang menghela nafas panjang dan berkata,


"Kita lebih baik panggil putri kita dan rundingkan hal ini di kamar kita saja ."


Istri Pai Wang mengangguk dan berkata,


"Kelihatannya memang hanya bisa seperti itu.."


Sesaat kemudian kedua suami istri itu juga ikut meninggalkan ruangan utama yang kembali menjadi sepi tenang dan hening.


Yue Feng yang terus berlari cepat di bawah terpaan badai salju, akhirnya dia tiba di puncak gunung Qi Lian San.


Yue Feng berdiri gagah sebuah mulut gua dan berteriak keras dengan menggunakan Chi nya.


"Qi Lian San Koai keluarlah kalian..!"


"Berani berbuat beranilah bertanggung jawab.."


"Keluarlah..!"


teriak Yue Feng dengan pengerahan Chi nya.


Sehingga suaranya bisa terdengar dengan jelas sampai kedalam gua.


"Siapa berani mati bikin ribut ribut di sini..?"


ucap sebuah suara bernada tinggi mirip suara wanita.


Tak lama kemudian dari dalam gua berjalan keluar seorang pria kemayu, di damping seorang pria lain bertubuh pendek gemuk.


Di belakang mereka berjalan seorang pria bertubuh tinggi kurus jangkung.


Tubuh mereka bertiga memancarkan aura pembunuh yang kental.


Si banci membelalakkan matanya dengan kaget dan berkata sambil menunjuk kearah Yue Feng dengan jari telunjuknya.


"Ehh sialan, bocah busuk kamu masih mampu kemari..?"


"Tapi gak papa kita akan sekali lagi, mengirim mu ke neraka.."

__ADS_1


"Hi..hi..hi..!"


ucap nya sambil tertawa penuh ancaman.


Yue Feng tersenyum dingin menatap mereka bertiga dan berkata,


"Apa aku berhadapan dengan Qi Lian San Koai..?"


"Ehh bocah kamu tidak kenal dengan kami lagi..!?"


tanya si banci heran.


"Apa otak mu jadi terganggu setelah kejadian kemaren..!?"


ucap Si banci sambil tertawa mengejek.


"Adik lihat baik baik, dia bukan pemuda itu..pemuda itu belum punya aura seperti itu.."


"Berhati hatilah.."


ucap orang pertama Qi Lian San Koai yang bertubuh tinggi kurus.


Mendengar peringatan kakaknya, senyum di wajah di banci hilang.


Dia memperhatikan lebih teliti sekali lagi, dia mulai melihat beberapa perbedaan Yue Feng dan Nan Thian.


Nan Thian jelas lebih muda, sedikit lebih kurus dan lebih tinggi dari Yue Feng.


Wajah Yue Feng lebih persegi, Nan Thian lebih lancip.


Setelah memperhatikan sesaat si banci pun berkata,


"Ya kak benar dia berbeda dengan pemuda tempo hari."


Si banci kembali menatap kearah Yue Feng dan berkata,


"Siapa kamu ? apa mau mu..?"


Yue Feng sambil tersenyum dingin berkata,


"Siapa aku tidak penting, yang jelas aku datang untuk mengambil nyawa mu..!"


"Rooaaarrrrrrr..!'


Terdengar suara raungan Naga marah mengawali jurus yang di lepaskan oleh Yue Feng.


"Sepasang naga mengejar mutiara..!"


bentak Yue Feng sambil mendorongkan kedua telapak tangannya kedepan.


Dua ekor Naga emas meliuk liuk menerjang kearah Si banci.


Si banci langsung menyambutnya, dengan ilmu sentilan jari udara kosong, untuk menyambut serangan Yue Feng.


"Tesss,..! Tesss..! Tesss..! Tesss..!"


Tesss,..! Tesss..! Tesss..! Tesss..!"


"Plakkk,..!"


"Bresss..!"


Tubuh si banci langsung terpental kebelakang, dengan langkah kaki tidak beraturan..

__ADS_1


Untungnya punggungnya langsung di tahan oleh si tinggi kurus, bila tidak dia pasti akan jatuh terjungkal kebelakang.


__ADS_2